
Yoongi terus menatap Seokjin dengan mata memicing. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan kelakuan pria yang lebih tua darinya ini. Sebagai anggota tertua, seharusnya Seokjin mengajarkan hal baik pada adik-adiknya. Bukannya mengajak mereka melakukan aksi konyol yang sama sekali tidak masuk akal.
Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, apalagi ada Seokjin dengan segala tingkah gilanya. Mungkin jika pria itu tidak ada maka adik-adiknya tidak akan melakukan hal itu. Karena rasa takut mereka padanya.
"Berhenti menatapku seperti itu, sialan." Ucap Seokjin. Gugup juga ditatap lama-lama seperti itu.
"Dan berhenti mengurusi urusanku, hyung." Yoongi menekan kata panggilan kehormatan itu.
"Tidak ada yang mengurusi apapun tentangmu."
"Lalu barusan? Kau pikir aku tidak paham apa yang kalian lakukan?"
Seokjin bungkam. Memang seharusnya dia tidak perlu melakukan itu. Apakah dia menyesal? Jawabannya tentu saja tidak. Hanya saja, ada sesuatu yang janggal.
"Kalau begitu kau marahi mereka juga, kenapa hanya aku? Dan beraninya kau melakukan itu padaku." Seokjin melipat tangannya di dada, memalingkan wajahnya sembari menahan malu yang teramat dalam.
Jika mereka berdebat dengan alasan masalah pribadi atau yang lain, mungkin dirinya bisa mendominasi dengan sifat tegasnya. Dia orang kedua yang paling ditakuti oleh adik-adiknya setelah Yoongi, tapi justru sekarang dia merasa tertindas oleh adiknya sendiri.
Yoongi menghela nafasnya seraya memijat pelipisnya. Baru saja beberapa bulan tenang tanpa kelakuan Seokjin, begitu mereka bertemu pria itu justru kembali berulah. Seolah tidak ada puasnya untuk mengusik ketenangannya.
Tanpa berkata apapun, Yoongi bangkit dan meninggalkan Seokjin seorang diri. Pria itu menuju kamar si bungsu untuk menumpang tidur karena istrinya tidak mengizinkannya tidur di dalam. Karena hanya Jungkook lah yang tidak akan berani meledeknya.
•••
Malam semakin larut, tapi Ji-eun sama sekali tidak bisa tidur. Bukan karena rasa mual ataupun yang lain karena bayi dalam perutnya belum memberikan pergerakan.
Dia hanya merasa tidak nyaman, padahal sebelumnya tidak ada masalah dengan jam tidurnya. Apa mungkin hanya karena tempat dan suasananya yang asing, sehingga dia belum bisa meraih alam mimpinya?
Jam di atas nakas menunjukkan pukul 1 malam, Ji-eun sudah sangat lelah namun matanya tidak bisa diajak bekerja sama.
"Ayolah, ada apa denganmu? Tidak biasanya kau terjaga selarut ini." Monolog Ji-eun.
Gadis Lee mengusap perutnya agar tenang dan nyaman. Mungkin saja makhluk di dalamnya merasa tidak nyaman. Namun sama sekali tidak ada perubahan.
__ADS_1
Ji-eun menyerah.
Dia mengambil cardigan tipis milik Yoongi dan berjalan menuju pintu. Mungkin akan sedikit nyaman jika dia meminum air putih sebelum tidur, maka dari itu Ji-eun memutuskan untuk pergi ke dapur.
"Kau mencari Yoongi?"
Ji-eun terjingkat, sungguh dia merasa terkejut dengan kehadiran Seokjin di belakangnya. Untung saja mulutnya tidak reflek berteriak yang akan menimbulkan keributan tengah malam.
"T-tidak, aku ingin mengambil air." Jawab Ji-eun.
"Apa-apaan pria itu, membiarkan istrinya berkeliaran tengah malam begini." Gerutu Seokjin. "Ah, aku juga melihatnya pergi ke kamar Jungkook. Pria itu aneh sekali, dia baru saja menikah tapi tidur dengan orang lain. Sebenarnya istrinya itu kau atau bocah itu?"
Ji-eun hanya menanggapinya dengan senyum kaku. Pria itu tidak tahu saja jika bukan Yoongi yang pergi melainkan dirinya yang mengusir pria itu.
