Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Biar Aku Saja


__ADS_3

Jeon Jungkook dan Lee Ji-eun masih berada di dalam restoran. Karena kekenyangan, mereka memutuskan untuk tidak langsung pulang.


Ji-eun tampak memesan makanan untuk take away karena merasa cocok dengan lidahnya. Sementara Jungkook tentu saja menunggu karena akan mengantarkan Ji-eun kembali seperti saat dia menjemputnya.


"Noona." Panggil Jungkook.


Ji-eun yang tengah fokus membaca artikel tentang kehamilan di salah satu platform pun menoleh. Mereka duduk berseberangan, jadi Jungkook sama sekali tidak tahu apa yang tengah Ji-eun baca di ponsel.


Jungkook menghela nafasnya, ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan kabar kehamilan sang gadis. Karena waktunya sudah tersita untuk makan siang, yang padahal sama sekali tidak direncanakan oleh Jungkook.


Untung saja pria itu membawa dompetnya, jadi tidak akan menyulitkan dirinya. Jungkook memang jarang membawa uang maupun dompet jika bepergian bersama kakak-kakaknya, karena uangnya tidak akan berguna.


"Boleh aku bertanya padamu?" Tanya Jungkook.


Ji-eun terlihat berpikir sebentar, "Tentu saja. Memangnya kau mau menanyakan apa?"


Ji-eun tidak bisa menebak apa yang akan Jungkook tanyakan. Dan gadis itu tetap santai menanggapinya tanpa rasa curiga sedikitpun.


"Apa Noona benar-benar ... " Jungkook menjeda ucapannya yang mana membuat Ji-eun semakin penasaran. "Hamil?" Lirihnya.


Ji-eun terkejut bukan main, terlihat dari matanya yang sedikit membulat namun segera ia tutupi dengan memasang ekspresi biasa saja.


Dia juga heran, darimana pemuda itu mengetahui tentang kehamilannya? Tidak ada yang tahu kecuali Bongsoon. Dan jika Bongsoon yang memberitahu Jungkook bukankah itu tidak mungkin?


Mereka belum bertemu dan Ji-eun yakin jika Bongsoon tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun.


"H-hamil?" Ucap Ji-eun setelah tersadar dari keterkejutannya.


"Iya. Maaf, jika aku salah. Aku hanya ingin mengkonfirmasi langsung." Ringis Jungkook. Dia bahkan mengusap tengkuknya karena merasa canggung.


Ji-eun memaksakan diri untuk tertawa, yang justru tawa itu malah terdengar sumbang. Jungkook tahu jika tawa itu bukanlah karena sesuatu hal yang lucu atau sejenisnya.


"Kau mengira aku hamil? Bahkan kau tahu aku tidak memiliki suami, bagaimana aku bisa hamil?"


Jawaban tersebut sangatlah masuk akal, tapi Jungkook sama sekali tidak bisa menerimanya. Baginya, jawaban yang keluar dari mulut Ji-eun tidaklah membuatnya puas.


Dia bisa melihat kekecewaan di mata sang gadis. Namun Jungkook tidak memaksa dan memilih diam untuk sementara. Sampai pesanan Ji-eun diantarkan oleh pelayan.

__ADS_1


Keduanya keluar dari restoran. Jungkook akan mengantarkan Ji-eun pulang terlebih dahulu.


Dalam perjalanan pulang, tidak ada percakapan apapun diantara keduanya. Mereka sama-sama terdiam menyelami pikiran masing-masing. Dan tak terasa mobil hitam milik Jungkook sudah sampai di depan rumah Ji-eun.


"Kau mau mampir dulu?" Tawar Ji-eun.


"Tidak, aku harus pulang."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati."


Jungkook mengangguk. Namun saat Ji-eun hendak membuka pintu mobil, pemuda itu menahan lengannya.


"Ada apa?" Tanya Ji-eun.


Pemuda bermarga Jeon itu menatap manik mata Ji-eun. Tatapan yang mendalam dan mampu membuat siapapun terpesona termasuk Ji-eun. Namun gadis itu segera mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin terjatuh kedalamnya.


"Tolong jangan sembunyikan apapun dariku. Jika dia tidak mau bertanggungjawab, biar aku saja." Ucap Jungkook tegas.


Ji-eun bisa melihat keseriusan di mata Jungkook, namun lagi-lagi dia menepis. Dia tidak akan mudah lagi menaruh rasa pada seseorang.


