Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Gadis Kuat


__ADS_3

Seperti hari biasa, Aara bersiap pergi ke kantor pukul tujuh pagi. Karena perjalanan menuju ke perusahaan memakan waktu tiga puluh menit jadi dia harus berangkat lebih awal.


Sebelum pergi, Aara menyempatkan untuk membuat sarapan untuk putrinya. Ayam goreng mentega dengan taburan keju diatasnya. Juga segelas susu hangat yang selalu Yoonji konsumsi di pagi hari. Aara menaiki tangga untuk membangunkan putrinya, biasanya putrinya itu akan bangun sendiri namun kali ini gadis kecil itu belum keluar dari kamar sama sekali.


Pintu berwarna pink itu diketuk beberapa kali, tidak ada sahutan yang terdengar membuat Aara mendorong daun pintu hingga terbuka. Keadaan kamar masih terlihat rapi dan gelap, karena tirai jendela belum di buka. Aara tidak pernah mengecek anak itu saat pagi hari, karena kebiasaannya pukul enam pagi Yoonji lah yang mendatangi kamarnya.


Dengan sekali tarikan gorden terbuka, membuat kamar Yoonji seketika terang. Pandangannya beralih pada ranjang, disana terlihat Yoonji masih tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya kepalanya saja yang terlihat. Aara duduk di bibir ranjang, mengusap kepala sang putri dengan lembut.


"Yoonji, sudah pagi."


Yoonji melenguh dan membuka matanya. Gadis kecil itu hendak bangun namun kepalanya terasa pusing. Karena tidak ingin membuat sang ibu khawatir, dia kembali merebahkan dirinya dan pura-pura masih mengantuk. Karena sebenarnya dia sudah terbangun di jam biasanya, hanya saja kepalanya yang pusing membuatnya tidak bisa bangun dari ranjang.


"Ibu belum berangkat?" Tanya Yoonji.


"Sebentar lagi. Kenapa telat bangun? Kau sakit?"


"Tidak, Bu. Semalam aku tidak bisa tidur jadi terlambat bangun."


"Tidak bisa tidur?" Ulang Aara dan Yoonji mengangguk.


Aara melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sudah pukul tujuh dan itu artinya dia harus segera berangkat. Jika dia ketinggalan bis maka menunggu bis selanjutnya akan membuatnya terlambat.


Gadis itu tersenyum dan mengusap puncak kepala Yoonji. Ini kesekian kalinya dia harus meninggalkan Yoonji di rumah sendirian. Mau bagaimana lagi, jika dia tetap di rumah maka mereka tidak akan bisa mencukupi kebutuhan. Dan tidak mungkin pula dirinya akan membawa Yoonji ke kantor.


"Ibu akan berangkat. Mandilah dan cepat turun untuk sarapan, jangan terlambat, oke?" Ucap Aara dan Yoonji lagi-lagi mengangguk.


Aara sama sekali tidak menyadari perubahan wajah Yoonji. Ia juga tidak merasa aneh pada putrinya yang bangung kesiangan, baginya itu wajar saja mengingat dia juga seringkali seperti itu. Apalagi anak sekecil Yoonji.

__ADS_1


Bis yang akan mengantar dirinya pergi ke kantor akan segera tiba, maka dari itu Aara bergegas pergi dari rumah menuju halte terdekat dari rumahnya. Tidak terlalu jauh karena hanya sekitar 200 meter saja. Dia sudah biasa jalan kaki dengan jarak yang jauh , apalagi saat bekerja di restoran dia selalu pulang pergi dengan berjalan kaki demi menghemat ongkos.


Ini memang sudah akhir tahun jadi dia tidak harus mengantarkan Yoonji terlebih dahulu untuk pergi ke sekolah. Dan dia juga tidak memaksa gadis kecil itu bangun karena memang sekolahnya sudah dalam masa liburan.


•••


Yoonji merasakan perih pada perut nya, hari sudah mulai siang dan jam pada dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Dengan tenaga yang masih tersisa, dia bangkit dari ranjang dan keluar untuk sarapan.


Langkahnya tertatih sebab kepalanya turut merasakan pusing. Namun karena dia harus segera mengisi perutnya, Yoonji memaksakan diri untuk turun ke bawah. Gadis itu mengerjapkan matanya dan menggeleng pelan kala pandangannya mulai mengabur.


Awal menuruni tangga, Yoonji masih bisa mengontrol dirinya. Namun saat separuh perjalanan, kepalanya benar-benar terasa berat dan pusing. Terlalu lemas untuk ukuran anak sekecil Yoonji, hingga akhirnya tubuh itu ambruk ke tangga dan terguling.


Kepalanya terbentur sisi tangga bawah hingga berdarah. Bahkan gadis itu tidak lagi merasakan apapun karena kehilangan kesadaran. Layaknya tengah tidur nyenyak diatas kasur.


