
Setelah tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit, kini Yoonji sudah semakin sehat dan diperbolehkan pulang. Gadis itu meminta tolong pada Mi-Soo untuk menjemput putrinya karena dia harus menemani Seokjin meeting dengan client penting.
Aara menyiapkan sebuah iPad untuk keperluan meeting, serta beberapa berkas yang akan di serahkan pada Seokjin terlebih dahulu. Namun baru saja gadis itu akan keluar, pintu sudah lebih dulu terbuka. Aara sempat terkejut karena Seokjin masuk kedalam ruangannya, rasanya tidak pantas saja atasan yang menemui bawahan di ruangannya. Apa dirinya sedikit terlambat? Aara melihat jam di jam tangannya, masih ada waktu sepuluh menit sebelum meetingnya dimulai. Lalu kenapa Seokjin mendatangi ruangannya?
"Apa yang kau lakukan disitu?" Tanya Seokjin saat melihat Aara mematung.
Gadis itu tersentak lalu meminta maaf dan menghampiri Seokjin, pria itu kembali keluar setelah menghampirinya sejenak. Aara mengikuti langkah Seokjin yang lebar, pandangannya tertuju pada sekitar. Ini bukan arah ke ruang meeting, tapi kenapa bosnya itu mengambil jalan ini? Apa mungkin Seokjin Inging ke toilet? Astaga, kenapa dia malah mengikutinya.
Seokjin menoleh ke belakang dan melihat Aara menghentikan langkahnya, pria itu tetap melangkah namun lebih pelan dari sebelumnya. Melihat Aara berbalik, Seokjin langsung berseru.
"Simpan itu di ruangan ku, aku akan menunggu di parkiran."
Tubuh Aara tersentak. Kenapa Seokjin menunggunya di parkiran? Memangnya mereka akan pergi kemana, bukankah meeting tidak di lakukan di luar perusahaan. Tak ingin membuat bosnya menunggu, Aara berlari kecil menuju ruang Seokjin. Sesaat gadis itu meragu, apa iya dia harus menyelonong masuk kedalam?
Young Joon yang melihat Aara berdiri di depan ruangan Seokjin ikut berdiri, menghampiri sang gadis yang terlihat tengah berpikir.
"Ada apa?" Tanya Young Joon.
"Ah. Tuan, aku harus menyimpan berkas Tuan Seokjin ke dalam. Tapi, aku tidak bisa masuk sendiri." Ucap Aara ragu. Meski Seokjin sudah mengizinkannya tetap saja dia tidak berani jika tidak ada Seokjin.
"Lalu?" Young Joon kembali bertanya.
"Bisakah aku meminta tolong pada anda?" Ucap Aara meringis.
Young Joon mengangguk dan mengambil berkas yang ada di tangan Aara. Kemudian tanpa kata pria itu melenggang masuk ke ruangan Seokjin untuk menaruh berkas tersebut. Sementara Aara hanya bisa terdiam melihat sikap dingin dan cuek sekretaris Hwang. Namun gadis itu segera tersadar dan buru-buru pergi untuk turun ke basemen parkir.
__ADS_1
Seokjin mendecak, baru kali ini dia dibuat menunggu oleh seseorang. Selama hidupnya dia sama sekali tidak pernah menunggu sesuatu, yang ada dirinya yang ditunggu-tunggu. Namun Aara bisa membuatnya menunggu, tidak tanggung-tanggung karena dia sudah berdiam diri di mobil selama kurang lebih sepuluh menit.
Entah apa alasannya dia bertingkah seperti itu. Baru kali ini dia mampu mengeluarkan uang banyak untuk orang lain, dan bahkan menunggunya. Selain kepada adiknya dan para ******-****** di luar sana, dia memang tidak pernah sekalipun membuang uangnya untuk hal yang tidak penting sama sekali.
Tapi ya, menjadi seseorang dengan jiwa sosialnya yang tinggi memang seperti itu. Dia melihat Aara itu berbeda dengan gadis lain. Jika gadis lain yang sudah memiliki masalah hidup dan harus membiayai dirinya dengan susah payah maka mereka akan melakukan pekerjaan yang paling mudah yaitu menjual diri.
Terkadang dia merasa miris dengan kehidupan Aara, tapi mengingat masa lalu diantara gadis itu dan adiknya apa mungkin Aara mendapatkan karma karena meninggalkan Yoongi dulu? Tidak ada yang tahu dan Seokjin juga tidak mau menduganya. Padahal tidak ada yang kurang dari seorang Yoongi, bukankah dia seseorang yang selalu diimpikan gadis manapun untuk menjadi type suami?
