
Ji-eun menghela nafasnya kasar, di tatapnya benda pipih kecil yang berada di tangan kanannya. Disana terdapat satu garis merah yang sangat jelas, dan satu garis yang terlihat sedikit samar. Awalnya Ji-eun tidak percaya, dan mencobanya lagi. Hampir semua testpack yang dibeli ia coba namun hasilnya semua sama.
Gadis itu tidak tahu harus menyikapinya bagaimana. Jika ditanya antara senang atau sedih, mungkin dia akan menjawab yang lain.
Bingung.
Ya, bingung. Ji-eun sama sekali tidak menduga jika ini akan terjadi. Seingatnya dia hanya melakukan beberapa kali saja dengan pria dingin itu. Dan jika di ingat-ingat saat pertama kali dia melakukan hal itu saat Yoongi dalam pengaruh obat, dia baru saja selesai datang bulan dan sedang di masa subur.
Ji-eun merutuki kebodohannya karena tak pernah melawan saat Yoongi memintanya. Karena dia sendiri tidak munafik bahwa dia juga menyukainya. Entahlah, kalau begini siapa yang salah?
Di simpannya beberapa alat tes kehamilan itu dalam satu wadah, kemudian ia meletakkannya di laci nakas. Gadis itu melirik ponselnya yang berada di samping bantal, mengambilnya dan menatapnya sejenak.
Apa mungkin dia memberitahukannya pada Yoongi? Tapi jika pria itu tidak peduli, apa yang akan dia lakukan?
"Apa yang harus aku lakukan?" Lirih gadis itu.
Dia tidak mau menyalahkan takdir yang membuatnya seperti ini. Dia sendiri yang mungkin sudah keluar dari apa yang digariskan Tuhan. Tapi jika bisa, Ji-eun ingin semuanya kembali dari awal. Dimana ia tidak mengenal Yoongi sama sekali.
•••
Sementara di Seoul, Kim Taehyung tengah berkumpul dengan kekasih dan si bungsu. Ya, Jeon Jungkook sudah kembali lagi ke Seoul. Kali ini pria itu hanya sendirian tanpa ibunya, Jungkook juga meninggalkan Bam di Busan.
Pemuda itu memang berencana untuk tinggal di Seoul selama beberapa waktu saja. Dia merindukan Kim Taehyung yang selalu bersamanya. Meski menyebalkan namun tetap saja tidak ada yang bisa membuatnya membenci pria tampan itu.
Nyonya Kim, ibu dari Taehyung sedang tidak ada di rumah. Wanita itu pulang ke Daegu karena harus membantu suaminya mengurus bisnis disana. Dengan keadaan seperti ini, pemuda Kim akan bebas mengajak sang kekasih ke rumahnya.
Meski tidak ada yang salah dengan ibunya, tapi Taehyung bisa menyadari jika Bongsoon tidak terlalu percaya diri untuk bertemu ibu dari kekasihnya. Terdengar aneh, tapi seperti itu kenyataannya. Maka dari itu, selama ini Taehyung yang selalu datang ke apartemen sang kekasih. Walau begitu, hubungan Bongsoon dan Nyonya Kim tidak ada masalah.
"Dimana Bam?" Tanya Kim Taehyung pada Jungkook yang sedang memangku Yeontan.
"Di rumah." Jawab Jungkook singkat.
Kim Taehyung mendecak, "Rumahmu itu ada banyak."
"Di Busan, Hyung."
__ADS_1
"Kenapa kau meninggalkannya?" Tanya Taehyung lagi.
"Aku tidak akan lama di sini jadi daripada membuat anjing itu stress lebih baik ku tinggal saja." Jawab Jungkook apa adanya. Bam memang tidak bisa diajak bepergian dalam waktu lama, itu menyebabkan anjing jenis Doberman pinscher itu stress.
"Bukankah dia akan stress jika berjauhan denganmu? Tunggu, tunggu, kau bilang kau akan sebentar di sini?" Taehyung mengulangi ucapan Jungkook, dan pemuda Jeon menganggukinya. "Apa maksudmu? Kau tidak mau menemaniku lagi?"
Jeon Jungkook merotasikan bola matanya, lalu kembali bermain dengan anjing berbulu lebat milik Hyung nya. Seolah menganggap pertanyaan yang Taehyung lontarkan itu sama sekali tidak penting untuknya.
"Yak! Kenapa dengan mata itu hah? Kenapa pertanyaan ku tidak kau jawab?" Kesal Taehyung.
Jungkook hanya terkekeh, raut wajah kesal Taehyung menjadi hiburan untuknya. Biar saja pria itu merasa penasaran, lagipula bukankah itu pertanyaan yang konyol. Tidak dijawab pun Jungkook rasa Taehyung seharusnya tahu apa jawabannya.
