Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Pertengkaran Dua Bayi


__ADS_3

Hwang Suzy, gadis berumuran 23 tahun yang dikenal sebagai princess Busan itu berjalan riang sembari menenteng sebuah paperbag berwarna coklat. Kelihatannya hari ini gadis itu sangat bergembira.


Tentu saja, gadis itu merasa sangat bahagia karena Jungkookie nya pulang ke Busan. Sudah beberapa bulan ia menunggu kepulangan pria itu, dan rasanya penantiannya terbayar lunas sekarang.


Meski Jungkook masih saja ketus padanya, itu tidak masalah. Suzy tahu jika Jungkook memang seperti itu dan dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Justru Suzy suka sekali membuat Jungkook marah dan kesal. Jika orang dewasa lain akan menunjukkan ekspresi menyeramkan saat marah, hal itu tidak akan terjadi pada Jungkook.


Marahnya pemuda itu akan terlihat menggemaskan, seperti marahnya balita berusia tiga tahun. Suzy juga heran kenapa Jungkook bisa tumbuh dewasa namun wajahnya seperti tidak berubah, masih sama seperti saat pemuda itu bayi.


Suzy tiba di gerbang rumah Jungkook yang hanya sebatas dada orang dewasa. Entah dirinya yang terlalu pendek atau standar dada orang dewasa yang terlalu tinggi, dia hanya bisa memperlihatkan mata dan setengah kepalanya saja. Perlu berjinjit jika ingin wajahnya terlihat.


Gadis itu bisa melihat Jungkook tengah berolahraga ringan di depan rumahnya. Pemuda itu memakai kaos oblong tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisepnya serta tatto di lengan kanannya.


"Jungkookie!!" Seru Suzy sekuat tenaga.


Jungkook terkejut ketika melihat Suzy melambaikan tangannya di depan gerbang. Karena memang gerbang itu di gembok maka dia tidak bisa masuk dan berharap Jungkook akan membukanya. Namun bukannya mendekat, pemuda itu justru terlihat acuh dan pura-pura tidak melihatnya.


Bukan Suzy namanya jika langsung menyerah begitu saja. Dia menekan bel di samping gerbang berulang kali sambil menyerukan nama Jungkook sekuat mungkin.


"Oppa, buka gerbangnya!!" Seru Suzy tak patah semangat.


Hal itu mengundang perhatian Nyonya Jeon yang mendengar keributan dari dalam rumah. Kemudian dia menghampiri putranya di teras, wanita itu juga melirik ke arah gerbang dimana Suzy masih disana.


"Jeon, kenapa tidak dibuka?" Tanya Nyonya Jeon.


"Apanya Bu?"


"Kau tidak melihat Suzy ada di sana?"


Jungkook melirik kearah gerbang sekilas, bersamaan dengan itu Suzy juga tersenyum lebar.


"Tidak."


Nyonya Jeon hanya mampu menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan menuju gerbang untuk mempersilahkan tamunya masuk. Suzy langsung tersenyum sangat lebar dan membungkuk pada nyonya Jeon sebagai bentuk sapaan.


"Pagi, Bibi."


"Pagi juga. Kenapa kau kesini pagi-pagi sekali?"


"Aku ingin memberikan ini pada Jungkook." Ucap Suzy sembari mengangkat paperbag yang ia bawa.

__ADS_1


"Ayo masuk. Apa kau sudah sarapan? Jika belum kita bisa sarapan bersama.


"Terimakasih bibi tapi aku sudah sarapan di rumah."


"Baiklah kalau begitu, akan bibi buatkan teh hijau." Ucapnya pada Suzy lalu beralih pada putranya yang masih sibuk berolahraga. "Jaga sikapmu, Jeon."


Jungkook hanya bergumam sebagai jawaban. Sebenarnya dia malas sekali bertemu Suzy, namun karena ibunya mengatakan untuk bersikap baik mau tak mau Jungkook menurutinya. Pemuda itu sangat menyayangi ibunya melebihi apapun, jadi tidak ada alasan untuk membangkang.


Keadaan mendadak senyap ketika Nyonya Jeon mengantarkan minuman. Tak lupa Suzy mengucapkan terimakasih pada wanita yang sebaya dengan ibunya itu. Jungkook menghampiri Suzy dan mendaratkan bokongnya di tangga lantai, sementara Suzy berada di atas kursi. Karena merasa tak sopan, Suzy berpindah tempat duduk menempati ruang kosong di samping pemuda Jeon.


"Kesukaan mu." Ucap Suzy sembari menyerahkan paperbag pada Jungkook.


Jungkook menoleh, menatap paperbag itu sejenak sebelum menerimanya. Saat membuka dan melihat isinya, matanya langsung berbinar namun kembali bersikap biasa saja saat Suzy melihatnya.


