Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Lamaran Tidak Terduga


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak kedatangan Yoongi kapan hari ke rumahnya, Ji-eun bisa merasakan kedamaian dalam hidupnya. Usia kandungannya semakin bertambah.


Untung saja dia tidak mengalami mual dan muntah atau gejala lainnya yang akan membuat ayah serta kakaknya merasa curiga. Jong-hoon sendiri sudah kembali dari Jerman dan kini mulai aktif lagi di perusahaan.


Meski perubahan badan Ji-eun terasa sangat jelas, namun gadis itu mengatakan jika mungkin karena dirinya banyak makan selama musim dingin ini. Karena memang akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat.


Ji-eun tengah menyeduh susu hamilnya yang ia letakkan pada kotak vitamin kulit, sehingga tidak ada yang mengira jika sebenarnya itu adalah susu hamil. Namun saat gadis itu akan kembali ke kamar, bel rumahnya berbunyi.


Sebelum membuka pintu, ia terlebih dahulu melihat cctv di depan rumahnya. Ia takut jika yang kembali mengunjunginya adalah Yoongi meski beberapa hari ini pria itu tidak lagi mengusiknya.


Namun sialnya cctv tersebut tidak bisa melihat wajah seseorang yang bertamu, hingga ayahnya keluar dari ruang santai karena mendengar suara bel.


"Siapa yang bertamu?" Tanya Tuan Jin-kook.


"Tidak tahu, ayah."


Tuan Lee berjalan menuju pintu depan dan membukanya, raut wajahnya langsung terkejut melihat seorang anak muda yang berdiri di depan rumahnya.


Mereka terlibat percakapan kecil sebelum akhirnya Tuan Lee mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Detik itu juga Ji-eun menyemburkan susu yang hendak dia telan karena diapun tak kalah terkejutnya. Seseorang yang tidak ingin ia lihat justru malah kembali mengusik ketenangannya.


Tapi, kenapa pria itu terlihat akrab dengan sang ayah?


"Ji-eun, sini nak." Panggil Tuan Lee.


Ji-eun kelabakan mencari alasan untuk menghindari Yoongi. "Aku mengantuk ayah, ingin istirahat."


"Sebentar saja."


Mau tak mau Ji-eun melangkahkan kakinya dengan berat menuju dua orang pria berbeda generasi yang sedang duduk di sofa itu. Ayahnya terlihat sangat senang seolah ia kedatangan tamu penting.


Lagipula untuk apa pria itu datang kemari. Apa mungkin pria itu nekat untuk memberitahu jika dia tengah hamil anaknya? Oh God! Tidak, ini tidak boleh terjadi.


"Apa yang membuatmu datang kesini, nak Yoongi?" Tanya Tuan Lee.


Tuan Lee tentu tahu siapa Yoongi, pria yang sudah sukarela menyelamatkan sang putri saat penculikan dulu. Selain itu, dia juga amat mengenal Yoongi sebelum kasus tersebut. Dan dia tidak menyangka jika putrinya ternyata dekat dengan anak rekannya.

__ADS_1


"Saya kesini untuk melamar putri anda." Ucap Yoongi tanpa basa-basi.


Ucapan tersebut membuat Tuan Lee dan Ji-eun terkejut. Namun perasaan mereka sangat berbeda. Jika Tuan Lee terkejut karena lamaran Yoongi yang terkesan mendadak dan tanpa basa-basi, Ji-eun terkejut karena pria itu benar-benar nekat.


Namun sesaat kemudian Tuan Lee langsung tertawa, seolah ucapan Yoongi adalah sesuatu yang lucu.


"Aku tidak mengerti kenapa kau melamar putri ku secara mendadak seperti ini. Aku cukup terkejut mendengarnya." Ucap Tuan Lee.


Yoongi sudah hendak menjawab dengan jawaban yang sudah dia persiapkan, namun saat melihat gadis Lee yang menatapnya tajam membuat pria itu menghela nafasnya.


"Perasaan tidak ada yang tahu, Tuan."


"Ya, kau benar. Sepertinya bukan hanya itu, tentang hubungan kalian pun sepertinya aku juga tidak tahu." Ucap Tuan Lee dengan tatapan mata yang berarti.


Yoongi tak menjawab apalagi Ji-eun. Gadis bermarga Lee itu sungguh tidak menyangka jika Yoongi sangatlah gila. Memaksakan kehendaknya untuk keputusan yang diambil sendiri.


