
Selepas kepergian sang kakak, Ji-eun masih merengut di kamarnya. Gadis itu tidak memiliki mood untuk melakukan kegiatan apapun, bahkan membiarkan Yoongi membereskan rumah sendirian. Benar-benar beban sekali, padahal mereka belum menikah.
Apa tuhan sedang memberikan gambaran bagaimana keadaan setelah mereka menikah? Tapi tidak masalah untuk Yoongi karena jika Ji-eun turun tangan bukannya bersih justru rumahnya akan semakin hancur. Dan Yoongi juga tidak yakin jika gadis itu bisa beberes rumah.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, Yoongi sudah selesai membersihkan rumahnya. Kini pria itu berjalan menuju kandang Holly untuk memberinya makan. Ah, sudah lama sekali ia tidak melihat anjing mungil kesayangannya. Selama dirinya berada di Rusia, ternyata tetangganya yang super baik selalu memberi anjing itu makan.
Membersihkan kotorannya dan memandikannya. Mungkin dia akan membuat makanan dan memberikannya untuk tanda terimakasih.
Yoongi kembali ke dalam rumah, melirik kearah kamar sekilas lalu beralih pada seporsi sandwich yang ada di meja bar dapur. Makanan itu masih utuh belum tersentuh, apa gadis itu tidak merasa lapar melewatkan sarapannya selama itu.
Sayup-sayup ia mendengar seseorang tengah berbicara. Kemungkinan gadis itu sedang menelepon seseorang, Yoongi tidak peduli. Dia memilih untuk pergi ke studio mininya. Ada permintaan lagu dari sebuah agensi untuk salah satu artist nya disana. Yah, sepertinya Yoongi memang harus kembali bekerja. Tiada hari tanpa bekerja bukan?
Dia memang sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia entertainment, namun pria itu tetap menulis lagu yang akan dia jual kepada agensi. Yoongi tidak bisa hidup tanpa musik, itulah yang dipikirannya. Music is the style.
Sementara di bawah, Ji-eun terlihat tengah membuka kulkas untuk mencari makanan. Tapi sayangnya dia tidak menemukan apapun. Namun netranya menemukan sepotong sandwich yang ada di meja. Gadis itu celingukan untuk mencari pemiliknya. Karena tidak menemukan siapapun akhirnya dia memakannya saja karena perutnya sudah lapar sekali.
Sembari tangannya terus memegang ponsel yang tertempel di telinga kirinya. Beberapa menit yang lalu, Bongsoon meneleponnya untuk menanyakan keadaannya. Malam itu dia tidak sempat sebab sibuk memarahi kekasihnya, dan lagipula saat itu Ji-eun masih terlihat lelah jadi dia menundanya.
"Aku sekarang berada di rumah produser Min."
"Kalau begitu, aku akan kesana nanti."
"Tidak perlu. Nanti Produser akan marah padaku. Mungkin saja kau juga bisa diikuti oleh wartawan karena kau kan mengenalku, pasti mereka bisa saja mencari informasi melalui kau."
"Ah, benar. Sebenarnya, Taehyung pun ada disini karena rumahnya juga di serbu wartawan. Kau tau bukan tingkahnya yang sok pahlawan itu mengundang perhatian semua media."
__ADS_1
Ji-eun kira hanya dirinya yang menjadi pencarian para awak media, ternyata Kim Taehyung juga. Dan mungkin saja Kim Namjoon juga. Jika Park Jimin tidak usah ditanya sebab dia yang paling menonjol, karena pelaku utamanya adalah sang adik. Tapi, kenapa rumah Yoongi masih aman damai sentosa? Bahkan dia merasa aman di sini.
"Oke, kalau begitu aku tutup telponnya. Aku harus melakukan sesuatu."
Bongsoon memutus panggilan telepon secara sepihak. Bahkan Ji-eun tidak menghiraukan ucapan sahabatnya itu. Dia masih terpikir bagaimana bisa Yoongi masih hidup aman di rumahnya tanpa teror dari awak media.
