
Chapter 47
Happy readding...
🍁🍁🍁🍁
Ayumi menatap pasangan kekasih palsu dihadapannya ini secara bergantian. Tatapan penuh rasa kecewa yang diperlihatkan oleh wanita paruh baya itu. Tampak wajah penuh ketegangan dari kedua orang yang ada dihadapannya.
Tak berapa lama bunyi ketukan dari pintu yang telah terbuka sedari tadi. Ketiga orang didalamnya menoleh keasal suara.
Tampak Dira dan Bayu dengan wajah khawatirnya. Takut kalau sang keponakan melakuakan kesalahan. Beberapa saat lalu ada seseorang yang mengaku sebagai supir dari mama tetangga barunya, dan mengatakan Dira dan Bayu diminta kerumah Zain untuk membahas sesuatu.
Setelah dipersilahkan masuk, kini keduanya duduk tak jauh dari ketiga orang yang masih betah dalam keheningan. Mereka menatap sang keponakan, meminta penjelasan apa yang sedang terjadi.
"Eekhemm..." Ayumi berdehem sebelum memulai percakapan.
"Ma!" Seruan seseorang yang baru saja tiba, menghentikan Ayumi yang akan memulai percakapan. Ryan berjalan mendekati Ayumi dan yang lainnya. "Ada sesuatu yang sedang terjadi?" Tanyanya sambil memperhatikan satu persatu wajah - wajah tegang dihadapannya.
"Kita harus segera menikahkan Zain dengan Anye." Ayumi berucap sambil menatap kedua tersangka yang duduk dihadapannya dengan mata yang membola, tak terkecuali Dira dan Bayu yang tak kalah terkejutnya.
"Loh, memang kenapa keponakan saya harus dikahkan dengan nak Zain, Bu?" Tanya Bayu yang kaget dengan ucapan Ayumi.
Setelahnya Ayumi menceritakan kejadian tadi saat ia berniat mengecek keberadaan anaknya dikamar. Dan alangkah terkejutnya wanita itu mendapati Zain dan Anye melakukan hal tak senonoh.
Mendengar penuturan Ayumi, Dira dan Bayu tersentak. Apa mungkin keponakannya melakukan hal tak terpuji itu? Apalagi dengan orang yang baru saja ia kenal beberapa hari ini.
"Mama salah faham." Sanggah Zain.
"Iya Tante, Tante salah faham. Tadi tuh..." Anye bungkam saat Ayumi mengangkat tangannya pertanda menyuruh Anye untuk berhenti bersuara.
"Bukannya kalian pacaran? Bisa saja kalian sering melakukannya." Ucap Ayumi penuh selidik.
"Kamu pacaran dengan nak Zain?" Tanya Dira.
"Sudah setengah tahun malah." Sahut Ayumi yang langsung memotong Anye yang hendak bicara.
__ADS_1
Anye hanya bisa mengeleng kearah pakdhe dan budhenya. "Seseorang! Adakah yang dapat menolong ku?" Ucapnya dalam hati.
"Bagaimana bisa mereka pacaran? Keponakan saya baru beberapa hari ikut tinggal bersama kami." Ucap Bayu bingung.
"Bisa saja kalau Zain yang sering ke Surabaya buat ketemu sama Anye. Seperti itu yang Zain katakan pada kami kemarin, saat mengajak Anye kerumah untuk makan malam keluarga." Kini Ryan ikut membuka suara.
"Jadi itu alasan kamu yang sebenarnya bersih kukuh untuk kuliah di Jakarta, Nye?" Tanya Dira.
Anye hanya bisa mengeleng lemah. Ia dan Zain kini tengah tersudut.
"Dan itu juga yang membuat kamu memilih hidup terpisah dari kami, Zain?" Tanya Ryan.
"Papa sama Mama udah tahu alasan aku sebelumnya." Sahut Zain dengan ketus.
"Saya gak mau tau. Lusa mereka akan menikah." Keputusan Ayumi sudah final.
"Ma!" Zain tak terima dan mencoba untuk menentang keputusan sang mama.
"Mau lari dari tanggunag jawab?" Ayumi memicingkan mata kearah putranya.
"Tapi tante, Anye masih kuliah. Semester awal malah, itu juga baru beberapa hari." Ucap Anqie dengan wajah yang memelas.
"Kamu tetap bisa melanjutkan pendidikan kamu. Kami tidak melarang." Jawab Ayumi dengan entengnya.
"Pakdhe, Budhe!" Wajah Anye memelas meminta bantuan.
"Kalian harus mempertanggung jawabannya, Nye." Sahut Bayu.
"Ibu sama ayah gak bakal kasih izin. Mereka bakal ngamuk sama Anye." Ucap Anye.
"Biar Budhe yang beri pengertian sama mereka nanti." Dira ikut bicara untuk menenangkan keponakannya.
"Dan besok mereka akan tiba di Jakarta. Orang saya yang akan mengurusnya." Sambung Ryan.
Kini keputusan sudah final. Kedua orang tua Anye yang diberi kabar pun hanya bisa menahan marah disana, tak menyangka anak gadis mereka bisa melakukan hal itu.
__ADS_1
****
"Kamu yakin dengan keputusan kamu untuk menikahkan mereka?" Tanya Ryan pada sang istri.
Saat ini mereka sedang berada didalam mobil yang sama setelah penyidangan tadi usai.
"Mama yakin, Pa. Kalau gak begini, Zain bakal berkubang dalam kenangan masa lalu terus. Lagi pula, mama lihat Anye anak yang baik, santun lagi dengan orang tua. Gak seperti istrinya Dewa." Tiba - tiba Ayumi mengingat menantu pertamanya itu.
"Yakin bakal berhasil?" Ryan menaikan alisnya sebelah. "Kalau gadis itu tidak bisa bahagia bagaimana?"
Haaaahhh... Ayumi menghembusakan nafasnya. "Mama hanya ikhtiar, Pa. Biar Allah yang menentukan. Kita hanya bisa beri restu dan doa - doa terbaik untuk anak - anak"
"Semoaga mereka bisa saling menerima dan bahagia." Ryan menepuk punggung tangan istrinya.
Ryan merogoh saku jas mahalnya. Mengambil ponsel yang bergetar. Tampak nama Sam di log panggilan.
Dengan segera Ryan menerima panggilan tersebut dan mendengarkan penjelasan dan informasi yang Sam dapatkan terkait proyek kerjasama dengan perusahaan Anggara yang sedang bermasaalah.
Seketika raut wajah Ryan berubah, seakan ia sedang menahan amarah. Beberapa lama mendengarkan penjelasan dari Sam, akhirnya Ryan menutup panggilan.
"Ada masalah?" Tanya Ayumi yang sudah faham dengan gelagat dang suami.
Ryan mengangguk tanpa menjawab.
"Ya udah, ke kantor aja buat antar kamu dulu." Ucap Ayumi dengan lembut, mencoba memberi ketenangan pada suaminya.
"Langsung pulang aja. Kita selesaikan dirumah." Putus Ryan. Ia meraih bahu istri tercinta agar bersandar dipundaknya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia membayangkan kekacauan apa yang akan segera terjadi nanti.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beri like dan komentar kamu ya.
Kasih kopi atau bunga, gitu.
__ADS_1