
Sesuai janjinya kemarin pada Aara untuk mempekerjakan seorang Baby Sitter untuk menemani Yoonji di rumah selagi ibunya bekerja, Seokjin berangkat pagi-pagi untuk mengantarkan Hayoung lebih dulu. Gadis itu sudah bersiap mengenakan celana kulot berwarna hitam dengan atasan kaos oversize berwarna putih. Di lapisi dengan cardigan Batwing berwarna coklat muda.
Rambutnya di gerai dengan dihiasi bando berdekorasi bunga matahari. Penampilan itu membuat Hayoung terlihat sangat muda untuk gadis seusianya. Sementara Seokjin sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja biru muda.
"Kau mau pergi ke salon, sayang?" Tanya Rachel pada putrinya.
"Tidak, eomma. Aku akan ikut Jin Oppa ke kantor." Jawab Hayoung.
"Ikut ke kantor? Biasanya kau selalu menolak jika diajak kesana." Sahut Tuan Kim.
Seokjin tampak menghela nafasnya. Kenapa adiknya tidak mencari alasan yang lain selain itu? Dia tentu tahu apa yang ada di pikiran ayahnya. Meskipun sayang sekali pemikiran itu sangat salah.
"Aku ingin bertemu temanku, dia bekerja di restoran dekat kantor kakak." Ucap Hayoung tenang.
"Kau tidak berbohong kan?" Tuan Kim masih merasa tidak percaya dengan alasan putrinya.
"Sudahlah, ayah. Biarkan saja, lagipula Hayoung tidak akan kenapa-kenapa jika bersama Jin. Jika ada yang macam-macam dengan adik kami, pasti Jin akan memukulnya dengan panci pink kesayangannya." Sahut Seok Joong.
"Hei, aku tidak akan menyakiti panci pink milikku." Protes Seokjin.
"Jadi kau lebih baik melindungi panci mu daripada adik mu?" Tanya Hayoung memicing.
"Bukan seperti itu. Aku akan melindungi mu tapi tidak dengan mengorbankan panciku juga." Bela Seokjin.
"Alasan."
"Sudah-sudah, kalian ini. Lebih baik makan sarapan mu cepat Hayoung, nanti kakakmu bisa terlambat." Lerai Rachel.
Sementara itu Ah Reum hanya menggelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan tingkah para keturunan keluarga Kim. Namun perdebatan kecil inilah yang membuat hubungan mereka menjadi hangat dan sangat erat.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Seokjin dan Hayoung langsung berangkat ke kantor. Tentu alasan yang dibuat oleh Hayoung hanyalah sebuah tipuan. Namanya juga alasan, ucapan itu digunakan untuk menutupi kebohongan atau menyelamatkan diri.
Seokjin mengendarai mobilnya menuju kawasan rumah Aara, dia sudah mengatakan pada gadis itu untuk berangkat bersamanya. Bukan apa-apa, dia akan mengantarkan sang adik ke sana dan kenapa mereka tidak berangkat bersama saja. Itu akan menghemat biaya.
Tak lebih dari sepuluh menit, mobil berhenti di depan rumah Aara. Terlihat rumah itu masih rapat, mungkin saja Aara belum selesai bersiap karena harus mengurus putrinya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Aku akan bekerja disini?" Tanya Hayoung dan Seokjin mengangguk.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan bersama menuju rumah Aara. Seokjin mengetuk pintu karena tidak ada bell disana. Tak membutuhkan waktu lama pintu terbuka menampakkan Yoonji yang tersenyum lebar.
"Paman tampan!!" Seru Yoonji.
"Hai, princess. Dimana ibumu?"
"Ibu sedang bersiap. Apa paman menjemput ibu?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Tapi ada yang ingin paman bicarakan denganmu. Boleh kami masuk?"
Yoonji mengangguk senang dan mengajak kedua orang itu masuk. Hayoung menelisik setiap sudut ruang tamu, ada sebuah tangga yang terlihat dari sana. Gadis itu duduk di sofa panjang dengan sang kakak yang memangku Yoonji.
Belum sempat Seokjin memulai pembicaraan, Aara sudah lebih dulu turun dan terkejut melihat atasannya sudah di rumahnya sepagi ini. Lalu netra gadis itu beralih pada gadis yang duduk di sebelah Seokjin.
"Ibu, paman tampan menjemput mu." Ucap Yoonji. Gadis itu sangat bersemangat bertemu lagi dengan Seokjin.
