Little Daddy

Little Daddy
Chapter 14


__ADS_3

Chapter 14


happy reading....


🍁🍁🍁


Tak...


Bunyi standart motor diturunkan.


Seorang pemuda tampan membuka helmnya. Dengan sedikit mengibaskan rambutnya yang sedikit gondrong, ia turun dari motornya. Dan itu menjadi vitamin mata bagi para siswi yang sedang memperhatikannya dari jarak dekat maupun jauh. Ia berbalik ingin menuju kelasnya.


"Astaga." Zain berjingkat kaget. "Ngapain lo disitu?" Ketus Zain saat melihat Megan tiba - tiba berada didepannya.


Senyum merekah Megan tampilkan dengan indahnya. "Hay, Zain!" Sapanya.


Zain merotasikan bola matanya. Ia jengah terhadap gadis yang ada dihadapannya ini. Pasalnya Megan tidak pernah berhenti mengganggu dan mencari perhatian dari seorang Zain Malik.


Tanpa balik menyapa, Zain langsung meninggalkan parkiran. Namun sungguh disayangkan, Megan dengan tak tahu malunya terus mengikuti langkah Zain.


"Ngapain lo ngikutin gue, kaya an jing yang ngikutin majikannya?" Sarkas Zain dengan alis yang menukik sebelah.


"Iss. Kamu kog gitu sih? Masa aku disamain sama an jing." Mengan mengerucutkan bibirnya.


Ah... Susahnya mendekati lelaki ini, pikirnya.


Sejak awal Zain bersekolah di SMA xx, Megan sudah menaruh hati dengan pria tampan itu. Dan dengan beraninya ia mengancam para siswi yang berani mendekati gebetannya itu agar menjauh.


Zain tetap tak memperdulikan Megan. Hingga akhirnya ia berjumpa dengan Zahwa dikoridor.


Ingin rasanya Zain menyapa calon mommy Sora itu, tapi seakan suaranya tertahan di tenggorokannya.


Zahwa yang melihat bosnya sedang berjalan kearahnya bersama Megan hanya memberi senyum sebagai rasa hormatnya pada Zain yang sudah menerimanya bekerja di kafenya.


Apa yang dilakukan Zahwa tak luput dari pandangan Megan. Ia hanya bisa memelototi Zahwa sebagai peringatan agar tak menggoda Zain.


Namun lain halnya dengan yang dirasakan oleh Zain. Kini ia merasakan jantungnya berdegup dengan kencang setelah mendapat senyuman gadis itu. Namun ia bisa menutupi perasaan yang membuncah itu dengan wajah datar dan cueknya.


Zain terus berjalan tanpa memperdulikan Zahwa yang tersenyum padanya, dan Megan yang terus mengikutinya.


Megan menjulurkan lidahnya kearah Zahwa. Ia senang sapaan Zahwa tak ditanggapi oleh Zain.


Sedangkan Zahwa hanya mengedikkan kedua bahunya melihat Zain dan Megan. Ah, masa bodoh, pikirnya. Zahwa pun berlalu menuju kantin untuk membeli roti untuk mengganjal perutnya karena tadi ia tak sempat sarapan.


Hari ini latihan untuk pentas drama untuk pertama kalinya dilakukan. Para pemeran pentas drama sudah berkumpul semua di aula sekolah, termaksud Bu Yuni.


"Baik anak - anak. Disini ibu hanya memberi kalian naskah drama yang akan kalian perankan. Dan kalian akan memerankan adegan dari kisah cinta klasik dari drama musikal Romeo dan Juliet. Dan ini naskahnya, Ryo! silahkan dibagikan." Bu Yuni menyodorkan tumpukan naskah itu pada Ryo.

__ADS_1


"Siap Bu." Ryo mengambil dan membagikan naskah itu pada teman - temannya.


"Baik. Ibu tinggal ya. Selamat berlatih." Bu Yuni langsung pergi meninggalkan aula itu.


Para pemeran drama itu pun mulai membaca skrip dari dialog yang akan mereka perankan.


Di skrip itu pun sudah tertera siapa berperan sebagai apa.


"Wiiihhh... Zain Malik jadi bang Romeo, cuy." Seru Ryo.


"Waaahhh... Beruntung banget Zahwa jadi Juliet nya." Seru teman wanita mereka.


Zain dan Zahwa hanya saling lirik mendengar celotehan mereka.


"Wah... Gue jadi Paris. Saingan Lo, Zain." Celetuk Ryo sambil menepuk pundak Zain.


"Dan gue yang jadi Rosaline nya." Celetuk Gea juga. "Gak apa deh jadi Rosaline. Yang penting bisa beradu akting sama seorang Zain Malik nya SMA xx." Ucap Gea dengan gaya centilnya.


