Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Menjadi Babysitter


__ADS_3

Seokjin memutuskan untuk kembali ke rumah meski hari masih pagi. Dia sama sekali tidak mood untuk bekerja. Tuan Kim yang berada di halaman depan dengan Seok Joong itupun terkejut mendapati putra bungsunya yang pulang sebelum waktu kerja berakhir.


"Ada apa? Apa ada berkas yang tertinggal?" Tanya Tuan Kim pada putranya.


"Tidak. Aku sengaja pulang."


"Kau meninggalkan pekerjaan?"


Seokjin mengabaikan pertanyaan dari ayahnya dan berlalu masuk ke dalam rumah. Sementara kakaknya hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap sang adik yang selalu semaunya sendiri. Meski begitu Seokjin memang cukup bisa diandalkan, mengabaikan pekerjaan sehari saja tidak akan membuat perusahaan bangkrut.


"Sudahlah, ayah. Tidak perlu keras padanya, kau tahu siapa dia." Ucap Seok Joong.


"Ya, kau benar. Sepertinya anak itu memang sedang tidak mood bekerja. Apa dia memiliki kekasih?" Tebak Tuan Kim.


"Mungkin saja. Usianya sudah sepertiga abad, mana mungkin dia masih betah sendirian."


"Benar. Bukankah banyak sekali wanita yang mengidolakannya."


Tuan Kim dan Seok Joong tertawa pelan setelah membicarakan Seokjin. Mereka kembali pada obrolannya tentang restoran Jepang yang di kelola oleh putra pertama keluarga Kim itu.


"Jadi, kau siapa yang akan mengurus restoran saat kau disini?" Tanya Tuan Kim.


"Managerku. Aku menitipkan restoran padanya untuk beberapa hari, dan mungkin jika ada hal yang penting aku akan sesekali mengeceknya. Jaraknya juga tidak terlalu jauh untuk bolak-balik." Jawab Seok Joong.


Selama beberapa hari kedepan, Seok Joong memang memutuskan untuk menginap di rumah keluarga Kim. Itu karena sang istri baru saja melahirkan buah hati mereka. Seok Joong tidak bisa meninggalkan sang istri di rumah sendirian sementara ia bekerja, maka dari itu ia memboyong keluarga kecilnya ke rumah ayahnya.


Setidaknya akan ada yang menemani sang istri dan membantu wanita itu mengurus bayinya. Dan Nyonya Rachel pasti akan sangat senang jika setiap hari menyanding cucunya.


Sementara di dalam, Seokjin yang hendak mengambil cola di dapur berpapasan dengan kakak iparnya atau istri dari Seok Joong, Kim Ah Reum.


"Oh, kakak ipar? Kapan kau datang?" Sapa Seokjin.

__ADS_1


"Tadi pagi. Kau tidak bekerja?"


"Aku tidak akan miskin meski tidak bekerja." Sahut Seokjin percaya diri.


Ah Reum hanya terkekeh, dia cukup mengenal pribadi adik iparnya meski pernikahan nya dengan Seok Joong belum terlalu lama. Wanita yang dua tahun lebih tua dari Seokjin itu mengambil sebuah apel yang ada di keranjang buah di meja makan. Kemudian Ah Reum berlalu meninggalkan Seokjin untuk kembali ke kamarnya.


Seokjin menghela nafasnya, biasanya di pagi hari begini dia akan mendapati ibunya yang berkutat di dapur untuk membuat kue atau di sofa ruang keluarga hanya untuk membaca majalah. Namun rumah ini terlihat sepi, dia bisa memastikan jika wanita yang sangat ia sayangi itu tengah berada di kamar kakaknya dan menunggui cucu pertamanya.


Dia juga tidak menemukan Hayoung, kemana perginya gadis itu?


Seokjin naik ke lantai tiga, tempat kamarnya berada. Rumahnya terdiri dari tiga lantai dengan empat kamar. Di lantai terdapat kamar tamu, lantai kedua ada kamar ayah dan ibunya, kamar Hayoung, dan kamar tamu II lalu lantai tiga hanya ada kamarnya dan ruang Gym serta roof top.


Tidak seperti rumah pribadinya di Seoul yang terkesan sederhana namun tetap mewah. Sederhana menurut pandangan orang kaya macam dirinya, jika di pandang dari mata orang biasa maka tetap terlihat mewah meski tidak semegah rumah utama.


Keenam member memang sepakat untuk tinggal di Seoul setelah mereka menikah, agar mereka tetap bersama. Karena ya mereka itu bukan lagi sebuah grup yang berada di dalam pekerjaan namun sudah seperti keluarga.


