Little Daddy

Little Daddy
Chapter 7


__ADS_3

Chapter 7


happy reading....


🍁🍁🍁


Kriiiiiing....


Bunyi bel istirahat sudah terdengar. Para murid berhamburan keluar. Ada yang menuju perpustakaan, ada yang hanya duduk dikoridor dan lebih banyak lagi yang menuju kantin untuk mengisi perut yang keroncongan.


Riuh suara penghuni kantin seketika menjadi hening, karena kehadiran sosok Zain Malik sang pangeran tampan satu sekolahan. Kini semua mata mengarah padanya. Dan tak ketinggalan bisik - bisik yang terjadi karena mereka sedikit heran. Tak biasanya seorang Zain Malik berada di kantin sekolah.


Zain yang datang bersama Ryo mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Dan itu berada di bagian paling ujung, tepat didepan sosok yang sudah berhasil mencuri sediki perhatian seorang Zain Malik. Dia adalah Zahwa Miran.


Tanpa ragu sedikitpun, ia beranjak ke meja kosong itu. Namun masih beranjak dua langkah, tetiba ada seorang yang sengaja menabraknya.


Bruuukkk...


Zain menoleh pada sang pelaku. Dan ternyata itu adalah Dimas sang kapten basket sekolah yang tak kalah populernya dari Zain. Namun masih unggul Zain dari postur tubuh maupun ketampanan.


"Apa kurang gede badan gue, sampai - sampai elo tabrak?" Ucap Zain dingin.


"Weeehhh... Marah bos?" Cibir Dimas. "Makanya jangan berdiri ditengah jalan kalau gak mau ditabrak. Ngalangin jalan tau gak?" Sungutnya.


Dimas memang terkenal tak menyukai sosok Zain. Dia tak suka bila popularitas nya terkalahkan oleh pria sempurna seperti Zain. Karena selama ini hanya Dimas lah yang menjadi pusat perhatian siswi disekolah ini.


Tapi semenjak Zain bersekolah disekolah ini, posisinya jadi tergeser oleh Zain. Dan itu membuat Dimas membenci Zain.


"Wah... Cari gara - gara nih bocah." Gumam Ryo yang sudah tahu betul perangai Zain.


Sedangkan Zain hanya menatap tajam pada sosok yang menantangnya.


Dan ia berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Dimas yang mencari masalah dengannya.


Dimas yang dicuekin hanya bisa berdecak sinis. Menganggap bahwa Zain tak berani dengannya.


Padahal saat ini Zain lagi tak mood untuk adu mulut ataupun adu kekuatan.


"Gue cari tempat dulu. Lo pesenin gue bakso sama es teh manis." Pinta Zain pada Ryo.

__ADS_1


Ryo mengacungkan jempolnya tanda setuju. Dan berlalu dari hadapan Zain.


Tanpa permisi Zain langsung duduk tepat dihadapan Zahwa dan temannya. Dan itu membuat wajah salah satu diantara dua gadis menjadi sumringah. Karena bisa satu meja dengan sosok tampan yang selalu menjadi bahan gibahan para siswi di sekolahnya. Sedangkan Zahwa? Ia hanya masa bodo dengan orang yang ada didepannya, dia lebih memilih menghabiskan nasi soto yang ia pesan.


"Hai... Zain!" Sapa Rosa mencoba mencari peruntungan untuk menarik perhatian pria itu.


Namun sungguh disayangkan. Zain saat ini dalam masa mode batu. Hanya diam tak balik menyapa. Malah terkesan memberikan tatapan tajam seakan tak suka bila disapa.


Mendapat respon seperti itu, Rosa jadi ciut nyalinya. Hingga ia lebih memilih menghabiskan makanannya saja.


"Nih pesenan Lo." Ryo datang dengan nampan berisi pesanan dirinya dan Zain.


"Thanks." Singkat, padat dan jelas. Begitulah Zain. Seakan - akan kata - kata itu keluar karena harus dibayar.


"Eh... Ada Zahwa ama Rosa rupanya. Cepet banget makannya? Laper apa doyan neng?" Ryo menggoda keduanya.


"Laper bener, Yo. Apa lagi liat muka Lo. Jadi double rasa laper gue." Sungut Rosa yang memang sudah kenal dari orok itu karena mereka teman satu kampung.


"Wih... Serem amat lo, Sa."


Kini Ryo beralih pada Zahwa. "Wa!" Panggilnya.


