
Sesuai ucapan Yoongi, hari ini mereka berdua melaksanakan pernikahan yang sangat mendadak ini. Tapi anehnya, segala macam perlengkapan dari baju dan make up artist sudah disiapkan dengan baik.
Pernikahan ini bersifat tertutup dan sederhana, hanya keluarga kedua mempelai saja yang datang berikut dengan teman-teman Yoongi. Sementara teman-teman Ji-eun tidak ada yang hadir karena takut membuat rumor atau berita ini muncul ke media.
Dengan kuasa ayah Yoongi, pernikahan mereka berlangsung lancar dan tidak ada media manapun yang meliputnya. Ponsel dari para tamu juga di kumpulkan agar tidak mendokumentasikan foto atau video yang mungkin akan tersebar.
Lee Ji-eun berdiri dengan anggun mengenakan gaun A line yang mengembang di bagian bawahnya. Gaun berwarna putih itu terlihat sangat indah di tubuhnya dengan bagian dada dan lengannya yang tertutup.
Kepalanya dihiasi mahkota kecil dengan rambut yang di gelung ke atas hingga menampilkan leher jenjangnya.
Sementara Yoongi memakai setelan tuxedo dengan warna senada dan rambutnya yang di cat hitam.
"Ini seperti sudah di persiapkan. Mustahil kau akan mengatur semuanya hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saja." Ucap Ji-eun.
Bagaimana tidak, gaun yang ia pakai bukanlah gaun sederhana. Gaun tersebut seperti dirancang khusus untuk dirinya karena terasa sangat pas di badan dan sama sekali tidak menyakiti perutnya.
Begitupun dengan dekorasi yang meski sederhana namun tidak dirancang sembarangan.
"Aku sudah menyiapkannya satu bulan yang lalu." Balas Yoongi.
Ji-eun langsung menatap Yoongi dengan tatapan bertanya. Satu bulan yang lalu? Apa mungkin Yoongi sudah tahu jika dirinya akan hamil? Bahkan dia baru mengetahui kehamilannya belum lama ini.
"Aku sudah menduga semua ini akan terjadi."
Gadis bermarga Lee itu masih belum mengerti, kenapa Yoongi bisa memperkirakan hal yang akan terjadi. Ya, mungkin saja mudah sebab mereka melakukannya beberapa kali tanpa pengaman dan orang awam pun pasti akan mengira jika itu akan membuahkan hasil.
Tapi, Ji-eun bahkan tidak menyangka dirinya sesubur itu hingga dikaruniai anugrah secepat ini. Biasanya akan butuh kerja keras dan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa berhasil. Ya, meski tidak jarang juga yang sekali tembak langsung jadi.
"Kau sudah menduganya?" Ulang Ji-eun dan Yoongi hanya mengangguk.
Ji-eun ingin kembali bertanya namun Yoongi malah pergi meninggalkan dirinya sendiri. Gadis itu sempat bingung sesaat namun tersadar ketika seorang pria menghampiri nya.
Jeon Jungkook.
Mungkin saja itu alasan Yoongi mengakhiri pembicaraan ini dan memilih untuk menepi.
__ADS_1
"Jung."
"Kau membuatku kecewa, Noona." Lirih Jeon Jungkook.
"Mianhae."
Jungkook menggeleng lemah lalu memeluk tubuh Ji-eun dengan longgar agar tak menyakiti perutnya.
Dia tidak kecewa, mungkin sedikit sebab Ji-eun mengatakan tidak akan kembali pada Yoongi apapun yang terjadi. Namun justru kini mereka menikah dan itu sangat mendadak baginya yang merasa belum puas menikmati hari dengan wanita yang ia kagumi itu.
Jungkook sadar, jika melarang pun tidak ada gunanya sebab keputusan sepenuhnya berada di tangan Ji-eun. Dia hanya bisa mendoakan keduanya agar hubungan mereka langgeng sampai akhir hayat.
"Aku tau jika pria itu memaksamu. Meski aku sedikit kecewa, tapi aku senang kalian bersatu. Dia tidak akan bersedih ketika nanti lahir ke dunia." Ucap Jungkook setelah mengurai pelukannya.
