
Jeon Jungkook masih berada di mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan depan rumah Ji-eun. Dia yakin jika Bongsoon masih berada di dalam sebab earphone miliknya yang terdapat GPS itu masih berkedip di sana. Dia pun mengetahui rumah si gadis Lee dari benda kecil itu.
Sebenarnya Jungkook ingin langsung menemui Ji-eun, namun karena ada Bongsoon ia takut gadis itu banyak bertanya. Jadi, Jungkook memutuskan untuk menunggunya sampai Bongsoon pergi.
Sekitar tiga puluh menit, Jungkook melihat mobil Bongsoon keluar dari halaman rumah Ji-eun. Pemuda itu juga melihat Ji-eun yang mengantarkan Bongsoon sampai depan gerbang. Sebelum Ji-eun kembali masuk kerumah, pemuda Jeon itu segera keluar dari mobil dan menghampiri Ji-eun.
"Ji-eun noona!" Seru Jungkook.
"Jungkook?" Ji-eun terlihat terkejut dengan kemunculan Jungkook, pasalnya dia tidak pernah memberi alamat rumahnya pada siapapun. Jika Jungkook mencari tahu, pasti pemuda itu akan mendapatkan alamat apartemennya bukan rumahnya. Karena untuk keselamatan, Ji-eun tidak pernah mempublikasikan tempat dimana dia tinggal.
Ji-eun tampak meneliti sekitar, takut-takut ada orang lain yang melihat mereka. Karena gerakan sekecil apapun pasti akan mengundang perhatian. Setelah memastikan aman, Ji-eun menarik lengan Jungkook dan membawanya masuk.
"Kau tahu rumahku?" Tanya Ji-eun.
"Emm.." Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu berdeham untuk mengusir kegugupannya. "Aku kebetulan lewat sini, dan melihat gadis yang mirip denganmu. Ternyata ini rumahmu."
Meski terdengar tidak masuk akal namun Ji-eun tetap mengangguk. "Iya. Kau mau mampir dulu? Ada kakak ku di dalam." Tawar Ji-eun.
"Bisa kita berbicara di tempat lain saja? Em, maksudku, aku melihat restoran dekat sini yang sepertinya menunya enak."
Ji-eun nampak berpikir sejenak, sebenarnya dia sudah makan siang barusan bersama sang kakak dan juga Bongsoon. Namun melihat sorot mata Jungkook yang berharap membuatnya menjadi tidak tega.
"Baiklah, aku akan izin pada kakak ku dulu."
"Aku akan menunggu di mobil."
Ji-eun mengangguk dan masuk kedalam rumah untuk berpamitan pada Jong-hoon sekaligus mengganti bajunya. Meski dia merasa aneh dengan Jungkook, namun tidak ada salahnya dia menerima ajakan pemuda itu.
Daripada berdiam diri yang akan membuatnya bosan.
"Kau mau pergi lagi?" Tanya Jong-hoon saat melihat pakaian Ji-eun sudah berganti.
"Iya, aku akan pergi sebentar dengan temanku."
"Jangan terlalu lama, udara di luar sangat dingin."
"Ya, aku pergi dulu!"
__ADS_1
Ji-eun berjalan cepat keluar dari rumah, menghampiri Jungkook yang menunggunya di depan mobil. Penampilan pemuda itu terlihat santai namun sopan, dengan celana jeans dan kaos polos berwarna hitam yang terlihat kebesaran di badannya.
Pemuda itu memakai sepatu boots yang memiliki hak karet yang tinggi. Sepertinya pemuda bermarga Jeon itu sangat senang memakai type sepatu yang seperti itu.
"Kau bepergian seperti ini di musim dingin?" Tanya Ji-eun.
"Oh ini, aku membawa mantel di dalam mobil."
"Baiklah, sebaiknya kita pergi sekarang."
Jungkook membukakan pintu untuk Ji-eun dan mengitari mobil untuk duduk di bangku kemudi. Setelah memasang seat belt, mobil mulai melaju pelan menuju restoran yang akan mereka tuju.
Untung Jungkook sempat mencari restoran di maps, jadi dia tidak akan kebingungan saat meminta waktu pada Ji-eun untuk berbicara. Dia bertekad untuk mengkonfirmasi semuanya, meskipun nanti mungkin hatinya akan kecewa. Lagi.
