
Yoongi sedang dalam perjalanan menuju restoran di Gyeonggi. Restoran ini berada dekat dengan sungai Han. Sungai yang membentang sepanjang 514 km yang memisahkan daerah Gangnam dan Gangbuk.
Sungai ini memiliki banyak jembatan yang salah satunya terkenal sebagai tempat bunuh diri. Meski begitu tempat itu kini menjadi tempat nongkrong yang populer.
Temannya ; Kim Namjoon yang beberapa bulan ini berada di luar negeri mengabarinya jika ia sudah kembali ke Seoul. Dan hari ini, Yoongi datang kesana sebab mendapat undangan dari pria pemilik kecerdasan tinggi itu.
Bukan undangan pesta besar atau semacamnya,hanya sebagai pertemuan biasa saja. Tadinya dia mengajak Kim Taehyung untuk ikut serta, namun pria itu tidak bisa sebab Yeontan masih perlu pengawasan terkait kesehatan anjing tersebut. Alhasil dia hanya pergi sendirian.
Hanya butuh waktu beberapa menit di perjalanan, Yoongi sampai di restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka. Pria berkulit putih itu masuk dan mengedarkan pandangannya, lalu netranya menemukan seseorang yang sangat ia kenali postur tubuhnya.
Dia langsung menuju meja yang terdapat Namjoon dan seorang gadis.
"Maaf membuatmu menunggu." Ucap Yoongi.
"Ah kau sudah datang. Tidak mengapa, Hyung. Dimana yang lainnya?"
"Pulang ke kampung halaman. Hanya tersisa aku dan Tae saja tapi pria itu tidak bisa ikut."
"Tidak masalah, duduklah."
Yoongi mengangguk, menarik kursi dan langsung mendudukinya. Dia tidak menyapa gadis di sebelah adiknya, dia memang tidak suka berbasa-basi pada gadis manapun. Kecuali Ji-eun, mungkin.
"Ah ya, perkenalkan dia kekasihku." Ucap Namjoon memperkenalkan kekasihnya.
Gadis yang duduk di sebelah Namjoon itupun mengulurkan tangannya sembari memperkenalkan diri.
"Song Chaewon."
"Yoongi." Jawab Yoongi tanpa membalas uluran tangan sang gadis.
Chaewon menarik kembali tangannya yang tak di sambut sembari tersenyum kaku, bukannya kesal dia justru tertarik pada kepribadian Yoongi yang sepertinya tidak berlebihan pada wanita. Terbukti pria itu tak mau menyalaminya, padahal tidak ada yang salah dalam hal itu jika sedang perkenalan.
"Jangan kesal, dia memang seperti itu." Bisik Namjoon pada kekasihnya.
"Ah tidak masalah." Jawab Chaewon.
"Bagaimana kabarmu, Hyung? Ku dengar dari Hoseok-hyeong kalian baru saja memproduseri seorang soloist." Ucap Namjoon pada Yoongi.
"Seperti yang kau tahu, aku tak pernah merasakan sakit. Sudah beberapa hari yang lalu selesai."
__ADS_1
Namjoon dan Yoongi berbasa-basi dan memesan minuman, membicarakan hal apapun termasuk kegiatan pria cerdas itu di luar negeri. Sesekali Chaewon ikut berbicara namun tidak terlalu di tanggapi oleh Yoongi.
"Aku ingin keluar sebentar, apa kau mau ikut?" Ucap Namjoon pada kekasihnya.
"Aku akan menunggu disini saja. Cepat kembali."
"Baiklah, kami tidak akan lama."
Namjoon dan Yoongi keluar dari restoran menuju parkiran, tepatnya mobil Namjoon. Pria itu membawa beberapa barang untuk diberikan pada Hyung nya itu. Peralatan yang berhubungan dengan musik tentu saja.
Karena Namjoon tidak mungkin memberikannya di dalam mengingat kekasihnya yang tak mengetahuinya. Karena bisa dipastikan harga dari barang tersebut tidak main-main, dan sang gadis akan memprotesnya.
Di dalam, Chaewon terlihat mengawasi sekitar. Memastikan tidak ada yang melihat kegiatannya. Gadis itu tampak mengambil bungkus kecil yang selalu ia sediakan di mini bag nya.
Memasukan sebutir obat pada minuman milik Yoongi dan mengaduknya hingga terlarut.
