
Pagi hari yang indah di kota Seoul, menyambut baik para anak manusia dengan sejuta aktivitasnya. Banyak dari penduduk Seoul yang mayoritas berprofesi sebagai pebisnis dan seniman.
Tidak hanya itu, para siswa dan siswi pelajar juga tampak tidak mau kalah menyambut pagi. Berbeda dengan dua anak manusia yang masih bergelung di balik selimut di kediamannya. Siapa lagi jika bukan Yoongi dan Ji-eun.
Setelah pertempuran panas semalam, keduanya terlambat bangun pagi akibat terlalu lelah. Yoongi yang pada dasarnya memang tidak pernah bangun pagi jika tidak ada kepentingan, tetap tidak peduli jika hari sudah berganti.
Ji-eun melenguh, mengerjapkan matanya ketika mendengar bunyi alarm. Gadis itu ingin bangun, namun tersadar jika tangan besar Yoongi tengah menangkup salah satu ***********.
Bagaimana bisa pria itu tidur sembari memegang asetnya. Sepertinya dia harus semakin berhati-hati sebab Yoongi sudah kelewat mesum. Ji-eun yang awalnya sangat membenci Yoongi karena sudah merebut kegadisannya justru malah dibuat luluh. Setiap kalimat yang keluar dari mulut pria dingin itu seakan menghipnotis nya. Ji-eun akui jika sentuhan Yoongi membuatnya tak karuan.
"Memikirkan apa?"
Ji-eun tersentak, menoleh menatap pria yang tertidur di sampingnya. Bukankah pria itu masih tertidur, kenapa dia tahu jika Ji-eun tengah melamun.
"Tidak ada. Aku ingin mandi, lepaskan tanganmu dari -- Shh, Yoongi-yaaa!" Alih-alih melepaskan, Yoongi justru meremas aset Ji-eun yang masih berada dalam genggamannya hingga membuat gadis itu meringis dan berteriak kesal.
Pria itu terkekeh dan membiarkan sang gadis beranjak dari atas ranjang. Ji-eun menyambar kemeja Yoongi yang terlampir di kursi dekat nakas. Entah sejak kapan kain itu ada disana, atau memang sebelumnya berada disana Ji-eun sendiri tidak tahu.
Ji-eun menggulung rambutnya keatas, menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus. Dengan beberapa bercak kemerahan yang Yoongi buat disana.
"Aku tahu kau pandai melukis, tapi tidak sembarangan seperti ini juga." Kesal Ji-eun. Lehernya yang putih mulus jadi tidak karuan karena dijejaki dengan kissmark buatan Yoongi.
"Memangnya kau tahu aku bisa melukis?"
"Kau pikir kau siapa? Produser dan mantan idol ternama. Siapa yang tidak tahu tentangmu, profilmu bahkan terpampang di berbagai platform." Ya, Ji-eun tahu Yoongi bisa melukis karena dia sering membaca info artist di negaranya. Tidak perlu membaca pun sepertinya akan tetap tahu sebab 'grup' Yoongi itu memang sering dikuliti oleh para media. Juga mereka yang sering menunjukkan bakat terpendam nya di live video.
Yoongi terkekeh, dia juga sebenarnya tahu jawaban Ji-eun. Darimana lagi gadis itu tahu bakatnya selain dari media internet karena Yoongi bahkan tidak mengatakannya. Sebenarnya pria bermarga Min itu tidak ingin semua orang mengetahui kehidupan pribadinya termasuk keahliannya di luar jalur musik. Namun pekerjaannya memang menuntutnya harus seperti itu. Tidak jarang dia harus menjadi orang lain untuk 'mendapatkan uang'.
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, Yoongi dan Ji-eun sudah bersiap untuk pergi ke kantor polisi tempat dimana Se Hun di tahan. Sesuai janjinya semalam bahwa Yoongi akan mengantarkan sang gadis setelah mendapatkan jatah bercinta.
"Pakai ini." Ucap Yoongi menyerahkan topi bucket dan masker pada Ji-eun.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Apa aku harus bersanding dengan orang-orang bodoh?"
