
"Kenapa kau lama sekali? Tidak ingat pada adikmu satu-satunya ini?" Cecar Ji-eun.
Jong-hoon memilih untuk tidak menyahut. Ini bukan waktu yang tepat untuk adu mulut dengan adiknya. Memang, pria itu jika datang ke suatu tempat tidak pernah basa-basi yang akan membuang waktu berharganya. Langsung ke inti pembicaraan, tujuan lalu setelah itu selesai.
Ji-eun yang merasa di abaikan hanya mendengus. Dia sangat tahu bagaimana sifat sang kakak yang berbeda tiga tahun darinya. Gadis itu berjalan dengan dengan menghentakkan kakinya karena kesal. Bahkan mendahului Yoongi yang hendak masuk kedalam rumah.
Kedua pria berbeda usia itu duduk di ruang tamu, Yoongi sudah menawarkan minuman namun Jong-hoon menolaknya dan mengatakan jika dia tidak bisa lama-lama berada di luar.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Yoongi.
"Aku sudah membuat pengalihan berita dan para wartawan itu kini tidak lagi berbondong-bondong mendatangi apartemen dan rumah kami."
"Oh, begitu?" Yoongi melirik kearah kamar dimana Ji-eun berada di dalam. Entah apa yang gadis itu lakukan namun mungkin saja karena dia kesal pada sang kakak itu sebabnya gadis itu tidak ikut bergabung. "Berarti anda akan membawanya pulang?"
"Ya. Kami akan kembali ke Songjeong-dong, kemungkinan Ji-eun juga akan Hiatus sementara sampai berita ini meredup dari media."
Yoongi menghela nafasnya, pria itu bahkan menggaruk alisnya karena tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Baru saja dia beberapa hari menikmati waktu dengan Ji-eun, sekarang gadis itu harus kembali ke rumahnya. Yang secara otomatis mereka akan berjauhan dan berpisah.
Untuk kejelasan hubungan mereka sendiri, Yoongi tidak tahu pasti. Terkadang ia masih menganggap jika kontrak itu masih berlaku, namun di sisi lain dia sudah tidak berhak karena hidup Ji-eun sudah terbebas dari Jihyun.
Tapi dia masih ingat betul saat mengatakan akan mencoba mencintai gadis bermarga Lee itu. Dia juga sudah berusaha membuka hatinya dengan melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dia lakukan selama beberapa tahun. Ya, dia tidak pernah sedekat dan sehangat itu pada gadis manapun. Hanya satu gadis dan itu sudah lama sekali. Siapa lagi jika bukan Go Aara.
Namun dia baru saja melakukan itu pada Ji-eun. Entahlah, dia melakukannya karena merasa bersalah pada Ji-eun. Dia sudah merenggut kesucian gadis itu padahal tidak ada perjanjian seperti itu di kontrak yang ia buat. Yang berarti dia melanggar apa yang sudah ia sepakati.
Meski Ji-eun tidak menunjukkan kemarahan atau perasaan lain, namun saat mendengar suara tangis saat itu membuatnya merasa jika dia memang harus melakukan itu semua untuk Ji-eun. Memang, dia tidak bisa mengembalikan apa yang dia ambil. Membuat sesuatu yang sudah ia rusak menjadi utuh kembali. Namun dengan melakukan kebaikan di waktu selanjutnya setidaknya akan mengurangi rasa penyesalan itu.
"Kalau begitu biar ku suruh dia bersiap-siap." Ucap Yoongi.
__ADS_1
"Ah, terimakasih produser. Maaf banyak merepotkan mu."
Yoongi mengangguk singkat sebagai tanda jika ia tidak merasa keberatan akan hal itu. Jong-hoon sendiri juga tidak tahu, Min Yoongi yang ia kenal sebagai idol sangat berbeda sekali dengan di kehidupan aslinya. Dan dia tentu tahu bagaimana sikap dan tingkah sang musisi itu dari berbagai media dan artikel yang memang menguliti kehidupan seorang artist.
Rasanya sangat aneh, apalagi mereka kenal baru-baru ini dan hanya terikat kontrak rekaman yang di produseri oleh Yoongi. Namun pria itu sangat baik pada adiknya, terbukti dari pria itu yang suka rela menyelamatkan sang adik dari penculikan hingga pergi ke negara sebelah.
Mungkin jika orang lain yang tidak memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi akan diam saja atau hanya bisa membantu mendoakan tanpa mau membantu. Terlebih mereka tidak saling kenal dan akrab. Terkadang teman yang sudah sangat akrab pun belum tentu bisa dimintai pertolongan.
Yoongi masuk kedalam kamar dan mendapati Ji-eun tengah tiduran dengan posisi tengkurap. Tangannya memegang ponsel, terlihat gadis itu tengah bermain game.
"Kau tidak menemui kakak mu?" Tanya Yoongi.
