Little Daddy

Little Daddy
Chapter 39


__ADS_3

Chapter 39


Happy reading...


🍁🍁🍁


Zain memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ketempat dimana ia mengenyam pendidikan selama tiga tahun belakangan ini.


Suasana kampus sudah tampak ramai saat ini, padahal jam baru menunjukkan pukul setengah delapan lewat. Karena memang saat ini adalah masa pengenalan bagi mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus.


"Woy mas bro! Tumben udah nongol jam segini?" Sapa seorang mahasiswa kepada Zain, yang dikenal sebagai ketua senat dikampusnya.


Zain memberi senyum kakunya pada juniornya itu. "Sesekali."


"Mau lihat cewek - cewek baru 'kan?" Goda Gilang sang ketua senat.


Zain tertawa kecil sambil menggeleng - gelengkan kepalanya tak percaya. Apakah ia se-playboy itu? Padahal sampai saat ini ia tak pernah menjalin hubungan khusus dengan gadis manapun.


Walaupun saat ini karakter Zain berubah menjadi lebih dingin dibandingkan sebelum musibah yang menimpanya, hal itu tak membuat ia kehilangan pesonanya. Bahkan saat ini pesona Zain bertambah berkali - kali lipat dari sebelumnya, sehingga banyak gadis rela melakukan hal konyol hanya untuk menarik perhatian dari seorang Zain Malik.


"Eh, Gilang! Dari tadi dicariin juga. Gak taunya ngobrol disini sama abang ganteng." Omel Rani, salah anggota BEM dikampusnya, menghampiri zain dan Gilang.


"Kan bisa telefon gue." Sahut Gilang.


"Oh iya. Lupa gue." Cengir Rani sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.


"Belum jadi nenek udah pikun aja, lo." Cibir Gilang. "Ada apa cari babang tampan ini?" Sambungnya dengan gaya tengilnya.


"Cih. Babang tampan. Mau nyaingin Andika 'Kangen Band', lo?" Cibir Rani.


"Astaga! Gue disamain sama Andika 'Kangen Band'." Dengus Gilang. "Ada apa cari gue?"


"Acara udah mau dimulai tuh. 'Kan tugas lo, buat kasih kata sambutan." Rani memberi instruksi.


Gilang melihat benda yang melingkar ditangannya, pukul 07.50. ia langsung bergegas menuju auditorium sebelumnya berpamitan pada senior tampannya itu, dimana semua mahasiswa baru berkumpul.

__ADS_1


Sedangkan Zain lebih memilih pergi ke kantin untuk meneruskan sarapannya yang tadi tertunda dirumah demi menghindari pembicaraan yang dapat memicu ketegangan antara dirinya dan sang mama.


Zain memesan menu nasi goreng dan segelas jus jeruk, ia mulai menyantap hidangan itu dengan hikmat tanpa memperdulikan para fansnya yang berbisik - bisik membicarakannya.


Di Auditorium


Gilang melangkahkan kakinya naik keatas panggung dengan gaya cool dan penuh kharismanya. Sangat berbeda saat ia sedang bersama dengan teman - temannya.


"Selamat pagi para mabar semuanya." Gilang mengucapkan kata pembukanya.


"Terima kasih telah mempercayakan universitas ini sebagai tempat kalian menimba ilmu untuk beberapa tahun kedepan. Perkenalkan, saya Gilang Ramadhan selaku ketua senat di universitas XX ini. Dan perkenalkan, dibelakang saya adalah teman - teman yang juga bergabung dalam BEM di universitas ini sekaligus panitia penyelenggaraan kegiatan ospek ini. Saya perkenalkan mulai dari sebelah ujung kanan saya ada..." Gilang menyebutkan satu persatu rekannya di BEM.


Usai memperkenalkan diri dan para rekannya, kini Gilang mengintruksikan para mabar untuk berkumpul sesuai kelompok yang sudah ditentukan dihari sebelumnya dengan didampingi oleh para senior sebagai penanggung jawab disetiap kelompok.


Untuk tahun ajaran baru kali ini, masa pengenalan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus hanya diadakan selama satu hari saja. Jadi mulai besok para mahasiswa baru sudah mulai fokus mengurus SKS agar dapat melaksanakan masa pembelajarannya dikampus ini.


****


Seorang gadis manis berkulit kuning langsat dengan rambut hitam lurus terikat rapi, turun dari sebuah gerbong kereta api. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seakan sedang mencari seseorang.


