Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Back to Seoul


__ADS_3

Sudah dua hari lamanya Ji-eun dirawat di salah satu rumah sakit di Orsk. Kini keadaannya semakin membaik, dan bisa dipastikan jika tidak ada luka dalam yang nantinya akan mempengaruhi organ dalam tubuhnya.


Yoongi, Taehyung, Jimin dan Namjoon tengah menunggui dokter untuk melakukan pemeriksaan akhir pada sang gadis. Perban di kepalanya pun sudah bisa ditanggalkan di ganti dengan plester anti air. Hanya untuk berjaga-jaga meski jahitannya sudah mulai mengering. Pun luka goresan di pergelangan tangan sudah sedikit membaik.


"Pasien sudah bisa dipulangkan. Saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan organ dalam dua kali sebulan untuk mengantisipasi jika ada hal yang terlewatkan." Ucap sang dokter.


"Terimakasih Dok." Sahut Namjoon dan Jimin. Dokter itu mengangguk dan keluar dari ruang perawatan.


"Kita pulang?" Tanya Taehyung.


"Memangnya kau ingin terus berada di sini?" Ucap Jimin.


"Rusia tidak terlalu buruk untukku." Jawabnya.


Yoongi menghampiri Ji-eun yang terlihat jauh lebih baik. Tugas mereka sudah selesai dan saatnya untuk kembali ke negara mereka. Terhitung sudah hampir satu Minggu mereka berada di Rusia.


Jimin sudah khawatir pada keadaan ibunya, meski Jungkook setiap hari datang ke rumahnya. Taehyung yang sudah merindukan kekasihnya, serta Ji-eun yang cemas pada kakaknya. Yoongi? Pria itu hanya khawatir karena meninggalkan anjing kesayangannya dirumah sendirian. Bahkan ia tidak tahu bagaimana cara anjingnya makan. Semoga saja ketika dia pulang, rumahnya tidak seperti kapal pecah.


Kini Yoongi dan Ji-eun sudah berada di mobil yang masih Yoongi sewa. Sementara Taehyung, Jimin, dan Namjoon berada di mobil lain. Sepanjang perjalanan menuju bandara tidak ada percakapan apapun. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.


Hanya alunan musik dari radio mobil yang terdengar tidak terlalu keras. Sebuah lagu dari Troye Sivan berjudul Angel Baby terdengar lembut menyapa indra pendengaran mereka.


Yoongi yang biasanya menyukai ketenangan itu merasa gelisah. Maksudnya, dia ingin mengajak Ji-eun berbincang tapi kelihatannya Ji-eun masih sedikit lemas. Entahlah, Yoongi hanya tidak mau Ji-eun mengingat kejadian penculikan itu. Namun sepertinya dia tidak perlu susah payah membuka obrolan karena ternyata Ji-eun lah yang mengajaknya berbicara.


"Emm, produser?" Panggil Ji-eun.


Yoongi hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Sebenarnya Yoongi tidak terlalu suka saat Ji-eun memanggilnya dengan panggilan formal. Mereka tidak sedang bekerja dan tidak ada kontrak pekerjaan antara mereka yang mengharuskan Ji-eun memanggilnya produser.


"Apa kita bisa ke kantor polisi terlebih dahulu?" Ucap Ji-eun ragu.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Aku ingin bertemu dengan seseorang yang telah membantuku."


Yoongi terdiam sejenak, seolah tengah berpikir apakah ia harus memenuhi permintaan sang gadis untuk ke kantor polisi atau tidak. Memang tidak ada masalah, tapi bagaimana jika nanti Ji-eun tidak bisa mengendalikan dirinya saat bertemu Jihyun?


"Kau yakin?" Tanya Yoongi.


"Ya. Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja." Ucap Ji-eun.


Yoongi mengangguk dan memutar kemudinya ke arah kanan yang menuju ke kantor polisi tempat Jihyun dan komplotannya di tahan. Berbicara tentang Jihyun, pria itu akan di deport hari ini bersama dengan Chanyeol dan Sehun. Sementara Baekhyun, meski pria itu berasal dari Korea dia tetap akan diadili di negara Rusia karena sudah berpindah kewarganegaraan.


