Little Daddy

Little Daddy
Chapter 9


__ADS_3

Chapter 9


happy reading...


🍁🍁🍁


Ceklek...


Sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Dibukanya pintu tak terlalu lebar.


Kemudian ia melangkahkan kaki kecilnya dengan perlahan agar tak mengganggu tidur lelap daddy nya, bocah kecil itu menuju ke tempat tidur dan bergabung dengan sang daddy tercinta untuk mengarungi mimpi juga.


Zain yang merasakan seseorang naik keatas ranjangnya, sontak menoleh dan memicingkan mata untuk melihat siapa yang ada disampingnya.


Tampak wajah mungil yang masih sayu menahan kantuknya.


Zain melirik jam di dinding. Ternyata masih tengah malam rupanya.


Zain meraih putrinya untuk masuk kedalam dekapannya agar melanjutkan tidurnya. Samar - samar ia mendengar suara sang putri mengucapkan sesuatu.


"Daddy...! Mau mommy." Pinta Sora dengan gumaman kecil. Dan tak lama terdengar dengkuran halus dari bibir mungil sang anak.


"Selamat bobo sayang. Mimpi yang indah princess nya daddy. Maaf. Daddy belum bisa kabulin keinginan Sora yang itu." Ucapnya lirih dengan mata mulai terpejam.


****


"I love you, Zahwa." Zain mengucapkan satu kalimat yang tak pernah terucap dari bibirnya sebelumnya.


"I love you too, Zain." Zahwa membalas ucapan cinta Zain dengan seulas senyum menggodanya.


Tatapan keduanya kini saling bertaut. Tatapan penuh cinta yang mendamba dan saling menginginkan satu sama lain.


Pelan namun pasti, wajah keduanya mulai saling mendekat. Semakin dekat, dan semakin dekat lagi hingga ujung kedua hidung mereka saling bersentuhan. Terasa hangat hembusan nafas mereka yang saling menerpa kulit wajah.


Dengan mata terpejam, Zahwa mulai merasakan sebuah benda kenyal nan basah milik Zain kini telah menempel pada bibirnya. Ia menikmati setiap sen tuhan yang Zain hadiahkan disetiap detiknya pada Zahwa. Hingga akhirnya, nafas keduanya memburu dan mereka berdua mulai kehabisan pasokan oksigen pada paru - parunya.


Tautan terlepas. Kini keduanya saling terengah. Menarik nafas dalam. Mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin.


Tampak semburat merah dari keduanya yang sedang menahan has rat untuk menginginkan lebih dari kegiatan ini.


"Aku menginginkan mu." Bisik Zain ditelinga Zahwa.


Tanpa persetujuan sang empu, Zain langsung me lu mat dengan penuh naf su bibir merona yang kini ada dihadapannya.


De capan - de capan mulai terdengar menggema diruangan itu. Ruangan yang tak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk mereka me madu kasih.


De sahan mulai terdengar dari bibir Zahwa. Dan hal itu malah menambah gai rah dalam diri Zain. Ia mulai mengeksplor setiap rongga mulut Zahwa. Mem belit dan meng gigit lembut li dah kenyal Zahwa.

__ADS_1


Tanpa komando, kini tangan Zahwa mulai naik ke punggung dan mulai tertaut dileher Zain. Sambil menik mati setiap yang Zain lakukan pada dirinya.


Sedangkan Zain, tangannya saat ini mulai tak bisa terkendalikan lagi. Ia mulai me re mas bongkahan yang ada dibelakang Zahwa. Dengan gemas ia me re mas dan merapatkannya pada bagian tubuh depannya.


Dengan perlahan, Zain mulai menye ntuh dan mera ba apa saja yang ia inginkan. Dan kini tangannya mulai beralih pada kedua aset Zahwa yang mulai tegang dan menantang. Dire mas nya penuh has rat dan naf su.


"Aaahh...." Desa han keluar dari mulut Zahwa.


Sungguh Zain sudah tak tahan lagi. Dibawanya Zahwa ke atas tempat tidur. Kemudian me ngung kung dan menin dihnya dan langsung memberinya lagi luma tan - luma tan penuh naf su.


Kini wajah Zain sudah beralih tepat didepan si gunung kembar Zahwa. Sedikit memberi sen tuhan disana. Lalu dibukanya setiap helai kain yang menempel ditubuh wanitanya. Dan setelahnya ia pun membuka apa yang melekat padanya. Kini tampaklah dua tu buh polos itu.


Zahwa terlihat malu menutupi kedua asetnya yang sudah kencang menantang sedari tadi.


