
"Jangan mementingkan orang lain dan lebih hargai dirimu." -- Kim Seokjin.
+++
Seokjin keluar dari kantor menuju basemen parkir, saat akan menyalakan mesin mobil dia teringat akan sesuatu. Ya, dia melupakan sesuatu yaitu alamat rumah sakit tempat putri Aara di rawat. Dia tidak mungkin menanyakan langsung pada Aara, yang ada gadis itu tidak akan mau memberitahunya.
Selama beberapa hari mengenal Aara dia bisa menyimpulkan jika Aara itu orangnya tidak suka membuat orang lain khawatir. Gadis itu sedikit keras kepala, namun ada satu sifat yang mungkin menguntungkannya. Akhirnya Seokjin tetap menghubungi Aara dan menanyakan dimana dirinya sekarang.
"Halo." Ucap seorang gadis di seberang sana. Tapi ini bukan suara Aara, lalu siapa yang mengangkat panggilannya?
"Halo?"
"Ah, iya halo. Kau bukan Aara, dimana dia?" Tanya Seokjin.
"Oh, Aara sedang berada di toilet. Kurasa dia meninggalkan ponselnya, karena aku takut jika panggilan ini penting maka aku menjawabnya." Jelas Mi-Soo.
"Begitu.. tolong kirimkan alamat rumah sakit tempat putri Aara di rawat. Aku akan kesana."
"Maaf Tuan, tapi boleh aku tahu siapa anda?"
Eh? Kenapa gadis itu bertanya seperti itu? Bukankah seharusnya gadis itu tahu lewat nama kontak yang tertera. Ah, ternyata Seokjin baru ingat jika Aara tidak pernah tahu nomor ponselnya. Mereka selalu berkomunikasi melalui telepon kantor, pantas saja gadis itu bertanya karena nomor yang memanggil tidak ada namanya.
"Aku atasan Aara di kantor. Bisa tolong kirimkan?"
"Ah, iya. Kami berada di rumah sakit ***, ruangan nomor 13 di lantai dua, Tuan." Mi-Soo menjelaskan.
Seokjin memutus sambungan telepon setelah mengucapkan terimakasih, lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang sudah di beritahu. Entahlah, ada dorongan dalam dirinya untuk berkunjung kesana. Sisi kemanusiaan nya muncul saat mengetahui jika Aara adalah seorang hot mom. Tidak mudah untuk membesarkan anak seorang diri apalagi berjauhan dengan orang tua.
__ADS_1
Siapa tahu dia bisa mengetahui kehidupan Aara. Entah tujuannya untuk apa namun Seokjin merasa jika dirinya perlu melakukan ini.
Hampir dua puluh menit di perjalanan, Seokjin akhirnya tiba di rumah sakit tempat Yoonji di rawat. Pria itu langsung menuju lantai dua dan mencari nomor ruangan dengan bertanya pada resepsionis.
Sepanjang lorong dia melihat banyak orang yang sedang menunggu di depan ruang perawatan. Rasanya seperti... Entahlah. Bagaimana bisa rumah sakit tempat orang-orang sakit dan beristirahat bisa penuh dan hampir sesak seperti di mall?
"Tuan Jin?"
Jin menoleh ke samping saat seorang gadis memanggil namanya. Ternyata itu adalah Aara yang terlihat terkejut dengan kehadirannya. Karena terlalu memperhatikan arah lain Seokjin jadi tidak sadar jika ternyata dia sudah berada di depan ruang perawatan Yoonji.
"Hai." Seokjin melongok kearah pintu kaca ruang Yoonji sekilas lalu kembali menatap Aara. "Bagaimana keadaan putrimu?"
Alih-alih menjawab, Aara justru balik bertanya. "Bagaimana bisa anda ada disini?"
Seokjin mendecak. Siapapun pasti akan kesal jika bertanya bukannya di jawab justru yang ditanya malah balik bertanya. Apa susahnya menjawab terlebih dahulu baru setelah itu giliran bertanya.
"Maaf. Putri saya baik-baik saja tuan." Ucap Aara berbohong. Dia tidak ingin membuat siapapun mengasihaninya, termasuk bosnya.
"Benarkah? Dia sudah sadar?" Tanya Seokjin lagi.