Entah apa alasan Aara saat itu memilih untuk menikah dengan pria lain daripada menunggu Yoongi. Apa mungkin Aara hanya tidak siap jika dipersunting oleh orang yang memiliki jutaan penggemar? Karena bisa dipastikan hidupnya pasti tidak akan tenang.
"Maaf membuatmu menunggu, Tuan." Ucap Aara dengan nafas terengah-engah.
"Masuklah."
Aara mengangguk dan mengitari mobil untuk duduk di samping Seokjin. Dia sudah terbiasa untuk duduk berdampingan di mobil saat melakukan meeting di luar kantor. Perlahan mobil melaju keluar dari parkiran menuju jalan raya.
Seokjin tidak akan membawa nya ke tempat yang aneh bukan? Pikir Aara.
Sejenak Aara memperhatikan jalanan yang dilalui, sepertinya nampak tidak asing untuknya. Dan benar saja, Aara langsung bisa menebak jika tujuan mereka adalah rumah sakit tempat Yoonji di rawat karena gedung itu sudah terlihat dan mobil mereka mulai masuk ke parkiran rumah sakit.
"Tuan." Panggil Aara saat mobil berhenti.
Seokjin menoleh sekilas lalu melepas sabuk pengamannya. Tangannya terulur ke atas dan membuka laci di atap mobil untuk mengambil kacamata dan masker. Kemudian pria itu juga mengambil topi hitam yang ada di dashboard. Sesaat kemudian penampilannya sudah sangat tertutup hingga hanya matanya saja yang terlihat.
Aara heran, kenapa Seokjin harus berpenampilan seperti itu? Sepertinya dia memang tidak perlu bertanya apa tujuan mereka kemari.
__ADS_1
"Ayo turun." Ajak Seokjin.
Keduanya keluar dari mobil dan masuk kedalam lobby rumah sakit. Kemudian berjalan menuju lift untuk naik ke lantai dua ke tempat dimana kamar Yoonji berada.
Sepanjang koridor, Seokjin terlihat menjaga jarak dengan Aara. Pria itu tidak mau dirinya kembali masuk media pemberitaan. Ya, dia akui itu semua memang karena kecerobohannya kemarin yang tidak ingat siapa dirinya. Alhasil fans nya mengabadikan momen yang diduga terang-terangan itu. Seokjin sudah mengonfirmasikan berita tersebut jika gadis itu adalah sekretaris nya. Tidak ada yang ditutup-tutupi olehnya dan dia tidak mau rumor tak sedap menghampiri kehidupannya.
Jika benar, maka Seokjin akan jujur. Dan jika salah maka Seokjin juga akan mengatakan yang sebenarnya tanpa berbelit-belit.
Keduanya sudah tiba di depan ruangan Yoonji, Aara lebih dulu masuk kedalam dengan menggeser pintu berbahan kaca tersebut dan tersenyum pada putrinya. Di sampingnya ada seorang ners yang tengah mencabut infus di punggung tangan Yoonji.
"Terimakasih." Ucap Aara pada suster.
Suster tersebut mengangguk dan berpamitan, meninggalkan ruangan untuk menangani pasien lain. Seokjin memilih duduk di sofa, tidak ingin mengganggu interaksi ibu dan anak di depannya.
"Kak Mi bilang, dia yang akan menjemput ku karena ibu sedang bekerja. Kenapa ibu ada di sini?" Tanya Yoonji.
"Iya. Kebetulan ibu sedang berada di sekitar sini jadi sekalian ibu menjemput mu. Apa Kak Mi sudah datang?"
Yoonji menggeleng, tadi pagi dia dipinjami ponsel oleh suster yang menjaganya dan gadis yang dianggap kakaknya itu mengatakan dia yang akan menjemputnya. Namun Yoonji sendiri tidak tahu pukul berapa Mi-Soo akan datang. Justru dia malah terkejut dengan kedatangan ibunya.
"Halo, Yoonji. Masih ingat aku?" Seokjin mendekat dan menyapa Yoonji, membuat gadis kecil itu mengalihkan pandangan kearahnya.
"Halo paman Jin." Sapa Yoonji tersenyum.
"Kau sudah lebih baik? Kita pulang sekarang?" Tanya Seokjin dan Yoonji mengangguk.
__ADS_1
Sebagai anak kecil yang masih polos, tentu Yoonji menyukai Seokjin yang sangat baik padanya. Mereka baru dua kali bertemu namun Yoonji bisa melihat bahwa Seokjin berbeda dengan para pria teman ibunya.
Mungkin karena sikap Seokjin yang dewasa sehingga bisa menyesuaikan diri dengan anak kecil. Sudah dibilang bukan jika Seokjin adalah pria yang bisa menyesuaikan diri dengan apapun, kecuali orang asing. Tapi untuk anak kecil, Seokjin memang menyukainya.