Alih-alih menjawab, Yoongi justru menggerutu namun hanya menggumam sehingga Ji-eun tidak mendengarnya.
Dengan gerakan malas, Yoongi memasangkan masker pada bagian mulut dan hidung sang gadis. Kemudian meletakkan topi bucket di kepala Ji-eun, tak lupa juga ia mengambil jacket miliknya agar Ji-eun mengenakannya.
Penampilan Ji-eun yang semula feminim menjadi seperti --- entahlah. Memang tidak memperburuk penampilannya, hanya saja terlihat aneh.
"Apa aku harus memakai ini semua?" Tanya Ji-eun.
"Tidak akan ada yang mengira jika gadis aneh ini adalah kau."
Ji-eun mendengus, sungguh ia ingin sekali menyekolahkan mulut Yoongi yang tidak memiliki adab. Apa dia perlu memberikan kursi sekolah untuk dimakan Yoongi, karena mulutnya seperti tak pernah memakan bangku sekolahan. Eh, begitukan?
...
Setelah meributkan sesuatu hal yang tidak penting di rumah, Yoongi dan Ji-eun kini sudah berada di kantor polisi. Tempat dua pemuda yang terlibat dalam kasus penculikan kemarin di tahan.
Ya, pria bernama Oh Se Hun dan Park Chan Yeol itu di tahan di tempat yang sama. Untuk Jihyun, pemuda itu tentu di hukum di tanah kelahirannya yaitu Busan. Sementara untuk Baekhyun, pria itu sudah pasti di adili di Rusia. Entahlah, meski tidak terlibat kasus penculikan itu namun jelas saja pria matang itu mendapatkan hukuman. Tentang bisnis gelapnya dan kepemilikan senjata ilegal.
"Noona! Kau datang?" Seru Se Hun, sementara Chanyeol hanya mendengus.
"Iya. Bagaimana kabarmu?"
"Ya, seperti yang kau lihat. Kami pantas mendapatkan nya." Se Hun tersenyum miris.
"Pantas apanya? Mereka bahkan tidak percaya jika kita tidak melakukan apapun." Sahut Chanyeol. Pria itu memang merasa tidak berbuat kejahatan apapun, dia tak mengikuti bisnis gelap Baekhyun dan tidak mengikuti rencana Jihyun. Dia hanya berteman saja dengan mereka, sama seperti Se Hun. Tapi sayangnya petugas kepolisian tidak mempercayainya. Adanya mereka menjadi bukti jika mereka berdua terlibat, hanya saja mungkin hukuman mereka lebih ringan.
Se Hun menginjak kaki temannya itu sampai meringis, dia hanya tidak ingin Ji-eun merasa bersalah. Ini semua memang kesalahan mereka dan tak seharusnya Chanyeol membela diri begitu.
"Jangan dengarkan temanku, Noona."
"Tidak masalah. Sebenarnya kami kesini tidak hanya untuk menjenguk kalian." Ji-eun menjeda ucapannya dan melirik Yoongi yang sedari tadi diam bermain dengan Holly.
__ADS_1
Dan hal itupun diikuti oleh Se Hun dan Chanyeol yang merasa penasaran dengan kelanjutan ucapan gadis di depannya. Merasa di tatap, Yoongi menoleh dan mengangkat alisnya. Seolah berkata 'Ada apa?'.
Ji-eun mendengus. Bukankah dia sudah mengatakan tujuannya kemari untuk apa. Tadi saat di mobil ia sudah mengajuka sebuah permintaan pada Yoongi, dan pria itupun menyanggupinya meski harus sedikit berdebat. Tapi apa ini, Yoongi justru acuh dan tidak membantunya untuk berbicara.
"Dia kesini untuk membebaskan kalian." Ucap Yoongi tanpa menatap orang-orang di depannya.
Ucapan Yoongi mampu membuat Chanyeol membelalakkan matanya. Pria yang berusia dua tahun di bawahnya itu menegakkan tubuhnya dan menatap Yoongi serta Ji-eun bergantian. Entah kenapa energinya serasa kembali lagi.
"Tapi, kenapa?" Tanya Se Hun.
