
Chapter 53
Happy Readding.....
🍁🍁🍁🍁
"Yah... Hujan." Anye menadahkan tangannya pada kucuran air hujan yang jatuh dari atas genting fakultasnya.
Wanita itu mundur dan menjauh serta merapat ke dinding ruangan kelasnya agar tak terkena cipratan air hujan yang lumayan deras.
"Kantin yuk, Nye. Hujan - hujan begini enaknya makan bakso kuah nih." Ajak Yuli, teman sekelas yang akrab dengannya.
Tanpa berfikir lebih lama lagi, Anye langsung menyetujui ajakan Yuli. Tak ada salahnya 'kan?
Kantin siang ini cukup ramai, mungkin karena hujan, jadi para mahasiswa tak dapat meninggalkan kampus dan memilih menghabiskan waktu mereka di kantin sambil menunggu hujan reda.
"Eeeemmm... Harumya." Anye mengendus aroma kuah bakso yang terasa begitu segar diindra penciumannya. Tanpa menunggu lama lagi, Anye langsung meracik bumbu tambahan dalam mangkuk baksonya.
"Issshhh. Jangan banyak - banyak sambalnya, Nye. Tar sakit perut loh." Ucap Yuli yang begidig melihat Anye memasukan begitu banyak sambal pada baksonya.
"Kalau gak pedas, gak makan bakso namanya, Yul. Srrruuuuppp..." Ucap Anye dan langsung menyeruput kuah bakso merah itu.
Saat tengah asyik menikmati baksonya, kedua gadis itu dihampiri seorang pria. Dan langsung duduk tepat di samping Anye.
"Hai! Gue gabung ya?" Ucap Roni tanpa diberi izin sudah duduk bersama kedua gadis itu.
Anye dan Yuli menoleh, melihat pria yang duduk dimeja yang sama dengan mereka. Yuli tampak senang dengan kehadiran Roni, kapan lagi dihampiri cowok seganteng orang didekat mereka saat ini?
Tapi beda halnya dengan Anye, gadis itu hanya mendengus tak suka dengan pria yang berusaha mendekatinya ini. Padahal awal perkenalan. Gilang sudah memberitahukan tentang status Anye yang telah memiliki pendamping. Besar juga nyali nih cowok.
Tanpa menghiraukan pria disampingnya ini, Anye tetap melanjutkan untuk menyantap baksonya yang masih tersisa banyak di mangkuknya.
"Nye!" Roni mencoba mencuri atensi dari gadis yang sedang diincarnya ini.
__ADS_1
"Hemm..." Sahut Anye dengan deheman.
"Boleh gak minta nomor kamu?" Roni melancarkan aksi pertamanya.
"Boleh. 08xxxxxxxx" Anye menyebutkan sebuah nomor.
Dan alangkah terkejutnya pria itu, saat ia tahu nomor yang diberikan Anye sudah tersimpan di kontak handphonenya. Dan ia lebih terkejut lagi saat mengetahui nama yang tertera adalah nama seseorang yang sangat populer di kampus ini. "Mampus, gue." Gumamnya.
Roni menoleh kearah meja yang tak jauh dari mereka sedang duduk. Roni menoleh kearah meja dimana dia tadi sedang duduk bersama para teman - temannya.
Tampak Zain yang duduk tegak sambil bersedekap dada dengan wajah datar dan mata tajamnya yang sedang menyorot padanya. Dan tak hanya itu, Roni juga melihat Gilang sedang tersenyum mengejek kepadanya dengan tatapan yang seolah mengatakan 'singa jantan sudah terbangun, bro."
Roni menelan ludahnya dengan susah payah. Menyadari tentang kesalahannya yang berani menggoda Anye yang merupakan istri dari Zain, seorang yang cukup ia segani.
"Gu, gu, gue cabut dulu ya." Pamit Roni dengan suara terbata.
Yuli sedikit terheran dengan reaksi dari Roni, namun tidak untuk Anye. Iya tertawa senang saat dalam hatinya saat mendapati wajah tegang playboy cap kapak ini saat menerima nomor yang Anye sebutkan.
"Kenapa tuh orang?" Tanya Yuli dengan kebingungannya. Anye hanya mengangkat bahunya tanda tak ingin terlalu membahas pria itu.
Tanpa bertanya maksud Yuli, Anye langsung menolehkan kepalanya kearah yang Yuli suruh. Dapat Anye lihat suami dan sepupunya bersama teman mereka sedang bercengkerama dengan asyiknya.
"Emang kenapa?" Tanya Anye.
"Senior yang pada duduk disitu ganteng - ganteng semua ya, Nye. Apa lagi yang mukanya bule itu." Ucap Yuli yang terkagum - kagum pada kumpulan para lelaki itu.
Anye mendengus saat mengetahui siapa yang dimaksud dengan teman barunya ini.
"Jangan macem - macem. Dia udah ada yang punya. Udah sold out." Ketus Anye.
"Masa? Lo tahu darimana?" Tanya Yuli tak percaya.
"Tau lah. Aku yang punya tuh cowok bule." Sahut Anye, namun itu hanya dalam hati.
__ADS_1
"Salah satu dari mereka sepupu aku. Jadi dikit banyaknya aku tahu tentang mereka." Jawab Anye.
"Ooohh..." Yuli manggut - manggut. Namun bibirnya tak lepas dari senyum penuh makna. "Kalau gitu, lo minta tolong sama sepupu lo buat kenalin sama tuh cowok bule dong." Pinta Yuli penuh harap.
Anye menghembuskan nafas kasar. "Gak mau ah." Tolak Anye.
"Please!" Pinta Yuli penuh harap.
"Gak bisa, Yul. Tuh bule udah punya istri. Kamu mau jadi pelakor?" Ucap Anye mulai geram.
Enak aja mau deketin suami orang. Istrinya sendiri aja belum bisa miliki hatinya. Ini malah mau direbut perempuan lain.
"Ya mana tau gue bisa jadi cadangan tuh bule." Cengir Yuli.
Anye merotasikan bola matanya. Ia mulai jengah dengan pembahasan ini. Resiko punya suami tampan.
****
Setelah menunggu cukup lama di kampus, akhirnya Anye sampai juga di rumah. Tadi saat ia hendak keluar gerbang kampus dengan keadaan langit masih gerimis untuk mencari angkutan umum, tiba - tiba mobil milik suaminya berhenti didekatnya.
Tanpa rasa ragu, Zain menyuruh Anye untuk pulang bersamanya. Walaupun dalam perjalanan Zain tak banyak bicara, tapi Anye sungguh senang mendapat ajakan sang suami. Semoga hubungan mereka akan mengalami kemajuan dikemudian hari.
Anye turun dari mobil saat sudah tiba dirumah. Namun tidak dengan Zain. Pria itu mengatakan akan keperusahaan sang papa untuk mengurus beberapa pekerjaan yang harus segera ditanganinya langsung.
Anye memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjemput Sora dirumah sang budhe.
Saat memasuki kamar, entah mengapa kakinya melangkah kearah dimana sebuah figura foto lumayan besar yang masih bertengger didinding kamarnya dan sang suami.
Anye menatap figura foto sepasang kekasih yang terlihat begitu bahagia dan penuh dengan cinta. Ia mengelus figura itu. Hatinya tak menentu. Haruskah ia cemburu pada orang yang sudah tiada?
"Mbak! Bolehkah aku memiliki hati suami kamu? Izinkan aku ya, Mbak. Demi kehidupan rumah tangga ku, aku gak mau jadi janda diusia muda." Anye berbicara pada foto Zain dan Zahwa.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...