Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Insiden Kecil


__ADS_3

"Paman sangat tampan." Celetuk Yoonji.


Aara tersentak dan buru-buru meminta maaf karena ucapan lancang putrinya. Meski Yoonji anak kecil yang seharusnya bisa dimaklumi namun tetap saja Aara sedikit sungkan pada bosnya.


Namun justru respon yang di berikan oleh Seokjin diluar dugaannya, pria itu tertawa terbahak-bahak dan mencubit pipi Yoonji gemas. Pria itu tidak marah sama sekali.


Ya, lagipula apa yang harus dia permasalahkan. Justru pria itu senang karena di puji oleh anak kecil, itu berarti dia memang benar tampan kan? Anak kecil itu masih suci dan tidak berbohong.


"Paman memang tampan, sayang." Ucap Seokjin sembari mengusak rambut Yoonji.


Gadis kecil itu terkekeh dan senang dengan pembawaan Seokjin yang ramah. Kebanyakan pria teman sang ibu tidak pernah mau mengajaknya mengobrol dan bercanda, sekalipun mau mereka hanya mencari perhatian dan terkesan tidak tulus. Berbeda dengan Seokjin yang menurut Yoonji sama sekali tidak pencitraan. Setidaknya, gadis itu bisa melihat ketulusan di mata Seokjin.


"Baiklah, sudahi bercandanya dan kita pulang. Ibu sudah memberitahu Kak Mi agar tidak perlu kemari." Ucap Aara.


"Ibu tidak bekerja? Memangnya bos ibu tidak akan marah jika ibu mengantarkan aku pulang?" Tanya Yoonji polos.


Aara melirik Seokjin yang terkekeh, entah apa yang membuat pria itu merasa gemas pada putrinya. Gadis itu kemudian membantu Yoonji turun dari brankar dan menggandeng tangannya.


"Bos ibu itu sangat baik, dia tidak marah meski ibu mengantarkan mu pulang." Ucap Aara.


"Benarkah? Apa aku boleh bertemu dengannya? Aku ingin mengucapkan terimakasih karena mengizinkan ibu untuk menemaniku pulang." Sahut Yoonji antusias.


Seokjin dan Aara sama-sama tersenyum. Mereka bisa merasakan jika selama ini Yoonji kesepian karena Aara yang bekerja hampir setengah harinya. Sekalipun ada waktu di rumah, Seokjin yakin jika Aara pasti lelah dan tidak sempat menemani Yoonji bermain. Dan sepertinya Yoonji juga merasa kasihan jika mengganggu waktu istirahat sang ibu.


Pria bermarga Kim itu menghela nafasnya. Ia tidak bisa membayangkan jika ini terjadi pada adiknya atau orang terdekatnya. Pasti sangat sulit untuk menjalani hidup seperti yang Aara jalani. Seokjin harap, dia bisa turut membantu meringankan hidup Aara.


Seokjin kembali memakai topi dan maskernya ketika keluar dari ruangan Yoonji, berjalan lebih awal menuju parkiran lalu menunggu di mobil. Dia juga akan mengantarkan Aara dan Yoonji kembali ke rumah, bila perlu dia akan meminta Aara untuk tidak berangkat ke kantor.

__ADS_1


Aara dan Yoonji masuk kedalam mobil, tadinya Aara akan duduk di belakang bersama putrinya namun Yoonji mengatakan jika ibunya di depan saja agar Seokjin tidak seperti supir bagi mereka. Bahkan anak sekecil itu sangat tahu dibandingkan Aara.


"Yoonji." Panggil Seokjin.


"Ya paman?" Yoonji yang tengah bermain boneka itupun mengangkat wajahnya dan menatap Seokjin dari belakang.


"Apa kau mau eskrim? Coklat? Atau apapun?" Tawar Seokjin.


Yoonji nampak berpikir, gadis kecil itu hendak menjawabnya namun Aara lebih dulu menyela.


"Tidak perlu, Tuan. Aku akan membuat camilan di rumah saja."


"Aku bertanya pada putrimu, bukan padamu." Ucap Seokjin. Kalimat itu mampu membuat Aara terdiam dan mengatupkan bibirnya. Seokjin kemudian kembali menatap Aara melalui kaca tengah, "Bagaimana? Ada yang kau inginkan?"


