
Chapter 45
Happy readding...
🍁🍁🍁🍁
Anye mematut dirinya didepan cermin lemari yang tak terlalu besar didalam kamarnya.Memoleskan tipis - tipis bedak padat dan liptin pada wajahnya.
"Ck. Udahlah begini aja. Toh cuma sebagai pengganti budhe buat jaga Sora." Ucapnya tak mau direpotkan dengan hal - hal yang tak semestinya.
"Nye, Anye!" Terdengar seruan dari depan pintu kamarnya disertai dengan ketukan pelan.
"Iya, Mas." Anye berjalan kearah pintu dan menemukan Gilang sudah berdiri dengan senyum jahilnya.
"Ciye... Baru pertama ketemu udah diajaki ngedate aja nih." Gilang menaik turunkan alasnya.
"Apaan sih, Mas. Aku cuma ngeagantiin tugasnya budhe buat jaga Sora." Anye mengerucutkan bibirnya mendapatkan godaan dar Gilang.
"Hahaha... Tapi gak apa sih, Nye. Wal walaupun duda satu anak, tapi bang Zain dudanya bersertifikat kog, mapan lagi." Senang rasanya bisa mengoda sepupunya ini.
Gadis manis itu makin melotot dan cemberut kala Gilang tidak berhenti untuk menggodanya Hingga telinganya sayup - sayup mendenagar suara obrolan pakdhe dengan seorang pria yang mulai familiar dipendengarannya.
"Nye! Zain udah didepan tuh." Budhe-nya tiba - tiba sudah berada didekatnya sambil.
"Iya Budhe." Anye berlalu dari sisi Gilang yang masih menampakan senyum menggodanya.
Kediaman keluarga Malik
Ayumi tampak antusias menyiapkan beberapa hidangan untuk tamu spesial mereka malam ini.
Siang tadi sang suami memberi kabar, bahwa Tuan Anggara beserta istri dan anak gadisnya akan makan malam dirumah mereka. Dan yang membuat dirinya senang adalah akan ada seorang gadis muda yang akan ikut bersama mereka. Dan itu akan menjadi kesempatan bagi Zain untuk diperkenalkan dengan gadis itu. Kebahagiaanya bertambah saat ia menerima kabar, bahwa Zain akan datang menghadiri acara makan malam ini.
"Semua hidangan udah dibawa kemari, Bi?" Tanyanya pada ART yang membantunya.
"Sudah, Nya."
Setelah Memastikan semua beres, Ayumi menghampiri suaminya yang masih sibuk dengan ipad-nya diruang keluarga.
"Zain udah kasih kabar Papa lagi, bakal datang apa enggak?"
Ryan mengangkat pandangannya dari benda tipis ditangannya dan melihat istrinya.
"Belum." Jawab Ryan singkat dan kembali melihat iPad-nya.
"Mudah - mudahan kali ini tidak ada penolakan." Gumam Ayumi
"Grandma..." Seru Sora sambil berlari dan merentangkan tangannya untuk memeluk wanita paruh baya itu.
Ayumi terperanjat dan sesaat kemudian tersenyum sambil menyambut pelukan Sora saat mendapati sang cucu sudah tiba bersama dengan anaknya dan seorang...? Gadis?
"Ma, Pa!" Zain menyapa orang tuanya.
Dua orang paruh baya itu mengabaikan sapaan Zain. Namun pandangan keduanya tertuju pada gadis yang datang bersamanya.
Zain mengerti arti dari tatapan kedua orang tuanya. "Kenalin, Ma, Pa." Zain menarik dan menggenggam tanagan Anye secara tiba - tiba tanpa permisi pada sang empu. "Ini Anye, pacar Zain."
Bruuukkk...
__ADS_1
Sebuah tas mahal terjatuh tanpa disengaja dari tangan Helen. Dan itu berhasil mengalihkan perhatian mereka pada dua orang yang baru saja tiba.
"Dewa, Helen. Kalian udah sampai?" Seru Ayumi.
Dewa mengangguk sebagai responnya kepada sang mama, sambil terus berjalan mendekati keluarganya dan meninggalkan sang istri yang masih terpaku ditempatnya.
"Hai, princess!" Sapanya pada keponakannya dan mencium pucuk kepalanya.
"Hai, uncel. Uncel dari mana?"
"Dari antar aunty." Jawab Dewa. "Kamu benar pacarnya Zain?" Tanya Dewa pada gadis disamping adiknya.
"Ha?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Anye saat mendapat pertanyaan dari Dewa. Ia menoleh kearah Zain. Tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun Zain hanya memberi kode dengan samar, Agar Anye mengiyakan pertanyaan Dewa.
"Jangan coba buat kibulin kita ya, Zain." Dewa memicingkan matanya kearah sang adik. Dia curiaga bila adiknya tengah melakukan sebuah konspirasi saat ini.
"Apa selama ini gue pernah mempermainkan sebuah hubungan?" Zain menatap datar kearah Dewa.
"Tapi selama ini, kamu gak pernah bahas wanita manapun dengan kami. Dan sekarang, tiba - tiba kamu bawa perempuan kerumah dan kamu kenali sebagai pacar kamu?" Helen ikuti ambil suara. Ia tak terima bila benar bahwa gadis ini adalah pacarnya Zain.
