
Chapter 16
happy reading...
🍁🍁🍁
Pagi ini begitu cerah secerah hati Zain Malik.
Bagaimana tidak? Tadi malam ia sempat jalan berdua dengan Zahwa.
Flashback on
"Ekhemm..." Zain berdehem
Zahwa menoleh. Pasalnya suara deheman itu berasal dari arah belakang.
"Bos? Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Zahwa.
"Ya." Zain ragu untuk mengajak jalan Zahwa. Harus pakai alasan apa? "Elo bisa temenin gue keacara temen gue? Soalnya kata yang lain harus bawa pasangan." Ucap Zain dengan wajah datarnya.
Haisss. Mau ngajak ngapel anak cewek orang aja kog gini amat?
"Aku kan lagi kerja bos?" Zahwa menautkan kedua alisnya.
"Anggap aja ini kerja." Paksa Zain.
"Tapi aku gak enak sama yang lain." Zahwa mengedarkan pandangannya.
Tampak teman kerjanya ada yang sedang melayani pembeli, ada juga yang lagi membersihkan meja yang telah selesai dipakai.
"Ini perintah. Dan ingat, gue gak suka ada penolakan." Tegas Zain.
Huuuffftt haaahhhh
Zahwa menarik nafas kemudian membuangnya. Dan akhirnya Zahwa mengangguk.
"Tunggu bentar ya bos. Mau ambil tas dulu." Zahwa berlalu pergi kekamarnya yang ada di roftoff.
Tak berselang lama Zahwa sudah kembali dengan slingbag yang sudah nyampir dipundaknya.
"Mbak Inah." Inah yang dipanggil oleh Zain menoleh dan langsung menghampiri.
"Ya mas ganteng?" Ia melihat Zahwa yang berdiri disamping Zain dengan slingbag yang dikenakannya.
"Zahwa gue bawa dulu. Ada perlu. Tolong tetap awasi yang lain." Titah sang bos.
"Oce mas bos. Beres."
Selain Tomy, Inah adalah orang kepercayaannya dikafe ini.
Kedua muda mudi itu pun berlalu dari hadapan Inah yang sedang membatin. "Wah... Mas ganteng rasa - rasanya ada feel sama si Zahwa. Pupus deh harapan aku dapet berondong. Tapi gak papa deh. Zahwa gadis baik juga."
Diatas motor, Zain jadi bingung sendiri. Mau datang keacara apa dan siapa.
"Lo gak takut jatoh?" Ucap Zain dari balik helm full face nya memecah keheningan antara ia dan Zahwa.
"Apa?" Tanya Zahwa yang tak mendengar dengan jelas ucapan Zain.
"Lo gak takut jatoh? Lo kan gak pegangan." Ucap Zain sedikit berteriak.
"Ya takut sih." Ucap Zahwa yang memajukan kepalanya dekat telinga Zain.
"Jadi kenapa gak pegangan?" Teriak Zain lagi.
"Emang boleh?" Tanya Zahwa dengan polosnya. Kan Zahwa takut nanti Zain bakal marah kalau dipegang - pegang.
Zain mengulurkan sebelah tangannya yang bebas untuk mencari tangan Zahwa dan membawanya untuk melingkarkan tangan zahwa kepinggangnya. Zain tersenyum senang saat tangan indah ini memeluk tubuhnya.
Babang Zain mulai modus pemirsa!
Zain mengendarai motor nya tak tentu arah. Ia memutuskan hanya berputar - putar kota saja. Hingga akhirnya Zahwa menyadari sesuatu.
"Zain!" Panggil Zahwa.
Zain menoleh kesamping kiri. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak? Wajahnya dan wajah Zahwa begitu dekat.
"Kog kita gak sampai - sampai ya Zain? Emang rumah teman kamu dimana sih?" Tanya Zahwa heran sebenarnya pinggangnya sudah pegal buat membungkuk memeluk tubuh Zain.
