
Jeon Jungkook sudah berada di mobilnya sejak tujuh menit yang lalu. Dia masih menunggu Bongsoon keluar dari dalam rumah Taehyung. Namun waktu terus bergerak dan tidak ada tanda-tanda gadis itu keluar.
"Apa aku salah dengar?" Gumamnya.
Jari panjangnya mengetuk-ngetuk kemudi dengan gelisah, tidak sabar menunggu Bongsoon keluar dari rumah. Semakin lama menunggu semakin besar pula rasa penasarannya.
"Ayolah, ayolah, cepat!" Gumamnya tak sabar. Dia berharap jika apa yang tadi ia dengar bukanlah sesuatu yang nyata, namun semakin diingat semakin membuatnya penasaran hingga memiliki niatan untuk menguntit kekasih hyungnya itu.
"Sial! Kenapa lama sekali!" Geramnya.
"ah, itu dia!" Serunya saat melihat Bongsoon keluar dari rumah Taehyung.
Pemuda itu langsung memakai masker hitam dan topi bucket nya untuk penyamaran.Topi yang hampir menutupi sebagian wajahnya itu dijamin tidak akan membuatnya dikenali oleh sebagian orang.
Tidak lupa pemuda itu juga memakai mantel miliknya yang tertinggal di mobil. Firasatnya mengatakan jika benda itu sangat dibutuhkan.
Jungkook bisa melihat mobil Bongsoon yang keluar dari pekarangan rumah Kim Taehyung, gadis itu tidak melihat keberadaan mobilnya karena jaraknya sedikit jauh. Perlahan mobil itu melaju dan pemuda Jeon langsung mengikutinya.
Tidak ada yang aneh dalam perjalanan, gadis itu mengambil jalan menuju distrik Songjeong yang jaraknya sedikit jauh dari rumah Taehyung. Jungkook hanya bisa menebak bahwa gadis itu akan menjemput Ji-eun di rumahnya.
Dan benar saja, tak lama mobil itu masuk ke dalam kawasan perumahan elite. Seseorang nampak menunggu di depan rumah, begitu mobil berwarna merah itu tiba, orang tersebut langsung masuk kedalam mobil.
Mobil Bongsoon kembali melaju membelah jalan raya, sepertinya mereka akan kembali ke Seoul. Jungkook terus menatap mobil di depannya yang jaraknya sedikit jauh agar tidak terlalu terlihat jelas jika dia mengikuti dua gadis itu.
"Sebenarnya mereka mau kemana? Aku mendengar kata klinik yang Bongsoon noona ucapkan. Apa mungkin Ji-eun noona sedang sakit?"
__ADS_1
Sementara di dalam mobil di depannya,tidak ada percakapan sama sekali. Sebenarnya Bongsoon sudah bertanya berulang kali namun Ji-eun tetap diam. Entahlah, gadis itu hanya sedang tidak ingin bicara.
Ji-eun tahu Bongsoon merasa kesal karena dia mengabaikan gadis itu, tapi mau bagaimana lagi mulutnya tidak mau terbuka. Rasanya malas sekali. Apa mungkin ini efek dari kehamilan yang sedang dia alami?
Huff.
Hamil? Rasanya sangat aneh. Dia belum menikah dan tidak mempunyai suami, bagaimana mungkin perutnya diisi oleh seorang bayi. Membayangkan saja tidak pernah, tapi nyatanya sekarang dia mengalaminya.
"Jangan khawatir, semua belum tentu jelas sebelum di periksa. Bisa saja alat itu memang tidak akurat." Ucap Bongsoon. Gadis itu tahu jika Ji-eun mungkin merasa aneh dengan kondisinya yang sekarang. Apalagi Ji-eun adalah seorang idola, pasti hidupnya akan berat jika semua tahu gadis itu memiliki anak diluar ikatan pernikahan.
Karir yang sudah gadis itu bangun sedari dulu akan hancur, atau bahkan gadis itu harus berhenti paksa dari dunia hiburan. Memang menjadi entertaint itu tidaklah mudah, berita sekecil apapun pasti akan sangat berpengaruh pada karir yang sudah diusahakan dengan susah payah.