Zain hanya menatap datar tanpa ekspresi pada teman - temannya. Ia melirik Zahwa sekali lagi. Gadis itu tengah fokus membaca naskah yang ada di tangannya.


"Cantik." Gumam Zain pelan.


"Iya. Zahwa emang cantik." Sahut Ryo yang mendengar gumaman Zain.


Sh it. Ternyata Ryo memergokinya sedang melirik Zahwa yang tengah serius.


Ternyata hari ini hanya pembagian naskah drama. Untuk latihan dramanya akan mereka mulai besok.


Zahwa meraih sepedanya, bersiap mengayuh untuk menuju tempat kerjanya sekaligus tempat tinggalnya yang sekarang


Belum sampai ia di gerbang sekolah, terdengar suara klakson motor dan berhenti tepat didepannya dan menghalangi jalannya.


Oh, ternyata itu si bos. Mau tak mau Zahwa ikut berhenti.


"Ada apa?" Tanya Zahwa.


"Mulai besok, lo pulang sekolah bareng gue." Ucap Zain, tetap dengan muka datarnya.


"Terus sepeda aku gimana bawanya?" Jawab Zahwa.


"Tingal di kafe. Pagi Lo bisa naik angkot ke sekolah, biar pulang bareng gue." Ucap Zain.


Zahwa diam dan berfikir. Kalau pagi ia pergi sekolah naik angkot, otomatis akan ada pengeluaran ekstra dong? Kan sayang uang untuk ongkos. Kalau naik sepeda, uang ongkosnya masih bisa ditabung. Pikir Zahwa.


"Aku naik sepeda aja pigi dan pulangnya Zain. Sayang banget uang buat ongkosnya. Kan masih bisa aku tabung." Tolak Zia dengan memberi alasannya.


Alis Zain berkerut hampir menystu. Astaga nih cewek. Hemat atau pelit? Perkara ongkos lima ribu perak aja dibela - belain naik sepeda.

__ADS_1


"Tar gue kasi Lo buat ongkos pergi sekolah setiap hari." Jawab Zain enteng.


"Eh? Gak usah. Kayak ayah aku aja kamu, pakai kasih ongkos buat naik angkot." Zahwa tetap menolak.


"Gak ada penolakan." Tegas Zain.


"Tap,-" Zahwa langsung cengkok. Karena Zain langsung pergi meninggalkannya.


"Uugh. Ternyata dibalik jiwa sosialnya, ada jiwa pemaksanya juga tuh orang." Sungut Zahwa.


Zahwa mulai mengayuh sepedanya meninggalkan sekolah. dan tanpa disadarinya, dari jarak yang lumayan jauh, ia telah diikuti sebuah mobil hitam dengan beberapa orang yang ada didalamnya.


Merasa sedikit kejanggalan, Zahwa berhenti sejenak untuk melihat sekelilingnya. Namun ia tak mendapat hal - hal yang mencurigakan.


Sedangkan mobil yang mengikutinya terpaksa ikut berhenti di jarak amannya.


Zahwa mulai mengayuh sepedanya lagi. ia mulai bersenandung lirih untuk mengusir rasa bosan dan lelahnya.


Sesampainya di kafe, Zahwa langsung menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja.


Ditempat lain yang tak jauh dari kafe, kini Zain tengah fokus pada laporan pendapatan dan pengeluaran kafe dan bengkelnya.


Tok tok tok...


"Masuk." Seru Zain dari dalam.


Masuklah Inah yang membawa beberapa pesan Zain.


"Siang mas Zain ganteng... Ini pesanannya tadi. Silahkan dinikmati." Ucap Inah.


"Hem. makasih mbak." Jawab Zain yang masih fokus dengan berkasnya. Namun sedetik kemudian ia mengangkat wajahnya."Oh ya. Zahwa udah sampai?" Tanya Zain.


"Udah mas." Jawab Inah singkat.


"Untuk dua bulan ini, dia masuk kerja jam empat, mbak. Minggunya dia full kerja dari kafe buka sampai tutup." Tutur Zain.


"Kenapa begitu, mas?" Tanya Inah.


"Disekolah dia dapat tugas dari guru buat pentas drama. Jadi setiap hari selama dua bulan ini dia harus ikut latihan." Zain menjelaskan.


"Oooh. Tau banget mas Zain sama kegiatan Zahwa. Naksir ya?" Goda Inah.


Zain hanya memberi tatapan datar. Dan itu berhasil membuat Inah jadi bungkam. Tak berani lagi untuk menggoda bos gantengnya.


"Baiklah mas. Mbak Inah permisi dulu." Inah buru - buru keluar sebelum mendapat ucapan pedas dari Zain.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2