"Tidak." Jawab Ji-eun singkat. Gadis itu mengira Jong-hoon hanya menjenguknya saja tanpa tahu bahwa sang kakak datang untuk menjemputnya.
Yoongi tidak membalas atau mengatakan jika Jong-hoon hendak menjemput gadis itu. Justru dia malah duduk di samping sang gadis, mengambil map coklat di laci nakas. Dipandanginya map berwarna biru tersebut, ada rasa aneh ketika dia kembali mengingat kerjasamanya dengan Ji-eun yang 'seharusnya' sudah berakhir.
Yoongi menyodorkan map itu pada Ji-eun. Gadis itupun menoleh dan menatap Yoongi dan map secara bergantian. Tatapan matanya seakan mengatakan apa maksudnya.
"Lalu?"
"Kau tidak ingin merobeknya atau membakar kertas ini?"
Ji-eun bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Yoongi. Sejujurnya dia sudah menyiapkan diri untuk ini sejak terjadinya penculikan itu. Karena Yoongi sudah tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menjaganya, terlepas dari pernyataan dan perlakuan pria itu tempo lalu.
Tentang Yoongi yang mengatakan ingin mencoba mencintainya, Ji-eun rasa itu tidak perlu. Dengan berakhirnya kontrak kerjasama ini maka mereka akan kembali ke kehidupan masing-masing. Dan mungkin tidak akan bertemu. Ji-eun akan berusaha menghilangkan rasa yang sempat membuat hatinya bimbang.
Gadis bermarga Lee itu meraih map yang sedari tadi masih mengudara, dengan sekali tarikan kertas itu terbagi menjadi dua bagian. Keduanya sama-sama terdiam, entah harus menanggapinya seperti apa.
__ADS_1
Bukankah ini hal baik untuk mereka berdua? Tidak perlu lagi bersandiwara di depan rekannya dan juga, tidak perlu lagi menjaga diri dari publik. Ji-eun adalah seorang artist dan tentu saat gadis itu bertindak apapun pasti akan ada media yang memburunya. Beruntung kabar kebersamaan mereka tidak tercium oleh media dan rumah Yoongi sangatlah aman.
"Aku sudah merobeknya. Terimakasih sudah menjagaku." Ucap Ji-eun.
"Ya."
Ada hal lain yang ingin Ji-eun katakan tentang hubungan mereka. Maksudnya, teman-temannya tidak ada yang mengetahui jika hubungan mereka berdasarkan kerjasama. Kecuali Kim Taehyung dan Jeon Jungkook saja. Lalu, jika mereka berpisah dalam waktu yang dekat apakah semua akan baik-baik saja?
"Berkemaslah. Kakak mu akan membawamu pulang." Ucap Yoongi. Pria itu bangkit dari duduknya dan hendak kembali ke ruang tamu, namun Ji-eun menahan tangannya.
Yoongi menatap pergelangan yang di genggam oleh sang gadis. Seolah mendapat penolakan, Ji-eun segera melepaskan cengkeramannya dan meminta maaf. Tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya, namun entah dengan hati masing-masing. Rasanya seperti tidak pantas untuk Ji-eun menanyakan ucapan Yoongi tempo lalu.
•••
Setelah berkemas, Ji-eun keluar dari kamar. Membawa ransel sedang untuk membawa pakaian dan perlengkapannya.
"Kita harus segera pulang." Ucap Jong-hoon.
Ji-eun memilih untuk langsung masuk kedalam mobil dan tidak berpamitan pada Yoongi. Lagipula akan terlalu aneh jika dia berpamitan pada Yoongi di depan sang kakak karena bisa diyakini jika dia pasti tidak akan baik-baik saja.
"Terimakasih Pak produser karena sudah mau menampung Ji-eun di sini. Maaf karena merepotkan dan mungkin mengganggu kehidupan mu." Ucap Jong-hoon pada Yoongi.
"Tidak masalah."
Usai berpamitan, dua keturunan Lee itu pergi dari rumah Yoongi. Mereka harus segera pulang selagi keadaan aman.
Di perjalanan, tidak ada percakapan di antara keduanya. Jong-hoon yang memang tidak suka basa-basi memilih diam dan mendengarkan musik dari radio mobil. Sementara Ji-eun masih sibuk dengan pikirannya. Rasanya berat ketika harus meninggalkan Seoul dan ... Yoongi.
__ADS_1
Biasanya dia tidak bisa jatuh cinta secepat ini. Bahkan apa yang terjadi diantara mereka bukanlah sesuatu yang istimewa. Ji-eun sering mendapatkan nya dari teman prianya namun tidak sampai membuat hatinya menghangat dan bergetar. Namun hal yang berbeda justru ia rasakan dengan Yoongi.
"Lupakan dia, Ji-eun. Tidak ada yang harus terjadi pada kalian." Yakin Ji-eun dalam hati.