Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Pesta (2)


__ADS_3

Suasana pesta semakin ramai. Tamu undangan yang merupakan kolega bisnisnya yang mengajak para pasangannya bergantian memberi ucapan selamat pada Min Si Hyuk. Tak terkecuali teman-teman Yoongi yang hadir.


Kim Seokjin yang pada dasarnya bekerjasama dengan perusahaan ayah Yoongi pun turut mengucapkan selamat. Sementara yang lain hadir hanya karena kedekatan mereka denga keluarga Yoongi.


"Selamat untuk perusahaan ini paman. Aku ingin memberikan kue tapi bangunan ini sama sekali tidak bisa memakannya. Jadi, mungkin aku akan memberikan hadiah lain saja?" Ucap Seokjin pada ayah Yoongi.


"Haha, terimakasih Tuan Seokjin. Apapun hadiah darimu akan kami terima dengan senang hati."


"Jangan panggil seperti itu, paman. Aku memanggilmu paman tapi kau memanggilku seakan kita sedang melakukan rapat."


"Baiklah, Paman minta maaf. Silahkan nikmati hidangannya."


"Terimakasih paman."


Hidangan yang di sajikan adalah camilan khas dari berbagai luar negeri. Serta minuman yang beragam mulai dari jus, sirup, dan wine.


Min Si Hyuk meninggalkan Yoongi dan teman-temannya untuk menikmati acara dan hidangannya. Sementara dirinya akan bergabung dengan koleganya yang lain bersama sang istri.


Yoongi dan Seokjin mengambil tempat duduk yang yang berada di sudut ruangan guna menghindari keramaian. Selain itu, jarak beberapa meter di depannya terdapat Jungkook dan Ji-eun.


"Kau tidak membawa kekasihmu?" Tanya Seokjin namun Yoongi tidak menjawab.


Pria itu terus melihat kearah meja dimana ada Jungkook dan Ji-eun yang terlihat seperti sepasang kekasih.


Hal itu membuat Seokjin mengikuti arah pandangan adiknya, ketika melihatnya ternyata ia mengenali Jungkook.


"Oh, bocah itu sedang mendekati anak dari kolega ayahmu? Dasar playboy internasional." Ucap Seokjin sembari menggigit cupcake yang dia ambil.


Sekilas, Seokjin memang tidak mengenali Ji-eun karena posisinya membelakangi. Lagipula, lebih baik tidak melihatnya daripada nanti membuat keributan.


Yoongi mendengus, memilih menenggak wine nya yang sedari tadi menganggur di atas meja.


Di meja lain, Ji-eun terlihat tidak nyaman dengan keramaian di pesta. Selain karena banyak pasang mata yang mengenalinya, dia juga merasa tidak enak pada Yoongi.


Entahlah, bukannya mereka sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Atau lebih tepatnya memang tidak ada hubungan apapun sebelumnya.


Tubuhnya juga merasa lelah padahal dia hanya duduk saja sedari tadi. Dan hal itu menarik perhatian Jungkook.


"Ji-eun-noona, gwenchana?" Tanya Jungkook.


"Ah ya, aku baik-baik saja." Sahut Ji-eun.


"Kau merasakan sesuatu pada perutmu? Kram? Atau mual?" Bisik pemuda Jeon.


Ji-eun hanya menggeleng, namun raut wajahnya sama sekali tidak berbohong. Jungkook menghela nafasnya dan mengeratkan Coat yang Ji-eun kenakan.

__ADS_1


Udara di dalam ruangan memang di setel hangat, namun bagi Ji-eun mungkin masih terlalu dingin.


"Kalau begitu ayo kita pulang." Ajak Jeon Jungkook.


"Tapi, kau belum menemui teman-teman mu Jeon."


"Tidak masalah. Aku kesini untuk bertemu paman Min saja."


Jungkook mengulurkan tangannya dan disambut oleh Ji-eun. Mereka berjalan beriringan untuk keluar dari aula. Namun sebelum itu, mereka kembali menghampiri ayah Yoongi untuk berpamitan.


Semua gerak-gerik kedua orang itu tak luput dari pengawasan Yoongi. Melihat bagaimana cara Jungkook memperlakukan Ji-eun membuatnya kesal dan geram. Apa tujuan Jungkook bertingkah seperti itu? Sungguh kekanak-kanakan.


Jungkook dan Ji-eun keluar dari lobby, hendak menuju parkiran. Namun mereka di kejutkan oleh kedatangan dua orang yang kakaknya yang terkejut.


"Kalian baru datang?" Tanya Jungkook.


"Iya. Kau mau kemana?" Tanya Kim Taehyung.


