
"Usianya sudah 8 minggu, meski belum terlalu jelas tapi sudah ada detak jantungnya. Kau mau dengar?" Ucap dokter Bae.
Ji-eun dan Bongsoon berpandangan sebentar, lalu mengangguk. Sebuah alat menempel di perutnya dan kemudian terdengar suara gemuruh detak jantung dari mesin CTG atau Kardiotokografi. Bahkan jantung Ji-eun pun ikut berdetak kencang karena mendengar itu.
Dia...
Benar-benar hadir.
Astaga.
Ji-eun menutup kedua matanya erat. Apa yang dia lakukan setelah ini, tidak mungkin dia kembali ke dunia hiburan dengan keadaan berbadan dua. Lambat laun perutnya akan membesar dan pasti para media pun menyadari perubahannya.
Jika saja dia terlahir sebagai seseorang yang biasa saja, bisa dipastikan dia akan menjaga buah hatinya ini tanpa memikirkan apapun. Meski calon ayahnya tidak memberikan tanggung jawab, tidak masalah baginya.
Tapi keadaan berkata lain. Ji-eun bahkan bingung harus mengekspresikan diri seperti apa.
"Astaga, dia benar-benar hadir." Lirih Bongsoon.
Dokter Bae menyimpan alat pemeriksaan itu lalu berjalan menuju mejanya. Meresepkan vitamin dan obat untuk menunjang kesehatan janin. Sementara Bongsoon membantu Ji-eun untuk bangun dan kembali membenahi penampilannya.
Pasti sangat berat menjadi Ji-eun, banyak hal yang harus dia pertaruhkan untuk sesuatu yang tidak bersalah. Haruskah ia menyalahkan takdir? Atau menyalahkan dirinya sendiri?
"Ini resep obat dan beberapa vitamin, ada keterangannya juga untuk dikonsumsi berapa kali sehari. Kau bisa menebusnya di apotek." Ujar dokter Bae. Dia sama sekali tidak mengenali Ji-eun, atau mungkin pria itu hanya pura-pura tidak mengenalnya.
"Baiklah, terimakasih dokter. Tolong rahasiakan kedatangan kami." Pinta Bongsoon.
Dokter Bae mengernyit heran ketika Bongsoon mengatakan untuk merahasiakan kedatangan mereka. Namun pria itu tidak ingin ambil pusing dan mengangguk.
__ADS_1
Keduanya berpamitan dan berjalan menuju mobil. Ji-eun masih saja diam tanpa ekspresi, benar-benar macam orang bingung. Mungkin jika Park Bongsoon yang ada di posisi Ji-eun, dia akan sangat senang dan langsung meminta Kim Taehyung menikahinya.
Tapi Ji-eun, Bongsoon tahu gadis itu tidak akan bisa meminta pertanggungjawaban dari Yoongi. Mereka tidak saling mencintai dan apa mungkin keduanya harus menggadaikan perasaannya untuk makhluk yang kini bersemayam di rahim gadis Lee.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi dari klinik untuk kembali ke rumah Ji-eun.
"Lee?" Panggil Bongsoon dan Ji-eun menoleh.
"Apa yang akan kau lakukan dengannya? Maksudku, kau akan mengabari produser Min?" Tanya Bongsoon hati-hati.
Ji-eun menghela nafasnya, lalu menggeleng pelan. Dia memang sudah memikirkan ini semalam. Jika memang dia benar-benar mengandung, maka dia akan merawat bayinya seorang diri. Tak peduli jika harus pergi jauh sekalipun.
Masalahnya sekarang adalah, bagaimana menghadapi sang ayah dan kakaknya jika mereka tahu gadis mereka hamil. Tanpa suami. Tentu kedua pria itu tidak akan tinggal diam dan mungkin akan memaksanya untuk mengatakan siapa ayah dari bayi yang di kandungnya.
Beruntung jika keduanya bisa menerima Yoongi dan menikahkan mereka. Jika akan ada perkelahian dan kekerasan fisik bagaimana? Ji-eun tidak mau kembali membuat hidup Yoongi hancur. Biarlah ia yang hancur, sudah rusak kenapa tidak hancur sekalian.
"Terimakasih. Aku beruntung sekali memiliki teman seperti mu."