"Ah, iya sayang. Tapi kenapa kau duduk disana? Kau harus berbuat baik pada paman Jin." Ucap Aara menegur putrinya yang duduk di pangkuan bosnya.
Mendengar itu, Aara membulatkan matanya. Aara pikir Seokjin akan mengambil baby sitter dari yayasan atau mungkin seseorang yang berpengalaman.
Bagaimana bisa ia mempekerjakan adik dari bosnya sendiri. Dia saja bergantung hidup pada bosnya lalu dia akan menggaji adik dari bosnya itu berapa? Bukankah keluarga mereka sudah kaya?
"Tapi, kenapa harus adik anda Tuan? Maksudku--"
"Kau bilang apa Noona? Aku yang akan menjaga putrimu. Aku pikir dia adikmu karena kau masih terlihat sangat muda." Sela Hayoung tanpa canggung. Pembawaan gadis itu memang sangat ramah dan humble, tidak sulit untuk membuka percakapan dengan orang asing.
"Tapi, aku merasa segan. Bagaimana bisa aku mempekerjakan adik dari atasanku?" Ucap Aara.
"Kau tidak usah membayarnya, uangnya sudah banyak." Sahut Seokjin.
Aara hendak kembali memprotes namun Seokjin lebih dulu menyelanya. Seperti biasa pria itu tampak memaksa dan tidak pernah menghiraukan ucapan Aara. Terlebih Hayoung turut mengangguk membenarkan ucapan kakaknya. Akhirnya tidak ada lagi yang bisa Aara lakukan selain menuruti perkataan bosnya yang sangat pemaksa ini.
Hah, dia yang bekerja sebagai sekretaris nya saja tidak bisa berkutik jika Seokjin memaksanya, apalagi kekasihnya. Aara yakin jika gadis yang menjadi kekasih pria pemaksa itu pasti sangatlah penyabar.
__ADS_1
Hayoung dan Yoonji yang melihat wajah pasrah Aara hanya terkekeh. Keduanya mengantarkan bos dan sekretaris itu sampai depan rumah, setelah mobil itu pergi mereka kembali masuk kedalam rumah.
"Paman tampan sangat lucu." Ucap Yoonji terkekeh.
"Dia memang seperti itu. Oh ya, siapa namamu?" Tanya Hayoung.
"Go Yoonji."
"Yoonji? Bagus sekali namamu. Namaku Hayoung, tapi kau boleh memanggilku kakak cantik." Hayoung tersenyum lebar saat meminta Yoonji untuk memanggilnya dengan sebutan tersebut.
"Kakak cantik?" Ulang Yoonji.
"Yap."
Gadis kecil itu nampak berpikir sembari memegang dagunya, terlihat sangat menggemaskan sekali. "Baiklah. Apa kakak cantik mau menemaniku sarapan?" Ajak Yoonji.
"Tentu saja. Ayo kita sarapan."
Yoonji dan Hayoung berjalan menuju ruang makan. Di atas meja makan sudah tersaji seporsi ayam kecap dengan taburan keju di atasnya. Sepertinya Yoonji sangat menyukai daging dan keju.
Hayoung membantu mengisikan nasi ke piring Yoonji, menyendok beberapa potong daging ayam berlumur kecap yang di potong dadu.
"Silahkan makan!" Ucap Hayoung.
"Kakak tidak makan?"
"Kakak sudah makan di rumah. Habiskan sarapanmu setelah ini kita pergi ke tempat bermain. Kau mau?"
"Yeay!"
Yoonji bersorak gembira lalu menyantap sarapannya dengan lahap. Hayoung yang melihat itu ikut tersenyum, dalam sekali pertemua sepertinya Yoonji bukanlah anak yang banyak mau. Dia juga bisa melihat jika Yoonji tidak berpotensi merepotkan dirinya.
Maka dari itu ia mengajak Yoonji ke tempat bermain, untuk menghilangkan rasa bosan. Dan mungkin saja dia akan mengajak gadis itu membeli beberapa mainan.
Kemarin, Seokjin sudah menceritakan sedikit mengenai Yoonji. Pria itu ingin Hayoung mengetahui Yoonji sebelum merawatnya. Meski hanya beberapa hari namun itu sangat penting agar gadis itu dapat memikirkan bagaimana caranya mengasuh anak yang berbeda 13 tahun darinya.
__ADS_1