Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Basket


__ADS_3

Ji-eun terbangun dari tidurnya, merasakan sesuatu menindih perutnya. Perlahan ia membuka mata dan masih mendapati keadan kamar yang gelap. Setelah matanya terbuka sempurna, ia hampir saja menjerit ketika menemukan seorang pria yang tengah mendekapnya.


Namun kesadaran lekas menghampiri karena Ji-eun ingat jika dia memang baru saja menikah. Hanya saja, bukankah semalam dia hanya tidur seorang diri? Apa Yoongi datang ke kamarnya saat dia sudah terlelap?


Dipandanginya makhluk tuhan yang nyaris tanpa cela ini. Kulitnya yang putih pucat, wajahnya yang mulus tanpa noda, bibirnya yang berwarna pink. Dia ingat saat Yoongi pertama kali tersenyum, terlihat sangat manis. Wajar saja banyak yang mengidolakannya dan tak jarang dari mereka menjadikan Yoongi suami khayalan.


"Sudah puas memandangiku?"


Ji-eun tersentak saat Yoongi mengeluarkan suara. Matanya masih tertutup rapat, bagaimana bisa pria itu tahu jika dia tengah menatapnya? Dan, apa mungkin Yoongi sudah bangun sedari tadi.


"Kau sudah bangun?" Yoongi mengangguk dan melayangkan kecupan pada puncak kepala Ji-eun.


"Morning." Ucap Yoongi serak.


Gadis Lee tak menjawab, dia masih terkejut dengan kecupan yang Yoongi berikan. Sepertinya tidak bagus untuk kesehatan jantungnya karena mendadak ia seperti berhenti bernyawa.


Yoongi yang melihat itu lantas  terkekeh, raut wajah terkejut sang istri terlihat sangat menggemaskan. Bagaimana bisa seorang gadis yang berusia hampir kepala tiga terlihat menggemaskan seperti bayi berusia tiga tahun.


Alih-alih bangun, Yoongi mengeratkan pelukannya pada Ji-eun sehingga gadis itu merasa nyaman. Tidak seperti semalam yang tidak mau berdekatan dengan suaminya, bahkan mencium parfumnya saja langsung membuatnya mual.


"Kau sudah tidak mual?" Tanya Yoongi.


Ji-eun menggeleng dalam pelukan Yoongi, wajahnya mendusel di dada bidang Yoongi dan mengendus pelan. Bahkan ia merasa nyaman dengan bau tubuh alami seorang Min Yoongi.


"Jangan menyusahkan ibumu, baby. Lihat, semalam dia mengusirku, dan sekarang dia justru tak ingin lepas dariku. Kau membuatnya kesulitan menahan gengsinya." Yoongi menelusupkan tangannya ke balik piyama yang Ji-eun kenakan dan mengelus perut ramping dimana di dalamnya menjadi tempat bersemayam darah dagingnya.


Hal itu tentu membuat Ji-eun mengerucutkan bibirnya.


"Mau mandi bersama?" Tawar Yoongi.


"Tidak mau. Kau saja lebih dulu, aku ingin berjemur di depan. Apa boleh?"


"Tentu saja. Minta Jungkook atau Bongsoon untuk menemanimu."


Ji-eun mengangguk dan mendongak, mengecup sekilas bibir Yoongi. Entah keberanian darimana tapi yang pasti, bibir itu terlalu sayang untuk dilewatkan.


Dan hal itu tentu tidak disia-siakan oleh Yoongi. Pria itu menahan tengkuk Ji-eun dan mengajaknya berciuman. Cukup lama mereka tidak melakukannya dan rasanya masih sama. Manis dan lembut.


•••


"Dimana Jimin?"


"Masih tidur."


Jeon Jungkook dan Kim Taehyung tengah berolahraga di halaman. Sekedar lari-lari kecil dan olahraga ringan saja. Setelahnya mereka bergabung dengan Kim Namjoon dan Jung Hoseok yang tengah bermain basket di halaman.

__ADS_1


Asrama yang berada di tanah yang luas itu memiliki banyak tempat seperti tempat santai dengan karavan, lapangan basket, kolam renang, halaman belakang dan mini forest.


Tempat ini memang terletak sedikit jauh dari kota sehingga tidak terganggu kebisingan dari kendaraan maupun tetangga.


Sementara Kim Seokjin tidak jauh berbeda dengan Jimin yang masih tertidur. Hanya bedanya jika Jimin tidur di kamar, Seokjin justru tertidur di kolam renang. Tepatnya diatas pelampung berbentuk flamingo yang mengapung di kolam renang.


Pria itu sudah terbiasa bangun pagi, niatnya untuk berjemur di kolam renang namun karena kantuknya masih menggelayuti mata maka dia tertidur lagi dengan pelampung yang terombang ambing pelan seperti tengah diayun.


Ji-eun menatap keempat pria yang tengah bermain basket di bawah sana, langkahnya mendekat hingga tiba di tepi lapangan.


"Noona!" Seru Jungkook yang melihat Ji-eun berada di tepi lapangan.


Karena menyapa Ji-eun, fokusnya menjadi teralihkan. Bola yang semula berada di bawah kendalinya kini di rebut oleh Taehyung dengan mudah. Membuat pemuda bermarga Jeon itu mendecak kesal.


"Perhatikan bolanya, Jung!" Seru Jung Hoseok yang satu tim dengan Jungkook.


"Ah, kau curang hyung. Aku sedang tidak fokus tadi."


"Maka dari itu, fokuslah." Seru Taehyung.


