
Min Yoongi memutuskan untuk meminta alamat rumah melalui Jong-hoon. Untungnya dulu dia sempat meminta nomor pria itu saat bekerja, dan ternyata sangat dibutuhkan sekali.
Setelah menerima alamat, Yoongi langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ji-eun. Cukup jauh dari lokasi terakhir ia bertamu. Di tambah jalanan yang licin karena tertutup salju meski sudah dibersihkan semakin memperlambat perjalanannya.
Dua puluh menit lamanya, akhirnya dia sampai di depan rumah berlantai dua yang terlihat mewah meski terhalang oleh gerbang yang menjulang tinggi.
Sesaat, ada keraguan dalam hatinya ketika akan menghampiri rumah itu. Namun Yoongi segera menepisnya dan kembali berjalan. Pria itu menekan bel yang ada pada samping gerbang. Cukup lama menunggu hingga seorang gadis membukanya.
"Produser!" Lirih Ji-eun terkejut.
Gadis itu sama sekali tidak mengira jika Yoongi lah yang akan berkunjung. Dia pikir itu adalah Jungkook yang kembali mengunjunginya.
Ji-eun hendak menutup pintu gerbang, namun di tahan oleh Yoongi.
"Aku ingin berbicara denganmu." Ujar Yoongi.
"A-aku sedang sibuk. Maaf."
"Ini tentang anak kita."
Deg!
Ji-eun mematung, pegangannya pada pintu gerbang seketika melemah. Dan hal itu di manfaatkan oleh Yoongi yang mendorong pintu dan menerobos masuk.
Pria itu menutup pintu gerbang dengan kakinya, lalu mengungkung tubuh Ji-eun pada gerbang yang tertutup. Ditatapnya gadis itu yang masih terkejut.
"Kau hamil?" Tanya Yoongi. Namun Ji-eun menggeleng cepat, dia tidak ingin Yoongi mengetahui tentang kehamilannya.
"Jangan berbohong padaku."
"Aku tidak hamil." Ucap Ji-eun ragu.
Yoongi menegakkan tubuhnya dan menyimpan kedua tangannya pada saku coat yang ia kenakan.
"Benarkah? Jadi bocah itu menipuku?"
Bocah? Menipu? Siapa yang dimaksud oleh Yoongi. Apa mungkin jika ada yang mengatakan tentang itu pada Yoongi. Setahunya, hanya dua orang yang mengetahuinya yaitu Bongsoon dan Jungkook.
__ADS_1
Jika Bongsoon, dia percaya jika gadis itu tidak akan mengatakan pada siapapun. Berarti yang harus di curigai adalah Jungkook. Tapi, Ji-eun tidak berharap jika memang Jungkook lah yang mengatakan pada Yoongi meski mereka bersahabat. Yang tentunya bisa saja pemuda Jeon itu mengatakannya.
Sibuk dengan pikirannya, Ji-eun sampai tidak sadar jika Yoongi sudah kembali mendekati wajah nya.
"Atau justru kau yang berbohong?"
Ji-eun menelan salivanya namun gadis itu tetap menggeleng. Dia menghela nafasnya mencoba untuk tidak merasa gugup menghadapi Yoongi dan memaksakan senyumannya.
"Lagipula jika aku berbohong, bukankah kau akan senang. Hamil atau tidaknya, itu semua akan terasa sama. Tidak ada cinta dan pernikahan. Jadi, urusi saja hidupmu." Ucap Ji-eun santai.
"Aku akan menikahi mu."
"Tidak perlu."
"Dengan atau tanpa persetujuan dari mu, kita akan menikah. Aku tidak ingin anak itu lahir tanpa ayah." Putus Yoongi.
Selepas mengatakan itu, Yoongi langsung undur diri dan pergi dari kediaman keluarga Lee. Meninggalkan Ji-eun dengan sesak di dadanya.
Dari kalimat barusan, menyadarkan Ji-eun jika pernikahan ini akan terlaksana hanya karena bayi di dalam perutnya. Itu menyimpulkan sesuatu, bahwa Yoongi memang tidak memiliki perasaan apapun untuknya.
Memang sedari awal Ji-eun sudah mengetahuinya, tapi kenapa rasanya masih menyakitkan. Bahkan dia sudah berusaha melupakan perasaannya pada pria itu, tapi tetap tidak bisa. Apalagi saat ini ada bagian dari pria itu di hidupnya.
