Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Dua Orang Polisi


__ADS_3

Park Jimin baru saja tiba di Busan setelah kemarin menerima telepon dari ibunya bahwa ada anggota kepolisian yang mencari adiknya. Dia yang memang tinggal di Seoul bersama adiknya itupun di buat bingung, sebab sudah beberapa bulan ini Jihyun tidak berada di Busan lalu mengapa ada kepolisian Busan yang mencari Jihyun.


Dan yang paling menjadi pertanyaan adalah, apakah Jihyun pernah melakukan kejahatan? Tapi sejak kapan? Kenapa bisa sampai tidak ada yang mengetahuinya baik itu keluarga ataupun dirinya?


"Park, dimana adikmu? Apa dia baik-baik saja? Sebenarnya apa yang terjadi?" Ucap ibu Jimin.


"Aku tidak tahu Bu, anak itu bahkan sudah beberapa hari tidak pulang ke apartemen ku. Ku pikir di kembali ke rumah."


"Astaga, ada apa dengannya.."


Park Jimin membawa ibunya masuk dan membicarakan ini di dalam rumah, takut ada tetangga yang mendengar dan menjadi bahan gosipan di desanya. Meski belum tentu benar namun berita yang menyebar pasti akan sulit dihilangkan meski sudah diberi bukti sekali pun.


"Coba ceritakan Bu, kenapa bisa ada anggota polisi yang mendatangi rumah kita?" Pinta Jimin.


"Ibu juga tidak tahu. Saat itu ibu sedang ke pasar dan saat kembali ada tetangga yang mengatakan jika ada dua orang polisi yang mendatangi rumah. "


"Apa mungkin mereka hanya akan menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kita?"


"Sepertinya tidak sebab ada salah satu tetangga yang di tanyai tentang rumah Jihyun, dan tetangga itu menunjukkan rumah kita. Apa mungkin tidak ada sesuatu?"


Benar, jika memang ada keperluan lain atau hanya bertanya alamat pasti tidak akan mendatangi rumah. Mereka bisa bertanya pada orang yang berlalu lalang atau di depan rumah, dan memang tujuan mereka adalah rumahnya.


Tapi kenapa? Apa yang dilakukan Jihyun sehingga kepolisian mendatangi rumah? Apa mungkin Jihyun hanya di tanyai perihal kesaksian? Tapi kesaksian apa?


Ah! Rasanya Jimin menjadi pusing sendiri. Adik satu-satunya itu memang benar-benar menyusahkan. Tingkah lakunya yang sangat bajingan memang tidak memungkinkan untuk tidak berurusan dengan pihak berwajib. Tapi bukankah beberapa tahun ini Jihyun berada di luar negeri untuk kuliah?


•••

__ADS_1


Jimin sengaja menginap di rumah untuk berjaga-jaga apabila nanti polisi itu akan datang lagi, dan ternyata memang benar. Pukul sembilan pagi polisi kembali mendatangi rumahnya dan langsung menemui mereka berdua.


"Maaf jika kedatangan kami membawa kegaduhan, atau menyebabkan kalian berdua merasa risih."


"Tidak apa-apa, inspektur. Mereka memang seperti itu." Ucap Jimin.


Mereka yang di maksud adalah para tetangganya. Sejak kedatangan polisi ke rumahnya, seluruh tetangganya berbondong-bondong datang ke rumah hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.


Mereka berkumpul dengan berdesakan seolah tengah mengantri sembako, atau bahkan bertemu dengan orang nomor satu di negara. Untung saja ada satu polisi lagi yang mengamankan para tetangganya dengan menutup gerbang yang menjulang tinggi di depan rumah. Namun yang namanya orang penasaran pasti belum puas jika belum mengetahui apa yang menjadi masalah penasaran nya.


Para tetangga itu nekat memanjat pohon dan pagar demi bisa melihat apa yang terjadi di rumah Park Jimin.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan? Kenapa anda mencari anak saya?" Tanya Nyonya Park.


"Begini Bu, ada yang membuat laporan kepada kami mengenai putra anda yang bernama Park Jihyun. Terkait pengedaran obat-obatan terlarang dan juga kasus kekerasan pada seorang wanita." Ujar inspektur yang bernama Choi Kang Woo.


"Astaga! Tidak mungkin. Tidak mungkin putraku seperti itu!" Seru Nyonya Park membantah.


