
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, namun udara masih terasa sejuk. Di distrik Songjeong, keluarga Ji-eun terlihat sedang sibuk bersiap. Jong-hoon sudah bertolak ke Jerman dari pukul 5 pagi tadi untuk menemui kekasihnya disana dan meninggalkan Ji-eun dengan sang ayah.
Gadis bermarga Lee itu terlihat membantu sang ayah memakai jas dan merapikannya. Setelan jas berwarna abu-abu menjadi pilihan pria paruh baya itu. Dengan pea coat yang akan melindunginya dari udara dingin.
Karena acara di laksanakan pada malam hari di musim salju yang dingin, maka mereka akan membawa mantel. Begitupun dengan Ji-eun, meski mengenakan dress, dia tetap akan membawa mantel atau coat agar tidak terlalu kedinginan.
"Memangnya kau mau pergi kemana?" Tanya Tuan Jin-kook.
"Temanku mengajakku ke pesta." Jawab Ji-eun.
"Pesta? Kenapa kebetulan sekali?" Gumam tuan Jin-kook namun masih di dengar oleh Ji-eun.
Gadis itu hanya mengedikkan bahunya lalu menjauh dari sang ayah yang terlihat sudah sangat rapi.
"Teman mu laki-laki atau perempuan?" Tanya Jin-kook lagi.
"Seorang pria."
"Pria? Dia orang yang baik? Sudah berapa lama kalian mengenalnya?" Cecar Ayahnya.
Ji-eun tersenyum ketika sang ayah mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Wajar saja, pasti ayahnya itu trauma dengan pria yang tidak dia kenal. Kejadian penculikan itu benar-benar membuatnya lebih waspada meski Ji-eun bukan lagi anak-anak atau remaja.
"Dia temanku, dan dia sangat baik ayah. Jangan khawatirkan apapun."
"Kalau begitu biar ayah yang akan mengantar kalian."
"Tidak perlu, ayah. Sebaiknya ayah segera berangkat."
"Kau yakin?" Tuan Jin-kook masih terlihat khawatir, namun Ji-eun mengangguk mantap menampilkan senyuman hangat yang membuat pria itu menghela nafasnya.
Tuan Jin-kook berpamitan untuk berangkat karena perjalanan menuju tempat pesta memakan waktu yang cukup lama jadi dia harus berangkat lebih awal sebelum acara di mulai.
"Kabari ayah jika terjadi sesuatu." Ucap Tuan Jin-kook dari dalam mobil, dan Ji-eun hanya mengangkat jempolnya.
"Hati-hati."
Selepas kepergian Tuan Jin-kook, sebuah mobil hitam masuk kedalam pekarangan rumah Ji-eun yang gerbangnya masih terbuka. Ji-eun mengawasi seseorang yang keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Seorang pemuda memakai setelan serba hitam itu keluar dari mobil. Tubuh atletisnya terbalut baju rajut dan celana bahan dan coat berwarna senada. Kakinya mengenakan sepatu boot kulit dengan tinggi di atas mata kaki, serta memiliki hak karet yang cukup tebal.
"Maaf menunggu lama." Ucap Jungkook menghampiri Ji-eun.
"Tidak masalah, lagipula ini masih siang."
"Kau belum bersiap?" Tanya Jungkook saat melihat Ji-eun masih mengenakan baju santai.
"Aku pikir kau akan menjemput ku sore nanti karena kau bilang pestanya akan di mulai pada malam hari."
"Benar, tapi perjalanan nya akan memakan waktu cukup lama."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan bersiap, ayo masuk."
Jeon Jungkook mengangguk dan melepas sepatunya untuk masuk kedalam rumah Ji-eun. Pemuda itu duduk di sofa empuk di ruang tamu. Meski terlihat santai, namun Jungkook merasakan sedikit berdebar akan pesta nanti.
Dia tidak bisa membayangkan reaksi orang lain ketika dia membawa Ji-eun ke pesta sana. Namun meski ini adalah pesta bisnis, dipastikan tidak akan ada wartawan atau orang tak diundang yang bisa masuk.
Karena penyelenggara pesta selalu menjaga privasi sang anak agar acara berlangsung sesuai keinginannya. Jika sedikit saja salah dan mengganggu ketenangan sang anak, bisa dipastikan jika pesta itu akan sedikit kacau.
