Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Permission to Love


__ADS_3

Ji-eun menatap sosok pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Gadis itu menghela nafasnya pelan kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Dadanya terasa sesak mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu, membuatnya seketika diselimuti penyesalan yang teramat dalam. Bagaimana tidak, sesuatu yang ia jaga selama hampir seumur hidupnya kini justru diambil oleh seseorang yang bisa disebut orang asing olehnya.


Meski mereka sepasang kekasih, bukankah itu hanya tertulis diatas kertas? Dan, kenapa Yoongi harus melakukan ini padanya.


Dibawah guyuran air shower, Ji-eun menumpahkan segala rasanya. Marah, kesal, hancur, dan menyesal. Entah ia harus bagaimana menyikapi perlakuan Yoongi tadi, Ji-eun sungguh-sungguh tidak tahu. Bahkan alasan kenapa Yoongi melakukan itupun dia tidak tahu. Lalu dia harus apa?


Yoongi yang sebenarnya sudah terbangun itupun bisa mendengar sayup-sayup suara tangisan dari dalam kamar mandi. Meski tertutup guyuran air tetap membuatnya mendengar dengan jelas. Yoongi akui dirinya juga menyesal. Andai saja dia tidak menghadiri pertemuan dengan Namjoon dan kekasihnya itu. Tapi, dirinya bahkan tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi.


Pria itu menyenderkan punggungnya pada sandaran ranjang, menerawang ke depan seolah memikirkan sesuatu. Kenapa bisa kekasih adiknya yang bahkan tidak ia kenal memberikan nya obat seperti itu? Apa motif dan tujuannya?


Dan ya, berkat kejadian ini dia justru malah merusak anak orang. Ia mengambil keperawanan seorang gadis hanya karena berusaha menuntaskan hasrat yang sengaja di pancing. Pria bermarga Min itu mengusap wajahnya kasar, mengingat jika tadi dia menumpahkan benihnya di dalam rahim sang gadis berkali-kali.


Meskipun kecil kemungkinan untuk tumbuh menjadi janin, namun Yoongi siap jika nanti harus bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan. Biar bagaimanapun ia yang telah mengambil kesucian kekasih kontraknya itu.


Ceklek.


Pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan atensi Yoongi. Ji-eun sempat terkejut melihat Yoongi sudah terbangun dan terduduk bersandar di ranjang. Namun tak lama kemudian gadis itu terlihat acuh dan berjalan ke arah lemari, mengambil piyamanya untuk di pakai di kamar mandi. Dia tidak akan memakainya di depan Yoongi meski pria itu sudah melihat lekuk tubuhnya.


Mengingat itu rasanya Ji-eun ingin sekali mencakar wajah Yoongi sampai puas. Memberontak sesuka hati atas apa yang terjadi padanya. Tapi dia bahkan merasa tidak pantas, sebab tak dipungkiri jika dia juga tidak menunjukkan penolakan. Apa mungkin Yoongi akan menilainya sebagai wanita murahan?


Lima menit kemudian Ji-eun keluar lagi dari kamar mandi, melihat Yoongi sudah membenahi penampilannya seperti semula. Pria itu duduk di bibir ranjang dan terus menatap sang gadis. Bisa ia lihat jika mata indah itu masih memerah serta bekas air mata di sisi wajahnya.


"Kau menangis?" Tanya Yoongi. Dia bahkan tidak bisa basa-basi.

__ADS_1


"Tidak."


"Jangan berbohong."


Ji-eun tidak berniat menjawab.


"Jawab aku Lee!" Tegas Yoongi.


"Memangnya kenapa jika aku menangis? Kau peduli?! Kesucianku baru saja kau renggut, mustahil jika aku tidak menangis!!" Seru Ji-eun. Matanya berkilat menampakkan amarah yang siap meledak.


"Aku.."


"Apa? Kau ingin mengatakan kau tidak sengaja? Kau tidak tahu dan mengira aku seperti ****** di luar sana yang sudah tidak perawan? Begitu?!"


"Maaf.."