•••


Beruntungnya gadis bermarga Kim itu sempat ke rumahnya di pagi hari. Jika tidak mungkin saja kejadian buruk akan menimpa gadis kecil itu. Membayangkan tubuh Yoonji terus tergeletak tanpa ada yang tahu sebelum dirinya pulang membuat hatinya sakit.


Mi-Soo sendiri tidak tahu kenapa bisa dia merasa ingin mengunjungi rumah Aara di pagi hari. Gadis itu baru saja joging sekitar komplek, dan saat melewati rumah Aara ada semacam dorongan yang membuatnya kesana. Entah itu firasat atau apa yang jelas dia bersyukur sekali hatinya membawa tubuhnya ke rumah Aara untuk menemukan Yoonji.


"Mi-Soo!"


Mi-Soo mengangkat wajahnya ketika namanya di panggil, terlihat Aara berjalan cepat menghampirinya. Gadis itu bahkan masih memakai pakaian olahraga dan ada bercak darah di bajunya. Aara langsung merasa pusing dan sesak, bagaimana bisa dia sangat teledor seperti ini. Selama ini dia meninggalkan Yoonji di rumah sendirian namun tidak pernah terjadi apapun. Gadis itu cukup pintar tanpa harus diawasi.


"Aara.." panggil Mi-Soo.


"Aku ibu yang buruk." Lirih Aara.

__ADS_1


Mi-Soo tidak menyahut, dia membiarkan Aara meluapkan perasaan sedihnya. Dia tahu bagaimana perasaan Aara karena Yoonji adalah harta berharga yang ia miliki, lebih berharga dari segalanya. Mungkin juga lebih penting dari uang. Jika lebih penting dari uang kenapa harus ditinggal? Karena kita harus hidup realistis. Jika tidak mencari uang lalu bagaimana cara kita hidup? Ini sudah bukan jaman nenek moyang yang mencari makan tidak dengan membeli.


Aara mengangkat wajahnya ketika pintu ruang perawatan terbuka. Seorang pria dengan jubah putih khas tenaga medis itu keluar dari sana, Aara langsung menghampiri untuk menanyakan keadaan putrinya.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" Tanya Aara.


"Putri ibu kehilangan banyak darah. Sebelum kecelakaan, apa dia sedang mengalami gangguan kesehatan? Karena bedasarkan pemeriksaan, ternyata pasien mengalami gejala tipus."


Bak dihantam batu yang besar, kepala Aara terasa berat dan pusing. Bagaimana bisa dia mengabaikan kesehatan Yoonji dan sejak kapan anak itu sakit? Bahkan tadi pagi saja dia masih melihat jika Yoonji baik-baik saja. Atau mungkin tidak.


Tubuhnya limbung ke belakang, untungnya Mi-Soo langsung menangkap tubuh Aara agar tidak terjatuh lalu mengajaknya duduk di kursi. Dokter itu pergi setelah Mi-Soo mengucapkan terimakasih.


"Bagaimana bisa aku mengabaikan Yoonji?" Lirih Aara.


"Sudahlah. Semua sudah terjadi dan kau tidak seharusnya menyalahkan diri sendiri. Pasti ada alasan kenapa Yoonji tidak mengatakan jika dirinya sedang sakit. Kau bekerja keras selama ini dan aku rasa Yoonji terlalu kasihan padamu." Ucap Mi-Soo.


•••


Sementara di perusahaan, Seokjin terkejut setelah sekretaris Hwang mengatakan jika putri Aara berada di rumah sakit. Sekretaris Hwang juga mengatakan jika Aara tidak sempat berpamitan karena terlalu panik dan Seokjin tidak masalah untuk itu.


Pria itu terlihat menekan layar ponselnya, hendak menghubungi seseorang. Namun mendadak perasaanya ragu, apakah dia harus menghubunginya atau tidak. Akhirnya Seokjin memilih untuk tidak menghubungi orang tersebut. Dia kembali menyimpan ponselnya di saku jas dan bersiap untuk pergi meski beberapa menit lagi dirinya harus meeting dengan manager pemasaran.


"Wakilkan aku pada meeting dan janji temu hari ini. Aku harus ke rumah sakit." Ucap Seokjin pada sekretaris Hwang.


Young Joon hanya mengangguk dan mempersilahkan atasannya untuk pergi. Terlihat sekali gurat kekhawatiran di wajah tampan bosnya itu. Apa mungkin ada sesuatu diantara mereka berdua, karena sejak kedatangan Aara disini banyak sekali keanehan di perusahaan. Tentang pengangkatan Aara yang menjadi sekretaris padahal pria itu sudah memiliki sekretaris. Dan juga sangat tidak mungkin jika pendidikan rendah namun diberi jabatan yang tinggi.


"Apakah Tuan besar tahu soal ini?" Gumam sekretaris Hwang.

__ADS_1


__ADS_2