•••
Pukul 12 siang, Yoongi keluar dari studio mininya. Setelah dua jam menggarap lagu dan instrumen musik dia kembali pada kehidupan nyatanya, yaitu mengurus rumah. Ini sudah waktunya makan siang dan dia sama sekali belum memasak. Mungkin jika dia sendirian maka itu tidak akan menjadi masalah mengingat Yoongi memang selalu melupakan jadwal makannya saat sedang sibuk membuat lagu.
Tapi kali ini ada makhluk lain di rumahnya, dan Yoongi tidak mau membuat makhluk itu mati kelaparan.
Yoongi melihat Ji-eun yang tengah menonton televisi di ruang tengah, gadis itu nampaknya juga sudah mandi karena pakaiannya sudah berganti. Pakaian ala rumahan yang super seksi, celana hotpants nya bahkan tak menutup seluruh pahanya dengan benar.
"Yak! Kenapa di matikan?" Protesnya.
"Menurut mu?" Tanya Yoongi. "Bantu aku memasak jika kau ingin mendapatkan makan siang."
Ji-eun mendengus kesal. Ia pikir dengan dititipkannya disini dia bisa bersantai dan menikmati waktu damainya, ternyata malah di perlakukan sebagai pesuruh. Ya, dia lupa jika yang menampungnya adalah Min Yoongi.
Ji-eun membantu Yoongi memarinasi dada ayam fillet untuk di jadikan bistik, sementara Yoongi menyiapkan bahan baluran untuk dagingnya. Tidak ada masakan yang ribet disini sebab Yoongi pun sedang malas memasak makanan yang bermacam-macam.
Setelah siap, Yoongi meminta Ji-eun untuk memasukan daging ayam yang sudah dibalut dengan tepung kedalam minyak panas. Gadis itu menggeleng, sebab dia tidak mau terciprat minyak panas. Namun Yoongi meyakinkan bahwa tidak akan terkena jika memasukkan pelan-pelan.
Gadis itu mencoba, namun bukannya pelan-pelan justru malah di lepas begitu saja. Membuat kulit putih Yoongi ikut terkena cipratan minyak.
__ADS_1
"Aku bilang pelan-pelan." Geram Yoongi.
Ji-eun meringis, seolah kesalahan tadi memanglah wajar. Dia kan memang tidak bisa memasak, salah siapa memaksa. Dengan keberanian secuil, Ji-eun kembali memasukkan daging ayam kedua ke dalam minyak panas.
Namun kali ini dia tersentak sebab Yoongi turut memegangi tangannya untuk memastikan jika dia tidak akan melemparkannya lagi. Bisa habis minyaknya jika terus dibuang seperti itu.
Percobaan kedua berhasil, dan benar saja. Minyaknya tidak akan menyiprat jika melakukannya secara perlahan. Ji-eun otomatis tersenyum lebar saat bisa melakukannya secara baik. Dan hal itu juga turut membuat Yoongi menghela napas lega.
"Yeay berhasil. Kau lihat itu?" Seru Ji-eun pada Yoongi. Gadis itu bahkan bisa membalikkan daging itu dengan sempurna.
"Perhatikan apinya, jangan terlalu besar nanti bisa gosong."
"Ay ay capten!"
Secara tak sadar Yoongi justru melingkarkan tangannya di perut Ji-eun, memeluk gadis itu dari belakang. Sementara yang di peluk entah sadar atau tidak tapi tidak mencoba melepaskan. Bahkan dia bercerita dengan antusias jika ini adalah pengalaman pertamanya memasak.
"Kau tidak perlu pandai memasak untuk bisa bersamaku." Ucap Yoongi tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Ya. Kau hanya perlu pandai memuaskanku di atas ranjang."
Ji-eun melenguh kala Yoongi menggigit cuping telinganya. Pegangannya pada spatula mengerat, tubuhnya meremang menerima sentuhan dari Yoongi. Sial, kenapa harus disaat seperti ini.
"Jangan lakukan itu, jika kau tidak ingin ku siram dengan minyak panas. Kau membuatku geli." Kesal Ji-eun.
__ADS_1