"Kenapa ditutup?" Tanya Zain sambil menyingkirkan kedua tangan Zahwa dari asetnya. Tampak wajah merona malu diwajah Zahwa.


Zain merunduk, mulai me mi lin dan meng hisap. Memberikan sebuah rasa dan sensasi yang tak dapat dijelaskan dengan kata - kata oleh Zahwa. Zahwa men de sah, mere mas lembut rambut lebat Zain yang hitam.


"Auughhh... Zaaaiiin". Racau Zahwa.


"Yes baby?" Sahut Zain dengan suara serak menahan has rat. "Aku menginginkan mu."


Zain melanjutkan aksinya di bagian terbawah Zahwa. Menghirup aroma khasnya dan memberi sen tuhan lembut dengan lidahnya.


Setelah puas bermain - main. Zain mulai pada kegiatan inti yang sudah sangat ia dan reader tunggu - tunggu sedari tadi.


Ia mengarahkan pedang panjangnya untuk membelah duren yang masih segar tak pernah tersentuh.


"Aakkhh... Sakit Zain." Rintih Zahwa.


Zain menghentikan aktifitasnya sejenak. Memberikan jeda pada Zahwa untuk menetralisir sakit yang dirasanya.


"Sakitnya hanya sesaat baby. Setelahnya kamu akan merasa nik mat." Bisiknya ditelinga Zahwa.


Melihat kondisi sudah mulai aman. Dengan perlahan Zain mulai bergerak perlahan. Memberikan rasa nyaman terlebih dahulu. Agar Zahwa dapat ikut menikmati kegiatan yang bisa memacu has rat nya untuk ber cinta.


Zahwa mulai riseks dan menikmati setiap gerakan yang Zain lakukan.


"Aaahh..... Zaiiin..." De sah Zahwa.


"Yes baby? Kamu suka?" Tanya Zain.


Zahwa hanya mengangguk tak bisa berkata karena serangan rasa nik mat dari Zain.


"Ouughh..."


"Aaahh..."

__ADS_1


Desa han keduanya saling bersahutan. Hingga gerakan menjadi cepat, cepat dan semakin cepat. Dan menyemburlah lava putih kental dari si pedang panjang.


Keduanya terengah dengan nafas memburu. Zain ambruk dia tas tubuh Zahwa. Dan mereka akhirnya pun lelah.


Hingga akhirnya Zain merasakan sebuah timpukan dari sebuah bantal diwajahnya.


Dan seketika Zain terlonjak bangun dari mimpi mesumnya bersama Zahwa.


"Haaahhhh... Sora kenapa pukul Daddy?" Mata Zain mengerenyit.


"Dali tadi Sola bangunin gak bangun - bangun. Malah bilang ouughh ouughh. Jadi Sola pukul aja Daddy pakai bantal." Jawab Sora enteng.


Astaga... Jadi Sora dengar daddy nya lagi mengeluarkan suara laknatnya?


Kamu menodai kuping suci Sora, Zain!


Zain mengacak rambutnya yang berantakan. Bisa - bisanya ia mimpi mesum dengan Zahwa saat ia tidur disamping anaknya.


"Iya. Ini daddy udah bangun. Sekarang Sora kekamar Sora ya? Mandi yang bersih." Perintahnya pada sang anak.


"Oce daddy!" Sora beranjak akan keluar. Sebelum mencapai pintu, Sora berbalik melihat sang daddy. "Daddy jangan bobo lagi. Nanti Sola panggil glandma loh." Sora memperingati daddy nya sambil mengacungkan jari telunjuknya yang mungil.


Zain mengangguk patuh, agar sang anak cepat keluar dari kamarnya.


Brakkk...


Pintu tertutup.


Kini tinggalah Zain sendiri dikamar.


"Hufff..." Zain menghembuskan nafas. "Bisa - bisanya gue mimpi hiya - hiya sama tuh cewek." Zain menggelengkan kepalanya.


Ia menyibakkan selimutnya. Dan melihat dimana pedang panjangnya berada. Ternyata sudah basah sarungnya.


"Haaahhhh.... Mimpi ba sah dah gue."


Zain berlari kearah kamar mandi. Membersihkan diri dari hadas besar yang tak sengaja ia lakukan didalam mimpi lucnut nya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


aku khilaf lagi geng waktu buat chapter ini. semoga Allah mengampuni dosa dosa author ya?


jangan lupa beri dukunganmu untuk karya aku ini ya.


beli like, komen dan tambah ke list favorit mu. jangan lupa kasih vote kamu buat karya receh aku ini.

__ADS_1


...thanks udah mampir 🙏...


__ADS_2