Love Or Obsession?

Love Or Obsession?
Pria Pemaksa


__ADS_3

"Cukup!!"


Teriakan itu membuat ketiga perempuan sontak menoleh dan menatap seorang pria yang berjalan kearah mereka. Entah apa yang ada di pikiran Yoonji sehingga berlari dan menghambur memeluk tubuh Seokjin. Pria itu bisa melihat ketakutan yang sangat kentara di wajah gadis kecil itu, dan rahangnya mengeras karena geram.


Bagaimana bisa seorang wanita tua membentak anak kecil yang tidak tahu apapun. Meski Seokjin tidak tahu pasti apa masalah mereka namun perbuatan wanita itu tidak bisa di benarkan. Seharusnya dia menjaga sikap ketika berhadapan dengan anak kecil.


Seokjin berlutut dan membawa tubuh mungil Yoonji ke dalam gendongannya, kemudian kembali bangkit dan mendekati Aara yang masih mematung. Gadis itu tidak menyangka jika Seokjin masih belum pergi dan menyaksikan ini semua. Baginya, ini sangat memalukan.


"Siapa kau? Mau menjadi pahlawan kesiangan untuk wanita pembawa sial ini?" Ucap Hyun Sang sinis. Ia bahkan melirik penampilan Seokjin dari atas sampai bawah. Aara menunduk saat ibu mertuanya mendesak dan berbisik padanya. "Kau menjadi simpanan pria beristri ya? Ternyata kau pintar juga. Kelihatannya dia kaya!"


Seokjin berdeham, membuat Hyun Sang menegakkan badannya dan mengangkat dagunya terkesan angkuh. Tanpa kata, wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu pergi berlalu karena sudah mendapatkan uang meski tidak sesuai harapannya. Ia bisa datang lain kali karena dia yakin jika pria yang datang tadi pastilah seseorang yang memiliki hubungan istimewa dengan menantunya. Dia bisa memanfaatkan itu untuk mendapat uang.


Walau jika di pikir-pikir, suaminya atau ayah Do Hyun adalah orang yang berada. Pria itu mempunyai perusahaan meski tidak besar namun mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka. Namun karena gaya hedon Hyun Sang saja yang merasa tidak pernah cukup dan selalu ingin menang dari teman sosialita nya jadi wanita itu selalu meminta uang pada Aara.


Aara masih terdiam selepas kepergian ibu mertuanya. Lagi-lagi Seokjin harus melihat sisi lemahnya dan kehidupannya yang tak pernah ia perlihatkan pada orang lain. Gadis itu merasa malu.


Tepukan di bahunya membuat gadis itu tersadar, tangannya segera mengusap air mata yang sempat turun membasahi pipinya. Seokjin bisa melihat itu, namun lebih memilih diam. Sejujurnya dia juga tidak pernah berada di posisi yang sekarang, entah apa yang membuatnya menghampiri gadis itu. Mungkin rasa kemanusiaan dan hati nuraninya yang membawanya kedalam situasi ini.


"Gomawo." Lirih Aara mendongak, gadis itu bahkan tersenyum meski matanya masih berkata-kata.


"Tidak masalah, aku hanya merasa geram saja."


Keheningan menyelimuti mereka, bahkan mereka tidak sadar jika Yoonji masih berada dalam gendongan Seokjin. Pria itu menoleh saat mendengar dengkuran halus dari bahunya, dan ternyata gadis kecil itu tertidur. Mungkin karena ketakutan.

__ADS_1


"Dia tertidur." Ucap Seokjin lirih.


Aara merasa sangat tidak enak hati pada bosnya. Entah sudah berapa kali dia merepotkan atasannya itu. Dan sekarang Seokjin berjalan menuju rumahnya, mengerti dengan tatapan Seokjin, Aara mengangkat pot kecil di samping pintu dan mengambil kunci rumah untuk membukanya.


Benar seperti dugaan Aara, Seokjin membawa Yoonji ke kamarnya dan merebahkan tubuh gadis itu. Wajahnya terlihat damai sekali, berbeda dengan tadi yang menunjukkan ketakutan.


"Bisa bicara sebentar?" Tanya Seokjin dan Aara mengangguk.