Keduanya sampai di sebuah restoran kecil yang terletak menjorok kedalam, restoran tersebut tidak terlalu ramai. Namun meski begitu, Jungkook tetap memesan ruang VIP agar leluasa berbicara dengan Ji-eun. Juga untuk menjaga privasi mereka, tidak ada yang tahu jika di sini ada paparazi atau tidak.
"Noona, mau memesan apa?" Ucap Jungkook belum membuka masker dan topinya.
"Apa saja."
"Kalau begitu, ramyeon dan kimchi saja. Dengan ayam goreng juga, masing-masing dua porsi." Ucap Jungkook pada pelayan.
"Silahkan ditunggu." Ujar pelayan itu ramah.
"Kau memesan sebanyak itu?" Tanya Ji-eun heran dan Jungkook hanya meringis.
Sembari menunggu, Ji-eun memilih untuk bermain game di ponselnya. Sementara Jungkook diam-diam memperhatikan Ji-eun yang memang terlihat berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu.
Tubuh gadis itu memang sedikit berisi, meski tidak terlalu jelas. Tiba-tiba pandangannya beralih pada bagian perut Ji-eun yang tertutup mantel. Benarkah ada kehidupan di dalam sana?
"Noona," Panggil Jungkook.
"Uh?"
Jungkook membuka mulutnya, namun belum sepatah kata pun yang keluar dia terpaksa harus menelannya kembali karena pesanan mereka datang.
Dua orang pelayan menyajikan pesanan mereka yang hampir memenuhi meja yang sedikit kecil. Setelah pesanan selesai di sajikan, Jungkook dan Ji-eun mengangguk untuk mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Selamat makan." Ucap Ji-eun.
"Selamat makan."
Ji-eun lebih dulu memakan ramyeon yang dicampur dengan kimchi. Cuaca dingin seperti ini memang sangat cocok mengkonsumsi makanan hangat.
Rasa khasnya menyapu lidah Ji-eun. Dia baru tahu ada restoran dengan makanan sederhana namun enak seperti ini.
Keduanya makan dengan lahap dan tenang. Tidak ada percakapan apapun selain pujian yang terlontar dari mulut keduanya untuk makanan yang mereka pesan.
Jungkook yang awalnya ingin mengajak Ji-eun berbicara mengurungkan niatnya. Baginya makan nomor satu.
"Ah, aku kenyang sekali." Gumam Ji-eun mengelus perutnya.
Agaknya ucapan Ji-eun yang khawatir dengan pesanan Jungkook yang terlalu banyak dan tidak yakin akan habis ternyata tidak terjadi. Buktinya semua makanan yang ada di atas meja ludes, dan bersih tanpa sisa.
Bahkan Jungkook kembali memesan desert berupa camilan dan minuman hangat untuk mereka berdua. Dua porsi pancake dengan topping gelato dan hot latte.
"Aku sudah lama tinggal disini, tapi tidak tahu ada restoran dengan menu sederhana seenak ini." Ucap Ji-eun sembari menyendok gelato nya.
"Benarkah? Sayang sekali, kapan-kapan aku akan mengajak noona kesini lagi."
"Terimakasih, Jeon."
"Tidak masalah." Jungkook tersenyum manis pada Ji-eun.
Ji-eun sendiri merasa ada yang aneh dengan Jungkook. Terakhir pertemuan mereka, pemuda itu tampak acuh padanya. Bahkan setelah menjadi 'kekasih' Yoongi, Jungkook tak pernah lagi mengiriminya pesan.
Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja sikap Jungkook kembali pada awal mereka bertemu. Meski terasa sedikit berlebihan, karena setahunya, Jungkook itu sedikit pemalu.
Tapi Ji-eun berpikiran positif, mungkin saja Jungkook memang tidak lagi mengingat kerjasama nya dengan Yoongi sehingga kembali bersikap biasa saja dengan nya. Bukankah Yoongi pernah mengatakan jika Jungkook boleh berteman dengan nya?
"Mau tambah lagi?" Tawar Jungkook.
"Tidak perlu."
Jungkook mengangguk dan menghabiskan pancake nya, begitu pula dengan Ji-eun. Gadis itu biasanya tidak terlalu menyukai makanan manis namun saat memakan gelato itu dia merasa lidahnya seperti dimanjakan oleh tekstur lembut dari makanan penutup yang serupa es krim itu.
__ADS_1