Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Savage Love


__ADS_3

Kim Taehyung mendadak kehilangan mood karena kedatangan Ji-eun ke apartemen kekasihnya di pagi hari. Bagaimana tidak, baru saja ia akan memasuki kekasihnya dan setelah kedatangan tamu tak diundang dirinya harus menyelesaikannya dengan sendiri. Menidurkan kembali baby Tiger nya atau di tuntaskan dengan tangan. Sial sekali pikirnya.


Taehyung duduk di samping Bongsoon dengan wajah masam. Matanya menatap tajam ke arah Ji-eun yang masih terdiam. Tidak peduli dia itu siapa, salah sendiri sudah mengacaukan mood nya di pagi hari. Apa tidak bisa bertamu ke tempat orang itu sedikit siang aja.


"Ada apa? Tidak biasanya kau datang pagi-pagi begini." Tanya Bongsoon.


"Aku ingin berbicara."


Ji-eun melirik Taehyung yang masih menatapnya, kemudian diikuti oleh Bongsoon yang juga menatap kekasihnya.


"Apa? Setelah mengacaukan pagiku kau juga menginginkanku keluar dari sini? Yang benar saja." Kesal Taehyung.


"Jaga sikapmu, Kim. Ini urusan wanita, jika kau tidak mau keluar biar kami saja yang ke kamar." Ucap Bongsoon.


Gadis bermarga Park itu mengajak Ji-eun ke dalam kamar, jelas ia tahu jika tatapan sahabatnya pada Taehyung itu merupakan sebuah kode jika gadis itu tak bisa bercerita di depan kekasihnya. Dan Bongsoon cukup hapal dengan sikap sahabatnya.


Sementara Taehyung hanya mendecak kesal, sudah gagal mendapatkan jatah pagi sekarang dia malah di marahi oleh kekasihnya. Memang jika pada yang lain dia terkesan sangat ketus dan menyebalkan, namun jika pada Bongsoon dirinya akan menurut dan tak berani berbuat apa-apa. Menjelma menjadi anjing imut kekasihnya. Sepertinya Yeontan akan tertawa melihat ini.


Di dalam kamar, Ji-eun mulai bercerita tentang hubungannya dengan Yoongi. Namun belum sampai sepuluh detik, gadis Park itu menyelanya.


"Jadi kau berkencan dengan produser Min? Sejak kapan? Sial bahkan Taehyung tidak memberitahu ku. Dasar laki-laki tidak berguna!" Umpatnya yang ditujukan pada kekasihnya.


"Sebenarnya kami tidak ingin memberitahu siapapun tentang hubungan ini, karena aku hanya memintanya untuk menjagaku. Tapi saat itu teman-teman Yoongi termasuk kekasihmu datang ke rumah, terpaksa kami memberitahukannya." Jelas Ji-eun.


"Menjagamu untuk apa?"


"Jihyun." Jawab Ji-eun dan Bongsoon mengulang kalimat gadis itu dengan nada bertanya. "Dia masih menggangguku, dan beberapa kali juga Yoongi menolongku. Kupikir kita bisa bekerjasama untuk itu."

__ADS_1


"Memangnya apa yang akan dia dapatkan? Apa dia mencintaimu sampai akhirnya mau membantumu?"


Ji-eun terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Bukankah sudah jelas jika Yoongi tidak mencintainya, tapi kenapa untuk menjawab 'tidak' rasanya sulit sekali.


"Pasti dia punya alasan untuk itu. Mungkin saja untuk melupakan mantan kekasihnya?"


Bongsoon berpikir sejenak sembari memegang dagunya. Ya, itu cukup masuk akal. Kedua orang yang bekerjasama pasti mempunyai alasan dan pasti membutuhkan keduanya. Jika tidak maka untuk apa adanya kerjasama ini.


"Apa Taehyung juga mengetahui ini?" Tanyanya dan Ji-eun mengangguk.


"Bodoh! Kenapa pria itu sangat menyebalkan?!" Lagi-lagi dia mengumpati kekasihnya sendiri yang tidak bercerita apapun tentang sahabatnya.


"Nanti aku tanyakan pada Kim si bodoh itu. Tapi aku rasa bukan itu yang membuatmu datang kesini kan?" Tebak Bongsoon lagi.


Ji-eun terdiam. Mendadak dia ragu untuk bercerita sebab hal ini termasuk privasi dan jika dia menceritakannya pada Bongsoon maka bukankah itu artinya dia membuka aibnya sendiri?


