Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Tidur Bersama


__ADS_3

Rombongan Yoongi tiba di Seoul pada malam hari. Di bandara sudah ada Bongsoon yang menjemput Taehyung untuk kembali ke apartemen. Lagipula pria itu tidak akan mau kembali kerumah karena pasti ibunya akan mengamuk apalagi jika melihat bekas luka di lengannya. Biar begitu, Nyonya Kim ini sangat menyayangi putranya.


Juga ada Chaewon yang menjemput Namjoon. Gadis itu bahkan bersikap biasa saja ketika bertemu Yoongi setelah apa yang dilakukannya. Namun Yoongi tahu jika gadis itu sebenarnya tengah gugup karena melihat tatapan tajam Yoongi. Hingga tepukan dari kekasihnya membawanya kembali sadar.


"Kau sakit?" Tanya Namjoon pada Chaewon.


"Ah. Tidak, aku tidak apa-apa. Ayo pulang."


"Kau ikut bersamaku tidak? Mobilmu masih di apartemen ku kan?" Tawar Namjoon pada Jimin. Pemuda Park itu mengangguk.


"Bagaimana denganmu, Hyung?"


"Aku akan naik taksi."


Namjoon mengangguk, entah kenapa rasanya sedikit janggal. Dari kekasihnya yang terus menatap Yoongi gugup dan juga Yoongi yang terlihat kesal. Namjoon tidak tahu apa Yoongi itu kesal atau hanya kelelahan.


Akhirnya tanpa mau ambil pusing, Namjoon menggiring Park Jimin dan Song Chaewon untuk masuk ke mobil. Namjoon membunyikan klakson sebagai tanda berpamitan pada Yoongi.


Ji-eun mengikuti langkah Yoongi dengan sedikit terseok. Mungkin jika saja tangannya tidak di gandeng dia akan berjalan dengan santai meskipun harus tertinggal. Dia merasa sedikit aneh pada perilaku Yoongi yang terkesan perhatian padanya.


Dia jadi teringat ketika Yoongi mengatakan untuk mencoba mencintainya. Apa ini yang dimaksud? Tapi bukankah perasaan tidak bisa dipaksa? Bagaimana jika Yoongi tidak bisa mencintainya, malah justru dirinya yang semakin jatuh karena perhatian Yoongi padanya?


Asik dengan pikirannya, Ji-eun sampai tak sadar jika Yoongi sudah menghentikan langkahnya. Alhasil gadis itu mengaduh kala dahinya terbentur punggung Yoongi.


"Jangan melamun saat berjalan. Kau tidak ingin tiba-tiba berada di dasar laut kan." Ucap Yoongi.


"Bagaimana bisa sampai di dasar laut, disini bahkan tidak ada laut."


Yoongi membalikkan badannya, menatap Ji-eun yang tengah kesal. Ditatap intens seperti itu membuatnya gugup .


"A-apa?"


"Kenapa kau menggemaskan, heuh?"


"Kau sedang merayuku?"

__ADS_1


"Tidak. Justru aku ingin mencekik mu."


Oke, Ji-eun ingin meralat ucapannya tadi. Sepertinya dia tidak harus jatuh pada sosok menyebalkan seperti Yoongi. Baru saja dia merasa aneh dengan sikap manis pria itu tapi kini pria bermarga Min itu kembali menyebalkan. Apa mungkin karena mereka sudah berada di Seoul makanya pria itu kembali menyebalkan?


Hah, tidak masuk akal.


Keduanya masuk kedalam taksi yang baru saja berhenti di depan mereka. Mobil perlahan maju menyusuri jalanan kota Seoul yang di hiasi lampu-lampu kota. Jika di lihat dari ketinggian mungkin akan terlihat indah.


Baru beberapa menit perjalanan, ponsel Yoongi berbunyi. Selama di Rusia orangtuanya memang tak berhenti menghubunginya. Kejadian yang sangat langka mengingat beberapa tahun dirinya hidup di kota namun orangtuanya itu tak pernah sekalipun menanyakan kabarnya.


Dan kemarin setelah berita penculikan itu tersebar, orangtuanya langsung menghubunginya berulang kali. Entah untuk apa tujuannya pria itu sama sekali tidak peduli.


"Kenapa tidak di angkat?" Ucap Ji-eun.


"Tidak penting."


Ji-eun tidak lagi bertanya. Sebenarnya dia ingin bertanya pada Yoongi apakah Jong-hoon sudah tahu kepulangannya atau belum karena dia sama sekali tidak membawa ponsel. Saat di malam penculikan itu ponselnya tertinggal di kamar jadi selama beberapa hari ini dia tidak bisa mengabari Jong-hoon.


