
"Apa tidak bisa kau datang kesini dengan membawa kedamaian? Kau bukan adikku tapi kenapa aku harus selalu melindungi mu?"
"Kenapa? Kau tidak mau? Bukankah aku ini begini juga karena kau. Kalau aku tertangkap kau juga tertangkap."
"Arggh! Seharusnya aku memang tidak perlu mengajak bocah ingusan ke dalam bisnis ku."
"Siapa yang kau maksud dengan bocah ingusan?"
Byun Baekhyun, pria berumur 30 tahun yang selama ini berada di belakang Park Jihyun. Pria berkebangsaan Korea itu mempunyai bisnis haram berupa pengedaran obat-obatan terlarang dan juga senjata api ilegal. Bisnis yang bermarkas di negara Rusia itu sudah berjalan dari usianya masih dua puluh satu tahun.
Jihyun, merupakan salah satu kurirnya. Selama ini ia menggunakan pemuda itu untuk menyelundupkan barangnya ke negaranya sendiri. Bisa saja ia turun tangan namun Baekhyun tidak ingin mengambil resiko jika nanti keluarganya mengetahui.
Selama ini, keluarganya mengira dia mengelola bisnis yang berada di Rusia. Perusahaan ekspor dan impor yang memang sudah di rintis dari mendiang kakeknya dulu. Namun siapa sangka jika hal itu hanyalah untuk bayangan agar bisnisnya tidak tercium. Dan juga ayahnya tak mencurigainya ketika dia memutuskan untuk pindah ke negara terluas di dunia itu.
"Kau yakin jika orang itu tertangkap?" Tanya Baekhyun.
"Ya. Aku bisa melihatnya saat kakak gadis itu menghadang langkahnya. Beruntung saja aku sudah menyelesaikan semuanya, semoga saja dia tidak memiliki keberanian untuk mengaku." Jawab Jihyun.
"Gadis mana yang kau maksud?"
"Gadis Lee."
Baekhyun memegang dagunya seolah sedang berpikir. Mereka terlalu banyak mengenal gadis dan rasa-rasanya akan sulit untuk di hapalkan satu persatu. Melihat Baekhyun yang tidak mengingatnya, Jihyun mendecak.
"Kau ingat gadis yang pernah aku bawa empat tahun yang lalu?"
"Kau banyak membawa gadis, tentu aku tidak bisa mengingatnya. Lagipula itu sudah empat tahun yang lalu, gila saja kau."
"Gadis yang pernah ku kenalkan sebagai kekasih. Ah, ku rasa mengingatkanmu pun tidak ada gunanya karena kau sudah tua dan pikun."
"Kau mau ku tembak hah?"
Jihyun memutar bola matanya malas. Dia hanya berbicara apa adanya, jika Baekhyun mudah lupa bukankah itu namanya pikun? Pria itu juga sudah berkepala tiga tapi tidak mau di katakan tua. Hanya saja wajahnya memang masih terlihat muda, dan Jihyun yakin jika alasan itulah yang membuatnya tidak mau di katai tua. Padahal jika umur sudah berkata mau bagaimana lagi.
"Kau tidak ingin kembali ke Korea?" Tanya Baekhyun.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak menyukai kedatangan ku yah?"
"Aku hanya bertanya sialan. Kenapa kau sensi sekali? Kau pulang menggunakan jet ku jadi wajar saja jika aku bertanya kapan kau pulang."
•••
Pukul sepuluh malam Jihyun tiba di Seoul. Pemuda itu tidak langsung pulang ke apartemen sang kakak melainkan menuju suatu tempat.
Sebelum itu ia menyempatkan diri untuk mengawasi situasi di tempat targetnya. Entah apa yang akan pria itu rencanakan.
Sedangkan di tempat yang sama, Ji-eun masih betah berdiam diri di balkon. Selama beberapa hari ini tidak ada yang gadis itu lakukan, bahkan cenderung mengurung diri di apartemen. Biasanya ia akan berkunjung ke apartemen sahabatnya namun kali ini dia memilih untuk tetap di rumah.