"Jeon, aku--"


"Kau bisa mempercayai ku."


Tiba-tiba saja Ji-eun terisak, yang mana membuat Jungkook merasa iba. Pemuda itu melepas seat belt nya dan memeluk Ji-eun. Isakan itu terus terdengar hingga beberapa menit setelah itu tidak terdengar apapun.


Ji-eun tidak mengerti kenapa dia menjadi seemosional ini. Tapi, jujur saja perasaannya menjadi lega setelah menangis.


"Lupakan saja. Besok apa kau mau ikut aku ke pesta? Aku akan menjemputmu besok malam."


Ji-eun terpaksa mengangguk, dia ingin segera keluar dari mobil dan menjauh dari Jungkook. Dia tidak ingin terbawa suasana yang mungkin akan membuatnya kembali merasakan luka. Karena jujur saja, dia adalah orang yang lemah soal perasaan.


Setelah Ji-eun memasuki gerbang, Jungkook segera melajukan mobilnya menuju rumah Kim Taehyung. Dia akan mengambil earphone miliknya yang sebelumnya di bawa oleh Bongsoon.


Sebenarnya tidak masalah karena dia bisa membeli yang baru, tapi rasanya aneh saja jika sampai Taehyung yang pencemburu itu menemukan barang miliknya di mobil sang kekasih.


Dia tidak ingin di cap sebagai perebut kekasih orang. Jika untuk Ji-eun, dia tidak peduli. Lagipula, Yoongi sudah bukan siapa-siapa Ji-eun lagi. Maka dia yang akan menggantikan posisinya.

__ADS_1


•••


Malam hari di kediaman keluarga Lee diisi dengan acara menonton televisi bersama. Dua pria dan satu gadis tengah menikmati acara talk show yang di isi oleh tokoh artis terkenal.


Ji-eun nampak menyenderkan kepalanya pada bahu sang ayah, mengenang kembali masa lalu bersama ibunya.


Dulu dia sangat dekat dengan sang ibu, namun Tuhan lebih sayang pada wanita itu sehingga di usianya yang ke sembilan belas tahun ibunya pergi.


"Jong-hoon, besok ayah akan ke luar kota untuk menghadiri acara bisnis. Apa kau bisa menjaga adikmu?" Ujar Jin-kook pada putranya.


"Kenapa mendadak sekali ayah? Besok aku akan pergi ke Jerman untuk menemui Yuri." Ucap Jong-hoon.


"Kau mau ke Jerman? Kenapa kau tidak mengajakku?" Sahut Ji-eun.


"Aku tidak mau di repotkan olehmu."


Ji-eun mencebik, saat Jong-hoon mengatakan tidak ingin direpotkan olehnya. Bilang saja dia tidak ingin diganggu saat bermesraan dengan kekasih modelnya itu.


Gadis itu melarikan pandangannya pada sang ayah, kembali menyenderkan kepalanya di pundak pria paruh baya yang masih terlihat muda itu.


"Kalian pergilah, aku tidak apa-apa di rumah." Ucap Ji-eun.


"Kau yakin? Atau kau mau ikut ayah saja?" Tanya Jin-kook. Dia tidak bisa meninggalkan putrinya sendiri di rumah. Setelah kasus penculikan itu, Jin-kook semakin protektif untuk menjaga Ji-eun. Kejadian itu menimbulkan trauma.


Tapi Ji-eun menggeleng. Tidak masalah dia di rumah sendiri, toh selama ini dia selalu sendirian ketika Jong-hoon sibuk dengan teman-temannya.


Lagipula, bukankah Jungkook besok akan mengajaknya pergi.


"Besok aku juga akan pergi."


"Kau mau pergi kemana? Jangan berkeliaran yang akan membahayakan dirimu." Sela Jong-hoon.


"Diamlah, Jong-hoon." Ucap Ji-eun jengah.


Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Bukankah tidak ada lagi bahaya yang mengintai dirinya, karena Jihyun sudah mendekam di balik jeruji besi.


Jong-hoon mencebikkan bibir nya, karena adiknya itu sangat menyebalkan. Andai saja dia tidak ingat umur maka sudah dipastikan jika dia akan beradu mulut dan kejar-kejaran dengan adiknya. Seperti saat mereka berdua kecil dulu.

__ADS_1


__ADS_2