Jadi Jungkook tidak perlu khawatir jika datang dengan Ji-eun kesana karena tidak akan ada rumor yang beredar tentang keduanya. Jikapun ada, Jungkook sudah mempersiapkan diri.
Di dadanya terdapat empat kancing bundar dan ikat pinggang kain di bagian perut. Rambut hitamnya di gerai dan dibuat bergelombang dengan bando yang bertengger di atas kepalanya.
Heels hitam lancip turut melengkapi penampilan Ji-eun kali ini.
"Maaf membuatmu menunggu." Ucap Ji-eun.
Jeon Jungkook tidak menjawabnya. Pemuda itu masih terpana melihat penampilan sederhana Ji-eun namun sangat terlihat cantik. Tidak terlihat jika usia gadis Lee itu mendekati kepala tiga. Benar-benar seperti remaja.
"Jeon!" Seru Ji-eun.
"Ah, maaf. Noona sangat cantik." Jungkook mengatupkan bibirnya yang terbuka, dia terlalu memuja penampilan Ji-eun.
"Terimakasih. Ayo kita berangkat."
"Ayo."
__ADS_1
Jeon Jungkook berjalan di depan Ji-eun dan memakai sepatunya. Keduanya masuk kedalam mobil untuk segera menuju tempat pesta. Ji-eun bahkan tidak tahu jika pesta tersebut diadakan di luar kota.
Gadis itu hanya menerima ajakan Jungkook karena merasa kesepian di rumah. Tidak ada yang bisa ia lakukan di rumah tanpa ayah dan kakaknya.
"Kalau kau lelah, tidur saja dulu. Perjalanan kita masih sangat jauh." Ucap Jungkook.
"Huh? Memangnya dimana lokasi pestanya?"
"Daegu."
"Apa?!"
Ji-eun sontak membulatkan matanya ketika mendengar jawaban Jungkook. Raut wajah itu terlihat menggemaskan di mata pemuda Jeon, hingga membuatnya terkekeh.
Rambut yang di cat silver membuat Jeon Jungkook semakin terlihat tampan, apalagi tindik yang tertancap di sudut bibir dan daun telinganya. Meski begitu, wajah pemuda itu tetap terlihat menggemaskan layaknya bayi.
"Apa aku belum mengatakan padamu jika pestanya berada di luar kota?" Ujar Jungkook terkekeh.
"Kau menculikku." Kesal Ji-eun.
"Tidak masalah. Jika penculiknya seperti aku maka kau akan aman."
Ji-eun tidak lagi menjawab, gadis itu melipat tangannya di dada seolah merajuk. Namun ucapan Jungkook membuatnya tertegun.
"Boleh aku menyentuh perutmu?" Jungkook melirik Ji-eun yang masih terdiam, saat ini mereka sedang berada di traffic light sehingga Jungkook lebih santai mengobrol. "Tapi jika kau melarang tidak apa-apa. Maaf atas sikapku yang lancang."
"Tidak, Jeon. Tidak masalah." Sela Ji-eun.
Pemuda Jeon membawa tangannya kearah perut Ji-eun. Mengelus sebentar lalu menariknya kembali. Dia tidak ingin Ji-eun merasa tidak nyaman.
Sementara Ji-eun masih tercengang. Tidak dia bayangkan jika akan berada di situasi ini. Mungkin jika Jungkook adalah Yoongi, dia akan merasa senang dan bahagia. Mungkin seperti itulah rasanya hamil dan diperhatikan suami.
"Jaga dirimu baik-baik, perhatikan kesehatan Noona. Aku tidak ingin calon keponakan ku celaka." Ucap Jungkook.
Mobil kembali melaju membelah jalanan, tidak ada lagi percakapan apapun antara keduanya karena Ji-eun memilih untuk tidur. Entahlah, akhir-akhir ini dia memang lebih mudah lelah padahal dulu tubuhnya kuat meski kerja berjam-jam.
Jungkook tersenyum melihat Ji-eun yang tidur dengan nyaman. Netranya melirik ke arah perut Ji-eun yang masih rata. Pemuda itu memikirkan betapa sulitnya menjadi Ji-eun dan dia juga yakin jika gadis itu pasti tidak akan tega untuk melenyapkan nyawa dalam perutnya.
__ADS_1
"Kau membuang sesuatu yang sangat berharga, Hyung." Batin Jungkook.