Belum sampai Aara menjawab, gadis itu mendengar sebuah suara dari dalam kamar perawatan Yoonji. Bunyi monitor yang mengatur detak jantung pasien terdengar sampai ke luar meski tidak terlalu jelas. Dan gadis itu juga bisa melihat tubuh putrinya menggigil dengan hebat.
"Astaga. Cepat panggil dokter!" Seru Seokjin pada Aara. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali dan segera menghampiri petugas medis yang berjaga.
Seokjin menggeser pintu kaca dan masuk kedalam ruangan Yoonji. Pria itu bisa melihat jika badan gadis kecil itu bergetar dengan mulut yang sedikit terbuka. Sepertinya gadis itu akan mengalami kejang. Seokjin hampir membuka baju Yoonji untuk memberikan penanganan pertama namun dokter lebih dulu sampai.
"Permisi, Tuan." Ucap sang dokter.
__ADS_1
Seokjin bergeser dan membiarkan dokter untuk memeriksa Yoonji. Aara yang ada di sampingnya terlihat khawatir pada kesehatan sang putri. Berkali-kali dia merapalkan doa di dalam hati agar putrinya bisa melewati ini semua. Bahkan jika bisa, biarlah dirinya yang kesakitan daripada putrinya.
Sepuluh menit dokter dan beberapa perawat menangani Yoonji, kini keadaan sudah mulai membaik. Tidak perlu tindakan khusus karena gadis kecil itu hanya mengalami kejang akibat demam yang tinggi. Hal itu mempengaruhi kinerja otak yang terbentur saat jatuh dari tangga.
"Kenapa kau berbohong?" Celetuk Seokjin. Kini mereka sudah berada dalam ruangan Yoonji.
Mi-Soo sudah pulang sebelum Seokjin tiba di rumah sakit. Aara yang masih merasa khawatir pada putrinya memilih diam. Bukankah dia berhak berbohong pada Seokjin. Dia hanya tidak ingin orang lain melihat sisi lemahnya dan dia juga tidak ingin Seokjin mengurusi hidupnya.
Maksudnya, jika dia mengatakan yang sebenarnya sudah pasti Seokjin akan menawarkan bantuan. Dan Aara tidak mau itu terjadi. Sudah cukup dia menyusahkan orang lain, dan tidak akan membawa orang lain kedalam kehidupannya yang penuh dengan kesialan.
Seokjin menghela nafasnya, tanpa kata pria itu keluar dari kamar perawatan Yoonji. Apa mungkin dirinya harus mengabari seseorang yang berhubungan dengan gadis itu? Tapi, ada hal yang harus dia pertimbangkan. Dia tidak mungkin mengabari seseorang yang sudah memiliki pasangan untuk menemui masa lalunya. Sementara pria itu berusaha melupakan gadis yang kini bersamanya.
"Huft! Aku tidak pernah merasa bingung seperti ini sebelumnya." Gumam Seokjin.
Sreett!
Seokjin menoleh ketika mendengar pintu bergeser. Aara keluar dari dalam ruangan dengan wajah sembab, yang Seokjin tebak bahwa gadis itu baru saja menangis. Gadis itu berhenti di depannya, seperti hendak menyampaikan sesuatu namun terlihat ragu.
"Terimakasih." Cicit Aara. Gadis itu menundukkan kepalanya karena merasa malu pada Seokjin. Selama ini tidak ada yang pernah melihatnya bersedih seperti ini.
"Ku sarankan hubungi orang tuamu. Mereka memiliki putri dan cucu yang berhak untuk diketahui kabarnya. Jangan jadi sosok yang bahkan kau sendiri tidak bisa melakukannya. Tidak ada yang salah dengan air mata, jadi tidak perlu merasa paling kuat. Bahkan superhero pun pernah menangis." Ucap Seokjin.
Aara terdiam. Benar. Selama ini dia mencoba kuat sendirian. Bahkan dia tak pernah mau membuat orang tuanya kerepotan karena dia sudah cukup merepotkan dari kecil. Seketika gadis itu teringat pada ucapan ibu mertuanya yang mengatakan bahwa dia pembawa sial.
Apa mungkin seperti itu?
Aara mendongak dan menatap Seokjin yang tampak sibuk dengan ponselnya. Gadis itu bergumam dalam hati, berharap kesialannya tidak menghampiri hidup Seokjin.
__ADS_1
Tanpa mereka tahu ternyata ada seseorang di antara kerumunan yang memotret kedekatan mereka berdua dan mengunggahnya di media.