
Jungkook tertawa kencang setelah Suzy menanyakan apa kesalahannya. Memang selama ini dia tidak pernah mengatakan kesalahan gadis itu, tapi seharusnya tanpa diberitahu pun harusnya gadis itu tahu apa kesalahannya.
"Kau sungguh tidak tahu apa kesalahan mu?" Jungkook berdecih.
Sungguh, Suzy rasanya ingin menangis karena perubahan siap Jungkook yang sangat berubah. Bukan apa-apa, hanya saja rasanya sedikit menusuk hatinya.
"Kenapa dengan wajahmu? Ingin dikasihani? Kalau begitu panggil pria itu kemari agar dia membelamu."
Pria? Apa maksud Jungkook berkata seperti itu padanya. Pria mana yang dimaksud dan apa hubungannya dengan mereka? Suzy benar-benar tidak mengerti.
"Oppa, kumohon jangan berbelit-belit. Pria mana yang kau maksud dan apa hubungannya dengan kesalahan ku? Kau membuatku hidup dalam kebingungan." Ucap Suzy.
Jungkook tersenyum miring, kemudian menarik tangan Suzy agar berdiri. Belum juga Suzy bertanya Jungkook tiba-tiba saja menyambar bibirnya, membuat gadis itu membelalakkan matanya dan mendorong dada Jungkook.
Namun usahanya sama sekali tidak bekerja, Jungkook justru dengan mudahnya menangkap tangan Suzy dan membawanya ke lehernya.
"Buka mulutmu atau aku tidak akan memaafkanmu." Bisik Jungkook tegas.
Suzy menggeleng kuat, membuat Jungkook merasa geram. Akhirnya pemuda itu menggigit bibir bawah Suzy sehingga gadis itu membuka mulutnya.
Suara cecapan terdengar jelas di rumah sepi itu. Rasanya Suzy ingin menangis karena tingkah kurang ajar Jungkook padanya. Dia seperti dilecehkan dan itu melukai hatinya.
Jungkook mengakhiri ciumannya setelah Suzy memukul dadanya karena kehabisan nafas. Setelah terlepas, gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga paru-parunya.
Dengan gerakan cepat, dia mengangkat tangan hendak melayangkan tamparan pada pemuda di depannya karena lancang menciumnya namun tangannya lebih dulu di cekal oleh Jungkook.
"Mau menamparku? Kau pikir tanganmu ini berhak menggores wajahku?" Jungkook mencengkeram erat pergelangan tangan Suzy, membuat gadis itu menangis kesakitan.
Sungguh, ini bukan Jungkook yang dia kenali. Dia merasa yang di depannya bukanlah Jeon Jungkook, bunny nya tidak mungkin berbuat kasar pada wanita.
"Mulutmu memang pantas di beri pelajaran." Jungkook mengusap bibir Suzy yang membengkak dengan ibu jarinya.
Sekuat tenaga Suzy menahan air matanya, namun cairan itu terproduksi semakin banyak hingga meluber membasahi pipinya tanpa diminta.
"Hiks.. kau berubah.." Ucap Suzy terisak.
"Kau yang berubah, aku tidak suka kau memuji pria lain. Kau hanya boleh dekat denganku. Hanya aku." Tegas Jungkook.
__ADS_1
Suzy tidak mengerti apa yang pemuda itu maksud. Memangnya kapan dia memuji pria lain? Dan, apakah itu salah? Seharusnya Jungkook tidak perlu marah sebab... mereka tidak memiliki hubungan.
"Kau cemburu?" Tanya Suzy lirih.
Jungkook terdiam sejenak, kemudian terkekeh dengan pertanyaan konyol yang Suzy lontarkan.
"Pertanyaan yang konyol."
"Lalu Kenapa kau marah karena aku memuji pria lain?"
"Karena aku tidak suka."
"Kenapa? Kita hanya berteman. Kenapa kau tidak suka saat aku dekat dengan pria selain dirimu?" Entah keberanian darimana Suzy kini lebih banyak bertanya.
Menurutnya ini sama sekali tidak masuk akal. Sikap Jungkook padanya terlalu berlebihan seolah mereka memiliki hubungan 'khusus'. Dan Suzy hanya ingin memastikan jika dugaannya salah sehingga dia tidak terlalu berharap.
"Jangan banyak bertanya, Zy."
"Kalau begitu cium aku sekali lagi."
