
Aara terlihat tengah menyuapi Yoonji dengan telaten. Gadis itu sudah siuman dan mendapatkan perawatan intensif yang lebih baik. Bahkan gadis kecil itu di pindahkan ke ruang VIP. Tentu saja hal itu atas usulan Seokjin, pria itu memaksa untuk memindahkan Yoonji ke ruang VIP seolah Yoonji adalah anaknya.
Awalnya Aara menolak namun saat Seokjin mengancam akan memecatnya gadis itu terpaksa menyetujui. Biaya keseluruhan pun di tanggung oleh Seokjin, dan itu membuat Aara lagi-lagi merasa tidak enak hati. Bukan Aara jika menerima semuanya tanpa syarat, meski Seokjin berkata untuk tidak menggantinya namun Aara tetap berusaha untuk membayarnya dengan memotong gajinya tiap bulan.
"Kau harus makan yang banyak supaya cepat sembuh." Ucap Aara.
Yoonji mengangguk dan menerima suapan terakhir dari ibunya. Aara bersorak kecil setelah bubur yang ada di mangkok tandas tak bersisa lalu menyodorkan segelas air putih. Gadis kecil itu tersenyum kala melihat wajah bahagia sang ibu, namun manik mata yang berwarna kecoklatan itu tidak bisa membohongi nya. Yoonji bisa melihat kelelahan di sana.
Aara hendak bangkit untuk membuang sampah plastik bekas makanannya di tempat sampah yang ada di sudut ruangan. Namun Yoonji menahan lengannya hingga gadis itu kembali duduk.
"Kau butuh sesuatu?" Tanya Aara.
Yoonji menggeleng, "Maafkan aku karena telah membuat ibu khawatir." Lirih Yoonji.
Aara tersenyum miris, mengusap surai panjang putrinya dengan lembut. Seolah tengah menyalurkan kehangatan dan kasih sayangnya. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama, biasanya mereka berjalan-jalan ke luar rumah dan membiarkan anak itu bermain dengan temannya.
Tidak pernah mereka berduaan layaknya seorang ibu dan anak, apalagi Aara selalu sibuk dan tak pernah bisa menemani gadis kecilnya bermain. Seketika perasaan bersalah langsung menelusup jiwanya.
"Tidak apa-apa sayang. Bukankah seorang ibu memang harus khawatir jika putrinya terluka? Itu karena ibu sangat menyayangimu. Kau adalah sesuatu berharga untuk ibu, ibu hanya memilikimu." Ucap Aara.
Yoonji tersenyum tipis. Meski belum sepenuhnya mengerti, namun dari nada bicaranya yang tulus menandakan bahwa Aara memang benar-benar menyayanginya. Ya, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya.
•••
Dua orang pria tengah duduk di halaman belakang rumahnya. Ditemani oleh anjing-anjing kesayangannya. Setelah hampir satu bulan dirinya mengurung diri di apartemen sang kekasih, kini dirinya mulai bisa menghirup udara segar. Macam tahanan yang baru saja bebas dari penjara.
__ADS_1
Taehyung turut membawa Yeontan kerumah Yoongi, kedua anjing berbeda ras itu terlihat akrab bercengkrama dengan bahasanya sendiri. Sementara Taehyung sibuk memakan ayam goreng tepung dan kimchi. Biasanya jika ada makanan banyak seperti ini dia akan teringat pada Jungkook, mereka memiliki hobi yang sama yaitu makan.
Tak peduli kakak-kakak angkatnya tengah melakukan apa, mereka hanya tahu makan. Namun untuk bakat mereka tidak perlu diragukan. Jungkook sebagai anggota termuda diantara mereka memiliki banyak keahlian, sementara Kim Taehyung memiliki wajah yang diakui dunia. Pria itu juga memiliki sopan santun yang sangat ia junjung tinggi.
"Sayang sekali Jungkook belum kembali. Dia pasti akan sangat senang jika ada makan sebanyak ini." Ucap Taehyung.
"Hyung?" Taehyung memanggil Yoongi dengan mulut yang penuh dengan daging ayam. Karena tak kunjung menyahut, pemuda itu menggeplak paha Yoongi yang terekspos karena mengenakan celana pendek diatas lutut.