Dan benar saja, berada tak jauh darinya kini tampak sosok pemuda yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya menyambut kedatangan gadis itu.


"Mas Gilang...!" Gadis itu sedikit berlari kecil menghampiri dan langsung memeluk Gilang saat sudah berada dihadapannya.


"Weeiisss... Makin cantik aja adik aku ini." Puji Gilang pada gadis itu.


Tampak senyum malu - malu yang terpatri diwajah gadis itu.


"Mas kira kamu gak jadi kuliah di Jakarta." Ucap Gilang saat pelukan mereka merenggang.


"Jadi dong. Aku 'kan udah dapat izin dari pangeran kodok dan baginda ratu."


"Haha... ada - ada aja kamu ini." Gilang mengacak rambut hitam itu dengan gemas.


Gadis itu teringat seberapa kerasnya ia merayu agar mendapatkan izin untuk berkuliah di Jakarta. Disaat kedua orang tuanya menentang keinginannya, datanglah pakdhe dan istrinya membantu untuk membujuk agar gadis itu diberi izin berkuliah di Jakarta dengan syarat harus tinggal bersama pakdhe nya yang tak lain adalah orang tua dari Gilang.

__ADS_1


"Ya udah, kita balik." Gilang melihat kearah bawaan gadis manis itu. "Niat benar mau pindahan." Cibir Gilang saat melihat betapa banyaknya bawaan gadis ini.


"Hehe... Daripada harus beli barang baru lagi? 'Kan uangnya bisa ditabung." Gadis itu memberi senyuman manis pada sang kakak.


Keduanya berjalan sambil menenteng barang bawaan si gadis manis dan menuju taksi yang sudah dipesan Gilang beberapa saat lalu.


Dilain tempat, Zain sedang terjebak kemacetan saat hendak menjemput Sora.


Antrian kendaraan lumayan mengular akibat adanya sebuah insiden kecelakaan tepat berada diperempatan lampu merah, yang membuatnya sedikit frustasi karena beberapa menit lagi jam belajar Sora usai.


"Huuuhhh... Apa perlu gue pesan kendaraan yang bersayap, biar bisa terbang dan terbebas dari kemacetan." Gerutunya.


Zain memilih untuk menyalakan audio yang ada di dasbor mobilnya. Memilih beberapa lagu untuk membunuh kebosanannya saat terjebak macet.


Kini pandangannya mengarah pada satu titik, dimana terdapat seorang gadis cilik penjual asongan yang sedang menjajakan dagangannya pada pengguna jalan.


Ia tertegun. Kilas balik berkelebatan saat ia mengingat kenangan beberapa tahun lalu, dimana ia membeli air mineral pada gadis cantik pedagang asongan dan dengan mata yang berbinar saat ia menerima kembalian yang ditolak oleh Zain.


"Sayang! Aku kangen." Ucapnya dengan wajah sendu saat mengingat sosok almarhum istri tercinta. Zain meremas dadanya, merasakan sesak yang teramat sangat.


Tak terasa matanya mulai mengembung teringat kilasan balik kisah cintanya yang singkat bersama Zahwa.


"Mungkin kamu bahagia disana. Tapi tidak denganku disini. Maaf aku gagal menjaga dan menyelamatkan mu." Zain masih bermonolog sendiri. Kemudian menghirup nafas dalam - dalam hanya sekedar menenangkan hatinya.


"Heh. Masih muda, udah dua kali menduda. Ditinggal mati lagi." Zain menertawakan nasib pernikahannya yang berakhir tragis karena dipisahkan oleh kematian.


Laju kendaraan mulai menguar. Kini akhirnya Zain dapat merasa lega terbebas dari kemacetan.


Lima menit kemudian, Zain sudah tiba disekolah Sora. Yang mana merupakan yayasan pendidikan milik almarhum sang istri, Zahwa.


Zain memutuskan, aset yang ditinggalkan Zahwa dialihkan untuk pembangunan beberapa yayasan pendidikan yang tersebar dibeberapa daerah.


Saat memasuki area sekolah, tampak wajah cemberut sang putri yang sedang duduk di ayunan yang tak jauh dari pos satpam.


Haaahhh... Sepertinya ia harus mengeluarkan uang yang lumayan untuk membuat mood sang anak kembali membaik.

__ADS_1


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2