"Gue cerita atau enggak, itu bukan urusan lo." Sahut Zain ketus dengan nada dinginnya dan tatapan tajam.
"Sudah - sudah." Ryan melerai perdebatan anak - anaknya. "Zain, ikut keruangan Papa." Ryan berlalu diikuti Ayumi dan Zain.
Kini tinggallah Anye, Sora dan Dewa serta istrinya.
"Oh, ayo duduk dulu." Ajaknya pada Anye dan menarik Sora kedalam pangkuannya. "Nama kamu siapa?" Dewa mencoba beramah tamah pada gadis yang diakui adiknya sebagai pacar.
"Kak...?"
"Dewa."
"Biar gue tebak, pasti nama panjang lo, Anye...lir 'kan?" Dewa masih berusaha mencairkan suasana tanpa memperdulikan sang istri yang kini tengah bersungut - sungut.
Anye tersenyum dan mengangguk.
"By the way, lo beneran pacar si Zain?" Ternyata Dewa masih penasaran tenang hubungan antara adiknya dengan gadis didepannya ini.
Anye bingung harus memberi jawaban apa. Di iya-kan takut salah, bilang tidak takut Zain marah. Cukup lama Anye bungkam, hingga...
"Iya. Kak Anye pacarnya daddy." Sahut sora.
Anye melotot tak percaya, bagaimana bisa anak sekecil ini mengerti obrolan orang dewasa?
"Beneran?" Sekali lagi Dewa memastikan. Dan dengan mantapnya Sora mengangguk. Sedangakan Anye, sang korban kebohongan antara ayah dan anak hanya bisa tersenyum masam.
Helen berdiri dari duduknya dan langsung beranjak menuju kamar. Ia tak ingin lebih lama lagi melihat tontonan didepannya saat ini. Ia sudah cukup pusing dengan masalah yang segera akan ia hadapi dengan suaminya nanti, karena sang suami telah mengetahui rahasianya.
Sedangkan diruangan kerja Ryan, Zain kini tengah disidang oleh papa dan mamanya.
"Benar, gadis itu pacar kamu?" Ryan mulai mengintrogasi anaknya.
"Iya. Anye pacar aku." Jawab Zain serius.
"Bukan karena untuk menghindari perjodohan, kamu mengakuinya sebagai pacar 'kan?" Ryan memicingkan matanya.
"Gak ada gunanya bohong. Tanpa bohong pun, aku berhak menolak segala jenis perjodohan konyol yang kaalian lakukan." Jawab Zain dengan santainya.
__ADS_1
"Jangan kamu jadikan gadis itu sebagai pelampiasan kamu, apalagi sampai memafaatkannya." Ryan memberi peringatan.
"Zain udah dewasa, Pa. Udah menduda dua kali lagi. Jadi biarin Zain menentukan jalan hidup Zain sendiri." Setelah berucap seperti itu, Zain bangkit dari duadquknya dan meninggalkan kedua orang tuanya.
"Apa yang harus kita katakan pada Tuan Angara, Pa?"
"Mengatakan apa? Tidak ada pembahasan tentang perjodohan sebelumnya dengan Tuan Anggara." Jawab Ryan enteng dan meraih tangan istrinya untuk ketempat anggota keluarganya yang lain.
"Astaga, Bibi!" Seru Ryan saat mendapati sang ART ada didepan pintu.
"Maaf Tuan. Bibi cuma mau kasih tahu, kalau tamunya sudah datang."
"Oh, iya." Ryan berjalan lebih dahulu sambil menggandeng tangan istrinya.
Dan beruntungnya, sang tamu tak membawa serta anak gadisnya, dengan alasan sang anak ada acara khusus dari kampusnya yang tak bisa ia tinggalkan.
Saat makan malam berlangsung pun, tak ada pembahasan seputar perjodohan. Yang ada hanyalah pembahasan masalah pekerjaan antar sesama lelaki. Sedangkan bagi yang wanita, pembahasan tak jauh - jauh dari fashion dan menu makanan.
"Sora nginep disini ya?" Bujuk Ayumi pada cucunya.
Bocah enam tahun itu menoleh kearah sang daddy, meminta persetujuannya.
Sungguh, Zain tak tega menbuat dua wanita yang ia cintai ini bersedih. "Baiklah. Tapi besok sore sudah sampai rumah."
"Ok, Daddy." Seru sora senang.
Dan kini tinggallah Zain dan Anye berdua yang asyik dengan fikirannya masing - masing.
"Sorry." Suara Zain memecahkan keheningan antara mereka.
"Buat?"
"Gue bilang, kalau lo pacar gue ke bokap nyokap gue." Jawab zain.
"Kenapa musti bohong?"
Zain menghela nafasnya. "Biar gue gak dijodohin lagi sama anak rekan bisnis bokap gue." Zain menjawab dengan jujur.
"Oh... Tapi kedepannya gak akan jadi masalahkan?"
Zain berfikir sejenak, kemudian mengangkat kedua bahunya.
"Loh, kog?" Anye jadi ketar - ketir.
"Kadang nyokap bisa bertindak hal - hal konyol yang tak terduga." Jawab Zain enteng. Tinggal menunggu kelanjutan apa yang akan terjadi.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mampir juga dong kekarya aku yang lain...
Bidadari Sang Idol
Sang Kesatria
__ADS_1