"Arghh! Kenapa kau memukulku, sialan?!" Erang Yoongi.
"Aku memanggilmu, dan kau tidak menjawab. Memangnya Hyung sedang apa?" Ucap Taehyung dengan wajah polosnya.
Alih-alih menjawab Yoongi justru kembali menatap layar ponselnya. Sebuah berita yang membuatnya merasa penasaran hingga mengabaikan Taehyung. Ia melupakan sesuatu jika mereka tengah bersenang-senang.
Kim Taehyung membulatkan mulutnya ketika melihat layar ponsel Yoongi. Ternyata pria itu tengah membaca sebuah artikel di website. Tempat penampungan berita terkini dari para artist di Korea Selatan. Dia juga pernah masuk kesana saat ketahuan berkencan dengan Bongsoon. Saat itu dia masih menjadi idol dan secara terang-terangan malah mengkonfirmasi berita itu jika dia memang benar sudah memiliki kekasih. Akibat pernyataan itu, hampir seluruh dunia dibuat sedih dan kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, memang adanya seperti itu kan?
Yoongi merasa tidak asing dengan perawakan badan tinggi dengan bahu yang lebar. Di atas artikel hanya tertulis judul 'Mantan idol yang kini menjadi CEO kedapatan pergi dengan seorang gadis.' dan itu sama sekali tidak bisa membuat orang langsung menyimpulkan. Memang jika media seperti itu suka sekali membuat pembacanya merasa penasaran dan tidak bisa mengetahui isi hanya dengan membaca judulnya saja.
Karena tidak mau mati penasaran, Yoongi meng-klik judul berita tersebut dan membaca isinya. Hanya demi menuntaskan rasa penasarannya dan memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.
Setelah membaca isinya sekilas, dia bisa melihat nama Hyung nya disana. Dahinya mengerut, sejak kapan Seokjin dekat dengan seorang wanita? Meskipun saat menjadi idol dia selalu tebar pesona namun pria itu sama sepertinya, tidak pernah berkencan dengan wanita. Hanya bedanya, Seokjin lebih suka bermain. Dan sekarang justru kedapatan dengan seorang gadis yang tempat itu kelihatannya bukan tempat biasa.
Dari yang ia lihat, tempat itu macam rumah sakit. Untuk apa Seokjin ke rumah sakit, dengan seorang gadis. Apa pria itu baru saja menabrak orang? Atau bagaimana?
Sepertinya tidak cukup hanya dengan melihat berita saja. Dia paham jika isi website itu terkadang tidak benar dan untuk mengetahui kebenaran nya adalah dengan menanyakan pada yang bersangkutan.
__ADS_1
Yoongi menekan layar ponselnya menghubungi kontak Seokjin, perlu menunggu beberapa saat sebelum pria itu mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Kau punya kekasih?" Tanya Yoongi langsung pada inti.
"Kau menelepon ku dan langsung memfitnahku? Kau bahkan tahu bagaimana aku."
"Mereka membicarakan mu di artikel. Kau pergi dengan seorang gadis?"
"Hah? Sungguh? Ah sial! Seharusnya aku memakai penyamaran di sini. Kenapa aku bisa bodoh sekali." Gerutu Seokjin.
"Kau memang bodoh. Jadi, berita itu--"
Tut!
Belum sampai Yoongi menanyakan apakah berita itu benar atau tidak, Seokjin sudah memutus sambungan telepon nya. Pria berkulit putih itu mendengus karena kesal, sungguh kebiasaan yang tak pernah hilang dari Seokjin.
"Aish! Berani sekali dia." Gerutu Yoongi.
"Ada apa Hyung? Siapa yang memiliki kekasih?" Tanya Taehyung yang sedari tadi menyimak.
"Tidak ada."
Pemuda bermarga Kim itu memutar bola matanya malas, terlalu penasaran memang tidak baik untuknya. Lebih baik menghabiskan makanan yang sudah dipesankan oleh Yoongi, karena sepertinya pria itu tidak berminat memakannya.
__ADS_1