"Ini bukan jalan menuju bandara." Ucap Taehyung saat melihat mobil Yoongi berbelok ke arah yang berlawanan.


"Mereka akan kemana? Haruskah kita mengikutinya?" Tanya Namjoon.


"Sepertinya iya. Jika tidak, pasti Yoongi-hyeong akan mengirimi kita pesan untuk tidak mengikutinya."


Jimin melajukan mobilnya mengikuti mobil Yoongi yang masuk ke area kepolisian. Ketiga itu bingung kenapa mereka kembali kesini, namun tidak menyuarakannya. Hanya saling berpandangan saja.


•••


Satu orang anggota sipir menghampiri mereka dengan seorang pemuda berjalan di belakangnya. Lalu pemuda berbaju khas tahanan itupun duduk di kursi tunggal di hadapan Yoongi dan Ji-eun.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ji-eun pada pemuda itu.


Sementara Yoongi hanya menatap datar. Pemuda yang kemarin sempat ia temui, kini mereka harus kembali bertatap muka. Tanpa menebak pun Yoongi tahu jika Ji-eun memang menganggap pria di hadapannya membantu dirinya. Sama seperti anggapan Yoongi dan Taehyung.


"Aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu." Ucap Se Hun.


"Aku juga baik-baik saja. Emm, terimakasih karena kau sudah membantuku."


"Aku tidak melakukan apapun. Aku bahkan hanya diam saja saat kau di siksa oleh Jihyun." Sangkal Se Hun.

__ADS_1


"Tapi berkat kau akhirnya mereka bisa di tangkap."


Se Hun tidak menimpali ucapan Ji-eun. Dia hanya tersenyum miris mengingat nasibnya setelah ini. Pasti orang tuanya akan sangat kecewa padanya dan tentu dari berita yang tersebar pun pasti dirinya juga dianggap seperti Jihyun dan yang lainnya.


Seorang penjahat.


"Aku akan pulang hari ini. Ku harap kita akan bertemu lagi di Korea." Ucap Ji-eun seraya tersenyum.


Se Hun mengangguk kaku, sungguh senyuman itu membuatnya bangkit kembali. Seolah senyuman yang Ji-eun berikan merupakan sebuah semangat untuk dirinya.


Ji-eun dan Yoongi bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Se Hun. Penerbangannya akan tiba sebentar lagi dan mereka harus segera menuju ke bandara. Namun langkah kaki mereka harus terhenti kala Sehun kembali berbicara.


"Jaga dirimu." Ucap Se Hun.


Ji-eun menoleh dan kembali tersenyum.


"Tentu. Kau juga."


•••


Hari-hari yang melelahkan untuk Taehyung, Jimin dan Namjoon. Bagaimana tidak, keseharian mereka adalah bergulat dengan musik dan tarian tapi sekarang mereka harus keluar dari zona nyaman untuk menghadapi kasus penculikan yang sama sekali tidak bisa mereka prediksi.


Semuanya terasa mimpi. Tidak terbayangkan jika mereka akan melawan bandar dan juga penjahat. Tidak menyangka juga mereka akan mudah melewati ini, meski luka di lengan pemuda Kim sedikit membuat mereka khawatir.


Tapi tidak apa. Anggap saja itu sebagai kenangan sekaligus penghargaan.


"Aku bersumpah tidak lagi terlibat masalah seperti ini. Lebih baik bertengkar dengan Bongsoon daripada harus melawan penjahat." Ucap Taehyung.


"Aku juga. Jika dia bukan adikku, tentu aku tidak akan bertingkah nekat seperti ini." Timpal Jimin.


"Tapi aku senang. Membobol akses dan meretasnya membuat adrenalin ku terpacu. Ternyata memang menyenangkan sekali jika menjadi agen rahasia." Sahut Namjoon.

__ADS_1


Ji-eun yang mendengar itu hanya tersenyum miris. Dia merasa jika teman-teman Yoongi susah karena dirinya. Mereka harus terbang ke negara tetangga dan melawan penjahat hanya untuk menyelamatkan nyawanya. Apa ia harus membalas budi pada mereka suatu hari nanti? Ya, mungkin memang harusnya begitu.


"Jangan dengarkan ucapan mereka." Ucap Yoongi dengan mata terpejam membuat Ji-eun menoleh.


__ADS_2