
Yoongi membawa Ji-eun ke kamarnya. Dengan sekali dorongan kaki, pintu itu tertutup dan terkunci otomatis. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dia harus memidurkan istrinya terlebih dahulu sebelum kembali ke ruang santai untu menemani temannya.
Istri? Hah, rasanya semua ini seperti mimpi. Dia yang semula sama sekalo tidak mengenal Ji-eun secara personal kini justru mengikat janji suci dalam dalam kurun waktu tiga bulan perkenalan saja.
"Tidurlah." Titah Yoongi menaikkan selimut hingga batas dada sang istri.
"Yoongi."
Yoongi urung bangkit saat Ji-eun menahan tangannya. Alisnya terangkat satu pertanda jika pria itu bertanya.
"Kau hutang penjelasan padaku." Ucap Ji-eun.
Pria bermarga Min itu menghela nafasnya, kemudian merangkak naik ke atas ranjang mengambil posisi di sebelah sang gadis. Tangannya mengusap punggung Ji-eun agar gadis itu merasa nyaman.
"Kau ingin aku menjelaskan apa?" Sebenarnya Yoongi berharap Ji-eun lupa pada pembahasannya siang tadi. Dia tidak mau membahas hal itu lagi, tapi jika gadis itu bertanya maka apa boleh buat. Dia akan sejujurnya.
"Apa maksud mu dengan memprediksinya? Maksudku, kenapa kau bisa terpikir jika kemungkinan suatu saat aku akan hamil?"
Pertanyaan itu meluncur lancar dari bibir kecilnya. Tapi percayalah, saat ini Ji-eun tengah menjaga jantungnya yang terasa bisa saja meledak berdekatan seintim ini dengan Yoongi membuatnya menahan nafas dan nyeri pada dadanya akibat jantungnya yang bertalu-talu.
Mereka memang pernah tidur bersama beberapa kali, tapi tetap saja rasanya terasa beda dan jantungnya belum terbiasa.
"Kau tidak tahu jika kita melakukannya beberapa kali? Tanpa pengaman?" Yoongi menatap lamat Ji-eun yang tengah menatap nya juga.
Ji-eun menggeleng, dia memang tidak pernah berpikir kearah sana. Sungguh, usianya memang sudah dewasa tapi pengetahuannya tentang seks benar-benar masih awam.
Dan Ji-eun juga sama sekali tidak mengkonsumsi obat pencegahan kehamilan. Apalagi Yoongi memang tidak memberitahukan apapun. Dia juga pernah bercerita pada Bongsoon dan gadis itu juga tidak memberitahukan apapun padanya. Padahal Bongsoon yang lebih tahu mengenai hal itu.
"Aku tidak pernah berpikir jika aku akan hamil. Maksudku, kita hanya melakukannya beberapa kali saja dan ternyata secepat itu aku mendapatkannya."
Wajar Ji-eun berpikiran seperti itu. Banyak sekali pasangan yan sudah menikah yang di karuniai seorang bayi dalam waktu yang lama. Dan Ji-eun tidak menyangka dia sesubur itu.
"Itu karena benih ku berkualitas tinggi." Ucap Yoongi percaya diri.
Ji-eun hanya mencebik mendengar kalimat pujian yang ditujukan untuk diri sendiri itu. Ya, mungkin ada benarnya tapi tetap saja semua karena kehendak tuhan.
"Jangan pikirkan apapun. Bukankah kita sudah menikah? Yang harus kau pikirkan adalah kesehatan mu dan dia." Yoongi mengeluh perut Ji-eun untuk yang pertama kalinya.
__ADS_1
Hmmp! Ji-eun menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Sungguh, Ji-eun pikir rasanya akan sangat nyaman karena selama ini dia mendamba hal yang seperti ini. Tapi nyatanya hal itu membuatnya mual dan merasa sedikit risih.
Yoongi yang melihat Ji-eun menahan mual sontak khawatir dan langsung menegakkan badannya, menyusul sang istri yang lebih dulu mendudukkan diri.
"Ada apa?"
"Jangan menyentuh ku!" Reflek Ji-eun menepis ketika Yoongi menyentuhnya.
Yoongi merasa sedikit kesal pada reaksi Ji-eun, namun melihat wajah istrinya merah padam membuatnya menjadi tidak tega.
Dia sedikit menjauh berharap sang istri menahannya, namun yang terjadi justru sebaliknya.
"Bisakah kau tidur di luar? Perutku mual." Pinta Ji-eun mengiba.
