Little Daddy

Little Daddy
Chapter 46


__ADS_3

Chapter 46


Happy readding....


🍁🍁🍁🍁


"Aaakh..." Anye meringis ketika merasakan sakit ketika rambutnya ditarik oleh seseorang, hingga membuatnya sedikit terpundur kebelakang.


"Aduh, sakit. Lepas!" Anye masih mencoba untuk melepaskan tarikan dari rambutnya.


"Eh, cewek gatel! Lo masih baru kuliah disini. Jadi gak usah sok kecantikan ya, jadi orang. Ngapain lo ngedeketin cowok gue?" Ucap seorang gadis yang tampak berang dengan mata yang melotot.


Anye menyentak kasar tangan gadis itu hingga cengkramannya terlepas dari rambut Anye.


Anye mengelus kepalanya yang terasa nyeri akibat jambakan dari gadis yang tak dikenalnya itu. Ia memberikan lirikan tajam dan menghunus. "Maksud kamu apa apa sih?"


"Gak usah pura - pura bego!" Gadis itu ingin mendorong bahu Anye, namun dengan gesit, Anye langsung menghindar hingga gadis tak dikenal itu hampir tersungkur sendiri kedepan.


Dikejauhan sana, tampak seorang pemuda sedang lari terbirit - birit menuju dimana sedang ada pertikaian antara sepupu dan pacarnya.


"Mampus gue, kalau ada apa - apa sama Anye. Auto disetop uang bulanan." gilang mengacak rambutnya.


Ia sangat paham perangai sang kekasih yang sedikit arogan. Jika sudah cemburu, beeuuhhhh... Anakonda didepannya pun langsung disate.


Hoosss hoosss hoosss


Gilang membungkuk untuk menormalkan nafasnya.


"Winda! Jangggggg..." Seruan Gilang menggantung, seketiaka ia mendengar suara yang cukup menyakitkan untuk didengar.


Plaaakkk


Terlanjur sudah. Sebuah cap lima jari sudah mendarat pada sebuah pipi mulus tak bermake-up.


"Winda!" Bentak Gilang dengan keradnya, hingga membuat orang disekitarnya terkejut. "Apa - apaan kamu, main tampar orang sembarangan?" Tampak wajahnya mulai emosi.


"Kamu belain pelakor ini?" Ucap winda tak kalah garang.


"Iya." Jawab gilang, masih dengan nada yang tinggi. "Dan dia bukan pelakor."


"Waaahhh..." Winda bertepuk tangan sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka sang kekasih lebih membela wanita lain ketimbang dirinya. "Hebat kamu ya. Udah berani terang - terangan selingkuh didepan aku?"

__ADS_1


"Aku gak selingkuh." Sahut Gilang cepat.


"Buktinya?" Winda menujuk gadis didepannya.


Sedangakan Anye yang menjadi pusat permasalahan masih mengelus pipinya yang masih terasa panas. "Gila nih cewek. Sangar bener." Gumamnya yang terdengar oleh pasangan kekasih yang sedang berseteru dihadapannya.


Winda melotot mendengar gumaman Anye. Ia hendak merengsek maju, berniat memberi lagi pelajaran kepada gadis kecil ini. Namun sebelum itu terajadi, Gilang terlebih dulu mencekal tangannya.


"Sekali lagi tangan lo, mendarat di tubuh adek gue, gue bakal pastiin lo mendekam dipenjara." Ucap Gilang dengan nada mengancam. Kemudian ia membawa Anye pergi dari kerumunan itu.


"A a ap pa? Adik?" Ucap winda tetbata.


Huuuuuuu


Tersengar seruan dari orang - orang disekitarnya.


"Makanya Win, tanya dulu bagus - bagus. Jangan main gampar langsung." Ucap seorang mahasiswa yang memang sudah jengah dengan sikap arogannya.


Kini Winda hanya bisa menyesali kebodohannya. Apa Gilang masih bisa memaafkannya? Pasalnya ini bukan untuk yang pertama kalinya ia bermain kasar pada wanita yang coba mendekati kekasihnya. Dan sudah berulang kali juga ia kepergok oleh Gilang saat ia sedang melabrak gadis - gadis itu. Dan lebih parahnya lagi, gadis tadi adalah adiknya Gilang sendiri.


****


Kini pipi Anye tengah dikompres dan diberi salep oleh Gilang.


"Ini 'kan pelan - pelan sih, Nye."


"Ck. Punya pacar galak bener. Macam singa betina. Bukannya tanya baik - baik, ini malah main jambak aja." Gerutu Anye ditengah - tengah Gilang mengoleskan salep.