Seokjin memilih untuk menaiki tangga karena dia hendak menuju kamar sang adik, jika langsung ke kamar pria itu biasanya menggunakan lift. Dan sesampainya di sana dia mengetuk pintu kamar sang adik, biar mereka kakak adik namun dia tetap menghargai privasi Hayoung.


"Oppa?"


"Ya, silahkan tapi jangan kacaukan kamarku." Ucap Hayoung sembari membuka pintu kamar lebar.


Seokjin menjawab dengan gumaman dan berlalu masuk kedalam kamar sang adik. Pria itu langsung menuju balkon dan menyandarkan tubuhnya pada railing besi. Membuka kaleng soda dengan mudah dan meneguknya.


Hayoung menyusul sang kakak setelah mengambil beberapa camilan di keranjang dorong yang ada di kamarnya. Sudut kamarnya memang di desain khusus seperti mini market, terdapat beberapa camilan yang berada di keranjang troli dorong dan juga beberapa minuman dingin di kulkas mini.


Hayoung selalu malas turun ke bawah jika hanya untuk mengambil camilan dan minum, oleh sebab itu dia meminta desain kamar seperti itu. Gadis berusia 18 tahun itupun mendaratkan bokongnya di sofa Bean bag yang tersedia di sana.


"Mungkin jika aku bukan adikmu, aku pasti akan merasa beruntung karena melihat otot kekarmu, Kak." Celetuk Hayoung.


Bagaimana tidak, tubuh atletis pria itu hanya terbalut kemeja yang tampak kesulitan menutupi tubuhnya. Punggung lebarnya terlihat melambai-lambai seolah meminta untuk di peluk.

__ADS_1


Seokjin hanya terkekeh, ia sudah biasa mendengar pujian secara terang-terangan seperti itu dari adiknya. Hayoung sendiri sangat tahu darimana asal usul nya, dia juga tahu bahwa dia bukan keturunan asli keluarga Kim. Tuan dan Nyonya Kim memang tidak berniat menutupi identitas Hayoung, hanya saja mereka tidak menganggap jika gadis itu benar-benar bukan keturunan orang lain. Hayoung sudah menjadi bagian dari keluarga Kim darimanapun asalnya.


Hayoung tidak mempermasalahkan hal itu, di rawat dengan sepenuh kasih oleh keluarga terpandang saja sebuah keberuntungan untuknya. Dan gadis itu tidak berani untuk berbuat diluar batas dengan menyukai kakak angkatnya itu. Meski tidak dipungkiri rasa suka itu pasti ada karena paras Seokjin yang menawan.


"Kau sudah bekerja?" Tanya Seokjin.


"Aku sudah bekerja, Kak."


"Kau hanya bersantai saja di salon. Apa itu namanya bekerja?"


Hayoung mengerucutkan bibirnya dan melahap snack rumput laut yang dia pegang. Memang selama ini dia hanya bersantai saja namun tetap mengawasi kegiatan dan keuangan salon. Dia pemiliknya bukankah wajar seorang bos hanya ongkang-ongkang kaki saja.


"Aku ada pekerjaan untukmu." Ucap Seokjin.


"Menjadi sekretaris mu? Bukankah Tuan Hwang masih bekerja?"


"Bukan. Kau tidak akan bisa bekerja sebagai seorang sekretaris."


"Lalu?"


"Menjadi Baby Sitter."


Hayoung hampir saja tersedak keripik saat Seokjin mengatakan jika pria itu menawarinya bekerja menjadi seorang pengasuh. Yang benar saja?


"Hanya untuk beberapa hari saja. Kau tidak harus menjaga seorang bayi."


"Apa aku dibayar?" Tanya Hayoung polos.


"Tentu saja. Kau bisa mendapatkan apapun jika kau melakukannya dengan benar. Aku bisa memberikannya untukmu."


Hayoung nampak berpikir sejenak, sepertinya tidak terlalu buruk. Kakaknya bilang dia tidak harus menjaga seorang bayi kan itu artinya mungkin dia akan menjaga balita. Tidak terlalu sulit untuk dirinya yang menyukai anak kecil.

__ADS_1


Lagipula, tawaran yang diberikan oleh Seokjin juga menggiurkan. Dia akan meminta sesuatu yang sangat berharga nanti. Libur sekolah juga masih panjang jadi gadis itu tidak akan bingung bagaimana menghabiskan masa liburannya.


"Baiklah, aku mau."


__ADS_2