Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Ada Apa Dengan Jungkook?


__ADS_3

Hari ini Jungkook bangun lebih awal untuk pergi ke kediaman bibi Park. Semalam hyungnya itu menelepon jika dirinya sudah kembali ke Busan jadi Jungkook tidak perlu bolak-balik lagi ke rumahnya.


Namun tidak bagi Jungkook, pemuda itu ingin tahu keadaan Park Jimin apakah baik-baik saja atau tidak. Dia mempunyai ponsel dan sudah pasti dia membaca berita paling viral yang masih menjadi trending itu.


Bahkan dia tidak bertanya pasal Ji-eun yang menjadi korban, Jungkook percaya jika Yoongi pasti menjaganya. Dia yang paling dekat dengan Jimin jadi sudah sepatutnya dia khawatir.


"Kau mau ke rumah bibi Park lagi, Jeon?" Tanya Nyonya Jeon ketika melihat putranya bersiap memakai sepatu.


"Iya, Bu. Jimin sudah kembali dan aku khawatir padanya."


"Ah tunggu sebentar!" Nyonya Jeon berlalu menuju kamar meninggalkan Jungkook yang masih sibuk mengikat tali sepatu. "Ibu ikut."


Jungkook mengangguk dan menggandeng ibunya keluar rumah. Nyonya Jeon mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di pot agar suami dan si bungsu pulang mereka tidak perlu menunggu. Sementara Jungkook masuk kedalam garasi untuk mengambil mobil.


"Astaga!" Nyonya Jeon terkejut ketika berbalik langsung melihat Suzy yang berdiri di hadapannya.


"Maaf mengagetkan mu, bibi. Bibi mau kemana?" Tanya Suzy.


"Bibi akan ikut Jeon pergi. Kata Jeon, Park Jimin sudah kembali ke Busan. Bibi ingin menjenguknya."


"Boleh aku ikut bibi?"


"Tentu. Tapi kau harus izin dulu pada ibumu."


"Aku akan mengirim pesan pada ibu." Ucap Suzy. Ayolah dirinya bahkan sudah besar.


Jungkook yang memang tidak mengetahui jika Suzy turut ikut pun bersikap biasa saja. Dan saat pintu belakang di tutup barulah Jungkook langsung menyadarinya.


"Kau? Sejak kapan kau disini?" Tanya Jungkook pada Suzy.


"Baru saja. Kau bahkan tak membukakan pintu untukku."


"Turun. Tidak ada yang menyuruhmu untuk ikut."

__ADS_1


"Biar saja Jeon. Kenapa kau selalu keras pada Suzy." Lerai nyonya Jeon.


"Tapi Bu... Baiklah." Jungkook hanya pasrah saat ibunya menatapnya tajam. Sungguh pun dia tidak bisa melawan apapun perkataan ibunya.


Suzy yang mendapat dukungan dari ibu Jungkook pun tersenyum senang. Tidak bermaksud memanfaatkan Nyonya Jeon hanya saja jika wanita itu membelanya maka dia sangat senang sekali. Meski tak sulit juga membuat Jungkook menurut dengan usahanya sendiri.


Mobil mulai melaju menuju rumah Park Jimin yang berada di distrik Gumjeong, jaraknya hanya sekitar 20 menit perjalanan jadi tidak akan terlalu lama. Memang tidak harus terburu-buru tapi Jungkook tidak sabar saja sehingga datang kesana pagi-pagi.


Mereka sampai di depan rumah dengan gerbang yang menjulang tinggi. Jungkook menyuruh Suzy untuk turun dan membukakan gerbang tersebut agar mobilnya bisa masuk karena memang tidak ada penjaga khusus yang membukakan gerbang.


Awalnya Suzy menolak namun ketika diancam mau tak mau dia turun untuk menuruti ucapan Jungkook. Gadis itu sedikit kesulitan sebab gerbangnya lumayan berat. Untuk apa pula membuat gerbang seberat ini.


Mobil Mercy berwarna hitam itu masuk kedalam pekarangan rumah yang tidak terlalu luas. Nyonya Jeon dan Jungkook keluar dari dalam mobil. Terlihat rumah itu masih sepi, mungkin karena masih pagi.


Jungkook menekan bell rumah beberapa kali, dan memanggil nama Hyung nya. Tak lama kemudian seorang pria membuka pintu dengan raut wajah sedikit terkejut.


"Oh, Jungkook. Selamat pagi, bibi." Ucap Jimin menyapa kedua tamunya.


"Jimin-hyeong, kau baik-baik saja?" Tanya Jungkook khawatir.


Jungkook dan nyonya Jeon sudah bersiap masuk ketika mendengar suara cempreng Suzy. Gadis itu bahkan baru saja tiba di depan rumah karena kesusahan menutup kembali gerbangnya.


"Tunggu aku. Astaga, tanganku pegal sekali." Keluh Suzy.


"Suzy?"