"Pulang."


Kim Taehyung hanya mengangguk dan tidak memperhatikan Ji-eun. Awalnya dia memang terkejut karena Jungkook datang bersama Ji-eun, namun setelah itu dia bersikap biasa saja. Tak ingin tahu urusan orang lain.


Sementara Park Jimin masih terlihat terkejut dan menatap Ji-eun dan Jungkook bergantian. Jiwa penasaran nya meronta-ronta karena kedatangan mereka berdua, terlebih tangan keduanya yang bergandengan.


"Tidak."


"Kenapa kau bisa-"


"Ayo masuk." Sela Kim Taehyung agar Park Jimin tidak banyak bertanya.


Park Jimin dan Kim Taehyung masuk meninggalkan Jungkook yang hendak pulang. Keduanya langsung mendatangi Yoongi yang masih bersama Seokjin.


Berbeda dengan Park Jimin yang langsung duduk bergabung dengan Yoongi, Kim Taehyung selaku tetangga Yoongi menemui paman Min terlebih dahulu. Meski hubungan mereka tidak terlalu dekat tapi kota mereka sama.


"Hyung." Sapa Jimin pada kedua anggota tertua.


"Dimana bocah itu?" Tanya Seokjin.


"Siapa?"


"Jungkook."


"Ah, dia sudah pulang. Tadi aku berpapasan di depan,-" Jawab Park Jimin lalu beralih pada yoongi. "...tapi kenapa dia datang bersama kekasihmu Hyung?"


"Maksudmu?" Tanya Seokjin sementara Yoongi hanya mendengus.

__ADS_1


"Iya, dia datang bersama-"


"Tidak usah mengurusi hidup orang lain, Jim." Sela Taehyung, lagi-lagi.


Jimin mendecak, kenapa temannya yang satu ini suka sekali menyela pembicaraan nya. Padahal Jimin yakin jika Taehyung juga pasti penasaran dan merasa aneh, tapi mungkin takut saja kepada Yoongi.


Sementara Seokjin yang masih penasaran menatap Yoongi yang acuh dan menikmati minumannya tanpa menghiraukan ucapan Park Jimin.


Sebenarnya ada apa? Kenapa? Apa dia melewatkan sesuatu penting?


•••


Jeon Jungkook dan Ji-eun sudah berada dalam perjalanan pulang. Hari sudah mulai malam dan Ji-eun harus segera pulang. Tidak baik untuk ibu hamil terlalu lama di luar rumah dalam keadaan udara dingin seperti ini. Biar bagaimanapun, Jungkook merasa kasihan pada Ji-eun dan calon anaknya.


Gadis itu merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi yang sudah sedikit di rebahkan, tubuh nya terasa lelah dan lemas.


"Kau lelah?" Tanya Jungkook.


"Sedikit. Aku hanya belum terbiasa dengan keadaan ini."


"Maaf. Seharusnya aku tidak mengajakmu bepergian jauh, apalagi bertemu dengan Yoongi-hyeong."


"Tidak apa-apa, Jeon."


Ji-eun menghela nafasnya. Pertemuannya dengan Yoongi tadi memang membuatnya sedikit emosional. Namun dia tidak menunjukannya agar Jungkook tidak akan merasa bersalah karena mengajaknya ke pesta itu.


Dia juga tidak tahu jika pesta yang akan ia datangi adalah pesta keluarga Yoongi. Mungkin jika mengetahuinya, Ji-eun akan memilih untuk di rumah saja.


"Jeon." Panggil Ji-eun.


Jungkook menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan.


"Bisakah kita berhenti di minimarket?"


"Baiklah. Apa kau ingin sesuatu?"


"Tiba-tiba aku ingin makan strawberry." Ji-eun meringis menampilkan barisan giginya.


Jungkook tersenyum gemas. Dia pernah membaca artikel tentang wanita hamil yang mendadak menginginkan sesuatu dan harus mendapatkan nya. Atau bisa di sebut ngidam.


Tanpa berkomentar, Jungkook menghentikan mobilnya di parkiran depan minimarket. Ji-eun hendak membuka pintu namun Jungkook melarangnya dan mengatakan untuk tetap di mobil.


Pemuda itu memakai maskernya dan melangkah menuju minimarket. Mengambil beberapa kemasan strawberry segar dan camilan sehat. Serta susu pisang kesukaannya.


Bukan hanya itu, dia bahkan membeli beberapa kotak susu hamil untuk Ji-eun. Setelah itu Jungkook membayar belanjaannya dengan kartu hitamnya.

__ADS_1


__ADS_2