
RJ Corp, perusahaan besar yang bergerak di bidang perhotelan and beauty care itu sudah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Sejak berdirinya perusahaan besar itu, banyak sekali perusahaan lain yang berlomba untuk menyimpan sahamnya di sana dan tak jarang pula yang mengajukan kontrak kerjasama.
Perusahaan itu tidak butuh waktu lama untuk berkembang pesat dan hampir menguasai seantero Gwacheon. Tuan besar Kim memiliki dua putra dan satu putri. Meski menjadi pewaris keluarga Kim yang kedua, Kim Seokjin tidak pernah dipaksa untuk menggeluti dunia bisnis. Dia dibebaskan untuk memilih bidang mana yang dia sukai untuk pekerjaannya nanti. Walau begitu, dia tetap akan menjadi pewaris suatu saat nanti.
Dan diusianya yang ke tiga puluh tahun, saatnya dia mengemban amanah keluarganya. Sebelumnya dia bergelut dengan dunia entertainment dari usia dua puluh tahun. Dan dia rasa kurun waktu sepuluh tahun sudah cukup untuknya.
Kakaknya yang berusia lima tahun diatasnya kini memegang restoran keluarga Kim yang berada di Seoul. Sang kakak itu memang sangat minat pada kuliner jadi dia memilih untuk mengelola restoran ketimbang perusahaan. Sementara sang adik memegang sebuah salon kecantikan di Gyeonggi yang masih berada di bawah naungan RJ Corp.
Pagi hari yang cerah ini disambut baik oleh Seokjin. Pria itu bangun dari tidurnya sedikit lebih pagi. Menikmati sinar mentari pagi yang terasa hangat menerpa permukaan kulit. Sesekali dia akan berolahraga ringan untuk merenggangkan otot-otot nya.
"Hah! Segarnya!"
Seokjin kembali masuk kedalam rumah untuk bersiap membuat sarapan. Meski sudah ada koki khusus yang akan membuatkan mereka makanan namun Seokjin lebih suka memasak sendiri. Pria itu memang mahir dan suka memasak, sama seperti sang kakak. Namun dia tidak berkesempatan untuk memegang restoran keluarga.
Tapi tidak masalah. Seokjin adalah tipe pria yang tidak terlalu rumit dan pemilih. Dia bisa menyesuaikan diri dimanapun.
"Jin Oppa!!" Seru seorang gadis yang kini menghampiri nya di dapur.
"Oh kau sudah pulang?"
"Hem." Gadis itu memeluk tubuh sang kakak dan menyandarkan kepalanya di punggung lebar milik Seokjin. "Kau masak apa?"
"Soup tahu dan kimchi."
Gadis bernama Kim Hayoung itu hendak kembali membuka suara namun sebuah suara menginterupsinya.
"Jangan ganggu kakakmu, Hayoung." Seru Yoo Rachel, ibu Seokjin.
"Buatkan aku fettuccine with alfredo white!" Bisik Hayoung pada Seokjin. Gadis itu kemudian melenggang pergi menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Yoo Rachel hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsunya. Gadis itu memang lebih dekat pada Seokjin ketimbang kakak pertamanya. Lagipula kakak pertamanya sudah menikah dan dia tidak mungkin selalu mengganggu dan bermanja.
__ADS_1
Sebenarnya Kim Hayoung bukanlah adik kandung dari Seokjin dan Seokjoong. Gadis itu adalah anak dari mendiang sahabat Rachel yang diasuh oleh keluarga Kim. Namun meski begitu, kasih sayang semua anggota keluarga tidak ada yang membedakan. Mereka menghapus asal-usul Hayoung dan menganggap gadis itu memang berasal dari keluarga Kim.
Tak lama kemudian, Tuan Kim turun dari lantai dua menuju ruang makan. Pria itu tidak lagi memakai pakaian formal dengan kemeja dan jas, melainkan pakaian santai ala rumahan yang beberapa hari ini menjadi seragam rutinnya dirumah.
"Bagaimana keadaan perusahaan? Tidak terlalu sulit berada di sana kan?" Tanya tuan Kim.
"Tidak. Kau tahu ayah, aku bisa menyesuaikan diri di bidang apapun. Bahkan jika kau menyuruhku untuk berdagang itu bukan hal yang sulit untukku." Ujar Seokjin berbangga diri.
"Ya, kau memang bisa diandalkan. Tidak salah jika ayah memilihmu sebagai pewaris perusahaan."
Seokjin tidak lagi menjawab, pria itu kini fokus pada pasta yang ia buat sesuai pesanan adiknya. Pasta berbentuk mie pipih yang sedikit lebar dengan saus berwarna putih dan black olive. Adiknya itu memang sangat menyukai makanan western dibanding makanan lokal.
