Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Perkara Strawberry


__ADS_3

Yoongi hari ini harus lebih banyak bersabar sebab istrinya menginginkan sesuatu yang sedikit sulit ia kabulkan.


Sebenarnya bagi orang biasa tentu tidak akan sulit, tapi untuk keduanya tentu harus memikirkan matang-matang sebelum melakukan hal tersebut.


Memangnya apa yang diinginkan istrinya? Jawabannya adalah strawberry. Kenapa dia tidak bisa mengabulkannya? Karena Ji-eun meminta untuk memakan buah itu di kebunnya, memetiknya langsung dan menikmatinya disana.


Sederhana, tapi sulit untuk keduanya. Bisa saja mereka langsung pergi ke perkebunan terdekat. Tapi, jika nanti disana ada paparazzi bagaimana? Ada fans mereka yang mengabadikan kebersamaaan mereka dan menjadi rumor di media bagaimana?


Mereka memang akan mempublikasikan terkait hubungan mereka ke media, tapi tidak sekarang.


"Yoongi, aku ingin makan strawberry." Rengek Ji-eun.


Yoongi menghela nafasnya, kemudian menatap meja yang dipenuhi dengan strawberry kemasan yang sudah ia belikan.


Tapi Ji-eun justru menolak dan selalu mengatakan ingin makan strawberry. Yoongi sampai pusing di buatnya.


"Lee, lihat di depanmu. Kau terus merengek ingin makan strawberry sementara di depanmu sangat banyak buah yang kau inginkan." Ucap Yoongi.


Dia sudah sangat bersabar untuk mengerti istrinya. Meski berulang kali Ji-eun mengatakan jika ini adalah keinginan bayinya, Yoongi tetap tidak percaya selain alasan karena gadis itu ingin bepergian atau mengerjai dirinya.


Ayolah, bayi mereka belum besar dan masih dalm proses pembentukan. Bagaimana bisa gumpalan daging itu meminta sesuatu yang aneh-aneh. Memangnya bayinya sudah bisa berbicara? Atau mengirimkan telepati pada ibunya? Memangnya bayi itu sudah tahu apa yang dia inginkan? Yang benar saja.


Baginya keinginan ibu hamil yang bermacam-macam itu tidak masuk akal. Mereka akan meminta jika mereka ingin, tapi karena takut tidak dituruti alhasil mereka menjual nama sang jabang bayi yang bahkan tidak tahu apapun.


"Aku hanya meminta strawberry saja, kenapa kau sangat sulit mengabulkannya seolah aku meminta seluruh hidupmu?" Ucap Ji-eun kesal.


"Aku lebih suka kau meminta seluruh hidupku daripada itu."


"Ck, kau menyebalkan."


Dia selalu saja salah dimata gadis itu. Yoongi bersumpah setelah meenikah ini Ji-eun menjadi sedikit menyebalkan. Bahkan lebih menyebalkan dari ketika dulu mereka baru saja mengenal.


Tapi dia tidak boleh sampai emosi. Menurut artikel yang dia baca, hormon ibu hamil memanglah seperti itu bahkan ada yang lebih parah. Suaminya hanya harus bersikap sabar dan sabar hingga waktu yang tidak ditentukan.


Yoongi tidak sesabar itu. Kesabarannya bahkan lebih tipis dari selembar tisu. Hanya saja dia memang tidak bisa marah pada istrinya sehingga yang ia lakukan hanyalah harus bersikap tegas.

__ADS_1


Akhirnya dengan terpaksa Ji-eun memakan strawberry yang ada di meja. Membuka bungkusnya dengan lesu seolah sama sekali tidak tertarik. Padahal itu adalah makanan yang ia inginkan, tapi kenapa reaksinya seperti itu.


Dengan ekor matanya, Yoongi memperhatikan Ji-eun yang menyuap satu buah strawberry ke dalam mulutnya. Gadis itu menggigit nya sedikit dan mengunyahnya dengan pelan sembari memejamkan matanya.


Apakah dia tengah menikmati rasanya?


Satu gigitan yang kecil membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengunyah. Mungkin gadis itu mengunyahnya hingga benar-benar halus seperti blender.


Tapi pada akhirnya, Ji-eun berlari menuju dapur untuk memuntahkan isi mulutnya di wastafel. Kerongkongannya bahkan menolak buah itu.


Melihat itu, Yoongi langsung menyusul sang istri dan membantunya memuntahkan isi perutnya. Membuat tengkuknya secara perlahan dan lembut. Namun tidak ada yang keluar selain secuil strawberry tadi yang sudah halus.


"Kau tidak bisa memakannya?" Tanya Yoongi.


Ji-eun menggeleng lemah dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin sekali makan strawberry tapi entah kenapa sama sekali tidak berminat memakan buah itu yang dibeli dari minimarket.


Dia ingin buah yang ia petik dari pohonnya, memakannya di kebunnya langsung. Membayangkannya saja sudah membuatnya menelan ludah.


