
Chapter 23
happy reading....
🍁🍁🍁
Kriiiiinggg...
Bel istirahat berbunyi. Para guru dikelas pun menghentikan kegiatan belajar mengajarnya.
Krruuukk... Krruuukk...
Bunyi notifikasi diperut Zahwa. "Duh... Lapar banget euy." Gumamnya pelan.
Namun ia urung untuk beranjak dari kursinya.
"Lo gak ke kantin, Wa?" Tanya Rosa yang melihat Zahwa masih betah ditempatnya.
Zahwa menggeleng. Wajahnya sedikit cemberut.
"Emang gak lapar?" Tanya Rosa lagi.
"Lapar sih." Jawab Zahwa lesu.
"Ya udah ayok ke kantin." Ajak Rosa. Namun Zahwa menggelengkan kepalanya lagi.
"Kenapa?" Rosa mengerutkan keningnya. Heran saja dengan temannya ini. Katanya lapar, tapi gak mau ke kantin.
"Gak ah. Nanti jumpa si bule Turki lagi." Zahwa mengerucutkan bibirnya.
"Hahahaha... Jadi takut sendirikan jadinya?" Rosa menertawakan sahabatnya itu.
"Iiisss. Seneng bener lihat penderitaan aku." Gerutu Zahwa.
"Habisnya..." Ucapan Rosa terjeda. "Makanya emosi itu diredam dong. Asal banting orang aja sih. Bos sendiri lagi."
"Aku titip roti aja ya?" Ucap Zahwa dengan wajah memelasnya.
"Udah ah, ayok! Si bule Turki belum tentu ada di kantin." Rosa menarik paksa tangan Zahwa.
"Tapi."
"Gak ada penolakan." Sanggah Rosa.
Mau tak mau, Zahwa terpaksa ikut dengan Rosa ke kantin. Karena sahabatnya itu menarik tangannya dengan erat. Lagi pula perutnya memang benar - benar lapar.
Bukan Zahwa tak bisa melepaskan cekalan dari tangan Rosa, tapi Zahwa tak ingin menyakiti sahabatnya itu.
Setibanya mereka di kantin, suasana sudah riuh dengan obrolan para siswa. Bangku kantin pun hampir terisi semua. Untung saja spot favorit mereka belum terisi.
Keduanya pun berpisah. Rosa menuju bangku mereka agar tak diserobot yang lain, sedangkan Zahwa membeli makanan untuk mereka santap.
"Untung masih kebagian bangku." Rosa bermonolog.
Namun sedetik kemudian, tampak dua orang pemuda duduk didepannya.
Rosa tercengang melihat siapa yang kini tengah duduk dihadapannya.
Sebenarnya ia begitu senang dengan kehadiran mereka. Tapi mungkin tidak untuk Zahwa.
Rosa menelan ludahnya sendiri. Tak tahu harus bicara apa. Kasihan sekali nanti nasib sahabatnya itu. Apakah Zahwa bisa menelan makanannya?
Tak.
__ADS_1
Bunyi benda diletakkan di atas meja.
"Nih pesanan kaaaa....-" Ucapan Zahwa menggantung.
Zahwa tak percaya dengan pengelihatannya. Pemuda yang ingin ia hindari, kini nyatanya sudah duduk didepan bangku yang akan ia duduki.
Mata Zahwa berkedip - kedip. Berfikir, haruskan ia melarikan diri? Ataukah bersikap masa bodo?
Krruuukk.... Krruuukk....
Perut Zahwa berbunyi lagi. Dengan tampang masa bodohnya, Zahwa duduk di bangkunya.
Zahwa mulai memasukan bumbu tambahan dalam mangkuk baksonya. Tanpa memperdulikan Zain yang tengah mengawasinya dengan wajah datar pemuda itu, dan tangan yang bertumpu di atas meja.
Ryo dan Rosa yang melihat suasana canggung itu hanya bisa mengulum senyum mereka. Astaga... Kasihan sekali Zahwa ini.
"Kamu gak makan, Sa?" Tanya Zahwa pada Rosa. Sebenarnya Zahwa merasa gugup dipandangi terus - terusan oleh Zain. Tapi? Ya sudahlah. Nikmati saja.
"Ini juga mau makan." Rosa tersenyum kikuk. Ia jadi ikut - ikutan gugupkan? Kemudian mulai memasukan potongan bakso kemulutnya.
Dengan perasaan tertekan, Zahwa menelan potongan bakso yang sudah dikunyahnya. Ia masih tak memperdulikan Zain didepannya.
Tanpa Zahwa sadari, ia menambahkan lagi sambal kedalam mangkuknya. Dan mengaduk - aduknya.
Zain yang melihat itu hanya menaikan sebelah alisnya dengan seulas senyum devilnya. Hingga...
Uhhuuuk uhhuuuk...
Zahwa tersedak. Mulut dan kerongkongannya terasa terbakar. Wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
Zain menyodorkan minuman pada Zahwa dengan santainya. "Nih."
Tanpa menolak, Zahwa langsung menyambar minuman itu dan langsung meneguknya.
"Lo ok, Wa?" Tanya Rosa sedikit khawatir. Ia menepuk - nepuk punggung sahabatnya itu.
Zahwa mengangguk. Menelan sisa air minum di mulutnya. "Ok."
"Enak baksonya?" Kini akhirnya Zain buka suara.