"Yes!" Jawab Zahwa singkat.


Zahwa mengangkat pandangan dari soto yang menggugah selera makannya.


"Ada yang bisa Zahwa bantu?" Ucapnya sedikit bercanda.


"Jiiaaahhh... Kaya SPG aja Lo." Cibir Ryo.


"Apa sih Yo?" Tanya Zahwa mulai kesal.


"Ck... Ngegas aja nih bocah." Gerutu Ryo. "Gue ada kerjaan buat Lo. Mau gak?" Tawar Ryo.


"Kerjaan apa?" Tanya Zahwa dengan antusias.


"Sebenernya bukan gue yang butuh. Tapi noh si Zain lagi cari karyawan buat kafenya yang dekat bengkel dia. Dia suruh gue buat cari orang. Nah... Kebetulan pas ada Lo didepan gue. Jadi gue tawarin ke elo dulu. Mau gak?" Ucap Ryo panjang lebar.


Zahwa langsung melihat kearah Zain, dan bertanya langsung. "Beneran kamu lagi cari pegawai kafe, Zain?"

__ADS_1


"Hemm." Zain hanya berdehem sambil mengangguk.


"Boleh aku aja yang jadi karyawan kafe kamu?" Pinta Zahwa penuh harap. "Tapi aku gak bisa full, kan harus sekolah dulu." Sambungnya sedikit lesu, takut tak jadi diterima bekerja disana.


"Gak papa. Lo kerja paruh waktu. Kafe juga mulai ramai waktu tengah hari sore sampai malam." Wah... Kali ini Zain memecahkan rekor mengucapkan kalimat terpanjang kepada orang lain yang bukan keluarga intinya.


Zahwa sumringah mendengar jawaban dari Zain. Namun ia harus memastikan sekali lagi ucapan calon bosnya itu "Beneran?"


"Hemm. Lo mulai kerja hari ini. Jam kerja Lo dari jam tiga sampai jam sepuluh." Ucap Zain.


"Ok. Aku mau." Zahwa setuju dengan tawaran Zain. "Tapi kafe kamu jauh gak dari kosan aku? Kan pulang kerjanya malam tuh. Takutnya nanti gak ada angkot lagi."


"Dijalan xx." Ucap Zain.


"Aduh. Jauh banget lagi." Gumamnya pelan.


"Lo bisa tinggal sama mbak Inah, karyawan gue disana. Roftoff ada ruangan yang dijadikan kamar. Dan disana juga karyawan gue tinggal.


"Emmm. Bagus gitu aja, Wa. Lumayan kan hemat pengeluaran Lo. Jadi gak perlu dagang lagi. Kasian gue lihat Lo harus kepanasan dan kena angin malam terus tiap hari." Kini Rosa ikut membuka suara yang sedaritadi hanya menyimak percakapan tiga orang yang ada di dekatnya. Ia begitu iba pada Zahwa yang begitu giat mengumpulkan uang untuk kuliah. Sedangkan orang tuanya dikampung hanya mampu mengiriminya uang makan saja. Beruntung biaya sekolah ia mendapatkan dari dana beasiswa nya.


Zahwa nampak berfikir dan menimbang keputusan apa yang bakal diambil.


"Ya udah deh kalau emang boleh tinggal di roftoff kafe. Lagi pula dua hari lagi kosan aku jatuh tempo buat di bayar." Akhirnya Zahwa setuju untuk tinggal di roftoff kafe nya Zain bersama Inah.


"Ok. Hari ini Lo bisa mulai kerja." Putus Zain.


Zahwa mengangguk mengerti. Soga ini keputusan tepat. Dan kejadian yang lalu tak akan terulang kembali.


Sebenarnya Zain tidak membutuhkan karyawan kafe, ia lebih membutuhkan karyawan untuk bengkelnya.


Tapi, setelah mendengar cerita Ryo tentang kehidupan Zahwa di Jakarta yang jauh dari kedua orang tuanya, hati Zain entah kenapa menjadi tergerak ingin membantu.


Itu berawal saat Zain bercerita tentang Zahwa yang sering ia jumpai sedang menawarkan barang dagangannya dilampu merah. Dan mengalirkan cerita tentang kehidupan Zahwa dengan Ryo sebagai narasumbernya.


Padahal sebelumnya Zain tidak mau ambil pusing dengan urusan kehidupan orang lain.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan tambah ke list favorit mu


thanks udah mampir 🙏


__ADS_2