Yoongi menghela nafasnya. Rasanya tidak tega mlihat istrinya seperti itu. Ya meskipun dia tidak tahu apakah gadis itu benar-benar mual atau hanya mengelabuinya saja, tapi apa salahnya jika menurutinya. Harap-harap gadis itu tidak akan memintanya lain waktu lagi.


Dia tidak ingin istrinya menjadi manja dan menggampangkan sesuatu jika permintaannya langsung dituruti begitu saja. Akan seperti apa dia kedepannya.


Ji-eun mengangkat wajahnya, memastikan apakah Yoongi benar-benar bertanya. Ia kira pria itu akan memarahinya. Tapi selanjutnya, ia benar-benar yakin jika suaminya tidak salah bicara.


"Masih atau tidak?" Ulang Yoongi karena Ji-eun terus terdiam.


"Masih. Tapi--"


"Kalau begitu bersiap, kita akan pergi."


"Ah, jinjja?" Yoongi mengangguk, membuat Ji-eun memekik girang dan memeluk Yoongi erat. Gadis itu bahkan menciumi pipi suaminya berkali-kali tanpa sadar.


Hingga saat gadis itu akan mendaratkan bibirnya di bibir Yoongi, sontak saja urung karena Yoongi berbicara.


"Jika kau menyentuhnya maka kita tidak akan pergi ke kebun, tapi aku akan membawamu ke kamar."

__ADS_1


Ji-eun sontak menutup mulutnya dan berlari menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Tentu hal itu membuat Yoongi membelalakkan matanya dan meringis ngeri.


"Yak!! Jangan menyakiti anakku, Lee Ji-eun!!"


°°°


Keduanya sudah dalam perjalanan menuju kebun strawberry milik paman Kim Taehyung. Yoongi sengaja memilih tempat ini sebab dia pasti bisa memastikan keamanannya dan istrinya.


Yang terpenting kan sama-sama kebun strawberry dan isinya juga sama. Beruntung otaknya langsung berikir cepat dan dalam pemikiran itu muncullah nama Kim Taehyung. Dia bahkan lupa jika adiknya itu berasal dari keluarga petani.


Pamannya adalah petani strawberry dan juga jeruk. Hanya saja, perkebunan itu memang tidak dibuka untuk umum atau bisa dibilang milik pribadi yang hanya boleh dikonsumsi pribadi dan dijual.


Tadinya Yoongi merasa jika mungkin saja mereka tidak bisa menikmati buah itu di sana. Namun beruntungnya, Taehyung mengatakan jika tidak masalah untuk itu. Pemuda itu juga sudah mengatakannya pada paman nya dan paman nya juga tidak merasa keberatan.


Menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya keduanya sampai di tempat paman Taehyung. Disana juga ada pemuda Kim yang lebih dulu datang setelah Yoongi memberitahukan niatnya.


"Ku pikir kita akan ke kebun strawberry." Ucap Ji-eun bingung. Pasalnya dia sama sekali tidak melihat kebun atau semacamnya, hanya sebuah rumah sederhana saja. Dia juga melihat kekasihBongsoon berada di halaman rumah.


"Ayo turun."


Yoongi membantu Ji-eun turun tanpa menjelaskan atau menjawab pertanyaan sang istri. Jelas Ji-eun semakin keningungan namun memilih untuk diam karena mungkin saja mereka akan mampir terlebih dahulu.


"Dimana paman mu?" Tanya Yoongi pada Taehyung.


Kim Taehyung berjalan menuju jalan kecil yang berada di samping rumah. Yoongi dan Ji-eun mengikutinya hingga akhirnya mereka tiba di halaman belakang.


Ji-eun masih bingung, apa yang mereka lakukan disini. Ia melihat rumah kaca yang berisi tamanan juga kebun jeruk di sampingnya.


"Ahjussi!" Seru Yoongi memanggil seorang pria paruh baya yang berada di kebun jeruk.


Pria itu menoleh, lalu melambaikan tangannya kearah Yoongi. Pria bernama Kim Beom Seok itu tentu tahu siapa Yoongi. Selama berteman dengan Taehyung, Yoongi beberapa kali berkunjung ke kebun milik paman Kim.


Yoongi menggandeng sang istri menuju rumah kaca dimana di dalamnya terdapat tumbuhan strawberry yang berbuah banyak. Dengan dipandu oleh Taehyung, mereka memetik buah yang sudah matang dan besar.


"Aku ingin membawamu ke perkebunan strawberry di kota. Tapi, sepertinya akan terlalu merepotkan karena tempatnya ramai." Yoongi menggerakkan alisnya karena gugup, ia takut jika Ji-eun merasakan perbedaan di kebun ini dan kembali merengek ingin ke kota.

__ADS_1


Tapi justru yang ekspresi yang gadis itu tampilkan membuatnya senang bukan main.


"Tidak masalah. Aku menyukainya, bukankah ini sama-sama perkebunan strawberry? Untuk buahnya sendiri, kau hanya harus banyak berharap jika aku tidak akan memuntahkannya lagi." Ji-eun menepuk bahu suaminya dan berlalu mengambil keranjang untuk wadah strawberry yang ia petik.


__ADS_2