"Enak." Sahut Zahwa cepat. "Aduh, Sa! Aku duluan ya?" Pamitnya kemudian pada Rosa.
Tanpa menunggu persetujuan sahabatnya, Zahwa langsung bergegas meninggalkan kantin.
"Tapi baksonya belum habis, Wa." Seru Rosa sedikit mengeraskan suaranya.
Zahwa ingin segera menghindari seorang Zain Malik untuk waktu yang belum ditentukan.
Sebenarnya Zahwa takut kalau Zain akan membahas pemecatan dirinya. Padahal ia belum terlalu lama bekerja di kafe itu. Tabungannya pun masih terkumpul sedikit.
****
Jam sekolah pun berakhir. Zahwa langsung menuju parkiran sepedanya. Dan lagi - lagi ia bertemu dengan Zain. Sedangkan Zain hanya menatapnya saja tanpa menyapanya.
Mungkin dengan berpura - pura tak melihatnya, Zahwa akan terbebas dari tatapan maut dari pemuda itu.
Dan benar saja. Zahwa berjalan cepat dengan kepala tertunduk, tak ingin melihat Zain.
Sedangkan Zain yang melihat gelagat aneh Zahwa, hanya bisa tertawa kecil. Ingin rasanya ia gantian membanting gadis itu. Membanting ke atas ranjang maksudnya. Eh...?
Zain merutuki pemikiran konyolnya. Kenapa semua yang berhubungan dengan Zahwa, ia jadi selalu berfikiran mesum begini?
****
__ADS_1
Tak seperti biasanya, malam ini Zain sudah berada di kafenya tanpa membawa Sora. Ia menitipkan putrinya itu pada Dewa dan ART dirumah. Kedua orang tuanya belum juga pulang dari rumah temannya.
Saat masih didepan kafe, melalui dinding kaca, dari luar Zain dapat melihat Zahwa yang sedang melayani pembeli pria dengan begitu ramahnya dan menampilkan senyum indahnya.
Hatinya bergemuruh. Zain tak suka saat melihat Zahwa tersenyum pada pria lain. Zain sungguh cemburu melihat pemandangan itu.
Zain mengepalkan kedua tangannya hingga buku - bukunya memutih.
Dengan diliputi rasa cemburu, Zain melangkahkan kakinya masuk ke kafe. Kehadiran Zain tak luput dari pengelihatan Zahwa.
Dengan wajah tak bersahabatnya, Zain melewati Zahwa begitu saja. Sedangkan Zahwa hanya mengedikan kedua bahunya melihat sikap Zain yang selalu mudah berubah padanya.
Braaakkk
Zain membanting pintu ruang kerjanya. Berjalan menuju ke kursi kebesarannya dan meraih gagang telefon.
"Buatkan capuccino latte. Suruh Zahwa antar keruangan ku." Titah Zain pada Inah.
Inah yang mendapatkan perintah Zain dengan nada ketusnya, hanya bisa menatap gagang telepon yang dipegangnya itu. Heran dengan bos gantengnya itu. Datang tiba - tiba dengan raut wajah yang kusut, dan kini Inah yang jadi tempat lampiasan amarah bosnya itu.
"Ck. Untung ganteng. Kalau enggak, udah Inah blacklist dari daftar cowok favorit Inah." Gerutu Inah pada gagang telefon itu.
Dengan cepat Inah menyiapkan pesanan Zain. Dan menyuruh Zahwa untuk mengantarnya.
Dengan terpaksa Zahwa menurut dengan perintah seniornya itu.
Tok... Tok... Tok...
Pintu ruangan kerja zain diketuk. Masuklah Zahwa dengan nampan berisi secangkir capuccino latte.
"Ini pesanannya bos." Zahwa meletakan cangkir itu ke meja kerja Zain.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zahwa langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan bosnya itu.
Namun, sebelum Zahwa sampai ke pintu, tangannya sudah dicekal oleh Zain.
Zahwa pun melihat tangannya yang sedang digenggam oleh Zain. Tak berapa lama tangan itu tertarik dengan kuatnya, hingga Zahwa kini sudah berada didalam pelukan dada bidang pemuda tampan ini.
Hati keduanya kini saling berdebar tak karuan. Ada sesuatu has rat yang bangkit namun tak bisa dilampiaskan.
Dengan perlahan, Zain mendongakkan wajah Zahwa yang masih menempel di dadanya. Menatap mata indah itu dan kemudian tatapan itu turun pada bibir seksi Zahwa. Zain mengusap bibir ranum itu dengan lembut menggunakan ibu jarinya. "Boleh cium gak ya?" Gumamnya dalam hati.
"Gue, gak, suka, lo, senyum sama cowok lain." Ucap Zain penuh penekanan disetiap katanya.
Cekleeek.
Pintu terbuka. Zain mendorong lembut Zahwa keluar dari ruangannya.
Blaamm.
Sedetik kemudian pintu itu tertutup.
Zahwa terbengong didepan ruangan Zain. Masih tak percaya dengan yang ia alami barusan.
Ditarik, dipeluk dan diusap bibirnya dengan lembut. Dan apa ini? Dia dikeluarkan begitu saja dari ruangan pemuda itu, tanpa rasa tanggung jawab atas kebaperan hatinya saat ini.
Sungguh - sungguh menyebalkan bukan pria satu ini?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih udah setia menunggu update 'Little Daddy'.
__ADS_1
Jangan lupa beri dukungan kamu ya.