Hidup dengan seseorang yang tidak mencintaimu dalam satu hubungan hanya akan membuat sakit. Dan Ji-eun tidak mau itu. Anggap saja Ji-eun egois karena lebih mementingkan perasaannya daripada yang lain.
"Aku tidak mau menikah dengan mu." Ucap Ji-eun.
Ucapan gadis Lee itu sukses membuat Yoongi menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik, lalu menatap tajam gadis yang terlihat sangat cantik itu dengan mata musang nya.
"Kau ingin anak itu lahir tanpa seorang ayah?"
Gadis itu terdiam, dia memang tidak ingin anaknya menderita karena lahir tanpa seorang ayah dan diluar pernikahan. Tapi, untuk menikah pun Ji-eun tidak mau sebab tidak ada cinta diantara mereka.
Sampai kapan mereka akan bersandiwara di depan semua orang?
"Kita tidak saling mencintai." Cicit Ji-eun.
"Tidak usah pikirkan soal cinta, yang harus kau pikirkan adalah nasib anakmu."
__ADS_1
"Aku bisa merawatnya sendiri dan dia tidak akan kekurangan kasih sayang."
"Kau pikir kau bisa melakukannya? Jangan egois dan turuti perkataan ku!" Seru Yoongi yang mulai jengah.
Mereka hanya menikah, hidup berdua dan merawat anak yang ada dalam kandungan Ji-eun. Tapi kenapa gadis itu justru mempersulitnya?
Dengan alasan cinta? Yang benar saja. Mereka memang tidak saling mencintai namun bukankah banyak hubungan yang menghasilkan cinta karena kebersamaan.
"Aku tidak akan menuruti ucapan mu! Seharusnya kau berpikir sebelum merusak ku!" Teriak Ji-eun.
Ji-eun langsung meninggalkan Yoongi di halaman rumahnya setelah mengatakan itu. Sungguh dia tidak memiliki cara lain. Bukannya dia tidak ingin Yoongi bertanggungjawab, namun dia hanya tidak ingin jika keputusannya salah.
Jikapun mereka menikah dan hidup bersama, tidak akan menjamin jika nantinya mereka akan bercerai. Apalagi jika Yoongi menyukai gadis lain dan bisa saja dia tersingkirkan. Ji-eun tidak berharap Yoongi mencintainya. Namun jika benar-benar tidak bisa, maka tidak perlu melakukan apapun.
Gadis bermarga Lee itu menutup pintu dengan rapat. Tubuhnya meluruh dibelakang pintu sembari terisak. Kepalanya terasa pusing memikirkan masalah yang entah akan menjadi seperti apa. Yang jelas, hidupnya sudah hancur.
Sementara Yoongi dibuat frustasi, niatnya untuk bertanggungjawab justru di tolak dan dibuat rumit oleh Ji-eun. Bukankah seharusnya gadis itu senang jika dia mau bertanggungjawab. Lagipula Yoongi juga mengakui jika itu salahnya.
Jika sudah seperti ini, apa yang bisa dia lakukan. Memaksa pun tidak ada gunanya, selain mengikuti keinginan gadis itu.
Mungkin dia bisa memberi Ji-eun waktu untuk memikirkan semuanya. Yoongi tahu Ji-eun pasti sedang kalut memikirkan kehidupannya ke depannya seperti apa.
Yang jelas, seluruh hidupnya sedang dipertaruhkan hanya demi seorang anak yang tidak diinginkan kehadirannya.
Apapun itu, Yoongi tidak akan mundur karena dia yakin jika gadis bermarga Lee itu akan jatuh ke pelukannya.
Semua hanya soal waktu.
•••
Jeon Jungkook memutuskan untuk mengunjungi sebuah agensi yang menawarkan tawaran produk iklan padanya. Karena sudah dibangunkan, dia tidak akan bisa tidur kembali.
Mobil Mercy berwarna hitam itu melesat membelah jalanan Seoul yang lengang. Menuju distrik Yongsan tempat agensi tersebut berada.
"Wah! Ada gerangan apa kau datang ke agensiku?" Tanya pemilik agensi.
"Tidak ada. Hanya sekedar berjalan-jalan saja." Sahut Jungkook asal.
__ADS_1
"Kalau begitu silahkan manjakan matamu dengan beberapa model disini."
"Ya."