"Maaf."


"Bukan Mas yang salah, jadi gak perlu minta maaf."


"Padahal Mas tadi masih cari si Winda buat kasih tahu keberadaan kamu biar gak ada kesalah fahaman. Eeehhh... tiba - tiba mas udah ngelihat aja kamu dijambak dia." Ia sedikit menyesali keterlambatannya.


"Sempat dia yang jadi kakak ipar aku, gak tau deh. Mungkin sampai kapanpun aku gak bakal kerumah kalian. Dan bisa Anye pastikan, Tuh cewek bakal ditelan hidup - hidup sama budhe."


Gilang melihat sepupunya yang asyik ngedumel, detik kemudian ia terkikik, membayangkan apa yang dialatakan oleh Anye bakal terjadi. Pasalnya, Anye adalah kesayangan mama dan papanya. Karena mereka hanya berdua sebagai sepupu. Sama - sama anak tunggal.


*****


"Astagfirullah, ya Allah!" Anye mengelus dadanya ketika mendapati Zain yang tiba - tiba saja sudah berada dibelakangnya.

__ADS_1


Zain hanya menatap datar gadis dihadapannya. "Setelah selesai kerajaan didapur, tolong ambil baju kotor dikamar." Setelah mengucapkan itu, Zain berlalu dari hadapan Anye menuju kulkas dan membawa sebotol air mineral dingin dari dalamnya.


Anye mendengus melihat kelakuan majikannya yang seperti kanebo kering. Tak mau ambil pusing, Anye menyelesaikan tugasnya membersihkan ruangan.


Kini saatnya Anye melakukan tugas yang diperintahkan oleh Zain, mengambil pakaian kotor.


Anye mengetuk pintu yang sedikit terbuka, tak ada jawaban. Ia mengetuk ulang lagi, namun tak mendapatkan jawaban juga.


Anye memberanikan diri untuk melongokkan kepalanya kedalam. Tapi ia tak mendapati orang didalamnya. Suara keran air yang menyala dikamar mandi pun tak ia dapati.


Dengan ragu, Anye melangkah masuk kedalam kamar hendak mengambil tumpukan baju dikeranjang dekat dengan pintu kamar mandi.


Anye memindai ruangan yang tak terlalu luas itu. Seperti kamar laki - laki pada umumnya, kamar ini tak terlalu banyak terdapat barang disana. Dengan warna dinding abu - abu, menampakkan kesan maskulin dengan aroma parfum mahal yang kahas digunakan oleh kaum pria.


Disatu sudut dinding, dapat Anye lihat satu buah figura foto lumayan besar yang didalamnya terdapat foto tiga orang dimana ada Sora, Zain dan seorang gadis menghiasi dindingnya. Dan disisi lainnya, figura berukuran sedang yang didalamnya terdapat gambar Zain dan gadis yang sama pada foto sebelumnya.


Difoto kedua itu, menampakkan Zain yang duduk bersisian dan saling pandang penuh cinta pada seorang gadis cantik.


"Pasti ini mommy-nya Sora." Tebak Anye. Kemudian ia teringat dengan akan tujuannya kekamar ini.


Anye kembali memutar arah dimana keranjang pakaian berada. Ia mengangkat keranjang itu untuk dibawa keluar.


Cekkleek


Pintu kamar mandi terbuka. Dan keluarlah Zain dengan tubuh berte lan jang dada dengan handuk yang terlilit dipinggangnya. Keadaan itu berhasil membuat keduanya terkejut, hingga membuat Anye terpundur sampai menginjak sandalnya sendiri.


"Aaaaa." Anye terhunyung kebelakang, dan dengan gesit Zain mencoba menarik tangan Anye. Namun sayang seribu sayang, usaha Zain sia - sia. Kini malah dia yang ikut - ikutan terjerambah diatas kasur bersama dengan Anye yang berada dibawahnya, dengan posisi wajah Zain tepat berada diatas dada Anye.


"Zain...!"


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai... Maaf ya, kalau waktu up nya tak menentu. Kadang lagi gak konsen buat mikir karena menahan lapar dan dahaga disiang hari. Malam juga susah buat begadang. Hehe...


Maklumi aja ya say.


Jangan lupa beri dukungan kamu ya. Beri like dan komentar kamu.


Terima kasih buat para reader. Apa lagi yang setia dari awal sampai sekarang. Mudah - mudahan gak bosan sama alurnya.

__ADS_1


__ADS_2