Ji-eun hanya tersenyum, dia tidak bisa berkata apapun. Jungkook sangat baik padanya meski ia mungkin pernah mengecewakan hatinya.
•••
Pemberkatan berjalan dengan lancar dan khidmat, hingga kini acara tersebut sudah selesai.
Kini hanya meninggalkan keenam teman Yoongi dan Park Bongsoon yang menginap di rumah kedua Min Yoongi yang lebih besar dan terdapat lebih banyak kamar. Biasanya rumah itu digunakan untuk berkumpul dan menginap saat mereka masih bekerja, seperti layaknya asrama.
Sembilan orang di dalam satu ruangan yang luas tengah menikmati makanan dan beberapa alkohol untuk merayakan pesta. Kini satu diantara mereka sudah memiliki pasangan dan keluarga kecil, bahkan mendahului Kim Seokjin sebagai anggota tertua.
"Ini minuman mu." Yoongi menyodorkan segelas susu hamil rasa strawberry kesukaan Ji-eun.
"Terimakasih." Ucap Ji-eun menerima segelas susu miliknya.
Sebenarnya Ji-eun ingin bertanya darimana Yoongi mendapatkan susu hamil sementara dari tadi pagi saja mereka sibuk. Namun dia lebih memilih diam karena malas bertanya.
"Kau juga tidak boleh minum, Jung. Aku membawakan kesukaan mu." Seokjin merogoh tas nya dan mengeluarkan sepack susu pisang kesukaan Jungkook.
Jeon Jungkook ingin bersorak dan menyambar susu pisang itu untuk dirinya, namun rasanya sangat gengsi karena ada dua gadis di sini. Sehingga pemuda itu mengambil gelas di atas meja yang sudah terisi sparkling wine.
"Aku bukan anak kecil lagi, Hyung. Jangan larang aku untuk minum lagi." Kesal Jungkook yang mendapat cibiran dari Seokjin.
__ADS_1
Park Jimin dan Jung Hoseok sedang sibuk bermain game di PC yang ada di sudut ruangan. Sementara Kim Taehyung tengah bermanja dengan kekasihnya yang turut menginap, dan Kim Namjoon yang sibuk membaca buku.
Jeon Jungkook dan Kim Seokjin yang bagai kembar beda lima tahun itu masih saja bertingkah random, apalagi keduanya yang mulai mabuk. Dengan kewarasan yang terjaga saja mereka bagaikan tikus dan kucing apalagi saat mabuk begini.
Meski tidak heboh, namun tatapan keduanya terlihat sengit. Sungguh aneh.
"Sudah mengantuk?" Tanya Yoongi saat melihat Ji-eun menguap.
"Maaf, akhir-akhir ini aku mudah lelah dan mengantuk." Ucap Ji-eun.
Tidak ada jawaban dari Yoongi, pria itu bangkit dari duduknya dan langsung menggendong Ji-eun ala koala. Gadis itu sempat memekik tertahan karena malu dilihat oleh teman-teman Yoongi.
"Aku bisa jalan sendiri." Cicit Ji-eun, namun tetap mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Aku tahu, karena kau tidak lumpuh."
"Bisakah kau berhenti bicara?!"
"Aku memiliki mulut, asal kau tahu."
"Aku akan merobek mulutmu."
"Coba saja."
"Uh, kau benar-benar menyebalkan!"
Ji-eun mendengus dan memilih diam. Enggan sekali mengajak berbicara lebih banyak lagi pria yang berstatus sebagai suaminya itu karena yang ia dapat hanyalah ucapan pedas saja. Itu sangat tidak baik untuk mentalnya.
Sementara ketujuh orang yang semula sibuk dengan urusan masing-masing, kini menatap pasangan pengantin baru. Diam-diam mereka tersenyum samar.
"Aku ingin muntah." Ucap Jungkook lemas, pemuda itu sepertinya terlalu banyak minum.
"Sudah ku katakan tidak usah minum. Gengsimu setinggi langit hingga kau mabuk udara." Ucap Seokjin tertawa.
Candaan itu membuat semua orang tertawa tak terkecuali Park Bongsoon. Mereka tahu jika Jeon Jungkook minum hanya karena ada Ji-eun dan pemuda itu malu jika harus meminum susu sementara yang lain mabuk.
__ADS_1