Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Aroma Buah-buahan


__ADS_3

Kepolisian Korea Selatan nampak tengah sibuk mengurusi kasus yang baru-baru ini menyeret nama penyanyi solo ternama. Seorang soloist yang menjadi korban penculikan karena obsesi itupun sempat menjadi trending media negara. Meski sudah berlalu selama hampir dua Minggu namun berita itu masih menjadi perbincangan hangat. Berbagai macam spekulasi pun beredar mengenai para tokoh yang terlibat.


Tak terkecuali dengan nama idol terkenal, Park Jimin. Banyak sekali penggemar nya yang mengucapkan kalimat penguat untuk idol kesayangan mereka atas perlakuan adik nya itu. Namun juga tak sedikit haters yang mengatakan jika mungkin saja semua keturunan keluarga Park memang seperti itu. Atau beredar rumor yang mengatakan jika ibu Jimin lebih menyayangi putra sulungnya ketimbang Jihyun. Sehingga muncul pemberontakan seperti itu. Atau juga karena Nyonya Park yang tak pernah memperhatikan Jihyun sehingga pria itu mengambil jalan yang salah.


Ya, semua orang memang bebas berkomentar dan mengeluarkan pendapatnya. Namun, apa yang kita terima tidak semuanya benar. Jangan hanya mengetahui isi buku dari sampulnya saja karena kebanyakan sampul itu hanya untuk menarik perhatian para pembacanya.


Hal lain terjadi di kediaman Yoongi. Mungkin jika di bandingkan dengan ketiga temannya, hanya rumah pria dingin itu saja yang tidak diincar oleh wartawan. Rupanya bukan hanya orangnya saja yang tidak tersentuh bahkan dengan kehidupannya sekalipun. Meski ada berita semacam ini yang melibatkan Yoongi turut serta, namun tidak ada yang berani untuk meliputnya.


Tidak ada yang tahu apa alasan dibalik itu. Yang jelas, sebagai tuan rumah Yoongi sangat menikmati itu. Hidup dengan tenang tanpa keramaian dan kebisingan.


Sudah hampir tiga hari Ji-eun berada di rumah Yoongi. Belum ada tanda-tanda Jong-hoon menjemputnya. Karena situasi memang belum kondusif, meski tidak ada lagi wartawan yang mengepung apartemen dan rumahnya. Tapi tetap saja pasti banyak sekali paparazi yang akan mengambil gambar terkini sang gadis jika saja dia menampakkan diri ke dunia luar.


Jujur saja Ji-eun sudah bosan terus berdiam diri di rumah. Dia bisa melihat Yoongi berada di halaman belakang rumah sendirian. Entah apa yang pria itu lakukan, namun Ji-eun berniat menghampiri karena dia juga tidak tahu harus apa di kamar. Sementara rasa kantuknya belum juga menyerang.


"Kau belum tidur?"


Suara Ji-eun mampu membuat Yoongi mengalihkan pandangannya, sebelum itu dia tengah memandangi bintang-bintang di atas sana. Kegiatan rutinnya di malam hari.


"Belum."


Tumben sekali pria ini menjawab pertanyaannya dengan benar. Maksudnya, tidak ada kalimat savage yang keluar dari mulut itu. Tapi bukankah itu bagus, Ji-eun tidak harus kehilangan moodnya jika Yoongi 'waras' begini.


"Kenapa keluar? Di sini dingin." Sambung Yoongi.


"Aku tidak bisa tidur dan tidak tahu harus melakukan apa." Jawab Ji-eun apa adanya.


Yoongi yang semula berbaring di atas karpet yang ia gelar di atas rumput kini menegakkan tubuhnya. Menarik tangan Ji-eun untuk duduk di antara kedua kakinya yang terbuka. Gadis itu tidak menolak, sepertinya Ji-eun sudah terbiasa dengan sisi lain Yoongi.


Pria berkulit putih itu melingkarkan tangannya memeluk perut sang gadis, dagunya menumpuk pada puncak kepala Ji-eun yang menyender di dadanya. Sekilas jika dilihat mereka memang seperti pasangan kekasih yang sangat mesra. Mereka memang sepasang kekasih kan?


"Aku suka melihat bintang." Ucap Yoongi tanpa diminta.


"Kau menyukainya?"


"Hm. Aku akan merasakan ketenangan saat melihat bintang yang bersinar di langit."


Keheningan menyapa keduanya. Ji-eun akui pelukan Yoongi memang terasa sangat nyaman. Keduanya seperti menikmati momen ini.

__ADS_1


Ji-eun pun juga menyukai malam. Setiap sebelum tidur dia selalu menyempatkan diri melihat langit malam di balkon kamarnya, entah memandangi bintang atau sekedar memandangi city light kota saja yang jelas, dia akan merasa beban pekerjaan nya hilang saat melihat pemandangan yang sangat indah di malam hari.


Entah kenapa, tiba-tiba saja ia teringat pada pria Korea yang ditemuinya di Rusia. Apakah pria itu sudah kembali ke Korea? Atau justru pria itu sudah mendapatkan hukuman?


Ji-eun mengangkat wajahnya menatap Yoongi. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi apakah pria itu tidak akan marah. Dan Yoongi bukanlah orang yang tidak peka, dia menunduk dan balik menatap Ji-eun yang terang-terangan menatapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kau ingin memujiku tampan?"


