Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Sikap Aneh Jungkook


__ADS_3

Hampir sepuluh menit berbelanja, Jungkook kembali ke dalam mobil dengan menenteng belanjaan yang lumayan banyak. Kemudian dia menaruh kantong tersebut di kursi belakang. Saat membuka pintu kemudi, dia melihat Ji-eun sudah tertidur.


Dengan hati-hati Jungkook menutup pintu agar tidak membangunkan Ji-eun. Pemuda itu melepas Coat nya dan menyelimuti tubuh sang gadis dengan kain tersebut.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju Seoul untuk mengantarkan Ji-eun ke rumah. Sepanjang perjalanan, Jungkook sesekali menatap wajah damai Ji-eun.


Dengan itu, rasa lelahnya berkendara selama berjam-jam terasa menguap. Bayangkan saja mereka harus bolak-balik Seoul - Daegu dalam sehari.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka tiba di rumah Ji-eun, setelah turun untuk membuka gerbang, Jungkook kembali melajukan mobilnya ke dalam pekarangan rumah.


Saat itu juga Ji-eun terbangun karena mendengar suara pintu di tutup. Gadis itu mengucek matanya dan memperhatikan sekitar.


"Apa aku membangunkan mu?" Tanya Jungkook.


Ji-eun menggeleng, ia meraih tangan Jungkook yang membantunya keluar dari mobil tinggi itu. Jungkook juga meletakkan tangannya pada atas pintu bagian dalam agar Ji-eun tidak terantuk.


"Maaf, aku ketiduran."


"Tidak masalah."


"Ayo mampir dulu. Sepertinya ayah belum pulang, kau pun pasti sangat lelah."


"Oke."


Ji-eun lebih dulu masuk dan dan membuka pintu rumah, sementara Jungkook mengambil belanjaan yang tadi dia beli. Meletakkannya di bawah meja dan dia mendaratkan bokongnya pada sofa yang empuk.


Sepertinya Ji-eun sedang mengganti bajunya di atas, karena pemuda itu tidak mendapati Ji-eun di sana. Benar saja, beberapa menit kemudian Ji-eun turun dari lantai dua mengenakan piyama tidur berwarna putih susu.


"Kau berbelanja sebanyak ini?" Tanya Ji-eun terkejut.


"Tidak. Ini milikmu."

__ADS_1


"Huh? Milikku?" Gadis itu merasa bingung sebab dia tidak merasa berbelanja apapun. Yang dia ingat, dia meminta Jungkook untuk berhenti di minimarket karena dia hendak membeli strawberry.


Namun kemudian Ji-eun sadar jika Jungkook lah yang membeli ini semua. Ada berbagai camilan dan strawberry, juga susu hamil.


"Aku membeli semua rasa, karena aku tidak tahu rasa apa yang noona suka." Ucap Jungkook.


"Ini berlebihan, Jeon. Aku akan menggantinya, berapa nomor rekening mu?" Ji-eun mengeluarkan ponselnya dan menggerakkan jarinya di atas layar untuk mengganti uang yang Jungkook pakai namun di cegah oleh Jungkook.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin calon keponakan ku sehat."


Ji-eun tidak bisa lagi berkomentar. Sebegitu perhatiannya Jungkook pada dirinya dan anak yang dikandungnya. Padahal anak itu bukanlah darah daging Jungkook, dan Ji-eun rasa Jungkook juga pasti kecewa pada Yoongi.


"Ah ya, sepertinya aku harus pulang. Ini sudah terlalu larut dan tidak pantas jika seseorang bertamu selarut ini." Ucap Jungkook tersadar.


"Baiklah, hati-hati di jalan."


"Tentu, kalau begitu aku pamit. Jaga dirimu."


Usai mengucapkan itu, Jungkook langsung pergi dari kediaman gadis Lee. Dia tidak langsung pulang ke Busan melainkan pulang ke rumahnya yang berada di Seoul. Karena tidak memungkinkan untuk dirinya melakukan perjalanan jauh selarut ini.


Gadis itu segera menyimpan strawberry ke dalam lemari es dan camilan di lemari kabinet, sementara untuk susu hamilnya ia akan menyimpannya di dalam kamar. Akan bahaya jika ia menyimpannya di kulkas juga, karena ayahnya dan sang kakak pasti akan langsung bertanya-tanya.