"Kita bukan hanya sekedar teman. Kita sahabat bahkan keluarga." Protes Bongsoon dan Ji-eun tertawa kecil.
Melihat senyum terbit di bibir Ji-eun membuat Bongsoon merasa lega. Setidaknya dia tidak akan berpikiran buruk tentang sahabatnya. Seperti Ji-eun akan depresi lalu bunuh diri atau bahkan menggugurkan kandungannya.
Memang berat untuk menjalaninya, namun kedua cara itu bukanlah opsi terbaik.
"Jadi, aku akan memiliki keponakan. Ah, bagaimana rasanya di panggil imo? Aku sangat tidak sabar." Seru Bongsoon girang.
Keduanya tertawa karena tingkah Bongsoon yang konyol. Melupakan sejenak masalah di depan matanya. Ji-eun percaya jika takdir tuhan memang sudah terencana dengan indah, sepedih apapun kita melewatinya.
__ADS_1
Masalah datang untuk membuat kita semakin berjuang dan kuat, bukan untuk menyerah. Seperti layaknya game, kita akan diberi kesempatan berkali-kali untuk bertahan hidup, meski musuh selalu menyerang. Untuk mencapai titik kemenangan memang tidak mudah.
Mobil Mercy berwarna hitam yang semula mengikuti mobil Bongsoon kini masih berada di depan klinik. Mobil itu terparkir di tepi jalan raya. Tidak ada tanda-tanda dari sang pengemudi untuk pergi.
Jeon Jungkook masih terpaku di tempatnya. Rasanya ingin mengejar mobil kedua gadis itu lagi namun hatinya menolak. Ada rasa yang sulit untuk di jelaskan.
Pemuda itu bisa mendengar percakapan dua gadis yang ada di dalam mobil yang semula ia ikuti. Setelah menerima telepon yang ternyata berasal dari ibunya, Jungkook tiba-tiba mendapat ide untuk menyimpan earbuds nya di dashboard mobil Bongsoon.
Tentu benda kecil itu sudah terhubung dengan ponselnya sehingga dia bisa mendengar apapun yang dua gadis itu bicarakan. Meski tidak terlalu jelas arahnya, tapi Jungkook bisa menyimpulkan.
Dari kata 'Produser Min', bayi, dan papan klinik yang ia baca. Klinik itu adalah klinik pregnancy. Mereka yang berkunjung adalah wanita-wanita yang memiliki bayi di dalam perutnya.
Awalnya Jungkook tidak tahu kenapa mereka datang kemari, tapi setelah mendengar percakapan itu pertanyaan konyolnya segera terjawab. Dia kira mungkin saja kekasih Kim Taehyung yang ingin memeriksakan diri, ternyata bukan.
Pemuda bermarga Jeon itu menggenggam erat kemudi, sedetik kemudian ia memukulnya dengan keras. Dadanya sesak, sangat. Apalagi di seberang sana dua gadis itu masih terus berbicara. Bongsoon juga secara santai membahas hubungan Ji-eun yang sudah berakhir.
Rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk. Dadanya naik turun dengan emosi yang sudah menguasai dirinya. Dengan gerakan kasar ia menarik persneling dan mulai melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.
Pria itu harus tahu. Tidak peduli nanti Ji-eun akan marah padanya atau apa. Dia juga tidak peduli pada pria bermarga Min yang sudah membuatnya kecewa. Bahkan mungkin ini adalah yang kesekian kalinya. Jungkook benar-benar tidak habis pikir.
Seharusnya dulu dia tetap memperjuangkan Ji-eun, sehingga kejadian ini mungkin tidak akan terjadi. Lagipula, kemampuan Jungkook untuk menjaga seseorang tidak perlu di ragukan. Mungkin jika dia tidak mengalah pada Hyung nya itu, nasib gadis Lee akan baik-baik saja.
Pemuda itu bahkan tidak percaya jika hyungnya benar-benar melakukan itu.
"Kau bodoh, Hyung. Kali ini aku tidak akan memberikannya lagi padamu meski ada darah dagingmu di perutnya. Aku tidak peduli!" Geram Jungkook.
Entah bagaimana lagi dia harus meredam kekesalan, kemarahan dan kekecewaan nya. Yang pasti ini akan menjadi sesuatu yang buruk bagi hubungan Jungkook dan Yoongi kedepannya. Entah lah.
__ADS_1