Lima menit kemudian kedua pria yang di tunggunya kembali masuk kedalam restoran. Chaewon menyamankan posisi duduknya dan berpura-pura menyibukkan diri dengan ponsel.
"Sepertinya aku harus pulang, ada hal yang harus aku urus." Pamit Yoongi pada Namjoon.
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Ya, tinggalah sebentar lagi."
Yoongi meraih gelas miliknya yang berisi jus lemon, lalu meneguknya hingga tandas. Tidak sesuai harapan Chaewon sebab pria itu justru tetap berpamitan meski menghabiskan minumannya.
•••
Yoongi merasa ada yang salah dengan tubuhnya, rasanya sangat gerah dan seperti ada sesuatu yang ia rasakan. Yang jelas dia tahu apa yang dialaminya, namun tidak tahu kenapa bisa begitu.
"Shiball!!" Umpat Yoongi memukul stir dengan keras.
Dia teringat jika tidak ada siapapun yang ia temui hari ini, selain Kim Namjoon dan juga kekasihnya. Tidak mungkin jika adiknya yang melakukan itu sebab dia tidak melewatkan waktu barang sedikitpun.
Kemungkinannya hanya satu yaitu gadis yang menjadi kekasih Namjoon. Tapi untuk apa dia melakukannya? Benar-benar di luar batas. Apa gadis itu berniat bermain dengannya, padahal statusnya adalah kekasih adiknya.
Yoongi menyambar ponselnya dan menghubungi seseorang, melalui earphone yang sudah di sambungkan ke ponsel.
"Halo?"
__ADS_1
"Berikan alamat mu."
"Wae? Ada apa?"
"Cepat katakan!"
"Ah, ya. Apartment ** lantai 20, unit nomor 212."
Tanpa menunggu lama, Yoongi langsung tancap gas menuju alamat yang ia ingat-ingat. Jaraknya tak terlalu jauh dari sana, beruntung jalanan tidak ramai karena bisa di pastikan jika dia akan diteriaki sebab melaju secara ugal-ugalan.
•••
Ji-eun menatap ponselnya dengan heran, tadi Yoongi menghubungi dirinya dan meminta alamat apartemennya. Dia sendiri tidak tahu untuk apa, karena dari nada bicara sepertinya pria itu tidak baik-baik saja maka dari itu dia memberikan alamatnya.
Bel apartemen yang berbunyi membuat gadis itu tersadar, dengan segera gadis itu membuka pintu depan karena tamunya nampak tidak sabar. Meski begitu, Ji-eun tetap berjaga-jaga melihat dari kamera intercom siapa yang datang. Dan saat melihat wajah Yoongi dia bergegas membuka pintu.
"Produser Min! Ada apa?" Tanya Ji-eun.
Yoongi tidak menjawab, pria itu terus menggeram dengan wajah yang nampak merah padam. Sekilas dia terlihat seperti orang yang tengah menahan amarah.
Pria berkulit putih itu menerobos masuk dan mendorong Ji-eun ke dinding, menendang pintu secara pelan agar tertutup dan otomatis terkunci. Dari sorot matanya yang sayu, bisa di lihat jika pria itu benar-benar tidak bisa menahannya.
"Kau ke-napa?" Tanya Ji-eun gugup.
"Bantu aku." Desis Yoongi.
Belum juga dirinya menjawab, Yoongi sudah menyumpal bibirnya. Menciumnya secara kasar dan liar, bahkan ia sampai kewalahan karena tidak memiliki pengalaman apapun soal berciuman.
Ji-eun menghentikan tangan Yoongi yang hendak menyentuh dadanya, lalu mendorong pelan tubuh Yoongi sedikit menjauh. Bisa di lihat wajah Yoongi yang nampak mengeras dan semakin sayu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang ingin kau lakukan padaku?" Tanya Ji-eun pelan.
"Aku akan menjelaskannya nanti, aku sudah tidak tahan."
"Tapi--"
Hatinya ingin menolak namun tubuhnya malah menyambut, membiarkan pria di depannya menjamahnya sesuka hati. Ji-eun bisa menyimpulkan jika Yoongi benar-benar dalam masalah. Tapi kenapa? Siapa yang melakukannya. Dan kenapa harus dia?
Yoongi kembali mencium Ji-eun dengan liar, bahkan gadis itu sedikit kewalahan namun tidak bisa berkutik.
__ADS_1
"Maafkan aku.." Batin Yoongi.