"Karena kita tidak bersalah. Kenapa kau tanyakan hal konyol seperti itu? Atau kau memang ingin mendekam di sini saja? Kalau begitu silahkan, aku tidak ingin ikut." Ucap Chanyeol.
Ji-eun tersenyum kaku, dari ucapan Chanyeol kentara sekali pria itu kesal karena di tahan sementara dirinya tidak bersalah. Dan Ji-eun malah merasa tidak enak akan hal itu. Entahlah, dia merasa dari awal Chanyeol seperti tidak ramah padanya.
"Aku akan mencabut tuntutannya, dan kalian bisa bebas. Biar bagaimanapun, kau tidak melakukan apa-apa." Ucapnya pada Chanyeol, dan beralih pada Se Hun. "Dan kau sudah membantu menahan mereka meski kau juga ikut di tangkap. Kau bahkan berusaha membela dan melepaskan ku."
Yoongi tersentak, jadi pria itu berusaha membebaskan Ji-eun kemarin? Tapi kenapa? Tidak. Maksudnya, apa ada alasan lain kenapa pria itu tidak ikut menyiksa Ji-eun selain mereka memang tidak saling mengenal. Motif dari penculikan ini adalah karena Jihyun yang menyimpan dendam pada Ji-eun. Entah dendam apa yang dimaksud namun itu bisa masuk akal.
Sementara Chanyeol dan Se Hun memang tidak mengenal Ji-eun jadi mereka memutuskan tidak ikut pada rencana Jihyun. Jika keduanya memang brengsek, bisa saja mereka berencana untuk menikmati tubuh Ji-eun seperti yang Jihyun katakan.
Yoongi benar-benar tidak tahu isi kepala kedua manusia di depannya.
"Aku... Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi, terimakasih." Ucap Se Hun.
"Jangan berterimakasih untuk hal yang tidak perlu. Justru aku akan sangat bersalah karena membiarkan orang tak berdosa mendekam di bui."
Se Hun tersenyum. Sungguh, Ji-eun adalah wanita paling baik setelah ibunya. Gadis itu bahkan melihat kebaikannya yang sangat kecil. Mungkin jika korbannya orang lain maka dia tetap akan dituduh dan dituntut. Memang jika kita berbuat baik maka akan ada kebaikan yang menghampiri.
Yoongi bisa melihat kekaguman dari manik mata Se Hun untuk Ji-eun. Sama seperti tatapan Jungkook pada gadis itu. Apa mungkin pria itu juga menyukai Ji-eun? Hanya dalam dua kali pertemuan?
Memang jika di lihat-lihat, Ji-eun itu nyaris sempurna. Kecantikan alami yang gadis itu miliki benar-benar terpancar, bahkan saat gadis itu tidak memakai riasan pun tetap saja cantik. Kulitnya juga putih mulus tak bercela, senyumnya manis dengan bola mata yang indah. Bibirnya yang tipis dan Semerah cherry menyempurnakan parasnya.
Wajar saja jika seorang pria tertarik pada Ji-eun dalam pandangan pertama. Sama seperti halnya Jungkook dan Se Hun. Bahkan Jihyun pun selalu mengejar Ji-eun sampai melakukan hal konyol yang merugikan dirinya sendiri.
__ADS_1
Tapi kenapa dirinya yang sudah hampir satu bulan mengenal gadis itu justru merasa biasa saja. Ya, Yoongi akui jika Ji-eun cantik dan dia pun menyukainya. Bukankah semua wanita itu cantik terlepas bagaimana kecantikan itu sendiri terlihat. Karena cantik bukan hanya dari fisik yang sempurna dan kulit putih. Tapi jika di bandingkan sang ibu, jelas ibunya yang paling cantik. Meski wanita itu sama menyebalkan nya macam dirinya.
Dan Chanyeol juga terlihat tidak tertarik dengan Ji-eun. Mungkin saja dua pria yang tertarik dengan Ji-eun memang belum bisa mengendalikan hatinya. Sedikit-sedikit suka, sedikit-sedikit jatuh cinta. Apa itu, cih.