"Tidak usah, Paman. Ibu bilang dia akan membuatkan camilan untukku di rumah." Ucap Yoonji polos.


Bagaimana mungki seorang ibu mengajarkan hal itu pada anaknya? Memang tidak salah untuk mengajarkan anak agar tidak meminta-minta. Namun jika seperti itu maka yang ada si anak akan tertutup dan lebih memilih memendam keinginannya. Akhirnya dia akan menjadi pribadi yang tertutup hanya karena alasan konyol.


Mobil melaju memasuki daerah pemukiman yang terlihat sedikit elit. Seokjin tidak menyangka jika ternyata Aara tinggal di kawasan dimana orang-orang berada tinggal. Lantas kenapa gadis itu sangat tertatih sekali hidupnya?


"Aku tinggal di rumah pemberian mendiang suamiku." Ucap Aara seolah tahu apa isi kepala Seokjin.


Mobil berhenti tepat di depan rumah yang tidak terpagar. Aara terlihat terkejut karena mendapati ibu mertuanya berada di depan pintu sembari berkacak pinggang. Tanpa harus ditebak pun gadis itu tahu tujuan wanita bergaya glamour itu datang mengunjunginya. Yang jelas bukan untuk menjenguk menantu atau cucunya.


"Terimakasih untuk tumpangannya, Tuan. Jika nanti memungkinkan, aku akan kembali ke kantor." Ucap Aara.


Seokjin tidak menyahut, ia masih penasaran dengan sosok wanita yang ada di depan rumah Aara. Tapi sepertinya dia tidak berniat bertanya. Pria itu hanya memperhatikan Aara yang membantu Yoonji turun dari mobil dan menggandeng tangannya menuju rumah.

__ADS_1


Aara terus berjalan tanpa menoleh ke belakang jadi dia tidak tahu bosnya itu sudah pergi atau belum. Tapi Aara berharap Seokjin memang sudah pergi dan tidak melihat ibu mertuanya di depan.


"Nenek!" Seru Yoonji. Meski gadis kecil itu selalu melihat kebencian dalam neneknya namun dia tetap menghormati wanita itu.


Hyun Sang, ibu dari Do Hyun itu menatap Aara dan Yoonji dengan tatapan sinisnya. Sedetik kemudian wanita itu berjalan mendekati Aara dan Yoonji yang berhenti tak jauh darinya.


"Aku butuh uang untuk liburan. Cepat berikan!" Ucap Hyun Sang ketus.


"Aku belum menerima uang gaji, Bu. Baru saja beberapa hari aku bekerja, dan Yoonji baru saja pulang dari rumah sakit." Sahut Aara lirih.


"Memangnya aku peduli? Kau itu selalu diberi barang mahal oleh putraku, dan kau mengatakan tidak mempunyai uang? Apa kau sedang mengajari anakmu untuk pelit, hah?"


"Bu.."


"Kalian sama saja, pembawa sial dan menyusahkan. Kenapa kau tidak mati saja kemarin!" Seru Hyun Sang pada Yoonji.


Yoonji tersentak dan memeluk ibunya, menyembunyikan wajahnya di perut sang ibu. Gadis kecil itu baru saja merasakan bahagia, kenapa sekarang harus kembali menerima cacian dari neneknya.


"Cepat berikan uangmu!" Seru Hyun Sang. Tak kunjung menerima uang, wanita itu merebut paksa tas milik Aara. Aara sempat menahannya namun tenaga gadis itu lebih kecil dibandingkan ibu mertuanya.


Seokjin yang sedari tadi melihat dari dalam mobil merasa tidak tahan. Pria itu keluar tanpa memakai penyamaran, entah lupa atau sengaja sepertinya pria itu sendiri tidak menyadarinya. Ia terlalu kesal dengan tingkah wanita itu.


Hyun Sang membuka dompet Aara dan menemukan beberapa won di dalamnya. Wanita itu memasukkan kembali dompet itu kedalam tas dengan kasar dan melemparnya.


"Kau bilang kau tidak memiliki uang? Dasar pembohong!" Seru Hyun Sang.


"Cukup!!"

__ADS_1


__ADS_2