Malam semakin larut, belum ada tanda-tanda Ji-eun merasakan kantuk. Pandangannya kosong menatap city light kota Seoul. Tiba-tiba saja telinganya mendengar samar-samar bell apartemennya berbunyi. Ia pikir itu hanya salah dengar saja, namun suara itu tak kunjung berhenti.
Ji-eun menatap ponselnya, lebih tepatnya jam digital yang ada di ponselnya. Gadis itu mengernyit heran siapa yang bertamu larut malam begini. Namun ia teringat pada pesan kakaknya yang mengatakan akan pulang malam ini.
Tanpa curiga Ji-eun melangkahkan kakinya keluar kamar, menuju pintu depan untuk membuka pintu. Bahkan dia tidak mengecek nya terlebih dulu melalui door viewer.
Ceklek!
"Hai, babe. Kau merindukanku?" Ucap Jihyun dengan senyum smirknya.
Gadis itu menggeleng cepat dan bergegas masuk namun gerakannya kalah cepat dengan pria bermarga Park itu. Tubuh Ji-eun luruh setelah Jihyun memukul tengkuknya dengan keras membuat gadis itu tak sadarkan diri.
•••
Jong-hoon tiba di apartemen pagi hari. Semalam ia tak bisa pulang sesuai isi pesannya pada sang adik sebab ternyata ada urusan penting yang harus ia urus terlebih dahulu.
Pria berusia 32 tahun itu menekan tombol untuk memasukkan password unitnya, kemudian masuk setelah pintu terbuka. Ia meletakkan kopernya di ruang tamu dan menghampiri kamar sang adik untuk mengeceknya. Karena waktu masih menunjukkan pukul enam pagi wajar saja keadaan masih sepi.
Tok tok tok!
"Ji-eun-ahh?!" Seru Jong-hoon sembari mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban sampai panggilan yang ketiga, membuat pria itu memutuskan untuk masuk. Tidak ada rasa curiga sebab gadis itu memang sulit dibangunkan jika sudah tidur.
__ADS_1
Cklek!
Perlahan Jong-hoon mendorong daun pintu ke dalam, seisi kamar masih terlihat rapi dengan balkon yang terbuka. Jong-hoon tidak mendapati Ji-eun di ranjang, juga di balkon yang terbuka.
Dia pikir adiknya itu sedang mandi sebab ponselnya berada di atas nakas. Namun tidak ada suara apapun di dalam kamar mandi. Jong-hoon mengetuknya dengan keras namun juga tidak mendapat sahutan.
"Apa dia juga tidur di bathtub?" Pikirnya.
Tanpa sadar jika pintu kamar mandi tidak tertutup rapat. Jong-hoon memutuskan untuk membuat sarapan di dapur, mungkin saja adiknya memang sedang berendam dan dia tidak bisa mengeceknya.
Satu jam berkutat di dapur, kini Jong-hoon menyajikan makanan yang ia buat di atas meja makan. Omelette daging kesukaan adiknya dan juga susu. Setelah itu ia berlalu menuju kamar sang adik karena gadis itu belum juga keluar.
Namun belum sampai di depan kamar, bel apartemen nya berbunyi. Membuatnya urung memanggil sang adik dan memutar langkah menuju pintu depan.
"Produser Min?" Ucap Jong-hoon setelah membuka pintu.
"Annyeong." Sapa Yoongi.
"Annyeong, silahkan masuk."
"Terimakasih."
Yoongi masuk kedalam unit Ji-eun, agak tidak menyangka juga jika kakak sang gadis yang membukakan pintu. Berarti ucapan Ji-eun kala itu memang benar jika dia tinggal bersama sang kakak di apartemen.
Tapi kenapa saat itu dia tidak melihatnya?
"Apa anda ingin bertemu dengan Ji-eun?" Tanya Jong-hoon.
"Ne."
"Kalau begitu silahkan duduk dulu, kurasa gadis itu tengah berendam dan belum keluar sejak satu jam yang lalu."
Yoongi mengangguk dan mempersilahkan Jong-hoon untuk memanggil adiknya. Entah kenapa ia merasa aneh dengan firasatnya. Namun pria itu segera menepis pikiran buruk itu, yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang ada di pikirannya.
"Maaf, produser! Dia tidak ada di dalam." Ucap Jong-hoon dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1