Zain yang mendapat pertanyaan itu jadi gelagapan. Harus beralasan apa dia kali ini? Dan untungnya ponselnya bergetar. Ternyata Ryo sedang menghubunginya.
__ADS_1
Zain menghentikan laju motornya ditempat yang lumayan ramai untuk mengangkat panggilan dari Ryo.
"Ya Yo?" Sahut Zain saat panggilan tersambung.
"....."
"Oh. Acaranya kenapa dibatalkan?" Tanya Zain.
"Ya udah kalau gitu gue balik aja. Gue udah dijalan soalnya."
"...."
"Ok."
Tut Tut Tut
Pangilan terputus.
Diseberang sana, Ryo tak henti - hentinya menggerutu dengan ucapan Zain yang tak nyambung dengan pertanyaannya.
"Kenapa? Acaranya batal?" Zahwa memastikan.
Zain mengangguk. "Batal. Kita balik aja." Putus Zain.
Mereka kembali mengendarai motor untuk putar balik ke kafe.
Namun bukan kafe tempat tujuan Zain. Melainkan taman kota yang tak jauh dari posisi mereka sekarang.
"Kog malah ke taman?" Tanya zahwa heran.
"Mumpung lagi diluar. Mampir sebentar kesini. Jarang - jarang ada waktu luang." Jawab Zain enteng dan menstandatkan motornya.
Karena posisi motor yang miring, Zahwa jadi ikut turun dan diikuti Zain.
Zain melangkahkan kakinya kesebuah bangku taman diikuti Zahwa.
"Emang selama ini kamu jarang nongkrong sama temen kamu?" Tanya Zahwa.
"Kalau ada waktu luang aja. Selebihnya dibengkel dan kafe." Jawab Zain menoleh kearah gadisnya ini.
Remang lampu neon kekuningan, menambah kecantikan wajah yang dimiliki Zahwa yang sedang menatap langit yang bertabur bintang.
"He em. Cantik bintangnya." Jawaban Zahwa tak nyambung dengan ucapan Zain.
Zain menaikan sebelah alisnya. Kenapa gadis ini membahas bintang? Sedangkan yang dimaksud Zain cantik itu adalah dirinya.
Zain menggeleng dan tertawa dalam hati atas ketidak singkronan ucapan mereka.
Zahwa menoleh kearah Zain yang sedang menggeleng.
"Kamu kenapa?" Tanya Zahwa.
Kini mereka saling tatap satu sama lain.
Bibir itu sungguh menggoda, seakan -akan memanggil Zain untuk segera mengecupnya.
Bagai terhipnotis, Zain mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Zahwa. Dan... Cup. Kedua benda kenyal itu saling menempel.
Zahwa mengerjap tak percaya. Apa ini? Seketika Zahwa tersadar dan menjauhkan wajahnya dari Zain.
Tampak semburat merah dari wajah keduanya. Kekikukan pun tak dapat dihindari lagi.
"Sorry!" Hanya satu kata itu yang mampu Zain ucapkan saat ini.
Keheningan pun terjadi. Dengan Zahwa yang memandangi langit bertabur bintang. Dan Zain yang tertunduk dengan penyesalannya telah berani mengecup bibir indah itu.
Tak lama Zain berdiri sambil menggandeng tangan Zahwa. "Ayo balik ke kafe." Ucapnya sambil menunduk melihat wajah Zahwa yang masih terduduk dikursi taman.
Flashback off
"Pagi semua." Sapa Zain dengan senyum merekah pada anggota keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.
Ketiga orang dewasa itu saling menatap dan mengulum senyum. Beda halnya dengan balita yang ada didekat mereka.
Wajahnya tampak cemberut dengan bibir yang manyun lucu.
"Hey! Princess Daddy kenapa cemberut." Ucapnya sambil mengecup pipi chubby Sora.
Tak ada tanggapan apa pun yang keluar dari mulut Sora.
__ADS_1
"Eh? Ngambek sama Daddy?" Zain masih mencoba berkomunikasi dengan sang anaknya.
