Little Daddy

Little Daddy
Chapter 12


__ADS_3

Chapter 12


happy reading


🍁🍁🍁


Zain dan Sora sudah sampai didepan kafe.


"Ayo masuk." Zain menuntun putri kecilnya.


Saat hendak masuk tiba - tiba Sora menarik tangan Zain.


"Daddy!" Cicit Sora.


Zain menunduk melihat putrinya. "Kenapa?"


"Susu..." Rengek Sora.


Haaahhhh.... Baru juga sampai. Si bocil udah minta susu aja.


Sebenarnya Zain sudah tak sabar untuk melihat sosok yang berhasil menggetarkan hatinya yang sudah lama membeku itu.


"Ya udah. Ayo kita ke minimarket di seberang dulu buat beli susu." Ajak Zain.


Sora mengulurkan tangannya untuk minta digendong. "Gendong Daddy."


Dengan hati - hati Zain mengangkat Sora kedalam gendongannya.


"Manjanya anak Daddy." Zain mencium gemas pipi Sora. Yang dicium hanya cekikikan saja, senang mendapatkan ciuman dari daddynya.


Mereka berdua menyebrangi jalanan yang tidak terlalu ramai itu. Tapi Zain harus tetap hati - hati, karena ia sedang membawa Sora.


"Selamat datang! Selamat berbelanja!" Keduanya disambut oleh sapaan pramuniaga wanita minimarket itu.


Pramuniaga itu terus saja melihat kearah Zain yang tampan. ia jadi kelepek - kelepek seketika akan pesona Zain Malik yang rupawan.


Zain menurunkan Sora dan menuntunnya kearah rak tempat susu dipajang.


"Daddy! Sola mau itu." Tunjuknya pada jajanan kesukaan Sora.


Zain melihat kearah yang ditunjuk Sora. "Ambil satu. Gak boleh terlalu banyak." Ucapnya.


"Oce Daddy." Sora berlari kecil menuju jajanannya.


Tapi saat ia berbalik dan menuju ketempat Zain sedang memilih susu, Sora tanpa sengaja menabrak seseorang.


Bruuukkk


Jajan Sora tercampak lumayan jauh.


"Eh... Jajan Sola jatuh." Cicit Sora dan hendak mengambil jajanannya kembali.


"Kamu tidak apa - apa nak?" Tanya seorang wanita paruh baya.


"No nenek. Sola gak apa - apa."


Deg


"Wajah itu?" Wanita paruh baya itu membatin.

__ADS_1


"Sora!" Seru Zain dari tempatnya.


"Ya Daddy, tunggu dulu. Jajan Sola jatuh ini." Sora memungut jajanannya dan langsung berlari kearah sang daddy.


Wanita paruh baya itu hanya memperhatikan gerak gerik si kecil Sora.


Wanita itu tertegun ketika Sora mendekati seorang pria muda seusia almarhum putrinya, Yunara.


"Kenapa lama?" Tanya Zain.


"Tadi Sola tablak nenek - nenek, jadi jajan Sola jatuh, telus Sola ambil dulu baru Sola kesini deh." Tutur Sora.


"Udah minta maaf belum?" Tanya Zain. Sora mengangguk cepat.


"Ya udah ayo kita bayar dulu." Ajak Zain


Saat hendak berbalik menuju kasir, netra Zain menangkap sosok yang Zain kenal. Sosok yang sudah menolak dirinya dan Sora.


Zain terpaku. Haruskah ia menyapa nenek dari anaknya ini? Ibu dari almarhum istrinya?


Zain hanya menunduk sebagai rasa hormatnya pada sosok wanita itu. Lalu ia menuntun Sora untuk menuju kasir.


"Tunggu." Cegah Retno, nenek dari anaknya.


Zain berhenti, namun masih memunggunginya.


"Sepertinya kalian hidup dengan baik setelah merenggut nyawa anak ku satu - satunya." Sarkas Retno.


Zain masih memunggungi wanita itu. Mencoba meredam amarah yang mulai mencuat.


"Haaahhhh... Ini sungguh tidak adil bukan? Pembunuh seperti kalian,-" Belum sempat Retno meneruskan ucapannya, Zain langsung meninggalkan wanita itu tanpa pamit.


Mood Zain anjlok seketika. Ia mendudukkan Sora didekatnya, dikursi pengunjung.


Zain hanya terdiam. Ia masih mengatur emosinya agar Sora tak melihatnya marah.


"Eh... Zain? Tumben malam begini ke kafe?" Sapa Zahwa yang baru saja mengantar pesanan pelanggan.