Oh ayolah! Ini malam pertamanya sebagai pengantin, kenapa Ji-eun justru menyuruh nya tidur di luar? Apa kata teman-temannya nanti.
Meski begitu, Yoongi tetap memasang wajah tanpa ekspresi. Dalam hatinya ia terus merapal doa supaya kesabaran nya tidak habis dalam menghadapi gadis di depannya.
"Maafkan aku..."
"Tidak masalah." Yoongi tersenyum singkat. Dalam hati dia membatin, 'kau akan menerima pembalasannya, wahai bayi kecil.'
Pria berkulit putih pucat itu langsung berbalik dan meninggalkan Ji-eun yang masih terduduk di atas ranjang. Sebenarnya dia sama sekali tidak berniat untuk mengusir Yoongi dari kamarnya, tapi entah kenapa kalimat itu tiba-tiba meluncur dari mulutnya.
Dia merasa bersalah meski Yoongi sama sekali tidak menunjukkan kekesalannya.
Sementara di luar, kelima pemuda tampan tengah fokus menempelkan daun telinganya pada pintu yang tertutup rapat. Mereka adalah Kim Seokjin, Kim Namjoon, Jung Hoseok, Park Jimin, dan Jeon Jungkook.
Semua ini berawal dari ide anggota tertua mereka yang penasaran dengan apa yang terjadi di balik pintu itu. Meski sudah bisa menebaknya, namun Seokjin tetaplah Seokjin yang konyol dan keras kepala.
Dia membuat keempat adiknya penasaran dan ikut dengan aksi gilanya. Sementara Kim Taehyung tetap berada di ruang santai bersama kekasihnya. Sepertinya Taehyung memang tidak bisa jauh dari Park Bongsoon.
"Kau tidak ikut dengan mereka?" Tanya Bongsoon.
"Untuk apa? Sekeras apapun mereka berusaha, mereka tidak akan pernah mendengar satu bunyi pun dari dalam sana."
__ADS_1
"Maksudmu? Apa mereka tidak melakukannya?"
"Aku tidak tahu tentang itu, tapi aku sangat tahu tentang satu hal."
"Apa?"
"Kita lihat saja nanti."
Kim Taehyung menatap tingkah teman dan hyung nya itu dengan tawa geli. Dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
Bongsoon yang penasaran pun ikut memperhatikan tingkah konyol para teman pemuda Kim. Terlihat mereka sibuk berbisik tanpa menjauhkan telinganya dari daun pintu.
"Kaki ku sudah terasa pegal, tapi tidak ada suara apapun." Keluh Jungkook. Seokjin benar-benar mengajarkan anak itu untuk tersesat.
"Diamlah bocah! Jangan sampai mereka mendengar kita." Ucap Seokjin berbisik.
"Apa mungkin mereka tidak melakukannya?" Kali ini Jimin yang bersuara.
"Mungkin begitu. Sebaiknya kita pergi saja hyung." Usul Namjoon.
"Aku bilang diam!" Geram Seokjin.
Ceklek!
Bertepatan dengan itu, pintu terbuka dari dalam. Mereka yang semula menyandarkan tubuhnya pada pintu sontak terjerembab ke depan. Posisi mereka bertindih satu sama lain dan itu membuat Kim Taehyung yang sedari tadi memperhatikan mengeluarkan tawa yang menggelegar.
Kelima orang itu menatap Yoongi yang masih berada di depan pintu, bahkan tangannya masih memegang tuas. Pria itu menatap datar kelima kawannya yang terselesaikan di lantai, dia sudah menebak hak ini akan terjadi.
Ji-eun juga terkejut dengan hal itu, dan sempat bersitatap dengan Jungkook yang pastinya merasakan malu yang amat sangat.
"Akhh! Kau menindihku Jung!" Seru Park Jimin. Tubuh mungilnya terasa sesak karena ditindih oleh tubuh Jungkook yan lebih besar darinya.
Jeon Jungkook segera bangun dan berlari kearah kamar agar tak mendapat amukan dari hyung dinginnya itu. Sementara yang lain juga melakukan hal sama, tinggallahSeokjin sendiri di depan Yoongi.
"Dasar bocah sialan!" Umpatnya pada keempat adiknya yang kabur meninggalkan dirinya dalam situasi terjebak.
Seokjin berdeham untuk menghilangkan rasa maunya karena terpergok menguping seseorang. Bukan hanya mengurangi, melainkan mencuri dengar sepasang suami istri yang hendak melakukan ribuan malam pertama. Sungguh memalukan.
__ADS_1