"Ah, hai Jimin oppa. Lama tidak bertemu, aku merindukanmu!" Suzy yang sudah merentangkan tangannya hendak memeluk Jimin mendadak terbatuk ketika Jungkook menarik kerah bajunya dengan keras.


Gadis itu sudah melayangkan tatapan tajamnya namun yang ditatap malah merasa tidak berdosa. Sialnya, wajah itu selalu saja imut. Akhirnya gadis itu pura-pura merajuk dengan melipat kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya.


"Aku juga merindukanmu. Ayo masuk." Ulang Jimin.


Ketiganya masuk kedalam rumah Jimin, mendudukkan dirinya di lantai yang beralaskan karpet bambu. Memang rumah ini masih tradisional sekali, berbeda dengan rumah pribadi Jimin yang berada di Seoul. Meski begitu pria manis itu lebih memilih untuk tinggal di apartemen pribadinya.

__ADS_1


Nyonya Park menyambut tamunya dengan sopan. Meski dia sempat shock dengan berita yang beredar namun berkat kepulangan Jimin, wanita itu sudah merasa lebih baik. Dia hanya tidak ingin membuat Putra sulungnya bersedih akibat dirinya yang selalu memikirkan Jihyun.


Mungkin ini memang sudah jalannya, dan nyonya Park hanya harus menerima. Biar bagaimanapun anaknya bersalah dan harus mendapatkan konsekuensinya dengan mendekam di penjara. Jimin menawarkan apakah ibunya ingin menemui Jihyun yang sudah dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan di Busan atau tidak. Namun wanita itu mengatakan tidak, mungkin kapan hari saja jika hatinya sudah benar-benar membaik.


Jungkook, Jimin, dan Suzy membiarkan kedua wanita paruh baya itu berbincang. Ketiganya menuju kolam ikan yang berada di belakang rumah, serta ada satu ruangan kecil yang digunakan sebagai rumah bagi anjingnya. Tidak seperti Jungkook dan Yoongi yang membawa peliharaan nya ke Seoul, Ddosun ; anjing peliharaan Jimin tetap berada di rumah untuk menemani ibunya.


"Aku membaca berita di media Korea tentang adikmu. Apa itu benar kak?" Ucap Suzy.


"Jangan membuat Jimin sedih lagi, Zy. " Omel Jungkook.


"Tidak apa-apa, Jung." Ucap Jimin, dan pria itu beralih menatap Suzy. "Itu benar."


"Wah, kau pasti hebat sekali bisa menangkap para penculik itu." Sahut Suzy senang.


Jimin terkekeh, "Aku bahkan tidak melakukan apapun." Ya dia memang tidak melakukan apapun, ia menunggu di mobil dan mengawasi sekitar saja. Apa itu termasuk hebat?


"Jangan merendah kak. Aku tahu kau hebat, dan gadis yang memilikimu pasti akan bahagia sekali karena memiliki kekasih seperti dirimu. Kau hebat, tampan, manis, dan seksi." Cerocos Suzy.


Kata terakhir yang Suzy sebutkan ternyata mampu membuat darah Jungkook mendidih. Bagaimana bisa gadis itu tak tahu malu mengatai temannya begitu.


"Sexy, heuh? Memangnya kau sudah pernah melihatnya?" Sindir Jungkook.


"Aku selalu melihat penampilan kak Jimin di internet. Saat kau membuka baju dan memperlihatkan otot perut mu, itu sangat seksi sekali."


Jungkook membulatkan matanya, sementara Jimin terkekeh. Memang jika dibanding keenam temannya dialah yang sering buka-bukaan seperti itu. Membuat fandom nya di seluruh dunia menjerit kencang. Tak terkecuali Suzy.


"Bagaimana jika kau membukanya sekarang, kak? Aku ingin lihat secara langsung, apakah sama dengan yang selalu aku lihat di ponselku atau tidak." Ucap Suzy bersemangat.


"Kau ingin melihatnya?" Tanya Jimin dan Suzy mengangguk antusias.


"Tidak. Tidak perlu. Kau ini kenapa genit sekali hah? Kenapa harus bertingkah seperti itu, memalukan." Sentak Jungkook.


Suzy dan Jimin yang melihat Jungkook marahhanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Kenapa pria itu marah? Bukankah tidak ada salahnya jika Suzy melihat otot perut Jimin meski itu bukan permintaan sungguhan. Tentu saja Suzy tidak akan senekat itu. Tapi kenapa reaksi Jungkook justru sangat kesal dan memarahinya. Memangnya salah?

__ADS_1


"Kau kenapa?" Tanya Suzy polos.


Jungkook hanya mendengus. Entahlah, kepalanya terasa mendidih saat Suzy mengatakan ingin ingin melihat otot perut Jimin. Bukankah dia juga mempunyai otot dimana-mana, tapi bahkan gadis itu tidak pernah memujinya seksi. Menyebalkan.


__ADS_2