"Ck, kenapa orang seperti mu sangat percaya diri sekali?"


Alih-alih menjawab, Yoongi justru terkekeh. Gadis itu sudah mengerucutkan bibirnya karena kesal, namun yang terjadi justru Yoongi yang menyambar bibirnya dan mengajaknya berperang lidah. Hanya sebentar sebab Ji-eun sudah mendorong dadanya menjauh.


"Kenapa kekasihku menggemaskan sekali?" Goda Yoongi.


Demi tuhan, Ji-eun langsung salah tingkah di panggil kekasih oleh Yoongi. Sejak kapan es batu di depannya ini mencair? Selain mesum, Ji-eun juga baru tahu jika Yoongi bisa menggombal juga.


Yoongi hanya terkekeh melihat Ji-eun yang salah tingkah. Terlihat jelas pipinya yang bersemu merah.


"Kau ingi mengatakan sesuatu?" Tanya Yoongi. Sebelumnya Ji-eun menatapnya seperti hendak mengatakan sesuatu namun dia malah menggodanya.


"Ah, ya. Aku jadi lupa. Em, begini, kau pasti masih mengingat pria Korea yang menolongku kan?" Ucap Ji-eun ragu.


"Apa kita bisa menemuinya?"


Yoongi tampak terdiam berpikir. Untuk apa Ji-eun meminta untuk menemui pria yang menolongnya tempo lalu? Bukankah urusan mereka sudah selesai. Ya, kecuali satu yaitu alasan pria itu menolong mereka. Yoongi masih belum mengerti, seharusnya jika pria itu terlibat maka dia akan melarikan diri sebab tidak ada yang menyerangnya.


"Kau ingin menemuinya, lagi?" Tanya Yoongi dan Ji-eun mengangguk mantap.


"Aku tidak bisa berjanji." Ucap Yoongi.


"Ayolah, kau tidak mau mengantarkan aku? Bagaimana jika aku bertemu wartawan saat pergi sendirian?"


"Kalau begitu tidak usah pergi."


"Kenapa kau menyebalkan sekali. Aku hanya memintamu untuk menemaniku dan mengantarku."


"Aku bukan supirmu."

__ADS_1


Ji-eun mendecak, memang sepertinya sifat menyebalkan Yoongi ini sudah tertanam sejak lahir. Meski sikapnya sedikit mencair dan manis, tetap saja kesan menyebalkan itu tidak hilang. Tidak akan pernah, mungkin.


Yoongi bisa melihat wajah menggemaskan Ji-eun saat merajuk. Dia bisa saja menuruti keinginan Ji-eun, tapi Yoongi lebih suka membuat gadis itu kesal. Hidupnya yang buram dan flat kini terasa berbeda.


"Apa yang aku dapatkan jika aku mengantarkan mu?" Celetuk Yoongi.


"Tidak perlu jika kau tidak sepenuh hati melakukannya."


"Aku melakukan dengan sepenuh hati, tapi tidak ada salahnya jika ada timbal baliknya."


"Sama saja. Aku tidak butuh--"


"Bagaimana jika bercinta malam ini?" Sela Yoongi dengan santai sehingga membuat Ji-eun membelalakkan matanya.


Tidak! Mereka memang pernah bercinta, tapi secara tidak sengaja. Jika saja saat itu Yoongi tidak dalam pengaruh obat sialan itu maka Ji-eun benar-benar tidak akan pernah menyerahkan diri. Dan sekarang pria itu mengajaknya secara terang-terangan?


"Kau mulai memanfaatkan ku, heuh?" Sinis Ji-eun.


"Tidak ada yang mengatakan itu. Kau mau atau tidak? Tapi kau harus mau, aku tidak butuh persetujuan."


Apa-apaan ini, bahkan Ji-eun belum memutuskan untuk setuju atau tidak tapi Yoongi menjawabnya sendiri. Jika begitu tidak usah bertanya.


Yoongi mengeratkan pelukannya, wajahnya ia sembunyikan di perpotongan leher sang gadis. Menghirup aroma buah alami dari tubuh Ji-eun dan dia menyukainya. Pria itu bahkan sampai mengendus-endus macam anak anjing, sesekali menjilatinya seolah leher itu adalah buah sungguhan.


"Kau memakai parfum apa?" Tanya Yoongi di sela-sela aktivitasnya.


"Shhh.. aku-- tidak memakai parfum-- apapun."


Yoongi menghentikan jilatannya pada leher Ji-eun, dan memiringkan kepalanya untuk menatap sang gadis yang juga menoleh ke samping.


"Tubuhmu manis." Jujur Yoongi.


"Oh, aku hanya memakai body lotion beraroma buah-buahan."


"Aku akan membelikan yang banyak untukmu. Aku menyukainya." Ucap Yoongi kembali membaui aroma tubuh Ji-eun.


Ji-eun hanya mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya. Aktivitas Yoongi sungguh membuatnya geli dan meremang. Apalagi tangan besar itu yang semakin merangkak naik menelusup ke dalam piyamanya.

__ADS_1


Ji-eun bisa merasakan nafas Yoongi yang mulai memburu, dan sepertinya Yoongi sudah mulai diselimuti gairah. Apa mereka akan benar-benar melakukannya malam ini?


__ADS_2