Jungkook tertegun. Sejujurnya dia terpikir pada ucapan Park Jimin. Apa benar Suzy menyukainya? Tapi dia tidak ingin berharap karena itu hanya pemikiran dari Jimin saja. Selama ini Suzy menganggunya sebab mereka memang teman sedari kecil dan Suzy itu anak yang sangat suka mengganggu.
Suzy hanya ingin memastikan, jika Jungkook kembali menciumnya maka dugaannya benar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Jungkook kembali menarik wajahnya.
"Gabs-i ssan." Jungkook tersenyum sinis saat melihat Suzy nampak menunggu dirinya mencium gadis itu lagi.
Gadis itu langsung tersenyum miris, ini adalah kali pertamanya Jungkook berkata kasar padanya. Dan dirinya cukup tahu akan hal itu.
"Pulanglah. Aku tidak mau sampai berbuat kasar padamu."
Suzy menatap punggung Jungkook yang semakin menjauh ketika menaiki tangga. Pemuda itu bahkan tidak peduli lagi padanya yang masih berada di tempatnya.
Jungkook-nya.... sudah berubah. Dan sialnya, dia sama sekali tidak tahu apa kesalahannya. Bayangkan saja jika kau dibenci tanpa tau apa kesalahan mu. Rasanya sesak dan sulit dijabarkan.
"Aku membencimu, Jeon!!" Jerit Suzy.
__ADS_1
Langkah Jungkook terhenti saat Suzy berteriak dan terisak. Sebenarnya, dia merasa tidak tega. Untuk melihatnya pun merasa sakit. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan.
Gadis itu memang harus membencinya.
Tanpa membalas ucapan Suzy, Jungkook melanjutkan langkahnya dan menuju ke kamar. Membiarkan Suzy terisak di ruang tamunya, sampai dia melihat gadis itu keluar dari rumahnya.
°°°
Malam hari yang tenang, dimanfaatkan oleh Jungkook untuk bermain dengan cat dan kuas. Ya, pemuda itu memilih untuk melukis agar dia tidak selalu terpikir pada kejadian tadi pagi.
Dia bahkan tidak jadi mengajak Bam pergi jalan-jalan karena moodnya benar-benar kacau.
Dia melukis secara asal objek yang ada di pikirannya. Bahkkn Jungkook terlihat begitu detail melukisnya. Bukan pemandangan alam, bukan hewan maupun benda, juga bukan lukisan abstract. Melainkan sesosok gadis yang sedang ia pikirkan.
Entah kenapa dia justru melukis wajah Suzy diatas kanvasnya malam ini. Bahkan tanpa melihat, pemuda itu seolah tahu persis bagaimana komposisi wajah sang gadis.
"Kak, boleh aku masuk?!" Teriak Jeon Jungwoo, adik Jungkook.
Jungkook sempat terkejut mendengar itu. Buru-buru dia merapikan lukisannya dan menaruhnya di ruang rahasianya yang ada di balik lemari. Kemudian dia mengambil ponsel seolah tengah sibuk dengan ponselnya, barulah Jungkook mempersilahkan adiknya itu masuk.
"Kau sedang sibuk?" Tanya Jungwoo.
"Tidak. Ada apa?"
Jungwoo mendudukkan diri di sofa empuk yang berada di sisi ranjang. Pemuda itu bahkan terus melemparkan senyuman pada sang kakak.
"Katakan apa maumu, jangan membuatku takut dengan senyuman mu itu." Ucap Jungkook.
"Hehe, kau kakak yang sangat pengertian. Bisakah aku meminjam mobilmu besok? Aku ingin berkencan."
Berkencan? Pemuda itu bahkan masih sangat muda kenapa dengan percaya dirinya mengajak anak orang untuk berkencan. Tapi sama sekali tidak modal.
"Bawa saja."
"Terima kasih. Kau tidak ingin tahu dengan siapa aku berkencan?"
Jungkook mengangkat alisnya, sebenarnya dia tidak terlalu peduli asal itu bukan kekasih atau istri orang. Tapi dia merasa penasaran saja, siapa yang mau berkencan dengan pria belum dewasa macam adiknya itu.
__ADS_1
Meski jika di lihat mereka memang memiliki visual yang hampir mirip. Hanya saja Jungwoo tidak memiliki gigi kelinci macam dirinya. Pemuda itu juga tidak memasang tindak maupun memiliki tatto.
Jungwoo mendekat, kemudian membisikkan nama seorang gadis yang membuat Jungkook membelalakkan matanya tak percaya.