"Kami tidak mungkin salah orang karena bukti-bukti yang mengarah pada Park Jihyun memang sudah jelas. Dari kesaksian temannya dan juga orang yang terlibat dalam kejahatan tersebut." Sambung inspektur Choi.


Inspektur Choi meminta rekannya, inspektur Kim memberikan salinan bukti pada kedua orang yang bersangkutan dengan tersangka. Termasuk foto Park Jihyun untuk memastika bahwa mereka mendatangi alamat yang tepat.


Park Jimin yang melihat itupun langsung merasa geram. Bisa-bisanya dia tidak mengetahui apa saja yang dilakukan adiknya selama ini. Karena pria itu memang sangat sulit untuk dididik baik olehnya maupun ibunya maka mereka pun membiarkan Jihyun sesuka hati namun tetap masih dalam pantauan keduanya.


Tak disangka jika adiknya itu benar-benar seperti penjahat, bahkan di usianya yang muda ia bisa terlibat dalam bisnis hitam seperti ini.


"Apakah kalian bisa beritahu kami dimana tersangka berada? Kami hanya khawatir akan ada calon korban lagi yang mungkin saja sedang menjadi mangsa." Ucap inspektur Choi.

__ADS_1


"Sejujurnya kami sendiri pun tidak tahu dimana Jihyun berada, sebelumnya dia memang tinggal bersama ku di Seoul namun sudah beberapa hari ini dia tidak pulang ke apartemen maupun ke rumah." Ucap Jimin.


"Apa kalian bisa di percaya?"


"Tentu bisa. Bahkan saya akan membantu mencari anak itu dan mencari informasi dari teman-temannya di Seoul. Anda bisa mengawasi rumah ini selama beberapa hari untuk memastikan jika dia tidak ada di sini."


"Baiklah, sepertinya kalian bisa kami percaya. Kalian tahu bukan apa sanksi bagi warga yang menghalangi penangkapan tersangka kejahatan dan juga berusaha menyembunyikannya?"


"Tentu kami tahu, Tuan."


"Baiklah, jika begitu kami permisi. Tolong beritahu kepolisian jika kalian menemukan tersangka."


"Baik, Tuan."


Kedua polisi itupun berpamitan pada Nyonya Park dan juga Jimin, seketika membuat sekumpulan manusia tak tahu malu berhamburan. Banyak yang menatap ke arah rumah Jimin dengan tatapan yang sulit diartikan namun Jimin sama sekali tidak peduli.


Yang terpenting adalah kesehatan ibunya, beruntung Nyonya Park tidak mengalami kejadian seperti pingsan atau bahkan serangan jantung ketika mendapat kabar buruk soal Jihyun.


Memang pada dasarnya Jihyun itu anak yang sangat sulit sekali di atur, hanya mendiang ayahnya saja yang bisa menghadapinya. Namun saat ayahnya pulang ke pangkuan tuhan, anak itu semakin tidak bisa di kendalikan.


Berulang kali Jimin membuat adiknya itu disiplin dan menjadi anak yang bisa membuat ibu dan dirinya bangga, tapi nyatanya semua usaha mereka gagal.


"Bu, ibu baik-baik saja?"


"Dimana adikmu, Park. Ya Tuhan, kenapa dia menjadi seperti ini?.."


Nyonya Park terus saja memikirkan perkataan polisi tadi. Bagaimana bisa anaknya yang baru saja dewasa melakukan kejahatan seperti itu. Yang lebih parahnya adalah mengasari wanita dan entah apalagi sebab tidak ada keterangan lebih lanjut yang di berikan oleh polisi.

__ADS_1


Dia tidak pernah mengajarkan kedua putranya untuk bertingkah seperti itu. Ia selalu mengingatkan Jimin dan Jihyun untuk menghormati wanita layaknya menghormati ibunya sendiri. Tapi entah apa yang membuat anak bungsunya menjadi seperti itu.


Dia juga tidak pernah merasa memperlakukan kedua anaknya dengan tidak adil. Apapun yang mereka inginkan ia selalu berusaha untuk memberikannya, pun dengan kasih sayang yang tak pernah di bedakan. Meski Jihyun sedikit membuatnya kewalahan namun wanita paruh baya itu tetap menyayanginya sebagaimana ia menyayangi Jimin.


__ADS_2