Dan rasanya Ji-eun kembali ingin bertanya mengapa Yoongi tidak mengantarkan nya pulang ke apartemen. Dia pikir taksi itu akan mengantarnya ke apartemen setelah Yoongi turun di depan rumah namun justru Yoongi turut mengajaknya turun.


"Kau ingin diserbu oleh para wartawan?"


Kening Ji-eun mengerut. Diserbu wartawan? Memangnya kenapa?


"Kau idol yang menjadi korban penculikan, tidak menutup kemungkinan jika para wartawan ingin menemui mu dan mengepung apartemen mu. Kau pikir kasus kemarin tidak menyebar di seluruh dunia?"


Astaga! Ji-eun lupa akan hal itu. Benar kata Yoongi, jika kemungkinan apartemennya sekarang di penuhi oleh para wartawan yang ingin meliputnya. Dan apa katanya barusan? Berita ini sudah menyebar ke seluruh dunia? Bagaimana bisa? Bahkan Ji-eun tidak bisa menyangkanya.


Lalu bagaimana dengan karirnya nanti? Gadis itu menghela napasnya. Sekuat apapun ia meyakinkan Jong-hoon dulu untuk tidak membawa kasus ini ke ranah hukum nyatanya tidak bertahan lama. Justru dirinyalah yang membawa kasus ini secara terang-terangan.


Yoongi masuk kedalam kamar untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Ji-eun masih terduduk di ruang tamu. Dia masih tidak percaya jika tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup. Meski sudah bertahan sekuat tenaga, tetap saja Ji-eun pasrah jika memang saat itu hidupnya akan berakhir.


"Kau tidak mandi?" Tanya Yoongi.


"Tidak ada pakaian untukku."

__ADS_1


"Mandi saja dulu. Tidak ada larangan untuk tidur telanjang." Ucap Yoongi santai.


Ji-eun membulatkan matanya, kemudian matanya memicing menatap pria yang memakai kaos oblong dengan celana pendek di atas lutut itu. Yang di tatap pun mendongakkan kepalanya dan balik menatap seolah berkata, 'ada apa?'


Tanpa menghiraukan ekspresi wajah Yoongi, Ji-eun masuk kedalam kamar Yoongi dan membasuh tubuhnya meski. Gadis itu keluar dengan memakai handuk milik Yoongi yang kekecilan. Tidak bisa menutupi tubuhnya barang setengah pun.


"Astaga!! Kenapa kau masuk?!" Seru Ji-eun. Dia menyilangkan tangannya di dada untuk menutupi asetnya yang sedikit menyembul sementara tangan satunya mencoba menurunkan handuk yang memperlihatkan setangah pahanya.


"Ini kamarku."


"Aku tahu! Tapi bisakah menungguku berpakaian?"


Yoongi hanya mengedikkan bahu dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ah, rasanya nyaman sekali. Dirinya sudah sangat merindukan kasur empuknya, beruntung saja pinggangnya tidak encok.


Ji-eun hanya mendengus dan berjalan menuju lemari Yoongi. Mengambil satu kemeja panjang milk Yoongi yang lumayan tebal. Tidak ada pilihan lain selain memakai baju pria itu. Beruntung ia menemukan dalaman yang dulu ia pesan saat akan menginap di rumah Yoongi.


Ji-eun meletakkan handuk basah di keranjang pakaian kotor, menggerai rambut panjangnya lalu menyisirnya perlahan. Dia memang tidak pernah mengikat rambut saat tidur. Gadis itu menatap Yoongi yang sudah terpejam di atas kasur. Apa pria itu sudah tidur?


"Jangan terlalu lama menatapku." Ucap Yoongi.


Ji-eun tersentak dan mengalihkan pandangannya. Kenapa pria itu bisa tahu jika dia memandanginya, bahkan mata pria itu tertutup rapat.


"Matamu ada di mana-mana." Gumam Ji-eun.


"Bicara yang keras, aku tidak mendengarnya."


"Tidak perlu. Dimana aku akan tidur?" Tanya Ji-eun.


"Memangnya dimana lagi?"


"Aku bertanya harusnya kau menjawab. Bukan malah balik bertanya."


Yoongi menghembuskan napasnya. Dia sudah sangat lelah dan ingin tidur dengan nyenyak, tapi gadis di depannya ini sangat cerewet sekali. Perkara tidur saja harus berdebat dulu. Tanpa membuka matanya, pria itu menarik sebelah tangan Ji-eun hingga gadis itu jatuh telentang di sampingnya. Ji-eun sudah ingin memberontak ketika Yoongi memeluknya dengan erat namun urung saat suara tegas Yoongi menginterupsi nya.


"Tidur dan jangan banyak bergerak. Aku tidak ingin kelepasan malam ini."

__ADS_1


__ADS_2