Pemuda Jeon itu mengerucutkan bibirnya kesal yang justru terlihat menggemaskan di mata para hyungnya, termasuk Ji-eun. Jarak mereka tidak terlalu jauh sehingga gadis itu bisa melihat ekspresi Jungkook.


Tak lama kemudian, Jungkook terlihat menaikkan fokusnya dalam bermain. Gerakan kakinya sangat gesit untuk mengejar lawannya yang menggiring bola. Hingga akhirnya bola basket berhasil ia rebut.


Jungkook menggiring bola ke arah ring, dalam jarak yang sedikit jauh ia melempar bola ke dalam keranjang. Ketiga pria lainnya menatap bola dengan perasaan berdebar, terlebih Hoseok yang mengira bola itu akan melesat.


"Whooaaaa!!!" Seru Kim Namjoon dan Jung Hoseok bersorak.


Tepat sasaran meski jarak itu lumayan jauh, dan sangat bagus untuk pemula macam pemuda Jeon.


Tidak lama merayakan selebrasi, mereka berempat kembali berebut bola. Keringat sudah membasahi kening dan tubuh mereka namun tidak membuat mereka menghentikan permainan ini.


Olahraga yang cukup berat di pagi hari, tapi sangat menyenangkan dengan sesekali diiringi canda tawa. Ji-eun saja melihatnya sangat bahagia dan mungkin mereka memang sangat bahagia karena bersatu dalam profesi yang sama yang membuat mereka layaknya  keluarga.


Tidak seperti dirinya yang berkarir sendirian dan itu membuatnya kesepian. Dia hanya bertemu rekan musisinya pada saat konser atau pertemuan saja, di setiap harinya dia hanya ditemani oleh sang kakak dan terkadang oleh Bongsoon.


"Noona, awas!"


Ji-eun langsung tersentak begitu mendengar teriakan dari arah depan.


Bugh!


Dia memejamkan matanya saat bola basket mengarah kepadanya. Namun setelah beberapa detik dia sama sekali tidak merasakan apapun. Bukankah seharusnya bola itu mengenainya?


Terdengar kembali sorakan dari arah depan membuat Ji-eun perlahan membuka matanya. Wajahnya mendongak ketika melihat seorang pria di depannya dengan tangan memegang bola berwarna orange.

__ADS_1


Dengan jarak yang jauh, pria itu melempar bola tersebut tanpa melihat ke arah ring. Namun bola itu bisa masuk sempurna kedalam keranjang basket.


"Jangan melamun di tempat seperti ini." Ucap Yoongi datar.


Sejujurnya dia kesal karena Ji-eun tak memperhatikan sekitar. Sangat berbahaya jika melamun di dekat lapangan basket. Beruntung dirinya segera datang, jika tidak entah apa yang akan  terkena pukulan basket itu. Mungkin saja perut Ji-eun yang akan terkena dan Yoongi sama sekali tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Terlihat keempat pria yang berada di tengah lapangan menepi dan menghampiri keduanya. Jungkook terlihat paling khawatir dan Namjoon merasa bersalah. Kenapa di saat seperti ini justru tangannya berulah hingga hampir membuat orang celaka. Niat memasukan bola kedalam keranjang, malah bola itu memantul ke arah Ji-eun.


"Noona, kau baik-baik saja?" Meski tidak terkena bola, namun Jungkook khawatir Ji-eun akan merasa syok.


"Aku baik-baik saja."


"Maafkan aku, hyung." Ucap Namjoon.


"Lain kali hati-hati. Masuklah, Jin-hyeong sudah membuat sarapan."


Kim Taehyung menggandeng Namjoon untuk kembali ke rumah. Sementara Jungkook masih terlihat mengkhawatirkan Ji-eun, tak peduli jika hyungnya menatap tajam.


"Aku akan menggendong noona masuk." Ucap Jungkook pada Ji-eun yang mana membuat Yoongi melotot.


"Tidak perlu. Dia baik-baik saja." Tolak Yoongi.


"Tapi dia pasti merasa syok."


"Aku bilang tidak perlu. Kau berani membantahku?!"


"Aku tidak takut denganmu hyung."


Ji-eun merasa kewalahan karena dua pria di depannya ini ribut hanya masalah sepele. Gadis itu sudah ingin melerai tapi tangannya ditarik oleh Hoseok untuk pergi.


"Biarkan saja mereka. Itu sudah biasa, daripada kau stres menghadapi mereka lebih baik kita masuk dan sarapan." Ujar Hoseok menggandeng Ji-eun.


Langkah mereka semakin jauh tapi Yoongi dan Jungkook masih berdebat. Bahkan tidak menyadari kepergian mereka. Ji-eun cukup senang karena Yoongi mempertahankannya dan berkali-kali menegaskan pada Jungkook bahwa dia adalah istrinya.


"Tapi kau tidak boleh menyentuh istriku."


"Dia kakak iparku!"


"Tapi dia istriku. Aku suaminya!"


"Hei! Bisakah kalian berhenti berdebat?! Sebenarnya apa yang kalian ributkan?!"


Yoongi dan Jungkook menoleh ke asal suara. Diambang pintu, Seokjin tengah berkacak pinggang sembari memegang sendok sayur yang  tadi sempat di acungkan pada mereka berdua.


Dan saat itulah keduanya tersadar jika mereka hanya berdua saja. Itu artinua seseorang yang mereka ributkan sudah pergi dan mereka mendebat hal yang sia-sia. Hingga akhirnya mereka berteriak bersamaan.

__ADS_1


"HOSEOK!!!"


"HOSEOK HYUNG!!!"


__ADS_2