"Ceritakan saja. Bukankah kita sudah bersahabat sejak lama? Apa yang membuat mu ragu untuk mengatakannya?" Lanjut Bongsoon.


Namun karena Bongsoon di pindah tugaskan di Seoul membuat mereka sedikit berjauhan, namun tetap menjaga komunikasi dan terkadang dia memang mengunjungi Bongsoon di apartemen nya di Seoul.


Ji-eun menghela nafasnya, dia tahu jika Bongsoon tidak akan mengumbar cerita yang ia sampaikan selama ini. Namun memang terkadang gadis itu sedikit ceroboh dan keceplosan.


"Dia.. dia melakukannya padaku." Lirih Ji-eun.


"Melakukan apa?" Tanya Bongsoon.


Ji-eun mengangkat pandangannya dan menatap sahabatnya dengan tatapan sendu. Seolah memang saling mengerti, Bongsoon bisa mengartikan tatapan itu. Dan pikirannya hanya tertuju pada satu hal meski Ji-eun tidak mengatakannya dengan jelas.

__ADS_1


"Kau gila?!" Pekiknya. "Tidak, maaf, maksudku dia gila. Jika tidak mencintaimu kenapa harus di rusak? Hah benar-benar semua laki-laki memang brengsek." Umpat si gadis Park.


"Lalu apa yang terjadi? Apa dia meninggalkan mu begitu saja? Membayarmu? Sungguh aku kesal sekali. Tidak seharusnya dia memperlakukanmu macam ****** begini. Aku--."


"Bongsoon, tenanglah."


"Hey! Bagaimana aku bisa tenang?! Aku tahu bagaimana perasaan mu, Ji-eun. Kenapa tidak kau pukul saja wajahnya? Atau kau adukan saja pada kakak mu. Hah aku sungguh tidak habis pikir."


Bongsoon menghembuskan nafasnya kasar, merasa sesak karena mengumpat dengan nada seperti nge-rap. Bukan hanya itu, dia juga sangat kesal sekali pada Yoongi karena memperlakukan Ji-eun seperti itu. Apa jangan-jangan pria itu menerima kerjasama ini karena memang menginginkan tubuh sahabatnya?


"Hey, hey! Kenapa kau menangis? Apa aku menyinggung mu? Jika iya maafkan aku." Ucap Bongsoon ketika melihat Ji-eun meneteskan air matanya.


Gadis bermarga Lee itu mengusap pipinya yang basah, menunjukkan senyumnya pada Bongsoon agar gadis itu tidak mengkhawatirkan nya.


"Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku bingung dengan perasaanku." Ucap Ji-eun. Gadis itu bangkit dan menuju balkon, menumpukan tubuhnya di pembatas balkon dan memandangi kota Seoul.


"Kau mencintai produser Min?"


"Entahlah. Rasanya sangat singkat jika harus menyebut ini cinta. Aku hanya merasa nyaman dan... Kau tahu? Dia sangat memperhatikanku." Ji-eun teringat pada saat jarinya teriris pisau. Yoongi langsung sigap membasuh dan mengikatnya dengan kain agar steril dan tidak mengeluarkan darah terus menerus.


Entah itu karena kepedulian biasa atau memang kekhawatiran Yoongi, Ji-eun tetap menganggapnya jika Yoongi itu sangat memperhatikannya. Meski terkadang menyebalkan, namun Ji-eun tak pernah mendapatkan kata kasar dari pria itu.


"Hah! Aku tidak bisa ikut campur jika ini menyangkut soal perasaan mu." Ucap Bongsoon.


Ji-eun menoleh dan tersenyum, "Kau sudah mendengarkan cerita ku pun aku sangat berterimakasih sekali. Setidaknya aku bisa mengurangi rasa sesak di dada ku setelah membaginya dengan mu."


"Ya. Kau bisa datang kapanpun saat kau bersedih ataupun senang."

__ADS_1


"Sayangnya tidak semudah ucapan mu, karena bayi mu itu pasti akan merajuk jika aku merebutmu darinya." Ucap Ji-eun terkekeh.


Bongsoon ikut tertawa. Benar juga, Taehyung pasti tidak akan senang jika Ji-eun terus-terusan datang ke apartemennya. Lagipula dia heran sekali dengan kekasihnya itu, macam tak punya rumah karena hampir setiap hari menginap di tempatnya. Mungkin saja orangtuanya pun tidak mengenalinya karena jarang sekali pulang ke rumah.


__ADS_2