Keduanya keluar dari kamar Yoonji, menuruni tangga untuk menuju ruang tamu. Tadinya Aara ingin membuatkan minuman untuk bosnya itu namun Seokjin menolaknya.


Pria bermarga Kim itu menghela nafasnya pelan, kemudian memperbaiki duduknya agar lebih nyaman untuk berbicara dengan sekretaris nya.


"Pulanglah ke Daegu." Ucap Seokjin.


Dulu saat masih bersama Yoongi pun dia tidak tahu siapa saja yang menjadi teman seprofesi pria putih itu. Mungkin ada yang dia kenali yaitu Kim Taehyung, yang selalu menumpang pulang pada Yoongi dan terkadang mengunjungi rumah pria itu. Namun itu juga hanya beberapa kali saja mereka bertemu, Aara terlihat acuh pada pria lain saat itu.


Dan saat mengetahui Seokjin adalah teman Yoongi, dia tidak menyimpulkan bahwa mereka satu grup dalam pekerjaan Yoongi dulu. Dan Seokjin juga tidak bercerita apapun tentang pribadinya. Dia hanya dengar kasak kusuk pegawai yang mengatakan jika bos mereka adalah mantan idol.


"Pikirkan mental putrimu. Dia akan tertekan jika mempunyai nenek seperti itu." Ucap Seokjin lagi.


"Kami memang berencana untuk pulang ke Daegu, setelah aku menerima gaji pertama ku nanti." Jawab Aara.


Seokjin menghela nafasnya. Tanggal penerimaan gaji masih terlalu lama, dan Yoonji pasti akan lebih tertekan. Tidak ada yang bisa menjamin jika nenek tua itu tidak datang lagi. Meski Aara mengatakan tetangganya selalu menemani Yoonji namun tetap saja setiap orang memiliki kesibukan jadi tidak mungkin tetangganya itu menemani Yoonji sepanjang waktu ketika Aara bekerja. Kecuali memang orang itu bekerja sebagai maid atau baby sitter.

__ADS_1


Pria itu merogoh sakunya, mengeluarkan dompet hitam miliknya yang terisi oleh beberapa baris kartu dan uang cash. Dia memang tidak pernah membawa uang cash dalam jumlah banyak karena sudah ada kartu hitam yang selalu ia bawa kemana-mana.


Seokjin melirik dompet dan Aara secara bergantian. Gadis itupun sama, ia melirik bingung kearah Seokjin yang membuka dompetnya. Hal selanjutnya adalah Seokjin kembali menutup dompetnya dan mengembalikan ke saku.


"Aku akan mengantarmu pulang ke Daegu." Ucap Seokjin, yang mana membuat Aara terkejut.


"Tidak perlu, Tuan. Aku sudah banyak merepotkan mu, lagipula hanya menunggu beberapa hari saja itu tidak akan masalah bagi kami." Tolak Aara.


"Kalau begitu, aku akan mengirimkan seseorang untuk menjaga putrimu." Ucap Seokjin. "Tidak ada penolakan." Sambungnya saat Aara hendak memprotes kembali.


Gadis itu hanya bisa mendengus. Kenapa bosnya ini sangat oemaksa sekali seolah-olah mereka sudah kenal sejak lama. Meski dia teman Yoongi namun tidak berarti pria itu bisa mencampuri kehidupannya.


Aara sangat bersyukur saat ada seseorang yang berbuat baik padanya, tapi jika modelan begini bagaimana? Baik, namun pemaksa.


"Kalau begitu, aku akan pulang. Kabari aku jika terjadi sesuatu." Ucap Seokjin.


"Tuan tidak kembali ke kantor?" Tanya Aara.


"Tidak. Kau juga tidak perlu kembali ke kantor." Ucap Seokjin. Dia paham jika Aara mungkin akan kembali ke kantor jika ia tidak melarangnya.


"Tapi, tuan.."


Seokjin mendecak, yang mana membuat Aara terpaksa mengangguk. Seokjin berpamitan dan lekas pergi dari rumah Aara. Melajukan mobilnya membelah jalanan yang lengang.

__ADS_1


__ADS_2