•••


Waktu menunjukkan pukul sebelas pagi, biasanya matahari akan bersinar terang dan menyengat. Namun berbeda di musim dingin kali ini, dimana udara terasa dingin meski matahari bersinar hampir diatas kepala.


Akibat cuaca yang dingin itu membuat sebagian orang malas beraktifitas. Begitupun dengan pemuda bermarga Jeon yang saat ini masih bergelung dengan selimut tebal di kamarnya.


Semalam pemuda itu tiba di rumah pada pukul dua belas malam. Dia tidak langsung merebahkan diri namun bermain game di ponselnya. Juga melihat sebuah tawaran yang mengajukan kontrak kerjasama untuk dirinya menjadi brand ambassador sebuah produk.


Berbeda dengan para Hyung nya, dia dan Jimin masih sering aktif di layar kaca. Entah itu konser solo maupun datang di acara talk show. Dia juga masih menerima tawaran untuk menjadi brand ambassador sebuah produk yang pastinya menyasar pada kalangan idol terkenal yang memiliki visual sempurna.

__ADS_1


Namun jika untuk merilis album atau melakukan konser, dia belum terlalu ingin. Melakukannya sendiri tanpa para Hyung nya sangatlah terasa berbeda.


Semalam Jungkook tertidur pada pukul lima pagi, hingga bangun lambat. Dan jika bukan karena suara bel yang berbunyi nyaring maka bisa dipastikan pemuda itu akan tetap tertidur sampai sore.


Dengan malas Jungkook membawa tungkainya melangkah menuju pintu depan. Matanya masih sedikit menyipit dan terasa perih saat cahaya matahari masuk karena pintu yang di buka.


"Hyung?" Ucap Jungkook dengan suara serak.


Yoongi tak menyahut, pria itu menggeser pelan tubuh Jungkook dan menerobos masuk. Kemudian duduk di sofa tanpa di persilahkan.


"Aku belum mempersilahkan mu masuk Hyung." Ucap Jungkook datar.


Hal itu membuat Yoongi menaikkan alisnya, merasa aneh dengan ucapan Jungkook. Bukankah mereka selalu terbiasa seperti itu? Bahkan ketika pemuda di hadapannya ini berkunjung ke rumah, dia tak pernah mempersilahkan nya namun menganggap seperti rumahnya sendiri.


Dan sekarang dia tidak boleh seperti itu?


Jungkook melangkah menuju dapur yang terlihat dari ruang tamu, mengambil sebotol susu pisang di lemari es dan meminumnya.


"Aku tidak ingin bersikap kurang ajar padamu Hyung, tapi pulanglah. Aku ingin melanjutkan tidurku." Ucap Jungkook.


"Apa karena wanita itu?" Tebak Yoongi.


Jeon Jungkook terkekeh, dia sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Yoongi. Dan dia juga sudah menebak apa tujuan pria yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu. Jika bukan sesuatu yang penting pasti pria putih itu tidak akan sudi melakukan perjalanan jauh.


"Wanita mana yang kau maksud?" Tanya Jungkook polos.


Yoongi tidak menjawab. Dia sudah bisa menebak jika kedatangan nya pasti tidak akan menghasilkan apapun. Maka dari itu, tanpa menjawab pertanyaan adiknya Yoongi langsung meninggalkan rumah mewah itu.


Meninggalkan Jungkook yang terkekeh karena sikap seorang Min Yoongi. Seorang yang sangat menghormati dan menghargai wanita, justru malah melecehkan hingga berbadan dua. Sungguh miris.


Apa reaksi fans nya jika mereka mengetahui idola yang mereka agungkan ternyata sebrengsek itu?

__ADS_1


Yoongi pergi meninggalkan rumah Jungkook dengan senyuman miring, tanpa jawaban dari pemuda itupun dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan.


Tadinya Yoongi bertujuan untuk membicarakan semuanya baik-baik dengan adiknya itu, tapi respon yang ia dapat malah diluar dugaannya. Tapi tidak apa-apa karena dia tidak masalah dengan itu.


__ADS_2