Sementara Bongsoon yang melihat drama di depannya hanya diam, tidak ingin berkomentar apapun dan menganggap tidak ada apa-apa di depannya. Gadis itu sedang menyantap ramyeon yang masih mengepulkan asap.
Hingga sebuah dering ponsel menyita perhatian dua pemuda di depannya. Terlebih Taehyun yang langsung menatap tajam kekasihnya itu.
"Apa? Ji-eun meneleponku." Jelas Bongsoon tanpa diminta. Dia tahu pikiran Taehyung yang selalu negatif, pasti pria itu mengira jika yang menelepon adalah seorang pria.
Gadis bermarga Park itupun meletakan mangkuk berisi mie yang masih utuh ke atas meja dan bangkit. Dia memilih untuk mengangkat panggilan dari sahabatnya itu di dapur. Sudah menjadi kebiasaan dan Kim Taehyung memakluminya.
Berbeda dengan Jungkook yang terlihat penasaran. Sebab sudah lebih dari dua bulan dia tidak mendengar kabar dari Ji-eun, gadis yang sempat ia sukai. Sebenarnya pemuda itu masih menyimpan nomor gadis itu, namun tidak mau mengirim pesan.
Tapi ya sudahlah, bukankah Ji-eun sudah memiliki Yoongi. Tapi tunggu, apa mereka masih berkencan meski mantan pacar gadis itu sudah tertangkap polisi? Apa mereka sudah saling jatuh cinta?
Jeon Jungkook tiba-tiba saja mendengar cacing di perutnya berdemo. Taehyung yang sedang fokus dengan ponselnya pun ikut mendengarnya karena suara itu cukup keras. Jungkook hanya meringis memperlihatkan barisan giginya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau lapar? Ada ramyeon di lemari dapur, tapi buat sendiri." Ucap Taehyung.
Jungkook mengangguk dan berjalan menuju dapur untuk mengisi perutnya. Namun langkah itu terhenti saat dia sampai di ruang makan. Mungkin pemuda itu lupa jika Bongsoon masih di dapur.
Pemuda itu sudah hendak berbalik dan menunda untuk memasak ramyeon, namun ia justru mendengar suara Bongsoon yang terlihat seperti berbisik-bisik. Padahal tidak ada siapapun di sini.
Jungkook yang tidak berniat menguping itu malah semakin di buat penasaran. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sehingga Bongsoon terdengar berbisik-bisik?
"Oke, kau tenang dulu. Aku akan ke rumahmu sekarang, kita bisa memeriksanya di klinik."
__ADS_1
"..."
"Jangan khawatirkan apapun. Aku mempunyai teman yang bekerja di bidang itu, aku yakin dia mau untuk menutup mulutnya."
"..."
"Baiklah, sebaiknya kau bersiap aku akan segera kesana."
Bongsoon terlihat memutus panggilan telepon, gadis itu menghela nafasnya perlahan. Jungkook bisa mendengar kekasih hyungnya itu bergumam namun tidak jelas apa yang di katakan.
Dia masih penasaran pada percakapan mereka, tentang sesuatu yang harus di rahasiakan dan Bongsoon yang terlihat gusar. Memangnya apa yang terjadi dengan gadis Lee?
Melihat Bongsoon hendak kembali ke ruang tamu, Jungkook segera pergi dari tempat persembunyian nya. Pemuda itu kembali ke ruang tamu dan menyambar tas serta jaketnya. Hal itu tentu saja membuat Kim Taehyung terheran.
"Aku harus pulang Hyung, ada urusan penting." Ucap Jungkook sebelum Taehyung bertanya.
Pria bermarga Kim itu menatap punggung adiknya yang menghilang di balik pintu dengan wajah bingung, sampai sebuah tepukan mengejutkannya.
"Astaga! Kenapa memukulku?" Protes Taehyung.
"Kau melihat apa sampai tidak mendengar saat ku panggil."
"Tidak ada."
Kim Taehyung menepuk pahanya memberi isyarat agar gadis itu duduk di pangkuannya. Namun Bongsoon menggeleng, dia justru malah mengambil tas selempang nya. Membuat Taehyung mengangkat alis seolah bertanya.
"Aku harus pergi ke rumah Ji-eun." Ucap Bongsoon.
"Really? Kau meninggalkanku juga seperti Jungkook?"
"Memangnya Jungkook pergi kemana?" Tanya Bongsoon. Dia memang tidak mendapati pemuda itu, namun tidak ingin tahu juga dia ada dimana.
Gadis Park itu terkekeh saat melihat wajah masam kekasihnya. Pertanyaan nya pun sama sekali tidak dijawab yang menandakan jika Taehyung benar-benar dalam mode kesal.
"Jangan kesal begitu, aku akan menunggumu nanti malam." Bongsoon mengecup bibir kekasihnya, dan disambut oleh Taehyung yang justru mengajaknya berciuman.
__ADS_1