Melihat wajah Zahwa, amarah Zain berangsur hilang.


Wajah itu seakan menjadi obat dari luka dihatinya selama ini karena sang anak mendapat sebuah penolakan dari anggota keluarga almarhum sang istri.


"Hemm. Lagi pingin ngecek secara langsung keadaan kafe dimalam hari." Jawab Zain.


"Kalau masih jam segini sih belum terlalu ramai. Mungkin bentar lagi mulai ramai." Tutur Zahwa.


"Heemmm." Zain hanya berdehem.


Tatapan Zahwa beralih pada sosok imut yang berada tak jauh dari Zain. Siapa kah gadis kecil ini? Zahwa bertanya - tanya.


"Woaaahhh... Ada adik kecil yang imut disini." Zahwa melambaikan tangannya pada Sora


"Hay kakak cantik..." Sora balas menyapa.


"Mau minum apa? Biar kakak ambilkan." Tawar Zahwa.


"Minum susu." Jawab Sora cepat.


"Susu? Tapi disini gak ada susu."

__ADS_1


"Ada. Itu dad, eh! Maksud Sola uncel Zain bawa susu buat Sola." Ucap Sora.


Ternyata anak kecil ini keponakan dari bosnya.


"Oh..." Zahwa menoleh pada bosnya. "Apa mau aku yang buatin susu untuk Sora?" Tawar Zahwa.


Zain mengangguk. Dan memberikan kantong plastik yang berisi susu Sora pada Zahwa.


Zahwa meraihu kantong plastik itu. Melongokan kepala untuk melihat isinya. "Tunggu sebentar ya. Biar kakak buatkan. Mau makan apa? Tanyanya lagi pada Sora.


"Ini." Sora menunjukan sebungkus jajanan yang dibelinya tadi bersama sang daddy.


"Oouuwh. Ya udah. Bos! Mau minum atau makan apa? Biar sekalian dibawa nanti." Kini pertanyaan beralih pada Zain.


Zain tampak berfikir. Sebenarnya ia tak menginginkan apa pun, karena moodnya sudah terlanjur rusak.


"Gimana kalau coklat panas? Coklat bisa mengembalikan mood jadi baik lagi loh." Tawar Zahwa.


Zahwa dapat melihat raut wajah Zain yang sedang tak bersahabat sejak ia memasuki kafe tadi. Jadi tidak salah kan ia menawari Zain minuman coklat?


"Terserah kamu. Air mineral jangan lupa." Ucap Zain.


Zahwa terpaku. Kamu? Sejak kapan Zain bicara pada orang lain menggunakan kata 'kamu'?


Tak mau ambil pusing, Zahwa membuat pesanan bosnya dan keponakan bosnya itu.


Tak butuh waktu lama pesanan pun tiba.


"Selamat menikmati..." Zahwa tersenyum pada dua orang beda usia itu.


Senyum Zahwa nyatanya berhasil membuat mood Zain kembali baik sebelum ia meminum coklat panasnya.


Setelah selama satu jam zain dan Sora berada dikafe, ia memutuskan untuk membawa Sora pulang.


Zain terpaksa membatalkan rencananya untuk kerongkongan nya bersama teman - temannya. Tak mungkin juga kan ia membawa sang putri keluyuran malam hari?


Sampai rumah, Zain langsung membopong sang anak untuk direbahkannya di kasur kamarnya.


Ya. Malam ini ia ingin tidur dengan memeluk putri kecilnya.


"Maafkan Daddy, sayang. Daddy belum bisa jadi Daddy terbaiknya Sora. I love you, my princess." Zain mengecup kening anaknya. Menarik selimut sebatas dada Sora.


Dan Zain pun ikut merebahkan tubuhnya disamping sang anak untuk mengarungi mimpi.


Zain berharap ia dan sang anak akan bisa mendapatkan kebahagiaan bersama seorang wanita yang bisa menerima mereka berdua dalam satu paket. Menerima dirinya dan sekaligus menerima anaknya, Sora.


Zain tak ingin salah memilih wanita sebagai pendamping hidupnya. Ia tak ingin mengorbankan kebahagiaan sang anak demi mendapat kebahagiaan untuk dirinya sendiri.


Begitu dewasanya pemikiran Zain diusianya yang semuda ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa beri dukungan kamu untuk karya aku.


beri like, komentar kamu dan tambah ke list favorit mu ya.


jangan lupa vote karya aku.

__ADS_1


...thanks udah mampir 🙏...


__ADS_2