Seharusnya Yoongi bisa marah, memakinya atau bahkan membenarkan ucapannya jika dia memanglah murahan. Tapi, kenapa pria itu terlihat lemah? Apa dia tidak bisa melawan dirinya? Dimana aura dingin yang sering Ji-eun lihat?


"Aku akan bertanggungjawab untuk itu." Ucap Yoongi lagi.


"Tidak perlu. Aku tidak akan hamil dan anggap saja kejadian itu tidak terjadi. Bukankah kita masih terikat kerjasama?" Ji-eun tertawa miris. Apa mungkin hal ini juga menjadi pertaruhan, mengingat jika dia tidak tahu apa alasan Yoongi mengajaknya kerjasama selain untuk menguntungkan dirinya. Apa Yoongi memang hanya mengincar tubuhnya?


"Kalau begitu, izinkan aku mencintaimu." Yoongi mengangkat wajahnya menatap Ji-eun. Tawa sinis itu terukir di bibir tipis sang gadis, namun sarat akan kekecewaan.


"Lakukan saja apa yang kau mau!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Ji-eun berlalu keluar dari kamar meninggalkan Yoongi yang masih duduk di ranjang. Ia merasa bingung, dan seketika dia mengingat ucapan Jungkook waktu itu.


[Cintai dia, Hyung. Tapi jika kau tidak bisa aku tidak memaksa. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Jangan pernah melukai fisik maupun perasaannya, karena jika itu terjadi maka sama saja kau melukaiku.]


"Arrggh!"


Yoongi mengacak rambutnya kasar, apa benar jika dia telah melukai Ji-eun. Ya, tidak harus ditanyakan pun dia seharusnya tahu. Mata sembab dan garis air mata itu sudah cukup menjadi bukti. Dan kini ia secara tak sadar melukai Jungkook yang telah mempercayakan Ji-eun sepenuhnya padanya.


Apa dia memang harus mencoba mencintai Ji-eun? Jujur saja, dia mulai bisa melupakan Aara karena terlalu nyaman bersama gadis itu. Benarkah dia harus mencobanya? Tapi, bagaimana jika ia tidak bisa dan kembali membuat Ji-eun terluka?


•••


Kim Namjoon datang ke rumah Yoongi pada malam hari. Pemuda cerdas itu tidak tahu kenapa kakaknya mengundangnya ke rumah malam-malam begini, padahal mereka baru saja bertemu tadi pagi.


Namjoon pun tidak berniat bertanya sebab sepertinya suasana hati Yoongi tengah buruk. Memang pria bermarga Min itu tidak misuh-misuh atau menggerutu dan sebagainya. Namun dari raut wajahnya saja Namjoon bisa mengerti.


"Kau tahu kenapa aku mengundangmu kesini?" Tanya Yoongi datar.


Namjoon menggeleng. Biasanya Yoongi ini tidak pernah terlalu dingin pada teman-temannya, namun kali ini Namjoon merasa.. entahlah. Firasatnya buruk.


Yoongi menghela napasnya, ragu antara ingin mengatakan atau tidak sebab dia tidak memiliki bukti untuk tuduhannya. Bisa saja Namjoon percaya padanya namun jika gadis yang menjadi kekasihnya itu mengelak dan meminta bukti, lalu menuduhnya yang tidak-tidak? Itu merepotkan sekali.


"Memangnya, ada apa Hyung? Kau terlihat serius sekali." Ucap Namjoon gugup.


"Tidak apa-apa. Aku akan memanggil Tae kesini. Temani aku minum." Ucap Yoongi akhirnya.

__ADS_1


Entah keputusannya ini benar atau salah ia memilih untuk tidak menceritakannya. Mungkin dia bisa mencari waktu yang pas untuk bertemu dengan gadis bernama Chaewon itu dan memberinya sedikit peringatan. Apalagi jika mereka dikabarkan akan menikah. Yoongi tidak bisa berpikir bagaimana nanti jika adiknya bersanding dengan gadis macam itu.


Meski Namjoon sepertinya bisa mengatasi namun tetap saja jika nanti mereka terlanjur menikah dan terlibat masalah yang menyebabkan mereka harus berpisah bagaimana? Yoongi tak ingin kehidupan adiknya menjadi seperti itu.


__ADS_2