Ji-eun hanya menanggapinya dengan senyuman miris. Bagaimana mungkin dia berpikir bahwa alat tes kehamilan itu salah jika ia mencobanya lebih dari lima kali. Semua menunjukkan garis yang sama dan semakin di ulang maka garis itu semakin jelas.
Rasanya seperti ingin menyerah saja, namun hal itu terasa konyol. Mau menyalahkan janinnya pun tidak mungkin, yang ada dia dianggap macam orang gila. Bayi tak berdosa yang tak tahu menahu akan dihadirkan di rahim siapa justru malah harus kena getah dan batunya. Menyedihkan sekali.
"Kau yakin dia bisa merahasiakan ini?" Tanya Ji-eun lagi. Wajar jika dia sangat ragu, Sebab dirinya seorang idola dan jika ada kejadian bermasalah secuil pasti akan cepat membesar.
"Kau tenang saja. Tetap pertahankan penyamaran mu, selebihnya akan kuurus." Ucap Bongsoon.
Mau tak mau Ji-eun turun dari mobil. Dia masih menggunakan topi dan masker hitam, serta Hoodie tebal yang menutupi kepalanya. Bongsoon menyeret masuk Ji-eun yang melangkah lemah, sampai di depan pintu ada seorang wanita yang menyambutnya.
"Park, tumben sekali kau datang ke klinik ku." Ucap pria berusia 35 tahun yang bernama Bae Sang Moon.
"Iya, aku rindu padamu makanya aku datang kesini. Apa kau sibuk?"
__ADS_1
"Ya aku memiliki waktu beberapa jam sebelum pergi ke rumah sakit. Kenapa?"
"Oke, tidak masalah. Temanku ingin memeriksa kandungannya."
"Masuklah."
Park Bongsoon mengangguk kearah Lee Ji-eun, keduanya masuk ke dalam klinik mengikuti dokter Bae. Setelah memastikan sekeliling, Bongsoon menutup pintu itu rapat. Keadaan klinik sangat sepi bahkan hanya mereka yang menjadi pasiennya.
Hari ini memang sedang weekday, oleh sebab itu dokter Bae tidak membuka kliniknya terlalu lama. Ia harus bertugas di rumah sakit utama, biasanya klinik ini akan ramai pada hari weekend karena ada perkumpulan ibu hamil untuk berkonsultasi dan mengadakan senam hamil.
Jungkook masih berada dalam mobil yang terparkir di luar halaman klinik. Sebab dia tidak mungkin ikut masuk atau kedua gadis itu akan curiga. Ia bisa melihat jika kedua gadis itu berbincang di depan klinik namun tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Ditengah kebingungannya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Tanpa mengalihkan pandangannya dari klinik, Jungkook menekan tombol di earphone yan terhubung dengan ponselnya.
"Hallo?"
•••
Kim Taehyung mendadak badmood ketika dua orang yang diundangnya ke rumah sakit tiba-tiba saja pergi bersamaan. Bukan karena curiga atau apa, tapi dia sekarang merasa bosan.
Niatnya mengundang mereka untuk menemaninya di rumah karena tidak ada siapapun. Jika Jeon Jungkook saja yang pergi tidak masalah tapi kenapa kekasihnya harus ikut meninggalkan nya juga.
Mau pergi ke rumah Yoongi pun percuma karena pria itu tidak ada di kota. Yoongi tidak mengatakan padanya akan pulang ke Daegu, sehingga dia tidak bisa ikut. Tahu begini lebih baik dia ikut ibunya pulang saja.
"Sepertinya hanya kau teman setia yang selalu menemaniku." Ujarnya pada Yeontan.
__ADS_1
Anjing berbulu lebat itupun menggonggong kecil seolah membenarkan ucapan majikannya.
Kim Taehyung membopong anjing kesayangannya kedalam kamar. Terlalu kesal membuatnya tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Mungkin dia akan menghabiskan waktu dengan tidur panjang hingga nanti malam. Baru setelah itu mengunjungi apartemen sang kekasih sesuai ucapan Bongsoon tadi.