Ah, buruknya dia sebagai seorang istri. Mungkin jika bukan Yoongi, dia sudah dimarahi dan diceraikan di tempat.
"Oh maaf, aku jadi menggerutu di depanmu. Aku ingin membantumu memarahi pria itu, tapi sepertinya aku sangat lelah."
"Tidak masalah, Oppa."
Ji-eun menatap ke atas, kearah lantai dua. Haruskah dia menyusul suaminya? Tapi, apa tidak mengganggu tidur keduanya?
Hatinya ingin sekali menyusul ke atas, tapi logikanya menentang. Seolah berkata, 'jangan membuat masalah baru.'
Cukup lama ia berdiri di ujung tangga, akhirnya logikanya kalah dengan hatinya. Mungkin ini juga pembawaan hamil sehingga hatinya turut membenarkan. Selama ini, logika dan perasaannya selalu sejalan.
Dengan hati-hati, Ji-eun melangkah menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi itu. Tapi kenapa rasanya tetap melelahkan, padahal perutnya juga belum terlalu besar.
Sampai di atas tangga, Ji-eun sempat dibuat bingung dimana letak kamar Jungkook berada. Di lantai ini terdapat tiga kamar dengan pintu yang serupa. Tidak mungkin dia akan membukanya satu persatu.
Namun langkahnya membawanya ke lorong paling ujung, melewati dua kamar yang berhadapan. Lagi-lagi, feelingnya mengatakan jika ini adalah kamar Jungkook sebab ia merasakan keberadaan suaminya di dalam sana.
Inikah yang dinamakan ikatan batin?
__ADS_1
'Semoga tidak salah.' Batin Ji-eun takut.
Tok tok tok!
Ji-eun mengetuk pelan pintu berwarna putih itu, meski merasa mustahil jika penghuni di dalamnya mendengar. Gadis itu menghela nafas dan memilih kembali ke kamarnya saja. Sebab jika dia memaksa, mungkin bukan hanya penghuni kamar ini saja yang bangun melainkan penghuni dua kamar di dekatnya.
Tubuhnya hendak berbalik meninggalkan kamar itu, namu di saat yang sama pintu terbuka dari dalam.
"Oh, Ji-eun noona?"
Ji-eun urung berbalik dan menatap pemuda di depannya. Terlihat rambutnya ssedikit acak-acakan dengan mata yang menyipit.
"Jung. Apa aku mengganggu tidurmu?"
"Yah, tapi tidak apa-apa. Apa noona mencari Yoongi-hyeong?"
Gadis itu mengangguk kaku, kemudian melongok ke dalam kamar saat Jungkook membuka pintunya dengan lebar. Memperlihatkan seorang pria yang bergelung dengan selimut tebal.
"Ah, dia sudah tidur." Ucap Ji-eun lirih.
"Iya. Apa perlu ku bangunkan?"
Ji-eun menggeleng cepat, "hajima. Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Maaf mengganggu tidurmu, Jung."
Jungkook mengangguk dan membiarkan istri kakaknya itu pergi. Kemudian dia kembali ke daam dan menutup pintu untuk menyambung tidur.
Sebenarnya, Jungkook adalah orang yang paling tidak bisa diganggu tidurnya. Seberisik apapun lingkungan sekitarnya pasti pemuda itu tidak akan terusik. Kebetulan dia tadi bangun karena merasa ingin buang air kecil, dan setelah selesai dia bersiap untuk tidur kembali.
Namun telinganya mendengar suara pintu di ketuk. Dengan kesadaran yang hanya tersisa tidak lebih dari separuh, Jungkook berjalan ke arah pintu. Hingga menemukan Ji-eun di depan kamarnya.
•••
Setelah kembali dari kamar Jungkook, Ji-eun kembali merebahkan diri untuk mencoba tidur. Menyetel musik menggunakan earphone dan memilih lagu yang menenangkan agar merasa mengantuk tapi nyatanya justru ia merasa bosan.
__ADS_1
Kemudian dia memilih untuk bermin game di ponselnya sampai matanya pegal dan berharap bisa langsung tertidur, tapi lagi-lagi tidak bisa. Hingga Ji-eun memutuskan untuk menunggu pagi dengan berselancar di sosial media.