"Glandma mau susu." Sora tak memperdulikan Zain.
Zain tahu kalau anaknya lagi dalam mode ngambek pun mengangkat tubuh mungil itu kepangkuannya.
Sora membuang wajahnya dengan melipat kedua tangannya tak ingin melihat sang daddy.
Hal itu tak luput dari perhatian keempat orang dewasa yang ada di sana.
"Princess Daddy kenapa, heemm?" Zain memeluk putrinya dari belakang.
"Daddy jahat." Ketus Sora.
"Jahat kenapa?" Tanya Zain lagi.
"Daddy udah gak mau main sama Sola. Daddy pulang malam telus. Sola kan udah bobo." Ucap Sora dengan wajah cemberut.
"Sepulang sekolah Daddy kan cari uang sayang. Disekolah juga ada lomba dua bulan lagi. Jadi Daddy harus latihan biar menang." Tutur Zain.
"Bial dapat duit juga ya, Daddy?" Sora mulai antusias dengan ucapan daddy nya.
Dasar Sora. Kalau - kecil udah matre aja.
"Bukan cuma duit loh Sora. Tapi Sora juga bakal dapat mommy baru " Ucap Dewa memprovokasi.
"Mommy balu?" Tanya Sora antusias.
"Yup. Mommy baru." Ucap dewa dengan seringai tipis diarahkan ke adiknya itu.
"Jangan racuni fikiran anak gue." Zain memperingatkan Dewa.
"Gue ngomong apa adanya kali." Sahut Dewa enteng.
"Jangan ngada - ngada kalo ngomong " ucap Zain dengan tatapan tajam.
"Ngapain juga gue ngada - ngada. Kalau gue lihat sendiri, Lo lagi cium cewek cantik ditaman tadi malam." Cibir Dewa.
Ukhuk ukhuk
Zain tersedak minuman yang sedang ditenggaknya. Ia menurunkan Sora dari pangkuannya agar tak terkena cipratan air dari mulutnya.
"Kamu cium cewek ditaman, Zain?" Tanya Ayumi pura - pura belum mengetahui berita ini.
"Gak ada Ma. Dewa asal ngomong itu." Sanggah Zain dengan wajah datarnya.
"Pulang kerja gue selalu lewati tuh taman kali. Dan tadi malam gue lihat motor Lo disana. Gue berhentilah karena penasaran. Eeeeehhh... Ternyata ada adegan life pemirsa." Dewa menggoda adiknya.
Zain saat ini ingin menyembunyikan wajah malunya. Tapi Zain dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi datar. Sungguh, Zain mampu mengendalikan dirinya dengan baik.
"Ck. Apa perlu kita tanya saksi lain?" Dewa melihat kedua orang tuanya bergantian.
"Apa sih Lo." Zain memelototkan matanya.
Sungguh ia sebenarnya malu ketahuan telah mencium seorang wanita. Apalagi kakaknya sendiri yang memergokinya.
"Sora mau kan punya mommy baru?" Kini pertanyaan Dewa beralih pada Sora.
"Mau uncle, mau." Jawab Sora cepat.
"Dengar tuh." Ucap Dewa pada Zain. Sedangkan Zain hanya melengos membuang muka.
****
Diruang kerja, dua laki - laki, antara atasan dan bawahan tengah berbincang.
"Sam! Bagaimana? Sudah dapat infonya?" Panggil sang tuan.
"Ya Tuan. Ternyata nona muda Marin berada di sekeliling kita." Sam memberikan amplop cokelat besar yang berisi tentang informasi yang dibutuhkan tuannya.
"Nona muda Marin kini tinggal di sebuah kafe yang memiliki roftoff sebagai tempat tinggal karyawannya." Sam menjelaskan pada tuannya. "Dan saat ini nona muda Marin sedang dekat dengan Zain Malik." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Zain Malik?" Sang tuan menautkan kedua alisnya. Kemudian menghela nafas.
Ternyata...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1