•••
Pukul 8 pagi, Seokjin sudah tiba di perusahaan. Selama bekerja disini ia lebih mandiri. Tidak ada private driver dan Bodyguard seperti saat dirinya masih menjadi idol. Dia benar-benar ingin hidup layaknya orang biasa walau pada kenyataannya tidak akan memperlihatkan dirinya seperti itu. Dia adalah anak dari CEO perusahaan besar, bagaimana mungkin bisa disamakan dengan orang biasa?
Seokjin menganggukkan kepalanya kala berpapasan dengan para karyawan nya. Wajah yang selalu terlihat konyol dan kekanak-kanakan saat di televisi berbanding terbalik dengan kehidupan aslinya. Tatapannya tajam dengan wajah yang dingin dan datar namun terkesan ramah. Meski begitu, pesonanya tidak akan luntur dan bahkan bertambah beberapa kali lipat.
"Apa sekretaris Go sudah datang?" Tanya Seokjin.
"Sudah, Tuan. Dia ada di ruangan." Jawab sekretaris Hwang.
Seokjin mengangguk dan mendorong pegangan pintu hingga pintu kayu yang menjulang tinggi itu terbuka. Pria itu membuka jasnya dan menggantungnya di stand yang berada di sudut ruangan. Menduduki kursi kebesarannya untuk memulai pekerjaan yang sudah menunggu untuk diselesaikan.
Sesaat kemudian pintu ruangannya terbuka, sekretaris Hwang berjalan sembari membawa berkas di tangannya. Memang jika untuk urusan tanda tangan dan berkas yang penting dia akan menyerahkannya pada sekretaris Hwang yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris ayahnya. Sementara tugas untuk Aara adalah menemaninya meeting dan merangkum hasil meeting, membuat janji temu, dan juga membuatkan minuman untuknya.
Sudah dibilang bukan jika Aara bisa disebut asistennya. Karena mengingat gadis itu yang belum mempunyai pengalaman lebih jadi Seokjin hanya memberinya pekerjaan yang mudah saja. Lagipula dia belum bisa mempercayai orang asing sekalipun itu teman adiknya.
"Permisi, Tuan. Ini berkas yang harus ditandatangani, ini hasil audit keuangan bulan lalu, dan ada kontrak penambahan saham dari perusahaan di Daegu." Jelas sekretaris Hwang.
"Baiklah, silahkan kembali bekerja."
__ADS_1
Sekretaris Hwang mengangguk dan undur diri dari hadapan Seokjin. Setelah nya, pria itu meraih gagang telepon seluler dan terlihat menghubungi seseorang untuk datang ke ruangannya. Hingga tak lama kemudian, orang yang di maksud pun masuk sembari membawa buku catatan di tangannya.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa Aara.
"Pagi. Apa jadwal hari ini?" Tanya Seokjin tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang diberikan sekretaris Hwang tadi.
"Hari ini ada meeting dengan manager Bong pada pukul sembilan, lalu kunjungan ke hotel W pukul sebelas siang, dan ini rangkuman meeting kemarin." Ucap Aara.
Seokjin menerima map berwarna hijau yang berisi kertas di dalamnya lalu menyimpannya di atas tumpukan berkas yang lain. Ia akan memeriksanya nanti.
"Baiklah. Buatkan aku coffe latte."
"Baik, Tuan."
Aara membungkukkan badannya dan berbalik, keluar dari ruangan super luas itu untuk membuatkan kopi pesanan bosnya. Namun baru saja ia menutup pintu, ponselnya berdering. Karena takut ada hal yang penting maka dari itu Aara mengangkatnya sembari berjalan. Tertera nama Kim Mi-Soo di layar.
"Halo?"
"...."
"Baiklah, aku akan kesana sekarang." Jawab Aara dengan nada panik.
Sekretaris Hwang yang melihat itu segera mengitari mejanya menghampiri Aara.
"Apa ada masalah?" Tanya pria bernama lengkap Hwang Young Joon
"Tuan, bisakah kau membuatkan coffe latte untuk Tuan Seokjin. Putriku jatuh dari tangga dan sedang di larikan ke rumah sakit." Sebenarnya Aara merasa tak enak hati untuk meminta sekretaris Hwang membuatkan minuman untuk atasannya. Namun jika dia yang membuatnya pasti akan sedikit bermasalah sebab pikirannya mendadak kacau.
"Tidak masalah. Pergilah, biar aku yang menyampaikan izin mu pada Tuan." Ucap Young Joon.
Aara mengangguk, berlari menuju ruangannya dan mengambil tas. Kemudian dia keluar lagi dan masih mendapati Young Joon ada di depan ruangan Seokjin. Gadis itupun mengangguk untuk berpamitan. Biarlah menjadi urusan nanti jika Seokjin marah akibat dirinya yang langsung pergi.
__ADS_1