Padahal dia sudah mengatakan jika Yoongi tidak perlu bertanggung jawab dan mengorbankan diri untuknya. Tapi sepertinya pria itu tidak mau tahu dan nekat memintanya dengan bantuan sang ayah.


Tuan Lee dan Yoongi kembali bercengkrama, mengobrol tentang kedekatan mereka. Ji-eun jadi tahu kenapa ayahnya terlihat dekat dengan Yoongi. Itu karena Tuan Lee merupakan rekan ayah Yoongi saat mereka kuliah dulu. Dan kini juga menjadi rekan bisnis.


"Ayah, bisakah kami berbicara berdua." Pinta Ji-eun.


"Tentu saja. Ayah akan ke atas dulu."


Selepas kepergian sang ayah, Ji-eun menarik lengan Yoongi keluar dari rumahnya. Bahkan gadis itu mengantarkan Yoongi ke mobil agar segera pergi.


Namun bukan Yoongi namanya jika dia tidak keras kepala. Jika Ji-eun egois, maka dia akan lebih.


"Sudah ku katakan jika aku tidak akan menikah dengan mu!" Kesal Ji-eun.


"Kenapa kau menolak kebaikan ku? Aku menikahi mu agar kau tidak akan mendapatkan masalah dengan kehidupan mu termasuk karir mu."


"Aku tidak butuh untuk di kasihani olehmu. Jika kau tetap bersikeras untuk memaksaku, maka aku akan melenyapkan nyawa anakmu."


"Silahkan. Bukankah itu akan membuatmu terbebas?"


Ucapan itu membungkam telak mulut Ji-eun. Dia pikir dengan mengancam seperti itu, Yoongi memohon untuk tidak menyakiti janin tersebut dan berhenti memaksanya.

__ADS_1


Ternyata dia memang tidak peduli dengan mereka. Dia bertanggungjawab atas dasar rasa kasihan, setidaknya itu yang ada di pikiran Ji-eun.


Melihat Ji-eun terus terdiam, Yoongi kembali mendekati gadis itu. Seketika jantungnya kembali berdebar dengan sangat kencang. Tapi sungguh, Yoongi tidak menyukai Ji-eun dengan segala sifat batunya.


"Menikah atau aku akan mengatakan tentang kehamilan mu?" Ucap Yoongi tenang.


Ji-eun langsung mengalihkan pandangannya menatap Yoongi. Sungguh, Yoongi sangat berubah menjadi pria yang menyebalkan.


"Mengatakan atau tidak, kau akan tetap memaksaku."


"Maka dari itu menikahlah denganku."


Ji-eun terdiam, tak ingin menjawab. Seharusnya dengan penolakannya kemarin cukup membuktikan jika dia memang tidak ingin menikah dengan Yoongi apapun alasannya.


"Aku berjanji akan menyayangi kalian. Bisakah kita mulai semuanya dari awal?" Ucap Yoongi mulai melembut.


"Aku--"


"Persiapkan dirimu, besok kita akan menikah." Sela Yoongi.


"Apa?! Kenapa cepat sekali?" Protes Ji-eun.


"Supaya kau tidak bisa kabur."


Ji-eun mendengus, seharusnya dia sudah paham bagaimana sifat Yoongi yang menyebalkan. Tapi sungguh, dia baru mengetahui jika Yoongi adalah sosok yang pemaksa.


Apa dia benar-benar tidak bisa bersikap lembut sedikit saja. Sepertinya berita yang mengatakan jika Min Yoongi adalah sosok yang sangat menghargai wanita itu hanyalah rumor belaka.


"Aku membencimu, Min Yoongi." Geram Ji-eun.


"Aku juga. Ingat, jangan coba-coba untuk kabur."


Ji-eun mendengus, kenapa susah sekali untuk melawan seorang Min Yoongi. Sosok yang dikenal pendiam dan dingin nyatanya sangat menyebalkan dan pemaksa.


Bolehkah Ji-eun memukul kepala pria itu?


Ji-eun menatap mobil hitam yang mulai pergi dari rumahnya. Entahlah, dia kesal namun juga sedikit menghangat. Apa mungkin hubungan mereka akan baik-baik saja kedepannya, karena untuk mundur pun tak bisa.

__ADS_1


__ADS_2