
Chapter 41
Happy readding...
🍁🍁🍁🍁
Zain duduk dikursi teras belakang rumah yang tepat berhadapan dengan kolam renang.
Dewa menghampiri Zain, ketika ia tengah asyik berkutat dengan file perusahaan yang pagi tadi dikirimkan asistennya melslui e-mail.
Memang dua tahun belakangan ini Zain telah bergabung dalam perusahaan sang papa, ya walaupun ia tidak terlalu aktif diperusahaan, tapi Zain memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan perusahaan.
"Gue denger, besok lo dan Sora bakal pindahan?"
"Heem." Zain hanya berdehem dan tetap fokus pada file-nya.
"Rumah bakal sunyi kalau si ceriwis gak ada." Dewa menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
"Ya lo tinggal buat aja sama bini lo." Sahut Zain enteng dengan mata yang masih tak lepas menatap laptopnya.
Dewa menarik nafas dengan kasar. "Hampir tiap hari kali. Tapi gak ada yang jadi. Apa ini karma gue ya, udah tebar bibit sana sini?"
Zain menegakkan posisi duduknya, menoleh kearah Dewa dan memperhatikan wajah yang tampak lelah itu.
"Udah konsul ke dokter kandungan?" Tanya Zain yang merasa iba pada sang kakak.
"Belum sih." Dewa menggelengkan. "Helen gak pernah mau setiap gue ajak. Dia selalu punya alasan buat menolak."
Kening Zain berkerut. Apakah kakak iparnya itu memang sengaja menunda punya momongan? "Sebelumnya, apa lo sama Helen berencana menunda?"
"Kita gak gak pernah bahas masalah itu."
Zain mengangguk mengerti. "Sebaiknya cepat dibicarakan. Jangan sampai menyesal dikemudian hari."
Dewa menatap sang adik. Kenapa seperti ada sesuatu yang tersirat dari ucapan adiknya itu?
Zain yang tahu tatapan penuh tanya itu pun menjelaskan. "Bini lo kelihatan gak beres. Dan itu salah satu alasan gue untuk pindah dari rumah ini. Daripada terjadi hal - hal yang tak diinginkan."
"Maksud lo?" Dewa mengerenyit. Tidak paham yang dimaksud oleh adiknya.
__ADS_1
"Apa wajar, seorang wanita yang udah bersuami memberi perhatian khusus pada lelaki lain?" Tanya Zain sambil bersedekap dada.
"Maksud lo, Helen kasih perhatian khusus buat lo?" Dewa menumpukan kedua sikunya pada pegangan kursi.
Zain berdehem dan mengangguk, membenarkan pertanyaan Dewa.
"Ya 'kan lo adik iparnya." Dewa mencoba untuk menutup mata akan kejanggalan sikap sang istri selama ini pada sang adik. Padahal ia juga merasakan ada suatu hal yang berbeda akan sikap sang istri bila berada didekat Zain.
"Gue bisa bedain perhatian antara seorang kakak kepada adik atau perhatian antara wanita dewasa kepada seorang pria." Zain menatap Dewa dengan wajah seriusnya.
Tak habis fikir dengan kakaknya ini, Dewa, seorang casanova tunduk kepada seorang wanita modelan seperti Helen.
****
Srek srek srek
Suara sapu diseret.
Anyelir yang pagi ini sudah bermandi keringat karena membantu budhe-nya membersihkan perkarangan rumah. Menata kembali bunga - bunga agar tampak lebih indah dan menarik. Memotong dahan - dahannya yang sudah tak berfungsi lagi, agar ditumbuhi cabang yang baru.
Brum brum brum
"Udah dateng tetangga barunya pakdhe." Gumamnya.
Tampak dua orang pria dewasa, satu pria dan wanita baruh baya serta seorang anak perempuan yang terlihat menggemaskan dimatanya.
"Lihat apa, Nye?" Tanya Dira, sang budhe yang tiba - tiba saja sudah berada disampingnya, dan berhasil membuatnya terjingkat kaget.
"Astagfirullah, Budhe! Buat Anye kaget aja." Anyelir mengelus dadanya.
"Hahaha.... Habisnya kamu asyik banget celingak - celinguk."
"Itu, aku lihat tetangga baru Budhe udah dateng." Tunjuknya kearah rumah baru Zain.
"Oh ya?" Seru Dira penuh antusias. Ia pun ikut melihat kearah seberang rumahnya.
"Orang kaya seperti mereka, kog mau ya tinggal dilingkungan masyarakat kelas menengah seperti kita?" Anye dapat menebak, bahwa tetangga baru budhe-nya itu berasal dari kalangan elit dengan melihat kendaraan mewah yang mereka bawa.
"Mungkin udah bosan hidup dengan gaya hedon mereka kali ya, Nye?" Jiwa julid Dira mulai muncul.
__ADS_1
"Emang bisa gitu?" Tanya Anye dengan polosnya.
"Mungkin aja 'kan , Nye? Kita aja kadang suka bosen hidup yang pas - pasan begini." Dira menoleh kearah ponakannya.
"Bisa jadi juga, Budhe." Anye mengsnguk - anggukan kepalanya.
Dan terjadilah obrolan ngalor ngidul antara budhe dan ponakannya.
Memang ya, dimana ada kumpulan para wanita, disitulah ada ladang tempat gibah.
****
Ayumi memperhatikan sekeliling rumah baru yang akan ditempati oleh anak dan cucunya. Cukup nyaman, fikirnya.
"Padahal kamu gak harus pindah, Zain." Ryan menyayangkan keputusan sang anak.
"Ia. Gimana nanti dengan Sora? Siapa yang jaga dia kalau kamu gak dirumah?" Ayumi menimpali.
"Semua udah Zain urus, Ma. Mama gak usah khaeatir. Ibu - ibu tetangga depan bersedia buat jaga Sora, dan ponakannya yang akan bersih - bersih rumah waktu zain pulang." Zain mencoba menghilangkan kekhawatiran kedua orang tuanya.
"Kamu yakin aman nitip Sora sama orang baru?" Ayumi masih mengkhawatirkan keadaan cucunya nanti.
Zain memberi senyumannya pada sang mama. Ia paham bahwa sang ibu sangat menyayangi anaknya. Tapi Zain tetap pada pendiriannya demi kebaikan bersama.
"Jangan beri tahu alamat Zain pada wanita itu." Pesan Zain pada ketiga orang terdekatnya.
"Helen tidak seperti yang lo kira, Zain." Dewa mencoba membela istrinya.
"Terserah lo mau percaya atau enggak dengan ucapan gue tadi malam. Itu urusan lo, karena lo yang udah pilih dia jadi pendamping hidup lo. Yang penting jangan kasi tahu alamat gue sama siapapun, tanpa seizin gue."
Zain melangkah menuju sofa dimana sang putri tengah tertidur lelap, dan memindahkannya kekamar tidur khusus untuk Sora.
***************
Akhirnya bisa up juga.
Jangan lupa beri dukungan kamu ya.
Beri like dan komentar kamu. Jangan lupa juga masukin ke list favorit kamu.
__ADS_1