"Terimakasih." Sahut Jungkook datar.


"Sama-sama. Oh ya, apa kau hari ini sibuk?"


"Tidak."


"Kalau begitu, temani aku berbelanja."


"Aku tidak bisa."


"Aku harus ke rumah bibi Park."


"Kalau begitu aku ikut."


Jungkook sudah akan mengeluarkan penolakan ketika Suzy menatapnya dengan mata yang dibuat seperti anak anjing. Karena tidak mau telinganya rusak karena rengekan Suzy, Jungkook pun mengiyakan. Pemuda itu mengambil satu kotak susu pisang yang Suzy berikan dari paperbag.


Hal itu tak luput dari perhatian Suzy. Gadis itu sangat menyukai Jungkook dari segi manapun. Dari pemuda itu yang masih menyukai susu, gigi kelincinya yang terlihat menggemaskan, serta raut wajahnya yang tak pernah bosan di pandang.


"Pulanglah."


"Aniya!"


"Jangan bebal, Zy. Pulang dan tunggu aku di rumah, nanti aku jemput."


Suzy tersenyum sumringah mendengar ucapan Jungkook, sedetik kemudian dia mengangguk dan berpamitan pulang. Rencananya Jungkook hanya beralasan saja dan tidak benar-benar menjemput gadis itu untuk mengajaknya ke rumah Park Jimin. Namun melihat reaksi sang gadis yang kelewat senang membuatnya tak tega mengerjainya.

__ADS_1


Jungkook masuk kedalam rumah dan menyimpan sekantung wortel serta beberapa kotak susu pisang pemberian Suzy di lemari pendingin. Setelah itu ia berlalu ke kamar untuk bersiap-siap.


•••


"Kenapa kau harus ke rumah bibi Park? Memangnya Jimin ada di sana?" Tanya Suzy.


"Tidak."


"Lalu ada urusan apa kau kesana?"


"Bukan urusanmu."


"Tapi kenapa Jimin tidak pulang saat kau juga pulang ke Busan? Biasanya kalian selalu pulang bersama."


"Kenapa kau berisik sekali?" Geram Jungkook.


"Aku hanya bertanya, apa susahnya menjawab."


"Memangnya kau mau apa jika Jimin ada di rumah?"


"Tentu saja bertemu dengannya. Aku juga merindukannya, merindukan senyumnya yang manis. Apalagi ketika dia tersenyum, aku menjadi -- Aww! Jeon!" Belum sempat Suzy selesai berbicara, tiba-tiba saja Jungkook mengerem mobilnya secara mendadak. Hampir saja kening mulusnya terantuk dasboard jika saja dia tidak memakai safety belt.


"Menjadi apa, hah?!" Geram Jungkook. Entah kenapa ia merasa kesal saat Suzy membicarakan pria lain di depannya meski itu temannya.


"Kenapa kau marah? Seharusnya aku yang marah karena kau hampir melukai dahiku." Kesal Suzy.


"Diam dan jangan berbicara. Lebih baik kau tidur saja daripada membicarakan orang lain."


Jungkook kembali melajukan mobilnya menuju rumah Jimin yang tidak jauh dari desanya. Sementara Suzy hanya menatap bingung Jungkook yang terlihat marah. Memangnya dia salah apa? Dan membicarakan siapa?


Dia hanya membicarakan Jimin, memangnya ada yang salah. Dan dia tidak menjelek-jelekkan teman pemuda itu tapi kenapa Jungkook merasa geram.


Jungkook sendiri tidak tahu kenapa ia bisa bereaksi seperti itu. Dia hanya tidak suka mendengar Suzy membicarakan pria lain di depannya. Suzy hanya boleh membicarakannya dan mengganggunya, memujinya bahkan dekat dengannya.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, bahkan saat Suzy ingin menyetel radio tangannya langsung di tepis. Padahal dia hanya ingin mengusir kekosongan diantara mereka. Rasanya sangat tidak enak sekali berdiam-diaman seperti ini. Ingin membuka obrolan lagi tapi dia tidak mau diturunkan di jalan.


"Aku bilang tidur, tidak usah menyentuh seisi mobil. Tanganmu tidak higienis." Ucap Jungkook.


"Jungkook Oppa, perjalanan ini tidak akan memakan waktu seharian. Bagaimana bisa kau menyuruhku tidur?"

__ADS_1


"Kalau begitu diam seperti patung."


Suzy mendengus. Jungkook memang tidak berubah. Dia selalu saja ketus padanya. Padahal Suzy tidak pernah melakukan apapun selain mengganggu pemuda itu. Tapi mengganggu pun hanya sering menemuinya, itu saja.


__ADS_2